cover
Contact Name
Slamet Santosa
Contact Email
slametsantosa@unhas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
slametsantosa@unhas.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIOMA : Jurnal Biologi Makassar
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 25287168     EISSN : 25486659     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Bioma mempublikasikan hasil penelitian dan kajian biologi: ekologi, botani, genetika, mikrobiologi, zoologi maupun biologi terapan dibidang agrokomplek dan medikal komplek. Bioma diterbitkan Departemen Biologi, FMIPA UNHAS, dan mempublikasikan artikel dua kali setahun , setiap bulan juni dan desember
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2020)" : 14 Documents clear
Fluktuasi Populasi Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) pada Tiga Macam Varietas Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Sri Nur Aminah Ngatimin; Fatahuddin Fatahuddin; Rosi Widarawati; Nurfadila Nurfadila
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10280

Abstract

Tujuan penelitian adalah mempelajari fluktuasi populasi wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) yang dibiakkan pada tanaman padi Inpari 2, Inpari 31 dan Taichung Native 1 (TN 1). Percobaan berupa perbanyakan serangga dan pengujian tiga varietas padi dilaksanakan di Biringkanaya kota Makassar mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2019. Percobaan menggunakan tiga macam varietas padi yakni : Inpari 2, Inpari 31 dan TN 1. Sebanyak 30 benih setiap varietas padi disebarkan dalam ember berlabel (diameter = 24 cm, tinggi = 15 cm) berisi tanah basah dan pupuk urea (2:1). Di atas ember dibuat sungkup dari plastik mika (diameter = 28 cm, tinggi = 45 cm) yang bagian atasnya ditutup dengan kain tile. Wereng coklat sebagai serangga uji diambil dari  Kebun Percobaan Loka Balai Penelitian Penyakit Tungro, Kabupaten Sidrap. Wereng coklat dibiakkan dalam kurungan segi empat berkerangka kayu bertutup kain tile (60 cm x 60 cm x 60 cm) berisi tanaman padi sebagai sumber pakan dan tempat meletakkan telur. Ketiga varietas padi masing-masing diinfestasikan dengan 3 pasang wereng coklat berumur 2 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi wereng coklat mulai ditemukan pada tanaman padi varietas Inpari 2 dan TN 1 saat 9 hari setelah infestasi (HSI), sedangkan TN 1 saat 10 HSI. Penurunan populasi wereng coklat mulai terlihat pada tanaman padi Inpari 31 dan TN 1 saat 12 sampai 19 HSI, sedangkan Inpari 2 menurun populasi wereng coklatnya saat 11 sampai 19 HSI. Kesimpulan dari percobaan adalah : fluktuasi populasi wereng coklat tertinggi masing-masing terdapat pada tanaman padi varietas TN 1 (saat 11 HSI) dengan jumlah 122 ekor, Inpari 2  saat 10 HSI dengan jumlah 80 ekor dan Inpari 31 saat 11 HSI dengan jumlah 55 ekor.Kata Kunci : Inpari 2, Inpari 31, TN 1, wereng coklat, padi
Budidaya Jaringan Tanaman Teh di Indonesia Ratna Dewi Eskundari
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.9791

Abstract

Teh (Camellia sinensis L.) merupakan salah satu bahan baku untuk minuman teh. Usaha peningkatan produksi teh akhir-akhir ini gencar dilakukan mengingat meningkatnya populasi penduduk dunia. Perbanyakan tanaman teh dapat dilakukan secara konvensional menggunakan biji ataupun stek daun (stek batang). Selain dua cara tersebut, teh juga dapat diperbanyak melalui budidaya jaringan baik menggunakan jalur embriogenesis somatik ataupun organogenesis. Perbanyakan melalui cara ini mulai dikembangkan di Indonesia walaupun belum sebanyak yang dilakukan dengan stek batang. 
UJI PEMANGSAAN BERBAGAI SPESIES SEMUT (Solenopsis sp ; Oecophylla sp; Dolichoderus sp) TERHADAP HAMA PUTIH PALSU (Cnaphalocrocis medinalis) PADA TANAMAN PADI TAMRIN ABDULLAH; ITJI DIANA DAUD; KARTINI KARTINI
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10529

Abstract

AbstractAnts are important predators and are predicted to protect plants from pests if they are understood and researched properly. Ants belong to predatory insects because they are active and strong and prey on smaller, weaker insects. This study aims to determine the ant population approaching prey (pests in rice plants) and determine the time it takes for ants to find prey first. This research was conducted from September to November 2019 in the Labuangpatu Environment, Mappadaelo Village, Tanasitolo District, Wajo Regency. The results of this study indicate that the population size affects the speed of the ant species that can find prey where sooner or later the more population the faster the ant can find prey. Ant species Solenopsis sp is the most common ant species found in rice fields so it is easier to find prey. The speed at which ants find prey has no effect on the speed at which ants paralyze prey. The ant species Oecophylla sp is the ant species that most quickly paralyzes prey because its body is bigger than the prey and its behavior is very aggressive.Keywords: rice, predators, ants, Cnaphalocrocis medinalis Abstrak Semut adalah predator yang penting dan diprediksikan dapat melindungi tanaman dari hama jika dapat dimengerti dan diteliti dengan benar.  Semut termasuk kedalam serangga predator karena sifatnya aktif dan kuat serta memangsa serangga yang lebih kecil dan lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi semut yang mendekati mangsa (hama pada tanaman padi) dan mengetahui waktu yang dibutuhkan semut untuk menemukan mangsa pertama kali. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari September-November 2019 di Lingkungan Labuangpatu, Kelurahan Mappadaelo, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah populasi berpengaruh terhadap cepat atau lambatnya suatu spesies semut dapat menemukan mangsa dimana semakin banyak populasi maka semakin cepat pula semut dapat menemukan mangsa. Spesies semut Solenopsis sp adalah spesies semut yang paling banyak dijumpai di persawahan sehingga lebih mudah menemukan mangsa. Cepatnya semut menemukan mangsa tidak berpengaruh terhadap cepatnya semut melumpuhkan mangsa. Spesies semut Oecophylla sp adalah spesies semut yang paling cepat melumpuhkan mangsa dikarenakan tubuhnya yang lebih besar dari mangsa dan perilakunya yang sangat agresif.Kata kunci: padi, predator, semut, Cnaphalocrocis medinalis
POPULASI DAN KARAKTERISTIK MIKROHABITAT TARSIUS (Tarsius spectrumgurskyae) DI TWA BATUPUTIH SULAWESI UTARA Muhammad Rizki; Maryati Abiduna
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10272

Abstract

Tarsius atau tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae) merupakan primata terkecil di dunia dan termasuk satwa endemik yang hidup serta dilindungi di pulau Sulawesi. Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara adalah salah satu habitat primata ini berada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi populasi tarsius dan karakteristik mikrohabitat tarsius yang mencakup kondisi fisik, karakteristik vegetasi dan sebaran pohon tidur. Data karakteristik vegetasi diambil dengan menggunakan metode kuadrat di sekitar pohon tidur tarsius. Data populasi tarsius diambil dengan metode eksploratif. Estimasi populasi menggunakan metode jalur dan untuk menghitung kelimpahan populasi (Overall estimate of populasi size/ abundance) menggunakan metode King. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estimasi kepadatan populasi tarsius selama penelitian di kawasan Taman Wisata Alam Batuputih adalah 230 ekor/km² atau 2,3 ekor/ha dengan kelimpahannya 1415 ekor dimana populasi tarsius terbanyak ditemukan di hutan sekunderKarakteristik mikrohabitat tarsius yang diamati selama penelitian adalah pohon beringin kuning (Ficus tinctoria), pohon coro (F. variegata), pohon seho (A. pinnata) dan pohon-pohon yang berasosisasi dengan tumbuhan tali (Araliaceae); nusu (Terminalia catappa), kayu kambing (Garuga. floribunda), kayu telor (Alstonia.scholaris), bintangar (Kleinhovia hospital), kayu bunga (S. campanulata) dan wariu (Ailanthus integrifolia)Kata kunci: Populasi, Karakteristik mikrohabitat, Tarsius, TWA Batuputih
GEN KETAHANAN PENYAKIT PADA FAMILIA ORCHIDACEAE Risma Rasmani; Endang Nurcahyani; Sri Wahyuningsih; Sumardi Sumardi
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10570

Abstract

Familia Orchidacae memiliki banyak jenis spesies yang terdiri dari 25.000 spesies.  Beberapa contoh spesies dari Orchidaceae yaitu diantaranya adalah anggrek bulan, vanilli, anggrek tanah, Dendrobium dan lain-lainnya. Tanaman seperti anggrek dan vanilli terancam kepunahannya. Tanaman anggrek dan vanilli sering terserang oleh jamur patogen yaitu Fusarium oxysporum (Fo) yang dapat menimbulkan penyakit layu tanaman. Pengendalian penyakit yang tidak menimbulkan efek negatif bagi lingkungan sekitarnya yaitu menggunakan kultivar unggul yang resisten terhadap infeksi dari jamur patogen F. oxysporum atau melalui penambahan senyawa- senyawa atau melalui media lainnya. Tujuan review jurnal ini adalah untuk mengetahui senyawa dan gen apa saja yang tahan penyakit pada familia Orchidaceae. Berdasarkan hasil review dari beberapa jurnal dapat diketahui bahwa senyawa-senyawa seperti Asam Fusarat, Asam Salisilat dan PEG 6000 dapat menunjukkan korelasi positif antara ketahanan penyakit terhadap toksin. Gen-gen seperti gen KNAT1, POH 1, TCP, nptII, hpt dan LTP merupakan gen-gen yang tahan terhadap penyakit dan juga gen yang ditemukan dapat mempercepat proses pertumbuhan tanaman. Hasil review beberapa jurnal diperoleh kesimpulan bahwa senyawa yang tahan terhadap penyakit tanaman yaitu Asam Fusarat, Asam Salisilat dan PEG 6000. Gen yang tahan penyakit yaitu gen KNAT1, gen POH 1, gen TCP, gen nptII dan hpt dan gen LTP. Hasil yang didapat tidak hanya tahan terhadap penyakit, tetapi senyawa dan gen tersebut dapat meningkatkan baik pada pertumbuhan seperti daun, bunga dan batang. Kata Kunci : Gen, Ketahanan, Orchidaceae, Penyakit, dan Senyawa
KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA TANAH DI GUNUNG ANJASMORO, DESA CARANGWULUNG, KECAMATAN WONOSALAM, KABUPATEN JOMBANG Muhammad Muhibbuddin Abdillah; Ahmad Nauval Arroyyan; Muhammad Saiful Anwar
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10274

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lintasan cincin api sehingga memiliki banyak gunung yang menjadi habitat bagi flora dan fauna. Keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi termasuk arthropoda tanah menyebabkan Indonesia dijuluki dengan negara megabiodiversitas. Gunung Anjasmoro memiliki wilayah dengan kebun, hutan produksi dan hutan heterogen yang belum diketahui keanekaragaman arthropoda tanahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman arthropoda tanah di Gunung Anjasmoro. Berdasarkan hasil, ditemukan 6 famili arthropoda tanah dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener tertinggi pada lokasi 4  (H’= 1,43) dan terendah pada lokasi 1 (H’=0). Famili yang ditemukan meliputi  Formicidae, Haliplidae, Entomobrydae, Gryllidae, Holopleuridae dan Staphylinidae.
PENGHAMBATAN CYTHOPHATIC EFFECT (CPE) PADA SEL BHK-21 YANG TERINFEKSI VIRUS DENGUE SEROTIPE 4 (DENV-4) DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK N-HEKSAN STREPTOMYCES SP. GMR22 Diani Mentari; Jaka Widada; Tri Wibawa; Nastiti Wijayanti
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10292

Abstract

Negara tropis seperti Indonesia sangat berpotensi sebagai tempat berkembangnya berbagai penyakit menular berbahaya salah satunya Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Variasi genetik pada serotipe virus dengue menyebabkan penyakit ini menjadi perhatian dunia medis karena menyebabkan kompleksitas respon imun yang berbeda. Vaksin Dengue (Denvaxia) diperkenalkan oleh WHO pada akhir tahun 2015, namun penggunaannya belum sepenuhnya efektif. Hal ini menyebabkan banyak peneliti berupaya untuk mencari senyawa bioaktif yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agen antiviral. Streptomyces sp. GMR22 diketahui menghasilkan senyawa bioaktif dengan spektrum yang luas. Ekstrak n-heksane Streptomyces sp. GMR22 memiliki nilai CC50 yang tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan ekstrak Etil Asetat. Hal ini menyebabkan metabolit sekunder yang dihasilkan dapat digunakan untuk analisis lanjut seperti uji antivirus karena aman terhadap sel BHK-21 yang merupakan host virus dengue. Virus DENV-4 merupakan serotipe endemik di Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antivirus DENV-4 menggunakan ekstrak n-heksan Streptomyces sp. GMR22. Aktivitas antivirus dilakukan melalui pengamatan sel BHK-21. Hasil pengamatan morfologi sel BHK-21 terinfeksi virus DENV-4 menunjukkan bahwa pemberian ekstrak n-heksan Streptomyces sp. GMR22 mengurangi terbentuknya Cythophatic Effect (CPE). Namun penggunaan konsentrasi 40 µg/mL menyebabkan kematian pada sel BHK-21. Kata kunci:  antiviral, DENV-4, metabolit sekunder,  Streptomyces sp. GMR22, CPE
The Surroundings Medicinal Plants and its Utilization for Women Healthcare in Masbangun Village, Kayong Utara District Fathul Yusro; Rania Rania; Yeni Mariani; Evy Wardenaar; Yanieta Arbiastutie
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10587

Abstract

The knowledge of medicinal plants possessed by traditional healers (battra) must be transmitted to the next generation, one of them by using plants that are around to overcome health problems related to feminity. This study aims to analyze the level of community knowledge on the plant species that are used to overcome some issues related to femininity, the plants most widely used by the community, and the plant species most preferred for the treatment of certain diseases to femininity. The research method was conducted by interview technique with purposive sampling. The respondents' number is 30% of the total households in the village of Masbangun (320 respondents). The interviews were conducted using a questionnaire containing several questions related to the surrounding plant species used by the community to address health problems related to femininity. The results showed that most people in Masbangun Village (90%) knew the benefits of medicinal plants in the surrounding environment. A total of 16 types of medicinal plants are used as ingredients for women's health care. The plants that have a high use value are the heart of a Musa paradisiaca, Zingiber officinale, Curcuma domestica, and Piper betle. Medicinal plants with the highest FL values are Zingiber purpureum, Centella asiatica, Zingiber officinale (pre/postpartum), Musa paradisiaca (breastfeeding), Quercus infectoria (vaginal discharge), Premna cordifolia (body odor), Vigna radiata (female fertility) and Cocos nucifera (blackening hair). The level of utilization of medicinal plants by the community in Masbangun Village is in the medium category (6-10 species). The majority of users are women between the ages of 41-60 and 21-40 years old, elementary school education, work of housewives, and farmers.
KEANEKARAGAMAN JENIS RAYAP PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN Manap Trianto; Fajri Marisa; Nur'aini Nur'aini; Sukmawati Sukmawati
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.10716

Abstract

Rayap merupakan salah satu serangga yang berasal dari ordo Blatodea dan kelas Heksapoda. Kondisi habitat yang berbeda dapat mempengaruhi keanekaragaman rayap pada suatu habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman jenis rayap pada Perkebunan Kelapa Sawit dan Perkebunan Karet. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2020 di dua lokasi yaitu Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) dan Perkebunan Karet (PK), Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua lokasi penelitian terdapat sebanyak 2 famili, 9 genus, dan 11 spesies rayap. Keanekaragaman rayap pada Perkebunan Karet (H’ = 2.18) lebih tinggi dibanding pada lokasi Perkebunan Kelapa Sawit (H’ = 1,81).
PERTUMBUHAN ISOLAT JAMUR PASCAPANEN PENYEBAB BUSUK BUAH PISANG AMBON (Musa paradisiaca L.) SECARA IN VIVO rahmawati ibrahim saleh rahmawati; Rina agus setiawati; Elvi Rusmiyanto Pancaningwardoyo
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v5i2.11083

Abstract

Abstrak Permukaan kulit buah pisang ambon yang terluka dapat menyebabkan infeksi oleh jamur busuk buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan jamur penyebab busuk buah pisang ambon. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura Pontianak. Metode yang digunakan meliputi isolasi jamur dari buah pisang ambon yang busuk dan inokulasi jamur pada buah pisang ambon yang sehat metode tanam langsung (Direct Plating Method). Parameter pengamatan meliputi pengukuran diameter pertumbuhan jamur dan pengukuran ketebalan kerusakan daging buah. Isolat jamur yang diperoleh ada 9 isolat dengan kode isolat PA1, PA2, PA3, PA4, PA5, PA6, PA7, PA8 dan PA9.Berdasarkan hasil pengamatan,diameter pertumbuhan terbesar berturut-turut adalah isolat PA 8, isolat PA 1,PA 4, PA 2, PA 7, PA 9, PA 5 dan PA 6 masing-masing 34,55 mm, 30,61 mm, 27,86 mm, 26,8 mm, 26,45 mm, 24,12 mm, 21,86 mm dan 21,34 mm, dengan kerusakan daging buah masing-masing 100%, sedangkan isolatPA 3 10,32 mm dengan kerusakan daging buah terendah yaitu 15%. Hal ini menunjukkan bahwa pisang ambon dapat terkontaminasi oleh berbagai koloni jamur dengan pertumbuhan berbeda-beda. Kata kunci : Diameter Pertumbuhan, Jamur, Kerusakan, Pisang Ambon

Page 1 of 2 | Total Record : 14