Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis (JSPH) issued by the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang in collaboration with the Perkumpulan Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI). JSPH committed to being a scientific journals, relevant to the development of science, as a reference, especially in the fields of sociology, education and culture. JSPH published twice a year continuously (July and December). JSPH contains the results of research and conceptual ideas that have not been published anywhere.
Articles
116 Documents
Belajar dalam Maiyah Relegi
Farah Farida Tantiani
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (377.404 KB)
Maiyah Rebo Legi (Maiyah Relegi) adalah kegiatan Maiyah di Malang yang diadakan setiap malam Rebo legi. Kegiatan ini bagian dari kegiatan Maiyah yang digagas keluarga Emha Ainun Nadjib di Jombang. Kegiatan Maiyah sendiri berlangsung di berbagai wilayah Indonesia, terutama di pulau Jawa yang rutin diadakan sebulan sekali. Berbeda dengan kegiatan Maiyah di daerah lain, Maiyah Relegi sejak awal tidak pernah menyandarkan pada tokoh tertentu, sehingga setiap kegiatan diskusinya Maiyah Relegi selalu dihadiri undangan yang berbeda-beda, tergantung pada topik yang dijadikan bahan diskusi. Hal lain yang juga berbeda dari Maiyah lain, Maiyah Relegi memiliki partisipan utama mahasiswa. Kehadiran mahasiswa berdiskusi di malam hari yang bukan akhir pekan di Maiyah Relegi, merupakan respon yang positif karena mahasiswa mau berperan aktif melibatkan diri untuk membatu mencari solusi bagi masyarakat. Dengan adanya partisipasi aktif tersebut, Maiyah Relegi menjadi proses belajar bagi mahasiswa selain di bangku kuliah. Oleh karena itu, sebagai penelitian awal digali mengenai kegiatan Maiyah Relegi, terutama proses belajar yang terjadi di kegiatan Maiyah Relegi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui proses wawancara dengan penganggas Maiyah Relegi dan melalui observasi dalam kegiatan Maiyah. Hasil penelitian bahwa Maiyah Relegi sebagai proses belajar mahasiswa, ternyata Maiyah Relegi menerapkan prinsip-prinsip belajar efektif bagi partisipannya.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i12016p071
Manifestasi Pendidikan Kritis (Pendidikan Hadap Masalah Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga)
Nora Ayudha
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (790.217 KB)
Studi ini dilakukan untuk menjelaskan argumentasi sekolah alternatif Qaryah Thayyibah yang menolak menggunakan pendidikan yang telah mapan dan menjadi arus utama. Serta bagaimana metode manifestasi pendidikan kritis yang diterapkan di sekolah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan tipe penelitian deskriptif. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah dengan teknik purposive, dan jumlah informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh informan. Penelitian ini menggunakan teori pendidikan hadap-masalah sebagai analisa untuk menjelaskan permasalahan penelitian. Berdasar pemikiran sekolah Qaryah Thayyibah, pendidikan yang selama ini dijalankan nyatanya melanggengkan sistem penindasan, dengan guru sebagai pihak yang mendominasi terhadap muridnya. Dalam mode pendidikan ini, ijazah dijadikan legitimasi hasil belajar dengan anggapan sebagai tafsiran kemampuan seseorang. Maka bertolak dari fakta tersebut, Qaryah Thayyibah menggunakan pendekatan berbeda dalam aktivitas pembelajarannya. Murid mempunyai otoritas penuh dalam menciptakan sistem pendidikan dan guru sebatas pendamping adalah prinsip dari pembelajaran ini. Selain itu, karya menjadi alternatif tolak ukur yang lebih adil dalam menilai sebuah kemampuan.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i22016p173
INTERAKSI BURUH MIGRAN PEREMPUAN SEBAGAI KEKUATAN MODAL SOSIAL
Anggaunitakiranantika Anggaunitakiranantika
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1002.936 KB)
Migrasi internasional yang terjadi pada buruh migran Indonesia menjadi pusat perhatian berbagai pihak dalam dekade terakhir, permasalahan mengenai ketenagakerjaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri mulai banyak terangkat ke permukaan dengan pemberitaan secara meluas di media.BMI yang bekerja di luar negeri, baik kategori legal maupun yang ilegal lebih banyak melibatkan perempuan di Propinsi Jawa Timur, salah satunya berasal dari Kabupaten Tulungagung. Di Negara Hongkong jumlah BMI asal Propinsi Jawa Timur paling banyak, yakni mencapai sekitar 170.000 orang, disusul Taiwan sekitar 160.000, dan Malaysia sekitar 130.000 orang.Penelitian dilakukan untuk menganalisis keberanian pada perempuan untukmenjadi buruh migranyang didasari oleh interaksi sosial. Analisis pada interaksi juga dilakukan untuk mengetahui modal sosial yang tercipta di kalangan buruh migran Indonesia yang berasal dari Kabupaten Tulungagung. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan teknik purposive di Kabupaten Tulungagung. Keterlibatan perempuan di Kabupaten Tulungagung menjadi Buruh Migran Indonesia dilakukan atas dasar keberanian dalam merubah nasib hidupnya dan melawan fatalisme sebagimana melekat pada masyarakat desa. Interaksi sosial yang dilakukan oleh buruh migran Indonesia melalui komunikasi virtual dengan perantara media sosial adalah bentuk dari Geometry of social space dalam kajian interaksi Simbolik. Interaksi sosial inilah yang menjadi modal utama dalam penguatan jaringan di dalam masyarakat sehingga buruh migran Indonesia mampu membentuk masyarakatnya sendiri dalam sistem sosial yang lebih luas.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v2i12017p033
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL BERBASIS POTENSI LOKAL DALAM MEMBANGUN DESA WISATA ADAT
Vina Salviana Darvina Soedarwo
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (544.842 KB)
Pemberdayaan merupakan suatu mekanisme dimana, individu, organisasi dan masyarakat menjadi ahli dan paham akan masalah yang mereka hadapi. Pemberdayaan Masyarakat ini dilaksanakan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang yang telah dicanangkan sebagai desa Wisata Adat. Desa Ngadas merupakan kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus yang layak untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli dengan faktor pendukung seperti, sistem pertanian dan sistem sosial yang mewarnai sebuah kawasan desa wisata di kaki gunung Bromo. Untuk memahami permasalahan yang dihadapi oleh desa digunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) yaitu pendekatan untuk memahami desa secara cepat. Dari hasil RRA dapat dirumuskan permasalahan pertama, belum adanya peraturan desa berkaitan dengan kesiapan sebagai desa wisata adat; kedua, lingkungan yang kurang bersih dan fasilitas umum yang belum memadai; ketiga, ketergantungan masyarakat terhadap hasil panen. Dalam mengatasi ketiga permasalahan desa tersebut telah dilaksanakan program pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal bertujuan agar masyarakat memiliki kemampuan mengembangkan potensinya dalam rangka pemberdayaan masyarakat oleh karena itu di desa ini telah dilaksanakan program pemberdayaan melalui berbagai pelatihan dan pendampingan yaitu pelatihan pembuatan peraturan desa, pelatihan pembangunan karakter menjaga lingkungan bersih-sehat dan pengadaan fasilitas umum serta pelatihan produksi minuman olahan dari hasil pertanian lokal (terong belanda). Ketiga program ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan desa Ngadas menjadi desa wisata adat.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v2i22017p096
Tinjauan Sosiologis Perencanaan Pembangunan Berbasis Kamus E-Musrenbang
Masrizal Masrizal
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (368.9 KB)
Tulisan ini menjelaskan bagaimana ruang partisipasi perempuan melalui Musrena (musyawarah rencana aksi perempuan) digerakkan kelompok perempuan pada akar rumput yang disebut organisasi Balee Inong yang ada di Banda Aceh. Terdapat 18 Balee Inong pada 90 gampong/desa. Pada tahapan ini penulis mendeskripsikan temuan tentang perencanaan pembangunan berbasis kamus e-Musrenbang dengan pendekatan kerangka konsep pemberdayaan berspektif gender dengan pendekatan participatory rural appraisal. Teknik pengumpulan data dengan tinjauan kepustakaan, observasi, wawancara dan FGD. Hasil penelitian menunjukkan dalam aplikasi e-Musrenbang ini terdapat kamus usulan berisi jenis-jenis program kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Aplikasi ini dilengkapi WebGis. WebGis terkoneksi dengan Bappeda sehingga Gampong memiliki opsi memilih lokasi yang menjadi objek usulan pembangunan yang mereka usulkan. Per Gampong diberikan batasan pagu anggaran berdasar PIK (Pagu Indikatif Kecamatan) yang merupakan salah satu kebijakan Pemerintah Banda Aceh dalam proporsi anggaran untuk kecamatan dan gampong, dimana pada tahun 2015 Musrena diarahkan pada penjelesan kesiapan kelompok Balee Inong dalam mengkoneksikannya dengan SKPD terkait dengan masing-masing gampong mendapat pagu 10% dari 200 juta rupiah/gampong dari budgeting data yang diperuntukkan melalui sumber dana APBD, sehingga warga bisa mengakses dan memahami secara online sampai dimana usulan desa mereka dapat diterima SKPD terkait.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i12016p029
Generasi Sadar Wisata (Pemberdayaan Pemuda dan Pendidikan Duta Wisata di Kabupaten Trenggalek)
Prisca Kiki Wulandari
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (677.884 KB)
Pengembangan industri kepariwisataan memerlukan dukungan dari berbagai elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat di sekitar Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW), masyarakat di luar ODTW, dan peran dari generasi muda. Pemberdayaan generasi muda dalam bidang kepariwisataan sangat diperlukan, guna mendukung soft skill nya. Penelitian ini menelisik lebih dalam bagaimana usaha pemerintah daerah khususnya Kabupaten Trenggalek dalam mengembangkan soft skill generasi muda di bidang industri kepariwisataan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara secara purposive sampling, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora)Kabupaten Trenggalek melakukan pemberdayaan pemuda di bidang kepariwisataan dengan memberikan pendidikan bagi calon duta wisata selama proses seleksi duta wisata Kabupaten Trenggalek. Calon duta wisata dikarantina selama 3 hari dan diberikan materi-materi seputar industri kepariwisataan di Kabupaten Trenggalek sebelum terjun ke lapangan memperkenalkan potensi Kabupaten Trenggalek kepada konsumen.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i22016p140
PENYELESAIAN SENGKETA RUANG HIDUP MASYARAKAT SUNDA WIWITAN DI KABUPATEN KUNINGAN
Gamin Gamin;
Fati Lazira
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (939.931 KB)
Keterpinggiran masyarakat hukum adat di Indonesia masih disaksikan hingga saat ini padahal payung hukum untuk menguatkan posisi masyarakat adat telah ada dalam amandemen UUD 1945 dan Putusan MK No.35. Tulisan ini mengungkap faktor-faktor yang menjadi kelemahan masyarakat hukum adat dalam pengakuan hak-hak tenurial komunal dan mengidentifikasi upaya-upaya penguatannya. Kurang jelasnya wilayah adat, norma adat, anggota beserta tempat tinggalnya adalah faktor penting yang menjadi pertimbangan pengakuan formal dari pemerintah daerah. Ketiadaan pengakuan formal masyarakat hukum adat lambat laun akan mengurangi pengakuan (legitimasi) masyarakat adat tersebut di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Untuk memperkuat posisi masyarakat hukum adat kiranya perlu memperkuat nilai/norma adat yang selama ini dipegang dan diatur adat. Selain itu membuktikan kepemilikan lahan dan wilayah adat serta mendefinisikan anggota masyarakat adatnya adalah penting untuk memperoleh pengakuan formal. Upaya menghindari kontak fisik antara pihak yang bersengketa penting dilakukan para pihak seraya berupaya menurunkan gaya sengketa yang dapat menerima pihak lain.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v2i12017p001
KONSEPTUALISASI PRAKTIK SOSIAL DALAM LINTAS RUANG DAN WAKTU: KEHIDUPAN MASYARAKAT DI PEDESAAN
Dhanny Septimawan Sutopo;
Nurul Pramesti
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (464.12 KB)
Kita mengenal kehidupan di pedesaan relatif statis. Dalam penelitian ini kondisi tersebut kita pahami tentang praktik sosial dan keberlangsungan kehidupan warga masyarakatnya. Kewilayahan menjadi latar belakang gagasan penelitian ini karena sebuah kenyataan dimana dinamika kehidupan masyarakat pedesaan tidak dapat dilepaskan dari posisi tersebut. Tetapi permasalahannya adalah bahwa kewilayahan bukanlah sebuah kondisi fisik yang statis sebagaimana yang sering dibayangkan oleh orang awam. Dalam kewilayahan tersebut terbangun praktik sosial yang juga dinamis. Guna mencermati dinamika masyarakat pedesaan inilah, penelitian ini menjadi penting untuk mempelajari bagaimana dinamika itu terbangun, dengan rumusan masalahnya yaitu bagaimana praktik sosial terbangun dalam ruang dan waktu kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Penelitian ini menggunakan perspektif teoritis Anthony Gidden tentang praktik sosial yang secara spesifik lekat dengan konsep perentangan ruang dan waktu. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang mendalam. Pilihan metodologi sini diarahkan untuk tujuan mendapatkan penjelasan tentang peristiwa sosial secara menyeluruh atas keterhubungan semua gejala yang ada dalam regionalisasi kehidupan warga masyarakat di wilayah pedesaan. Muara dari penelitian ini adalah sebuah penjelasan mendalam akan praktik sosial yang dijalankan oleh warga pedesaan dalam regionalisasi yang nampak dalam rutinitasnya yang nantinya dapat diimplementasikan sebagai dasar pengembangan wilayah pedesaan.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v2i22017p050
Kontrak Sosial Menurut Thomas Hobbes dan John Locke
Daya Negri Wijaya
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (803.713 KB)
Thomas Hobbes dan John Locke adalah dua pemikir politik Inggris abad 17. Mereka menjadi saksi atas pergolakan politik Inggris mulai dari Revolusi Puritan 1648 dan Revolusi Kejayaan 1688. Banyaknya korban perang dan penindasan membuat mereka berupaya untuk mencari alternatif solusi. Mereka terlihat “berkoalisi” untuk mencapai tujuan yang sama tetapi dengan jalan yang berbeda. Hal ini terjadi karena mereka memiliki asumsi yang berbeda. Jika Hobbes merasa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya maka Locke melihat manusia seperti kertas putih tanpa noda. Keadaan perang menuntut Hobbes dan Locke mencari jalan keluarnya. Mereka terlihat sependapat untuk mengajukan kontrak sosial sebagai jalan perdamaian dimana negara akan menjamin keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tulisan ini berupaya untuk membahas ide mereka dalam konteks sejarah pemikiran.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i22016p183
PENDIDIKAN KAUM TERTINGGAL DI SAMPANG
Ardhie Raditya
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1125.497 KB)
Sebagaimana tercantum dalam Perpres nomor 131/2015, Sampang tergolong salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Fenomena ketertinggalan yang sangat mencolok di Sampang adalah aspek pendidikannya. Dengan menggunakan metode fenomenologi, pendidikan kaum tertinggal di desa Blu'uran, lebih spesifiknya di SDN Blu'uran 2, maka fenomena ketertinggalan tersebut tampak dalam beberapa hal. Pertama, para siswa dan orang tuanya tidak memiliki cita-cita dan masa depan ideal. Tujuan mereka bersekolah nyaris tanpa pengharapan. Kedua, kesuksesan pendidikan bukan ditentukan oleh faktor kepintaran (pènter), melainkan keberuntungan (pojur). Ketiga, kondisi sosial geografis dan tekanan keagamaan yang kuat memaksa masyarakat sekitar tidak memiliki kebebasan menentukan masa depan pendidikannya.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v2i12017p041