cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 64 Documents
Search results for , issue "2017: SEMINAR NASIONAL " : 64 Documents clear
PEMBELAJARAN BERBASIS QUANTUM DENGAN MEDIA BONEKA PADA MATERI MENGENAL BAGIAN TUBUH DI KELAS BIPA Prima Vidya Asteria
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran BIPA membutuhkan penyajian yang menarik dan berguna sehingga tujuan pembelajaran lebih mudah tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbasis quantum dengan media boneka pada materi mengenal bagian tubuh di kelas BIPA. Penelitian dilakukan di Program BIPA Korea Universitas Negeri Surabaya pada 6 Februari 2017 dengan subjek enam mahasiswa. Kerangka perencanaan pembelajaran quantum disusun berdasarkan prinsip-prinsip TANDUR, yaitu tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan. Berdasarkan proses pembelajaran, penerapan quantum teaching dengan media boneka dalam pembelajaran BIPA berhasil dilakukan. Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan peneliti adalah mengidentifikasi subjek penelitian, penyusunan RP, pembuatan materi dan media pembelajaran serta pembuatan instrumen. Pada tahap pelaksanaan dilakukan dengan tahapan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup yang merepresentasikan konsep TANDUR (prinsip pembelajaran quantum) serta menggunakan media boneka. Tahap terakhir berupa evaluasi pembelajaran berupa tes tulis dengan hasil rata-rata nilai sebesar 87 (kategori baik). Berdasarkan hasil observasi, aktivitas mahasiswa selama proses pembelajaran menunjukkan partisipasi yang baik, ditunjukkan dengan rata-rata hitung aspek konsentrasi menunjukkan sangat baik (skor 5), aspek keaktivan/keterlibatan (skor 4) dan kerjasama antarmahasiswa baik (skor 4). Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meneliti pembelajaran BIPA pada materi lain atau untuk mengembangkan media dan bahan ajar BIPA.Kata Kunci: Pembelajaran Quantum, media boneka, bagian tubuh, BIPA
PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL Problematika dan Solusi Ninawati Syahrul
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini, selain bertujuan untuk mendeskripsikan problematika pembelajaran sastra, juga akan menawarkan solusi yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan pembelajaran sastra Indonesia di sekolah dalam konteks global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode kontekstual melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya melalui upaya yang berkesinambungan problematika pembelajaran sastra dapat diwujudkan sebagai berikut. Siswa perlu dibimbing untuk mengenal sastra secara menyenangkan dan menanamkan kerinduan. Siswa membaca langsung karya sastra, bukan ringkasan atau resensi. Siswa diberi kebebasan menyampaikan aneka ragam tafsir dalam mendiskusikan karya sastra. Setiap pendapat atau prestasi karya siswa diberi penghargaan. Porsi apresiasi sastra harus diutamakan dalam pembelajaran sastra. Pengetahuan teori, definisi, dan sejarah sastra cukup ditampilkan sebagai informasi sekunder ketika membicarakan karya sastra. Keterampilan membaca dan menulis berhubungan erat dengan pembelajaran dalam mengapresisi sastra. Apresiasi sastra diawali dengan aktivitas membaca, sedangkan ekspresi sastra berkaitan dengan menulis karya sastra. Dengan demikian, pembinaan literasi melalui pembelajaran sastra dalam wujud kebiasaan membaca dan kemampuan menulis pada gilirannya mampu membentuk generasi tangguh dan dapat bersaing dalam kehidupan global yang beragam tantantangan.Kata Kunci: problematika, solusi, pembelajaran sastra, global
LEGENDA WONOBOYO: PERSEPSI MASYARAKAT PERDIKAN MANGIR Sudartomo Macaryus
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah Ki Ageng Mangir sebagai penguasa perdikan Mangir telah menjadi lakon yang melegenda pada masyarakat terutama penggemar seni tradisi ketoprak. Ki Ageng Mangir yang tidak mau tunduk kepada Panembahan Senapati, penguasa Mataram. Oleh karena itu, demi harga diri dan potensi ekonominya yang besar sebagai lumbung padi kerajaan Mataram, penguasa Mataram berusaha menaklukkannya. Untuk keperluan tersebut Pembayun, putri Panembahan Senapati menyamar sebagai penari tayub. Ki Ageng Mangir yang terpesona oleh kecantikan Pembayun akhirnya meminang dan mengambilnya sebagai istri. Dengan demikian ia menjadi menantu Panembahan Senapati. Akan tetapi saat menghadap ia tidak disambut sebagai menantu akan tetapi ditempatkan sebagai musuh yang harus dibinasakan. Saat menyembah kepalanya dibenturkan pada batu yang hingga saat ini dikenal dengan sebutan watu gilang. Demi perdikan Mangir, raja tega membunuh menantu dan membiarkan putrinya menjadi janda dan cucunya kelak lahir sebagai anak yatim. Tulisan ini mengaji persepsi masyarakat Mangir terhadap tokoh Wonoboyo yang dikenal sakti mandraguna tersebut. Kata Kunci: ketoprak, perdikan, persepsi masyarakat   
AKTUALISASI TTB (TEORI TAKSONOMI BLOOM) MELALUI DRAMA KEPAHLAWANAN GUNA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK Farhan Aziz; Fajrin Nurjanah; Dyah Permata Sari
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran pengoptimalan implementasi pendidikan karakter dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dengan menggunakan teori Taksonomi Bloom. Pendidikan merupakan proses pembentukan sikap dan tingkah laku seseorang maupun kelompok menjadi lebih baik. Pendidikan dilakukan melalui upaya pengajaran dan pelatihan oleh pendidik. Dalam hal ini, 3 ranah yang menjadi acuan dalam mendidik, yaitu (i) kognitif, (ii) afektif, (iii) dan psikomotorik. Akan tetapi, umumnya peserta didik tidak menguasai 3 aspek tersebut secara proporsional, sehingga berdampak pada ketidakseimbangan perkembangan kecerdasan peserta didik. Praktik pementasan drama sebagai salah satu upaya dalam pembentukan karakter peserta didik, menjadi salah satu pilihan tepat untuk mengatasi ketidakseimbangan tersebut. Drama, menurut Balthazar Verhagen adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. (Suroso, 2015). Pembelajaran drama dilaksanakan dengan cara mewajibkan peserta didik untuk menulis naskah tentang kisah pejuang kemerdekaan Negara Indonesia. Kemudian, guru membentuk 6 kelompok dan memilih 6 naskah terbaik untuk ditampilkan oleh peserta didik. Proses pementasan drama yang meliputi latihan hingga pementasan, akan mendorong terwujudnya perkembangan kecerdasan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik dengan simultan dan signifikan. Lebih dari itu, dengan mementaskan kisah para pejuang kemerdekaan, akan membentuk karakter peserta didik yang cinta akan tanah air dan siap untuk menghadapi era globalisasi.Kata Kunci: Taksonomi Bloom, Pementasan Drama, Pendidikan Karakter
MENDAYA GUNA LOCAL WISDOM MENYIMAK DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENYIMAK UNTUK MEMENUHI TUNTUTAN ERA GLOBAL Bambang Edi P.
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tarigan (1990:27) menyitir pemeo dalam bahasa Karo, Tuhu nge ibegina, tapi labo idengkehkenna „Memang didengarnya, tetapi tidak disimaknya‟. Pemeo tersebut hanya salah satu dari tebaran warisan leluhur akan nilai lokal bangsa Indonesia dalam hal menyimak. Nilai yang akan senantiasa berdaya guna dan memberikan makna diri dalam kehidupan di setiap jaman, termasuk fenomena global sekarang. Sayang, nilai tersebut belum banyak digali dan diajarkan kehakikatannya. Apa nilai lokal menyimak bangsa Indonesia, apa kandungan nilai lokal menyimak bangsa Indonesia, apa konsekuensi atas kandungan nilai lokal menyimak bangsa Indonesia, dan  bagaimana penerapan nilai lokal menyimak bangsa Indonesia dalam pembelajaran merupakan fokus kajian ini. Ulasan akan fokus tersebut diharapkan dapat mempertinggi nilai lokal menyimak bangsa Indonesia dan memenuhi tuntutan era global. Kata Kunci: Nilai Lokal, Menyimak, Pembelajaran Global 
REPRESENTASI TINDAK TUTUR BERTOLERANSI DALAM PEMBELAJARAN KARAKTER DI KELAS RENDAH PADA ERA GLOBAL Arief Rijadi; Latifah Hanief
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era global ditandai dengan begitu cepat dan canggihnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi. Akibatnya batas-batas negara bangsa dan bahkan hal-hal pribadi dapat dengan mudah ditembus dengan kecanggihannya. Begitu juga saling pengaruh mempengaruhi antarbudaya tidak dapat dihindarkan, sehingga dapat mempengaruhi pergeseran orientasi karakter bangsa. Namun, pergeseran karakter bangsa itu masih dapat diminimalisasi melalui pendidikan. Hakikat pendidikan di tingkat dasar, khususnya di kelas rendah, merupakan upaya mendasari karakter peserta didik menuju generasi yang diharapkan. Dalam konteks pembelajaran, guru diharapkan menjadi model, vasilitator, dan motivator pengembangan karakter yang mengedepankan sikap dan perilaku baik. Salah satu karakter yang diharapkan adalah toleransi yang direpresentasikan dalam tindak tutur antar partisipan tutur. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan strategi tindak tutur yang merepresentasikan sikap dan perilaku yang bertoleransi. Bentuk tindak tutur bertoleransi dapat berupa kata atau kelompok kata dan kalimat atau ungkapan. Strategi dalam artikel ini disejajarkan dengan gaya atau modus tutur, yakni cara partisipan tutur dalam merepresentasikan tuturan-tuturan yang mengindikasikan tindak tutur bertoleransi. Melalui pendekatan pragmatik dengan data hasil pengamatan dan dianalisis secara deskriptif, diyakini dapat mendeskripsikan tuturan-tuturan bertoleransi dalam proses pembelajaran. Artikel ini diharapkan dapat memberi pemahaman terhadap realitas berbahasa pendidik dan peserta didik dalam usaha pembentukan karakter bangsa dalam era global. Kata Kunci: pragmatik, tidak tutur, prinsip toleransi, kaidah toleransi berbahasa 
SISTEM KEKERABATAN DAN SAPAAN BAHASA SIMALUNGUN PEMANFAATAN BUDAYA SEBAGAI MATERI AJAR BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING DENGAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF(COMUNICATIVE APROACH) Andiopenta Purba
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan berbagai keragaman budaya dapat dimanfaatkan sebagai sumber materi ajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA). Etnis Simalungun sebagai salah satu etnis yang berdomisili di Sumatera Utara, yang sebagian wilayahnya meliputi sebagian danau Toba. Beberapa di antaranya adalah daerah wisata Parapat, Tigaras, Simarjarungjung dan Haranggaol. Daerah ini tentunya banyak dikunjungi wisatawan local maupun manca negara. Kedatangan mereka terutama wisatawan manca Negara tentu akan bersinggungan dengan penutur Bahasa Simalungun, terutama saat berkomunikasi. Sistem sapaan sebagai salah satu factor penting diperhatikan dalam bertutur akan menciptakan peristiwa tutur berjalan dengan baik. Sehubungan dengan itu sitem sapaan dalam Bahasa Simalungun sebagai salah satu keragaman budaya Indonesia patut diperhitungkan dan dijadikan sebagai salah satu materi pembelajaran BIPA. Sistem tuturan Bahasa Simalungun mengenal tiga pengelompokan berdasarkan kekerabatan keluarga; (1)hubungan keluarga langsung, (2)kelompok perkawinan, dan (3)kehormatan. Dalam pengembangan materi itu, dapat dikembangkan melalui pembelajaran terpadu antara keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Proses PBM dapat dilaksanakan dengan pendekatan Komunikatif.Kata Kunci : Materi BIPA, Budaya Simalungun, Kekerabatan, dan Sapaan, pendekatan komunikatif
KEEFEKTIFAN KALIMAT DITINJAU DARI KESATUAN DAN KEHEMATAN PADA ABSTRAK MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI I Putu Gede Sutrisna; Ni Kadek Ary Susandi; Nyoman Dharma Wisnawa
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kesatuan kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali, (2) kehematan kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah  abstrak pada skripsi mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali terbitan tahun 2015. Objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah keefektifan kalimat ditinjau dari kesatuan dan kehematan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 30 sampel abstrak yang dianalisis, diperoleh hasil yang sangat efektif mengenai keefektifan kalimat pada abstrak ditinjau dari segi kesatuan dan kehematan kalimat. Kesangatefektifan kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali ditunjukkan oleh skor yang diperoleh dari analisis yang dilakukan, yaitu sebesar 97. Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali tergolong sangat efektif ditinjau dari segi kesatuan dan kehematan kalimat. Kata Kunci: Keefektifan Kalimat dan Abstrak  
KETIDAKSELARASAN TUTURAN ANAK AUTIS Ika Septiana Septiana; Bambang Yulianto; Kisyani Laksono
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan ketidakselarasan tuturan anak autis. Saat ini masalah autis mulai banyak diperbincangkan di masyarakat. Isu atau masalah autis dapat dilihat dari segi perkembangan fisik maupun non fisik. Salah satu masalah yang diperbincangkan adalah masalah kebahasan yaitu bagaimana atau proses anak autis berbahasa atau bertutur. Anak autis memiliki beragam cara dalam mengungkapkan eksperesi dan ide yang ada dalam dirinya. Berbagai cara dilakukan untuk mencari perhatian orang yang ada di sekitar, dengan cara bertingkah aneh, melakukan gerakan berlebihan bertutur berlebihan, mengecoh, atau berteriak. Ocehan anak autis sangat beragam sehingga memunculkan ketidakselarasan kalimat yang diucapkan. Bentuk ketidakselarasan tuturan anak autis sangat beragam yang salah satunya mencampurkan tuturan bahasa Indonesia dengan nyanyian iklan. Tuturan lisan anak autis yang dijadikan data adalah nyanyian iklan atu kalimat iklan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dan rekam. Anak autis ketika diajak berkomunikasi terkadang mengeluarkan tuturan yang berlebihan. Kalimat yang berlebihan tersebut memunculkan ketidakselaraan kalimat yang diucapkan. Ketika diajak berkomunikasi atau kegiatan tanya jawab terkadang antara pertanyaan dan jawaban kurang sesuai. Anak autis menjawab pertanyaan secara berlebihan. Salah satu tuturan yang diucapkan adalah kalimat iklan. Anak tidak hanya bertutur satu kalimat iklan dalam tuturannya bisa saja lebih dari satu kalimat iklan dinyanyikan. Semakin dibiarkan maka anak akan secara terus dan berulang mengucapkan kalimat iklan karena bahasa iklan tersebut sering dilihat dan didengar dari tayangan televisi.Kata Kunci: ketidakselarasan, tuturan, anak autis
PENGGUNAAN GAYA BAHASA DALAM DEBAT CALON GUBERNUR DAN CALON WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PERIODE 2017- Baiq Desi Milandari
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa dan kekuasaan memiliki hubungan yang begitu dekat. Melalui bahasa, seseorang dapat saja mempengaruhi orang lain, dalam hal ini masyarakat untuk melaksanakan apa yang menjadi tujuannya. Banyak dijumpai para pemimpin negara maupun daerah yang menggunakan bahasa untuk menunjukkan jati dirinya. Bahkan bahasa saat ini dapat dikatakan sebagai alat pencitraan diri. Pada era global seperti sekarang ini debat dapat memiliki arti begitu penting. Debat memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kehidupan demokrasi, terutama dalam hal politik.Bahasa yang digunakan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam debat. Oleh karena itu, dibutuhkan kecerdasan pemakaian bahasa oleh tiap-tiap pasangan calon. Pemakaian bahasa dalam debat berkaitan erat dengan penggunaan gaya bahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya bahasa yang digunakan dalam debat calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data berasal dari video debat putaran pertama, putaran kedua, dan putaran ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahaya yang digunakan oleh ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur adalah gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan berdasarkan langsung tidaknya makna. Gaya bahasa yang berdasarkan struktur kalimatnya, yakni antiklimaks, repetisi, antitesis. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yaitu gaya bahasa retoris meliputi pleonasme, erotesis, koreksio, dan eufimisme serta gaya bahasa kiasan di antaranya alegori, personifikasi, alusi, satire, eponim, simile, dan simbolik.Kata Kunci: Bahasa, Debat, Gaya Bahasa