BIOMA : Jurnal Biologi Makassar
Bioma mempublikasikan hasil penelitian dan kajian biologi: ekologi, botani, genetika, mikrobiologi, zoologi maupun biologi terapan dibidang agrokomplek dan medikal komplek. Bioma diterbitkan Departemen Biologi, FMIPA UNHAS, dan mempublikasikan artikel dua kali setahun , setiap bulan juni dan desember
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 4 No. 2 (2019)"
:
10 Documents
clear
Pertumbuhan Chlorella sp. Pada Beberapa Kombinasi Media Kultur
Rimba Boroh;
Magdalena Litaay;
Muh Ruslan Umar;
Ambeng Ambeng
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.6759
Penelitian tentang pengaruh beberapa perlakuan kombinasi antara media kultur organik berupa vermikompos cair dan media kultur anorganik berupa walne terhadap pertumbuhan Chlorella sp. telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi media kultur yang terbaik dalam merangsang peningkatan pertumbuhan populasi Chlorella sp.. Jenis penelitian ini adalah eksperimen menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap dengan kombinasi perlakuan faktorial 5 x 5 x 2 (5 konsentrasi perlakuan Medium Walne, 5 konsentrasi perlakuan vermikompos, masing-masing 2 kali ulangan). Chlorella dikultur selama 10 hari. Data dianalisis dengan menggunakan analisis Univariate Analysis of Variance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi media kultur yang berbeda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan Chlorella sp. dan diperoleh kepadatan rata - rata populasi tertinggi, yaitu perlakuan V4W4 pada hari ke-9 dengan jumlah kepadatan populasi 19.530 x 104 sel/ml dan nilai laju pertumbuhan sebesar 1,8 /hari. Hasil uji UNIANOVA menunjukkan tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan Chlorella sp.Kata Kunci : Vermikompos. Chlorella sp., Walne, Kultur, Kombinasi.
Pengaruh Molase dan Bioaktivator EM4 Terhadap Kadar Gula Pada Fermentasi Pupuk Organik Cair
Fahruddin Fahruddin;
Sulfahri Sulfahri
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.6905
Bioslurry merupakan produk dari hasil pengolahan biogas berbahan kotoran ternak serta air melalui proses fermentasi anaerob, baik digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair (POC) karena kaya akan unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan material organik yang bernilai lainnya serta mampu memperbaiki sifat fisik tanah . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh molase dan bioaktivator EM4 pada kadar kadar gula dalam fermentasi POC. Perlakuan meliputi PI molase 0% dan EM4 5%, P2 molase 2% dan EM4 5%, P3 molase 4% dan EM4 5%, P4 molase 0% dan EM4 10%, P5 molase 2% dan EM410%, dan P6 molase 4% dan EM4 10%. Pengukuran kadar gula dengan metode DNS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi molase yang terkandung di dalam POC berpengaruh terhadap kadar gula, sedangkan perbedaan penggunaan konsentrasi EM4 tidak berpengaruh terhadap beberapa parameter pengamatan seperti kadar gula. EM4 tidak berpengaruh terhadap kadar gula yang terkandung di dalam POC, sehingga persentase penggunaan EM4 pada POC tidak mengharuskan pada satu tingkatan saja. Namun, kadar gula berpengaruh nyata pada durasi fermentasi dan penggunaan molase pada POC.Kata kunci : molase, bioaktivator EM4, kadar gula, pupuk organik cair
Etnobotani Tumbuhan Ritual Yang Digunakan Pada Upacara Jamasan di Keraton Yogyakarta
Lily Yulia Surya Sari;
Farah Diba Setiana W;
Rina Setyawati
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.6691
Indonesia memiliki lebih dari 350 etnis, setiap etnis mempunyai budaya, termasuk diantaranya upacara adat/ritual, salah satu ritual yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta adalah Upacara Jamasan Pusaka. Pada upacara jamasan ini biasanya banyak digunakan berbagai jenis sesaji yang berasal dari tumbuhan utuh atau bagian tumbuhan yang diolah menjadi makanan, minuman, dan hiasan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014. Data pada penelitian ini meliputi makna filosofis tumbuhan yang digunakan pada upacara jamasan, dan jenis tumbuhan yang digunakan pada upacara jamasan. Data pada penelitian ini diperoleh dengan cara deep Interview dengan informan kunci abdi dalem Keraton. Data pada penelitian ini dianalisa secara deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil pada penelitian ini adalah tumbuhan yang paling banyak digunakan dalam upacara jamasan pusaka berasal dari famili Zingiberaceae dan Poaceae sebanyak 7,44%. Urutan kedua tumbuhan yang paling banyak digunakan pada upacara jamasan pusaka adalah famili Papilionaceae dan Myrtaceae 5,33%. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan pada upacara jamasan pusaka adalah buah sebesar 39,8% dan daun 15,9%. Kata Kunci : Etnobotani, Tumbuhan ritual , Jamasan, Keraton Yogyakarta.
Keanekaragaman Hayati Kupu-kupu Berbasis Pelestarian Lingkungan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung
Sri Nur Aminah Ngatimin;
Andi Nasruddin;
Ahdin Gassa;
Tamrin Abdullah
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.6915
Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung adalah salah satu habitat kupu-kupu di Sulawesi Selatan. Sejak beberapa tahun yang lalu terjadi penurunan populasi kupu-kupu yang sangat cepat karena kerusakan hutan dan perburuan liar oleh masyarakat. Tujuan penelitian yang telah dilakukan adalah mempelajari habitat dan preferensi kupu-kupu terhadap tumbuhan pakan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode survei dengan pemasangan transek berdasarkan habitat kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Kabupaten Maros mulai bulan Juli sampai September 2017. Hasil pengamatan habitat kupu-kupu menunjukkan kupu-kupu paling banyak berada di lapangan terbuka yakni 18 ekor (35.3%), 12 ekor (23.5%) berada di hutan sekunder dan 6 ekor (11.8%) memilih berada dekat aliran air. Berdasarkan fungsi tumbuhan, 3 famili kupu-kupu menunjukkan preferensi terhadap tumbuhan penghasil nektar dan 4 famili kupu-kupu memilih tumbuhan penghasil daun untuk meletakkan telurnya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lapangan terbuka (mating area) dan hutan sekunder merupakan habitat yang paling disukai oleh kupu-kupu untuk perkembangannya. Caesalpinia pulcherrima dan Clerodendron japonicum dapat digunakan sebagai sumber nektar kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Untuk jangka panjang diperlukan kerjasama antara Perguruan Tinggi, pemerintah daerah dan instansi terkait dalam melakukan pelestarian lingkungan hidup kupu-kupu di Sulawesi Selatan.Kata kunci : Bantimurung, habitat, keanekaragaman hayati, kupu-kupu, tumbuhan pakan
Status Konservasi Vegetasi Pohon di Lahan Bera Womnowi Sidey Manokwari (Sebuah Catatan Kecil Inventarisasi Vegetasi di Hutan Sekunder Papua Barat)
Slamet Arif Susanto
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.6693
Studi konservasi di hutan sekunder khususnya di lahan bera penting di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan membuat sebuah catatan kecil inventarisasi vegetasi pohon di lahan bera Womnowi Sidey Manokwari berdasarkan data Union for Conservation of Nature Resources (IUCN). Penelitian ini menggunakan metode analisis vegetasi―sebuah teknik continuous strip sampling, 10 x 10 meter untuk fase tiang dan 20 x 20 meter untuk fase pohon yang dilakukan pada awal bulan Mei 2018. Total individu jenis yang diinventarisasi pada luas satu hektar adalah 378 individu terdiri dari 65 jenis tiang dan pohon. Hasil menunjukkan vegetasi pohon didominasi oleh status LC. Dua jenis telah teridentifikasi sebagai NT dan V pada fase tiang: Aglaia odorata Lour. (NT) and Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze. (V). Indeks nilai penting (INP) jenis yang tergolong dalam IUCN adalah 76.05% pada fase tiang dan 83.53% pada fase pohon. Jenis dominan mungkin berpengaruh pada status konservasinya, penelitian lanjutan yang komprehensif perlu dilakukan dibeberapa tipe lahan bera di Papua Barat.Kata kunci: bera, konservasi, vegetasi pohon, analisis vegetasi, Manokwari
Keragaman Vegetasi Pada Areal Tepi Hutan Yang Berbatasan Dengan Enclave di Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Indra ASLP Putri;
Bayu Wisnu Broto;
Mursidin Mursidin;
Fajri Ansari
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.6694
Masyarakat enclave umumnya memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya alam dari kawasan hutan yang terdapat di sekitar tempat tinggal mereka, sehingga aktivitas pemanfaatan tersebut dapat berpengaruh terhadap komunitas tumbuhan di hutan sekitar enclave. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman vegetasi pada areal tepi hutan yang berbatasan dengan enclave Minggi, yang merupakan enclave yang terdapat di Taman Nasional bantimurung Bulusaraung. Pengamatan vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak. Analisis data dilakukan untuk mengetahui nilai kerapatan vegetasi, indeks nilai penting, indeks keragaman hayati Shannon-Weiner, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan Pielou, indeks kekayaan jenis Margalef dan indeks kesamaan komunitas Sorensen. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa vegetasi hutan di sekitar enclave Minggi memiliki keragaman vegetasi yang tergolong sedang. Terdapat spesies yang mendominasi, namun nilai indeks dominansinya masih tergolong rendah. Nilai indeks kemerataan jenis vegetasi tergolong rendah, sedangkan nilai indeks kekayaan jenis tergolong tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan atau tekanan oleh masyarakat terhadap hutan. Perubahan kondisi hutan tersebut memerlukan upaya pemulihan kondisi komunitas tumbuhan maupun upaya peningkatan kesadaran dan pembenahan kondisi masyarakat untuk mengurangi tingkat ketergantungan terhadap hutan.Kata kunci: Vegetasi, Tepi hutan, Enclave, Hutan sekunder, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Eksplorasi Cendawan Rhizosfer Pada Tegakan Hutan Rakyat suren Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman
Payangan Yanti Rina;
Gusmiaty Gusmiaty;
Muh Restu
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.8397
Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi oleh adanya keragaman mikroba yang yang terdapat di rhizosfer, salah satunya yaitu cendawan. Cendawan rhizosfer yang terdapat pada akar tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan perlindungan terhadap mikroba tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cendawan rhizosfer. Metode penelitian yang digunakan yaitu isolasi cendawan menggunakan teknik pengenceran 10-2 dan 10-3 , serta identifikasi cendawan berdasarkan karakter morfologi. Hasil isolasi cendawan rhizosfer diperoleh sebanyak 33 isolat yang terdiri atas 5 genus yaitu Aspergillus, Trichoderma, Rhizopus, Penicillium dan Fusarium.Kata Kunci : Suren, Rhizosfer, Cendawan
Kelimpahan Populasi dan Frekuensi Kunjungan serta Efektivitas Elaeidobius kamerunicus Faust pada Beberapa Varietas Kelapa Sawit
Dini Yuliana Solin;
Lusi Maira;
Siska Efendi
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.8532
Elaeidobius kamerunicus adalah kumbang polinator efektif pada tanaman kelapa sawit. Keberadaan kumbang penyerbuk kelapa sawit di perkebunan sangat diperlukan dalam meningkatkan pembentukan buah untuk menjamin kelangsungan penyerbukan pada kelapa sawit, sehingga diperlukan kumbang dengan jumlah optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kelimpahan populasi, frekuensi kunjungan dan efektivitas E. kamerunicus serta hubungannya dengan produksi pada beberapa varietas kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan di Nagari Gunung Selasih, Sungai Dareh dan IV Koto Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya dengan menggunakan varietas DxP Simalungun dan DxP Dumpy, metode yang digunakan adalah metode survei yang terdiri dari lima tahap yaitu penentuan lokasi dan tanaman sampel, pengamatan kelimpahan E. kamerunicus, pengamatan frekuensi kunjungan E. kamerunicus, pengukuran efektivitas E. kamerunicus dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan populasi perhektar mencukupi untuk proses penyerbukan, dan frekuensi kunjungan tertinggi pada bulan Oktober dan terendah bulan November, kelimpahan populasi dan frekuensi kunjungan berbanding lurus dengan rata-rata efektivitas penyerbukan yaitu 75%, sehingga kondisi seperti ini harus dipertahankan.Kata kunci : Coleoptera, Dumpy, Serbuk sari, Simalungun
HUBUNGAN ANTAR SIFAT-SIFAT TANAH DI BAWAH TEGAKAN LAMTORO GUNG (Leucaena leucocephala Lam De Witt.)
Budirman Bachtiar
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.8504
Tumbuhan penutup tanah (cover crops) seperti rumput-rumputan; semak-belukar; dan tanaman pelindung seperti lamtoro gung (Leucaena leucocephala L.) memiliki peran yang sangat penting di dalam mempertahankan serta meningkatkan produktivitas tanah hutan. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan antar sifat-sifat tanah dan kepentingannya dengan pertumbuhan pohon-pohon hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat-sifat tanah di bawah tegakan lamtoro gung memiliki hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut dibedakan atas dua bentuk hubungan (korelasi): Pertama hubungan yang sifatnya berkorelasi positif yaitu hubungan antara volume total pori tanah terhadap laju infiltrasi dan kadar air tanah; serta hubungan antara volume pori makro dengan laju infiltrasi. Kedua hubungan yang sifatnya berkorelasi negatif yaitu hubungan antara berat volume tanah terhadap volume total pori tanah, volume pori makro, laju infiltrasi, dan kadar air tanah.
DETEKSI GEN GLUKOKINASE PADA REMAJA DI PESISIR KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA
Tiara Mayang Pratiwi Lio;
Sugireng Sugireng
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20956/bioma.v4i2.7276
Gen glukokinase (GCK) mengkode enzim glukoinase yang berfungsi dalam metabolism glukosa. Di pankreas, enzim ini berperan dalam sekresi insulin yang distimulasi glukosa dan di hati, enzim ini penting dalam pengambilan glukosa dan konversi menjadi glikogen. Mutasi pada gen ini dapat meyebabkan perubahan aktivitas enzim yang telah dikaitkan dengan beberapa tipe diabetes. Penelitian deteksi gen GCK pada remaja di pesisir Kota Kendari Sulawesi Tenggara merupakan penelitian deskriptif analitik untuk melihat apakah gen GCK exon 7 dapat dideteksi pada remaja di Kota kendari dengan metode PCR. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini merupakan 10 orang siswa SMAN 8 kendari berusia 15-18 tahun. Analisis genetik dilakukan dengan mengisolasi DNA dari darah sampel menggunakan prosedur rutin. Daerah pengkodean serta batas intron-ekson diamplifikasi oleh PCR menggunakan prosedur standar. Berdasarkan hasil penelitian 8 dari 10 sampel menunjukkan pita DNA pada panjang 300bp, sehingga dapat disimpulkan metode PCR dapat digunakan mendeteksi gen GCK exon 7 pada remaja di Kota Kendari.