cover
Contact Name
Seli Septiana Pratiwi
Contact Email
jsph.journal@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsph.journal@um.ac.id
Editorial Address
Semarang St. No 5, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
ISSN : 25027875     EISSN : 25275879     DOI : https://doi.org/10.17977
Core Subject : Humanities,
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis (JSPH) issued by the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang in collaboration with the Perkumpulan Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI). JSPH committed to being a scientific journals, relevant to the development of science, as a reference, especially in the fields of sociology, education and culture. JSPH published twice a year continuously (July and December). JSPH contains the results of research and conceptual ideas that have not been published anywhere.
Arjuna Subject : -
Articles 116 Documents
PERGESERAN MAKNA RITUAL IBADAH DI ERA DIGITAL Udji - Asiyah; Ratna Azis Prasetyo; Sudjak Sudjak
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.909 KB) | DOI: 10.17977/um021v4i1p14-20

Abstract

The presence of Smartphones is the reason for the shifting of meaning in rituals of worship why today and first are different, places that should be sacred seem to be new tourist attractions, many people have selfies in front of them then uploaded in social media, scenes like this were not found in the past. The writing of this article aims to explain the shift in the meaning of worship rituals that should be enjoyed but shift to prioritizing busyness looking for a good perspective as a background for taking pictures or recording videos with no regard for the special worship and safety of other worshipers. This study was conducted qualitatively, data obtained through observation and interviews, the results of this study found that social piety is better able to eliminate the use of technological tools in worship than ritual piety which tends to explore technological equipment. 
NARASI KUASA PEREMPUAN PEKERJA BISNIS ONLINE Sih Natalia Sukmi
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.628 KB) | DOI: 10.17977/um021v3i1p55-66

Abstract

Jumlah angkatan kerja di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan jumlah partisipasi perempuan untuk bekerja. Faktanya deskriminasi perempuan dalam sektor ekonomi formal dan informal belum terselesaikan. Di sisi lain internet memberi peluang bagi perempuan untuk bekerja tanpa harus meninggalkan rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana konstruksi sosial perempuan pekerja usaha online terhadap definisi kerja dan bagaimana teknologi (internet) memberi kuasa bagi perempuan untuk mengembangkan keberdayaan mereka. Penelitian ini mendiskusikan teori kuasa pendekatan Michel Foucault dan Gramsci untuk memahami bagaimana kuasa digunakan perempuan dalam interaksinya dengan teknologi dan sistem patriaki serta sistem sosial budaya yang lebih luas. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai kuasa terhadap teknologi. Dia mendapat keuntungan secara praktis seperti menghasilkan pendapatan, lebih dihargai dan dapat berinteraksi dengan lingkungan di luar. Namun ketika diperhadapkan dengan sistem patriakri dan sistem sosial yang lebih luas, perempuan nyatanya powerless. Dia terhegemoni dengan status keperempuanannya dengan menyebut dirinya “bukan pekerja”, hanya “menambah penghasilan suami” dan tetap berbeban ganda untuk menjaga keseimbangan wilayah domestik dan publik.  
DOA SEBAGAI BENTUK PERTUKARAN EKONOMI Wida Ayu Puspitosari; Rona Bethari Sugianto
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.172 KB) | DOI: 10.17977/um021v4i1p59-72

Abstract

This study discusses the practice of social exchange at joint prayer activities at the 'X' Orphanage in Sidoarjo. The joint prayer activities at the 'X' Sidoarjo Orphanage were routinely carried out by two main donors who at the same time became one of the main informants of this study. The purpose of this study is to know how to practice social exchange using the social exchange theory of George C. Homans. There are five propositions presented by Homans in his exchange theory which are the main discussion in this study. The method used in this study is descriptive qualitative with the subject of research as many as three main informants consisting of orphanage owners and two main donors to the orphanage. Data collection techniques are observation, interviews, and documentation. The results of this study show that social exchanges that occur between orphanages and donors in prayer activities together wrap exchanges that are actually economic. Where, both donors carry out joint prayers as a manifestation of the implementation of CSR programs and the obligation to pay zakat. This then has the effect of peace of mind for the two donors over the fall of economic and religious obligations inherent in both. 
KONFLIK ALAT TANGKAP IKAN DI DESA TELUK PAMBANG KABUPATEN BENGKALIS Pebri Karisma; Fatmariza Fatmariza; Siti Fatimah; Rizal Ikhsan
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.668 KB) | DOI: 10.17977/um021v3i2p98-109

Abstract

Penelitian dengan lokasi di Desa Teluk Pambang Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, bertujuan untuk: (1) mengkaji akar sosial konflik antar nelayan di Desa Teluk Pambang; (2) menganalisis dampak sosial yang terjadi didalam konflik antar nelayan; (3) menganalisis model kebijakan sosial untuk resolusi konflik antar nelayan di Desa Teluk Pambang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskrptif dan bertujuan untuk mengeksplorasi konflik yang terjadi antara nelayan tradisional dan nelayan modern di Desa Teluk Pambang Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Dalam pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara, dokumentasi, audio visual. Data dianalisis dengan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) akar sosial konflik yang melibatkan nelayan tradisional dan nelayan modern adalah penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai dengan jalur yang sudah ditetapkan dalam Permen-Kp/2016 Nomor 71 Tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan adanya modifikasi alat tangkap yang dilakukan oleh nelayan modern sebagai alasan menghemat biaya alat tangkap (2) dampak sosial yang ditimbulkan dalam pengoperasian alat tangkap yaitu ekosistem laut menjadi rusak dan nelayan tradisional mengalami kesulitan dalam melakukan penangkapan ikan; (3) model kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah yaitu Peraturan Gubernur Riau No. 17 Tahun 2006 tentang Penghentian Sementara Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Jenis Jaring Batu (Bottom Gillnet) dan mengadakan mediasi dan negosiasi dalam uapaya mengatasi konflik alat tangkap. 
PERSAINGAN ANTARA OJEK ONLINE DENGAN OJEK KONVENSIONAL DI STASIUN LEMPUYANGAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Kiki Setiyorini; Grendi Hendrastomo
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.869 KB) | DOI: 10.17977/um021v3i1p29-35

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persaingan yang terjadi antara ojek online dengan ojek konvensional di Stasiun Lempuyangan, Daerah Istimewa Yogyakarta dan untuk mengetahui upaya apa saja yang sudah dilakukan guna mengatasi persaingan yang ada. Persaingan ini melibatkan empat paguyuban ojek konvensional dan dua komunitas ojek online. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan narasumber penelitian; ojek konvensional, ojek online, dan pihak kementrian Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa persaingan antara ojek online dengan ojek konvensional di Stasiun Lempuyangan, Daerah Istimewa Yogyakarta dilatarbelakangi oleh perbedaan harga pada kedua jenis ojek tersebut, di mana tarif ojek online lebih murah dari pada ojek konvensional, yang berakibat pada menurunnya pendapatan bagi ojek konvensional. Persaingan yang terjadi terlihat pada penetapan harga dan proses mendapatkan penumpang. Adapun upaya yang sudah dilakukan guna mengatasi persaingan yang ada adalah berupa peraturan pengambilan penumpang bagi ojek online untuk tidak mengambil penumpang di depan stasiun. Kesepakatan ini disepakati bersama antara ojek online dengan ojek konvensional di Stasiun Lempuyangan, meski begitu masih saja terdapat pihak ojek online yang melanggar peraturan yang sudah disepakati tersebut. 
STRATEGI DAN HARAPAN PEMUDA DALAM INSTITUSI TOTAL Intan Sari Yuniati; Oki Rahadianto Sutopo
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.336 KB) | DOI: 10.17977/um021v4i1p21-29

Abstract

Youth is often constructed as a stage of identity exploration. However, not all young people are able to explore their identity freely. Some young people have to experience transition inside the prison (LPKA). This article explores strategy and hope of the future among youth in prison. This research uses qualitative methods combining observation, in-depth interviews and secondary data to gather relevant data. Despite living inside the prison, they still have hopes about their future. They strategically make plans to convert their on hand stock of capital in order to reach the ideal goal. They also have to convert their capitals effectively in order to negotiate with risk as a form of stigmatization. Reflexive capacity is important to create strategic plans and anticipates unpredictable risk in the future. 
KOMODIFIKASI OTORITAS KIAI DALAM KONTESTASI POLITIK (STUDI KOMODIFIKASI OTORITAS KIAI DI KECAMATAN PASEAN KABUPATEN PAMEKASAN) Hisnuddin Lubis; Nelly Rohmatillah
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.433 KB) | DOI: 10.17977/um021v3i2p57-64

Abstract

Kiai merupakan gelar kultural dalam masyarakat Madura yang memiliki Otoritas tersendiri termasuk dalam urusan politik. Habitus dan modal kiai berperan penting dalam arena kontestasi Politik di Kabupaten Pamekasan Madura. Otoritas kiai ini seringkali dijadikan komoditas dalam proses kontestasi politik. Komodifikasi ini dapat diidentifikasi dengan adanya pertukaran sumberdaya nilai guna menjadi nilai materiil. Kajian ini menggunakan perspektif Habitus arena dari Bourdieu dan perspektif komodifikasi dalam pandangan postmodernisme. Pendekatan kajian ini menggunakan Studi kasus dalam bingkai metode kualitatif berlokasi di kecamatan Pasean Pamekasan Madura. Temuan : adanya akumulasi Habitus kiai dan tradisi masyarakat dengan modal budaya baik embodied, objectified maupun institutinalized yang membentuk otoritas kiai. Habitus kiai berupa keturunan dan proses pendidikan agama yang panjang. Sementara modal budaya kiai berupa warisan keturunan, lembaga pesantren dan legitimasi institusi atas kapasitas intelektualnya. Sejalan kemudian otoritas kiai digunakan untuk kepentingan kontestasi politik dengan berpartisipasi langsung sebagai kontestan maupun sebagai “political broker” untuk memenangkan kontestan tertentu. Dalam proses ini terdapat pertukaran sumberdaya otoritas dengan imbalan materiil dan non materiil. Proses inilah yang kemudian disebut sebagai komodifikasi otoritas kiai dalam kontestasi politik. Dalam logika commodity fetishism otoritas kiai terus diproduksi sebagai komoditas yang dapat dipertukarkan dengan nilai materiil maupun non metriil untuk memenuhi hasrat “kapitalis politik”. 
FAKTOR SOSIO BUDAYA YANG MEMPENGARUHI KONFLIK TANAH DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU (STUDI SENGKETA KONFLIK ANTARA SUKU TANJUNG MANGGOPOH DENGAN NAGARI TIKU V JORONG KABUPATEN AGAM) Syatri Syatri; Fitri Eriyanti; Erianjoni Erianjoni
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.539 KB) | DOI: 10.17977/um021v3i2p110-118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan faktor-faktor yang mempengaruhi konflik tanah di masyarakat Minangkabau khususnya sengketa konflik tanah ulayat antara Suku Tanjung Manggopoh dengan Nagari Tiku V Jorong Di Kabupaten Agam. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berusaha mengungkap data sesuai dengan kenyataan di lapangan. Informan penelitian adalah unsur-unsur kepemimpinan nagari, unsur-unsur pemimpin adat, unsur pemerintah, dan masyarakat awam. Data dikumpulkan melalui wawancara dan studi dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa faktor sosial budaya yang mempengaruhi konflik tanah dalam masyarakat Minangkabau adalah: 1) Tradisi lisan (kaba) dalam menentukan batas adat. Terjadinya konflik ketika tradisi lisan bertentangan dengan tradisi penulisan. Setiap pihak akan mempertimbangkan partai yang paling benar menurut bukti masing-masing. 2) Sistem kepemilikan tanah yang beragam di Minangkabau. Hal ini terjadi ketika tanah nagari diberikan kepada suku untuk mengelolanya tetapi para pemimpin suku menganggap bahwa ulayat milik suku mereka secara keseluruhan. Kedua faktor ini jika tidak segera diselesaikan oleh pihak berwenang, terutama pemimpin tradisional maka konflik akan terus berlangsung dan menghantui kehidupan masyarakat di Minangkabau. 
MENAKAR KADERISASI KAMMI KOMISARIAT UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG Titi Fitrianita; Zulia Antan Ambarsari
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.26 KB) | DOI: 10.17977/um021v3i1p16-28

Abstract

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) merupakan salah satu organisasi ekstra kampus Universitas Brawijaya yang aktif di dalam kegiatan politik kampus dan mendominasi posisi penting organisasi intra kampus. Keterlibatannya di dalam politik kampus merupakan pengejawantahan usaha menanamkan nilai-nilai Islam melalui sarana politik. Untuk mempertahankan visi KAMMI dan bentuk organisasi, kaderisasipun dilakukan. Sayangnya, upaya kaderisasi KAMMI tidaklah mudah. Hal ini berkaitan dengan berbagai faktor yang menyebabkan kader KAMMI tetap bertahan atau tidak. Menggunakan metode kualitatif deskriptif tulisan ini bertujuan untuk mengungkap alasan kader KAMMI untuk bertahan atau tidak bertahan di dalam organisasi. Data diperoleh dengan melakukan observasi, wawancara secara mendalam kepada 13 informan dan data sekunder seperti dokumen dan jurnal. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode induktif dengan triangulasi sebagai metode validitas data. Dari penelitian ini diketahui sistem kaderisasi yang dilakukan oleh KAMMI menggunakan sistem berjenjang dimana untuk naik setiap levelnya membutuhkan pelatihan khusus. Upaya kaderisasi lewat sistem pendidikan berjenjang ini merupakan upaya menghasilkan kader yang loyal dan setia terhadap nilai-nilai di dalam organisasi. Namun ternyata latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, dan pilihan serta harapan individu sangat mempengaruhi keputusan kader untuk bertahan atau tidak bertahan sebagai kader KAMMI. Akhirnya, ketika tidak banyak kader yang bertahan maka KAMMI mengalami kesulitan untuk mempertahankan organisasi dan nilai yang diperjuangkan. Maka memperhatikan 3 faktor tersebut dalam kaderisasi menjadi penting untuk dilakukan KAMMI agar organisasi dapat bertahan. 
PILIHAN RASIONAL PEREMPUAN MADURA DALAM PEMERTAHANAN TRADISI MINUM JAMU DI KABUPATEN BANGKALAN DAN SUMENEP Ekna Satriyati; Alfan Biroli; Siti Nur Hana
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v4i2p133-141

Abstract

The number of women in Indonesia who are aware of the importance of maintaining medical health is increasing along with the improvement of medical health services and facilities provided by the Government of the Republic of Indonesia. However, the number of women in various parts of Indonesia who still trust traditional health services and facilities is also not small. One of them is Madura Woman who believes in the tradition of drinking herbal medicine. The tradition is as a means of maintaining health and treating illness that is trusted between generations. Various studies show that the decision to maintain the tradition of drinking herbal medicine is based on trust and economic price. The rational choice of women towards health and treatment is often synonymous with easy, cheap and fast. However, in this article the discussion of the rational choice of Madurese women maintains the tradition of drinking herbal medicine by using cost, reward and alternative comparison. The results of the analysis of the decision of Madurese women who still maintain the tradition of drinking herbal medicine is a form of rational choice in maintaining health and treating illness. The study method uses qualitative by means of observation and interviews with selected informants namely two women in Bangkalan District and two women in Sumenep Regency. 

Page 5 of 12 | Total Record : 116