cover
Contact Name
Fuad Noorzeha
Contact Email
journalcivis@gmail.com
Phone
+6281234515396
Journal Mail Official
journalcivis@gmail.com
Editorial Address
Universitas PGRI Semarang Alamat Redaksi dan Tata Usaha : Laboratorium PPKn FPIPSKR Universitas PGRI Semarang Kampus 4 Jl. Gajah Raya No. 40, Sambirejo, Ke. Gayamsari, Kota Semarang - Jawa Tengah Telp. 0248316377 Fax. 024 8448217 Email : journalcivis@gmail.com
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Civis: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan
ISSN : 25974408     EISSN : 25974408     DOI : https://doi.org/10.26877/civis.v13i2
The focus of CIVIS is to provide scientific articles on social science dan Pancasila that developed in attendance through article publications, research reports, and book reviews. SCOPE: CIVIS journal welcomes papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as social practices. In particular, papers that consider the following general topics are invited. - Social Phenomenology - Political Law - Social and Culture - State Constitution - Philosophy of Pancasila - Political Issues in local/nation - Civic Education Problems
Articles 198 Documents
POLITIK HUKUM PENDIDIKAN Maryanto, Maryanto
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politik hukum merupakan legal policy yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh Pemerintah Indonesia yang meliputi : pertama, pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaruan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan; kedua, pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para penegak hukum. Dari pengertian tersebut terlihat politik hukum mencakup proses pembuatan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukkan sifat dan kearah mana hukum akan dibangun dan ditegakkan. Politik hukum dapat ditemukan da;alam setiap proses pengambilan keputusan politik dalam ranah manapun. Politik hukum dapat ditemukan dalam keputusan-keputusan politik berkaiatan dengan prinsip dasar, kebijakan pengelolaan maupun regulasi lain dalam bidang pendidikan. Namun demikian politik hukum sejatinya dimaksudkan untuk mencapai hal-hal yang baik , termasuk juga dalam hal ini adalah politik hukum dalam bidang pendidikan. Kata kunci : politik, hukum, pendidikan
URGENSI FALSAFAH PENYULUHAN PEMBANGUNAN DAN ETOS KERJA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Siswanto, Dwi
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertolak dari pemahaman penyuluhan sebagai salah satu sistem pendidikan, falsafah penyuluhan dapat dikaitkan dengan pendidikan yang memiliki falsafah: idealisme, realisme dan pragmatisme. Artinya, penyuluhan harus mampu menumbuhkan cita-cita yang melandasi untuk selalu berpikir kreatif dan dinamis sebagai bentuk percerminan nilai-nilai ideal. Penyuluhan harus selalu mengacu kepada kenyataan-kenyataan yang ada dan dapat ditemui di lapangan sebagai wujud dari nilai real sebagai sebuah kenyataan sekaligus juga harus selalu disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi sebagai sisi pragmatisnya. Falsafah dasar dari penyuluhan mengandung sejumlah prinsip yaitu : 1) mengerjakan, artinya, kegiatan penyuluhan harus sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk mengerjakan/menerapkan sesuatu; 2) akibat, artinya, kegiatan penyuluhan harus memberikan akibat atau pengaruh yang baik atau bermanfaat; 3) asosiasi, artinya, setiap kegiatan penyuluhan harus dikaitkan dengan kegiatan lainnya. Dalam falsafah penyuluhan pembangunan juga mengasumsikan adanya sikap kerja yang positif, penuh dengan nilai dan etos kerja yang tinggi. Etos kerja sekaligus “etika kerja penyuluh” juga berkaitan dengan usaha menemukan prinsip-prinsip yang paling tepat dalam bersikap penyuluh untuk membuat hidup sasarannya menjadi sejahtera secara keseluruhan. Etika kerja penyuluh terkait dengan kemampuan penyuluh dalam berperilaku di masyarakat sehingga senantiasa mendapat dukungan secara tulus ikhlas untuk kepentingan bersama. Pemahaman yang komprehesif mengenai falsafah penyuluhan pembangunan dan etos kerja penyuluh sebagai sebuah ikatan yang integral akan mampu mendorong pemahaman bersama mengenai pentingnya falsafah pembangunan untuk di implementasikan dalam lapangan pemberdayaan masyarakat . Kata-kata kunci : falsafah penyuluhan pembangunan, etos kerja
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MEREK TERDAFTAR Haryono, Haryono
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era perdagangan global dan sejalan dengan konvensi-konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia, peranan merek menjadi sangat penting dalam menjaga persaingan usaha yang sehat. Undang-undang merek merupakan bentuk pengaturan tentang merek sebagai peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu merek memegang peranan yang penting terutama dalam dunia perdagangan. Dengan adanya merek masyarakat dapat menentukan pilihannya kepada suatu produk yang mempunyai merek. Merek adalah jaminan suatu produk baik barang atau jasa. Berdasarkan Pasal 1 UU No.15 tahun 2001 tentang merek, yang dimaksud Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam dunia perdagangan barang atau jasa. Merek ada merek dagang dan merek jasa. Sedang merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan barang atau jasa sejenisnya. Dalam merek ada istilah lisensi yaitu izin yang diberikan oleh pemilik merek terdaftar kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakan merek tersebut, untuk barang atau jasa. Selain itu merek dapat diartikan sebagai „tanda pengenal yang membedakan milik seseorang dengan milik orang lain. Dalam dunia perdagangan sering terjadi pelanggaran merek. Pelanggaran merek pada hakikatnya dilakukan oleh para pihak yang mempunyai etikad tidak baik untuk memperoleh keuntungan, yang dapat merugikan pemilik merek yang sah. Indikasi pelanggaran Berdasarkan Undang-Undang Merek No.15 Tahun 2001, ada beberapa klasifikasi mengenai pemalsuan merek yaitu : menggunakan merek yang sama secara keseluruhan, menggunakan merek yang sama pada pokoknya, menggunakan tanda yang sama, menggunakan tanda yang sama pada pokoknya dengan indikasi geografis. Selain itu ada juga pemalsuan terhadap merek terdaftar. Padahal merek terdaftar haris dilindungi oleh Negara melalui undang-undang Merek. Merek yang memperoleh perlindungan dari Negara melalui undang-undang adalah merek terdatar. Sedang merek yang belum terdaftar tidak memperoleh perlindungan apabila ada sengketa merek. Bentuk Perlindungan terhadap merek terdaftar ada dua yaitu Preventif dan Represif. Perlindungan represif adalah perlinungan merek terdaftar yang diatur dalam Pasal 4, 5, 6 ayat (1) UU No. 15 Tahun 2001. Sedang perlindungan represif diatur dalam Ketentuan Pidana Undang-undang Merek yaitu Pasal 90 sampai dengan Pasal 95 UU No 15 Tahun 2001. Barang siapa melakukan pelanggaran merek akan dikenakan sanksi baik pidana maupun denda sesuai dengan pelangaran yang dilakukan. Contoh kasus Merek, yaitu pelanggaran merek Honda yang dilakukan oleh PT. Tossa Motor terhadap PT. Astra Honda Motor. Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Merek Terdaftar.
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn Mulyani, Sri
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi SMP Negeri 21 Semarang saat ini adalah rendahnya kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, khususnya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Sebanyak 45,5% siswa kelas VIII H belum mencapai hasil belajar yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan belum baik kualitasnya yang ditandai dengan kurang terlibatnya siswa secara aktif, rendahnya gairah belajar dan tanggung jawab siswa secara individu maupun kelompok. Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Berapa besar penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada standar kompetensi memahami pelaksanaan demokrasi bagi siswa kelas VIII H Semester 2 SMP Negeri 21 Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011?, dan (2) Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada standar kompetensi memahami pelaksanaan demokrasi bagi siswa kelas VIII H Semester 2 SMP Negeri 21 Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011?Pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah melakukan penelitian tindakan kelas yang meliputi 2 siklus. Pada setiap siklus dalam penelitian tindakan ini ditempuh langkah-langkah sebagai berikut. (1) Langkah awal tindakan, (2) Langkah pelaksanaan tindakan, dan (3) Langkah pertanggungjawaban. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas pembelajaran. Nilai rata-rata pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 6,82 % dibandingkan nilai rata-rata pada siklus I, yaitu dari 73,86 menjadi 80,68 dan meningkat 8,63 % dibandingkan nilai rata-rata pada pra siklus, yaitu 72,05 menjadi 80.68. Jumlah siswa yang tuntas dan melampaui KKM 75 pada siklus II sebanyak 20 siswa atau 90,09%, meningkat sebanyak 7 siswa atau 31,82% dibandingkan pada siklus I dan jika dibandingkan dengan kondisi pra siklus maka meningkat sebanyak 12 siswa atau 54,54%. Nilai rata-rata sebesar 80,68 pada siklus II termasuk dalam kategori paham, artinya sebagian besar siswa, yaitu 20 siswa atau 90,09% siswa telah memahami kompetensi dasar menjelaskan pentingnya demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penggunaan Kualitas pembelajaran yang terlihat dari meningkatnya aktivitas siswa, meningkatnya sikap menghargai, keberanian berpendapat, kemauan bekerjasama, meningkatnya rasa tanggungjawab dan kemampuan mempresentasikan.Penulis menyarankan agar para guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) maupun mata pelajaran lainnya perlu melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Karena penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas pembelajaran. Hasil penelitian ini hendaknya perlu dilanjutkan untuk maksud verifikasi, penguatan, atau melawan temuan penelitian ini. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif , Jigsaw, Diskusi Kelompok
UPAYA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMPERSIAPKAN LULUSAN BERDAYA SAING PADA ERA GLOBALISASI Abdullah, Ghufron
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap perguruan tinggi pasti memerlukan upaya untuk mempersiapkan lulusannya supaya berdaya saing tinggi pada era globalisasi. Untuk menyiapkan lulusan di dunia kerja secara matang, salah satunya dengan penanaman budaya profesional. Sekolah Tinggi Maritim (STIMART) AMNI Semarang melakukan penanaman budaya profesional dengan cara menerapkan sistem seleksi Penerimaan Calon Taruna (PENCATAR) secara ketat atau, kegiatan Masa Orientasi Kampus (MOKAM) Sekolah Tinggi Maritim pada taruna baru yang profesional, memberlakukan Tata Tertib (Tatib) dan pemberian sangsi, melaksanakan sistem perkuliahan yang mantap, dan melaksanakan pemasaran lulusan. Penelitian ini juga berhasil mengungkap bahwa, kebiasaan positif yang menjadi dasar budaya profesional dapat tumbuh dan berkembang di STIMART–AMNI Semarang dalam mempersiapkan lulusan berdaya saing pada era globalisasi, dimulai dengan proses internalisasi nilai-nilai luhur budaya profesional tersebut pada diri taruna maupun dosen. Pada diri taruna proses internalisasi tersebut melalui: (1)penanaman kesadaran tentang nilai-nilai budaya profesional oleh dosen dan pimpinan Sekolah Tinggi Maritim,(2) faktor internal taruna (dorongan dari diri sendiri) dan (3) penyesuaian diri dengan lingkungan yang telah berbudaya profesional. Pada dosen dengan cara: (1) adaptasi dosen terhadap tugas-tugas lingkungannya (2)dimilikinya status kepegawaian, dan (3)anggapan mereka bahwa melaksanakan tugas sebagai dosen merupakan“ pengabdian”. kata kunci : lulusan berdaya saing, budaya profesional
TIPOLOGI PERMASALAHAN HUKUM YANG DIHADAPI GURU ANGGOTA PGRI PROVINSI JAWA TENGAH Widodo, Wahyu; Widodo, Suwarno; Sutono, Agus
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh begitu banyaknya permasalahan hukum yang dihadapi guru, utamanya di Jawa Tengah memunculkan pemikiran perlunya pemetaan atas tipe-tipe permasalahan hukum yang dihadapi oleh guru-guru yang tergabung dalam organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGRI ). Penelitian ini merupakan studi dokumentasi atas permasalahan-permalahan hukum yang dihadapi anggota PGRI Provinsi Jawa Tengah yang mendapatkan layanan konsultasi dan bantuan hukum dari LKBH PGRI Provinsi Jawa Tengah antara tahun 2007-2011. Manfaat penelitian ini adalah dapat memetakan permasalahn hukum yang dihadapi oleh guru yang dapat menjadi bahan bagi LKBH PGRI didalam rangka merumuskan kerangka kerja atau program kerja yang berbasis kebutuhan anggota PGRI Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan sebuah kesimpulan bahwa berkaitan dengan jumlah dan daerah asal guru yang memiliki permasalahan hukum yang mendapatkan konsultasi dan bantuan hukum dari LKBH PGRI Provinsi Jawa Tengah, selama kurun waktu antara tahun 2007-2011 (4 tahun ) terdapat 56 kasus hukum. Dari 35 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 21 (60%) Kabupaten/Kota terdapat guru-guru yang memiliki permasalahan hukum. Terdapat 5 besar Kabupaten /Kota yang memiliki jumlah kasus hukum yaitu Kota Semarang (9 kasus/ 16%), Kabupaten Demak (5 kasus/8,9%), Kabupaten Kebumen (5 kasus/ 8,9%), Kabupaten Purworejo ( 5 kasus / 8,9 %), dan Kabupaten Semarang (5 kasus / 8,9% ). Berkaitan dengan jenis permasalahan hukum yang dihadapi maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Jenis permasalahan hukum meliputi permaslaahan hukum Perdata 17 kasus (32,14%) dan permasalahan hukum pidana tercatat sejumlah 39 kasus (67,86%). Terdapat 6 kelompok permasalahan perdata yang dihadapi meliputi gono-gini (2 kasus); Pembagian Warisan (3 kasus); Perceraian (7 kasus); Hutang Piutang ( 1 kasus);Kepegawaian (2 kasus); Perdata Umum Lain -Pencemaran Nama Baik ( 2 kasus) . Terdapat 11 kelompok permasalahan pidana yang dihadapi, meliputi KDRT (1 kasus);Pemerasan (2 kasus);Asusila (1 kasus);NAPZA ( 1 kasus);Perjudian (1 kasus);Pidana Umum ( 4 kasus); Penipuan ( 1 kasus);Penggelapan ( 3 kasus);UUPA ( 7 kasus);Penganiayaan ( 10 kasus);Tindak Pidana Korupsi ( 7 kasus). Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah bahwa kasus-kasus atau permasalahan hukum yang dihadapi guru menunjukkan beberapa kemungkinan analisis lebih lanjut bahwa upaya sosialisasi dan penyadaran hukum harus selalu menjadi prioritas kebijakan organisasi sehingga kemungkinan munculnya kasus-kasus hukum yang melibatkan guru-guru anggota PGRI Provinsi Jawa Tengah dapat semkain ditekan jumlahnya. Kata kunci: permasalahan hukum, tipologi
DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA DAERAH Suneki, Sri
CIVIS Vol 2, No 1/Januari (2012): civis
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi sebagai pintu untuk melangkah ke dunia luar. Saling berinteraksi dengan dunia luar, namun masuknya globalisasi tidak semata mata berdampak positif tapi ada pula dampak negatif. Globalisasi menggeser nilai nilai nasionalisme dan kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Globalisasi menimbulkan berbagai masalah dalam bidang kebudayaan,misalnya : hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara, terjadinya erosi nilai-nilai budaya, menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme, hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, kehilangan kepercayaan diri, gaya hidup yang tidak sesuai dengan adat kita. Oleh sebab itu perlulah bagi kita untuk membatasi lingkup globalisasi yang mana yang harus diterapkan dan yang mana yang harus di tolak. Diperlukan peran pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan kultural atau budaya dari pada semata-mata hannya ekonomi yang merugikan suatu perkembangan kebudayaan dalam kebijakan yang dirumuskan . Maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi nya sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Kata kunci: globalisasi, budaya daerah.
STRATEGI PEMBELAJARAN PKn BERBASIS MULTIKULTURAL (STUDI KASUS DI SMA MATARAM KOTA SEMARANG) Rondli, Wawan Shokib
CIVIS Vol 4, No 2/Juli (2014)
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Realitas Indonesia yang beragam digambarkan oleh kondisi siswa SMA Mataram Semarang. Berdasarkan ilustrasi tersebut, pendidikan multikultural diperlukan. Masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana menerapkan pendidikan multikultural berbasis pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA? Kemudian diturunkan ke dalam sub masalah, yaitu: 1) Bagaimana Strategi pembelajaran PKn berbasis multikultural? 2) Apa masalah yang dihadapi dalam pembelajaran PKn berbasis multikultural ?. 3) Bagaimana solusi dalam strategi pembelajaran PKn berbasis multikultural.Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk menguji dan menganalisis strategi, hambatan, dan solusi oleh SMA Mataram Semarang dalam strategi PKn berbasis multikultural. Penelitian ini merupakan penelitian analitik pada strategi pembelajaran PKn berbasis multikultural: studi kasus di SMA Mataram Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data dan sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data kualitatif, yang meliputi observasi partisipan, wawancara, dan dokumenter catatan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga peristiwa aliran yang terjadi secara bersamaan reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan / verifikasi. Strategi pembelajaran PKn berbasis multikultural di SMA Mataram Semarang ,dimulai dengan aktifitas guru mengatur strategi pembelajaran PKn berbasis multikultural yang kemudian diimplementasikan dalam proses belajar mengajar l untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pembelajaran PKn berbasis multikultural terdiri dari 5 (lima) tahap: menentukan materi pembelajaran, belajar untuk menetapkan tujuan, menentukan metode pembelajaran, penentuan media pembelajaran, dan melakukan evaluasi. Hambatan yang ditemukan antara lain, yaitu: (a) Kualifikasi guru yang tidak linier dengan tugas mengajar. (b) makna yang berbeda dari multikultural, (c) Kemampuan rendah guru untuk menguasai seluruh budaya siswa. Solusinya adalah: (a) kepala sekolah sebagai pengambil keputusan dalam menentukan pembagian tugas guru dan karyawan harus melihat pada kualifikasi guru. (b) Penetapan kebijakan sekolah pada operasi pembelajaran pembelajaran PKn berbasis multikultural harus memiliki pemahaman yang sama tentang multikultural untuk mencapai tujuan pembelajaran. ( Kata kuci: Startegi pembelajaran, PKn, Multikultural
PENGARUH PEMBELAJARAN PKN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SEBAGAI WARGANEGARA Sudrajat, Rahmat
CIVIS Vol 4, No 2/Juli (2014)
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap hari kita disuguhi berita tentang kekerasan, Berita kriminal dan amoral remaja. Etika dan tata krama bangsa yang dijunjung tinggi telah mengalami pergeseran. Fenomena ini menandakan sebagai cerminan dari rendahnya mutu pendidikan dan kegagalan suatu bangsa untuk mencapai tujuan pendidikannya serta sebagai bukti dari bentuk penemuan karakter terhadap anak bangsa ini masih lemah. Barangkali karena pelaksanaan pendidikan di negeri ini masih lebih mengedepankan kecerdasan kognitif semata dan hanya terjebak pada pencapaian prestasi yang diukur dari penilaian kecerdasan berpikir saja. Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai ”Pengaruh Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio Terhadap Pengembangan Karakter Siswa Sebagai Warganegara”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quasi Experiment. Hasil penelitian menunjukan bahwa Penggunaan model pembelajaran konvensional dan pembelajaran portofolio keduanya dapat mengembangkan karakter siswa sebagai warganegara. Tetapi perkembangan karakter siswa pada kelas yang menggunakan model pembelajaran potofolio perkembangannya mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran PKn berbasis portofolio terhadap pengembangan karakter siswa sebagai warganegara di SMA Bina Dharma 2 Bandung, ketercapaian untuk mengindentifikasi masalah mencapai 67,7%, memilih masalah mencapai 62,3%, mengumpulkan informasi mencapai 54,8%, menyajikan portofolio mencapai 60,0%, dan merefleksikan pengalaman belajar mencapai 57,3%. Kesimpulannya pembelajaran PKn berbasis portofolio dapat mengembangkan karakter siswa sebagai warga negara. Terlihat bahwa gambaran secara umum skor post test Pengetahuan moral mengalami peningkatan 25,1%, perasaan moral mengalami peningkatan 23,0% dan perilaku moral mengalami peningkatan 18,1%. Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan karakter warganegara yang menggunakan model pembelajaran portofolio dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Pembelajaran PKn berbasis portofolio ini direkomendasikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk merangsang keterlibatan seluruh potensi diri siswa sehingga siswa bisa meningkatkan karakter baiknya. Kata Kunci : Berita, Kriminalitas, Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio, Karakter Siswa
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS VII SMP NEGERI 39 SEMARANG Setiawan, Deka
CIVIS Vol 4, No 2/Juli (2014)
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan Pembelajaran Kontekstual dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VII SMP Negeri 39 Semarang.Latar belakang dipilihnya judul tersebut bahwa sistem pembelajaran yang ada hanya menekankan pada aspek kognitif sedangkan aspek psikomotor dan afektif masih belum menonjol untuk itu perlu diterapkan pembelajaran kontekstual yang menekankan ketiga aspek tersebut.Permasalahan : Bagaimana penerapan pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VII SMP N 39 Semarang, Tujuan penelitian : untuk mengetahui penerapan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan lokasi penelitian di SMP N 39 Semarang. Fokus penelitian adalah 1) penerapan pembelajaran kontekstual yang didalamnya meliputi tujuh komponen utama yaitu kontruktivisme, menemukan ,bertanya, masyarakat belajar ,pemodelan ,refleksi ,penilaian sebenarnya.Metode pengumpulan data dengan wawancara, dokumentasi dan observasi.Teknik analisis data dengan pengumpulan data,reduksi data,penyajian data kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual mata pelajaran PKn kelas VII SMP N 39 Semarang sesuai dengan tujuh komponen pembelajaran kontekstual..Kesimpulan : Penerapan pembelajaran kontekstual mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VII SMP N 39 Semarang telah dilakukan sesuai dengan tujuh komponen pokok pembelajaran kontekstual namun dalam penerapanya masih terdapat hambatan yaitu kurangnya alokasi waktu,keterlambatan peserta didik dalam mengumpulkan tugas,kurangnya sarana dan prasarana,biaya yang mahal dalam penerapan pembelajaran kontekstual. Kata kunci: pembelajaran kontekstual

Page 4 of 20 | Total Record : 198