cover
Contact Name
Tri Wahyono
Contact Email
wahyonotri25@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hsosiati@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur)
ISSN : 25803271     EISSN : 26565897     DOI : 10.18196/jmpm
Core Subject : Engineering,
Jurnal Material DAN Proses Manufaktur focuses on the research and research review in the field of engineering material and manufacturing processes. The journal covers various themes namely Design Engineering, Process Optimization, Process Problem Solving, Manufacturing Methods, Process Automation, Material research and investigation, Advanced Materials, Nanomaterials, Mechanical solid and fluid, Energy Harvesting and Renewable Energy.
Arjuna Subject : -
Articles 275 Documents
DETEKSI CACAT BANTALAN POROS ENGKOL MOTOR PEMBAKARAN DALAM MENGGUNAKAN SPEKTRUM ENVELOPE Kamiel, Berli Paripurna
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3243

Abstract

Bantalan poros engkol adalah salah satu komponen penting pada motor pembakaran-dalam (IC engine) yang dapat mengalami cacat akibat pembebanan berulang dan temperatur tinggi. Kerusakan bantalan menyebabkan penurunan kinerja mesin yang jika tidak segera dilakukan tindakan perawatan dapat mengakibatkan kerusakan total. Analisis spektrum getaran adalah teknik utama yang digunakan untuk mendeteksi cacat bantalan. Namun demikian, spektrum tidak efektif untuk mendeteksi cacat bantalan di mesin-mesin pembakaran-dalam karena menghasilkan background noise yang sangat besar sehingga menutup amplitudo getaran bantalan. Penelitian ini mengusulkan prosedur pre-processing sinyal getaran untuk mengeliminasi frekuensi-rendah-amplitudo-tinggi dan menguatkan amplitudo dari frekuensi bantalan. Penelitian ini menerapkan analisis envelope pada bantalan poros engkol motor pembakaran dalam 2 langkah. Eksperimen pada rig uji menggunakan 3 kondisi bantalan single row dari Danmotor yaitu bantalan normal (tidak cacat), cacat lintasan dalam ukuran 0,25 mm dan 0,50 mm. Kecepatan poros dijaga konstan pada variasi 1500 RPM dan 2000 RPM. Sensor akselerometer diletakkan pada blok mesin dekat dengan lokasi poros engkol untuk merekam sinyal getaran menggunakan kecepatan sampling 51200 Hz. Hasil penelitian menunjukan bahwa spektrum tidak dapat mendeteksi cacat bantalan untuk semua ukuran cacat dan kecepatan poros sedangkan spektrum envelope berhasil menampilkan BPFI dan side band yang dapat digunakan untuk mendeteksi cacat bantalan dan menentukan level cacatnya. A bearing on the crankshaft is one of critical component of the IC engine which may fault due to cyclic loading and high temperature. The vibration spectrum analysis is the main technique used to detect faulty bearings. However, it is not effective because IC engine produces a very large background noise which immerses bearing vibration amplitude. The study proposes a signal pre-processing procedure to eliminate low-frequency high-amplitude vibration and magnifies the amplitude of the bearing frequency. This paper applies envelope analysis on crankshaft bearings of two-strokes IC engine. The experiments on the test rig uses 3 condition of single row bearing from Danmotor i.e. normal bearing (healthy), inner race fault of 0,25 mm and 0,50 mm. The shaft speed of 1500 RPM and 2000 RPM is used during experiment. An accelerometer sensor is placed on the engine block near the location of the crankshaft to record vibration signals using 51200 Hz sampling rate. The result shows that spectrum fails to detect faulty bearing for all size defects and shaft speed. Meanwhile, envelope spectrum shows obvious BPFI and its side bands which can be used to detect and localize bearing fault.  
KONTUR TEKANAN DAN KECEPATAN ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HYDRAULIC-RAM Sukamta, Sukamta; Mahendra S, Binanda Braja; Krisdiyanto, Krisdiyanto; Janalto, Ongky; Priambodo, Wursito Adi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3138

Abstract

AbstrakKarakteristik aliran fluida sangatlah penting diprediksi agar dapat dilakukan upaya pencegahan dini terhadap kerusakan yang terjadi pada saluran perpipaan. Salah satu metode yang tepat untuk memprediksi karakteristik aliran tersebut adalah Computational Fluid Dynamics (CFD). Metode ini sangat cocok digunakan untuk melakukan analisis sebuah sistem yang rumit dan sulit dipecahkan dengan perhitungan manual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fenomena aliran yang terjadi pada pompa Hydram dengan simulasi numerik menggunakan software ANSYS Fluent 19 R2 academic. Simulasi ini dilakukan pada pompa Hydram berdiameter tabung 8 inch dan panjang pesat 7,3 m. Simulasi pada kondisi transien ini dilakukan dengan menggunakan metode layering mesh dinamis. Hasil simulasi menunjukkan karakteristik aliran fluida di dalam pompa Hydram dengan kontur tekanan yang tidak merata tetapi terkonsentrasi pada titik tertentu. Tekanan di area badan pompa lebih tinggi daripada di area tabung, perbedaan tekanan disebabkan oleh gerakan katup dan perbedaan diameter pipa. Kecepatan aliran pada pipa pesat sangat berpengaruh pada tekanan yang dihasilkan, dan hal ini akan mempengaruhi head pompa Hydram juga akan meningkat. AbstractIt is important to predict the characteristics of the fluid flow so that early prevention efforts can be made. An appropriate method for predicting the flow characteristics is Computational Fluid Dynamics (CFD). This method is suitable for analyzing complex systems that are difficult to solve using manual calculations. This research was conducted to determine the flow phenomenon that occurs in Hydram pumps with numerical simulations using ANSYS Fluent 19 R2 academic software. This simulation was carried out on a Hydram pump with a diameter of 8 inches and a pipe length of 7.3 m. Simulations on these transient conditions are carried out using the layering dynamic mesh method. The simulation result in the fluid flow characteristics at Hydram pump with uneven pressure contours but concentrated at a certain point. Pressure in the pump body area is higher than that in the tube area, the pressure difference is caused by the movement of the valve and the difference in pipe diameter. The flow velocity on the pipe is very fast influencing the pressure generated, and this will affect the Hydram pump head will also increase.
SIFAT TARIK DAN STRUKTUR MIKRO SAMBUNGAN LAS GESEK TAK SEJENIS BAJA-TEMBAGA Romadhan, Ady Ryan; Nugroho, Aris Widyo; Suwanda, Totok; Wilza, Romi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3133

Abstract

AbstrakTembaga dikenal memilki keunggulan sifat fisis sehingga sering diaplikasikan bersamaan dengan baja menggunakan teknik brazing yang membutuhkan filler. Friction welding memberikan alternatif penyambungan tak sejenis tanpa filler dan asap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek tekanan gesek terhadap sifat mekanis sambungan las gesek pada sambungan dissimilar baja-tembaga. Silinder tembaga dan baja dibubut menjadi bentuk setengah bagian dari benda uji standar JIS Z 2201. Proses pengelasan dilakukan pada putaran 1000 rpm dengan variasi tekanan gesek sebesar 30, 35, dan 40 MPa dengan tekanan tempa 80 MPa. Waktu gesek dan waktu tempa masing-masing 5 detik. Hasil penyambungan masing-masing diamati struktur mikro, kekerasan dan sifat tariknya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan meningkatnya tekanan gesek maka daerah TMAZ melebar. Struktur mikro berbutir halus teramati di bagian baja, sedangkan di daerah tembaga, orientasi butir berubah memanjang searah dengan permukaan sambungan. Pada daerah termomechanically affected zone (TMAZ) dan welding center zone (WCZ) kekerasan masing-masing logam turun seiring dengan kenaikan tekanan gesek. Lebar daerah TMAZ yang cukup membuat kekuatan tarik tertinggi diperoleh dari spesimen dengan variasi 35 MPa sebesar 89 MPa. Metode las ini dapat digunakan untuk penyambungan logam tak sejenis baja-tembaga dengan memperhitungkan luasan daerah TMAZ. AbstractCopper is often used along with steel due to it excellence properties by using brazing technique. Friction welding technique offers an alternative technique for joining dissimilar metal without fillers and smoke. This research purpose is to study the effect of the friction pressure on the mechanical properties of steel-cooper friction welded joints. Copper and steel bars were turned into half the shape of the specimen according to JIS Z 2201. The welding process was carried out at a speed of 1000 rpm with the friction pressures of 30, 35, and 40 MPa under an upset stress of 80 MPa for 5 seconds of friction time and upset time. The results showed that with increasing friction pressure the TMAZ area was widened in fine grained microstructure for the steel region. Whereas in the copper region, the orientation of elongated grains inline with the direction of the joining surface. In the TMAZ and WCZ areas the hardness of each metal decreases with increasing friction pressure. The sufficient width of the TMAZ results in the highest tensile strength of 89 MPa. It was obtained from the specimens with friction pressure of 35 MPa. This welding method is potentially used for dissimilar steel-copper joint by considering the area of the TMAZ region.Keywords: Friction welding, dissimilar metals joint, pressure friction, TMAZ
EVALUASI KETIDAKCOCOKAN UKURAN KURSI KULIAH PADA PERGURUAN TINGGI Himarosa, Rela Adi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3244

Abstract

Furnitur ruang kuliah merupakan salah satu sarana fisik penunjang pembelajaran. Kesehatan manusia saat duduk sangat dipengaruhi oleh furnitur seperti meja dan kursi yang digunakan. Aktivitas mahasiswa di perguruan tinggi banyak di kelas dengan posisi duduk statis. Duduk dalam waktu yang lama merupakan salah satu faktor yang mampu menyebabkan gangguan muskuloskeletal terutama pada bagian punggung bawah. Gejala gangguan muskuloskeletal pada remaja menjadi faktor risiko yang signifikan untuk terjadinya gangguan muskuloskeletal saat dewasa. Hasil antropometri menunjukkan ketidakcocokan dimensi furnitur yang digunakan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman, sakit anggota badan, dan terjadinya gangguan pada muskuloskeletal. Posisi berdiri dan duduk yang benar menjadi faktor penting untuk pencegahan masalah ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan ketidakcocokan antara ukuran antropometri mahasiswa dan desain kursi yang digunakan di universitas untuk proses pembelajaran. Data antropometri diambil dari ukuran 80 mahasiswa dengan sebaran 50% pria dan 50% wanita. Tiga model kursi perkuliahan dijadikan evaluasi ketidakcocokan. Model kursi 1 merupakan kursi model lama yang sudah tidak dipakai, model kursi 2 merupakan kursi yang sudah mulai digantikan, terakhir kursi model 3 merupakan kursi terbaru yang digunakan di perkuliahan. Ketiga model kursi yang ada di sebuah perguruan tinggi memiliki variasi ketidakcocokan dengan antropometri mahasiswa. Model kursi 3 produksi terbaru memiliki 100% ketidakcocokan pada tinggi meja dan sebesar 50% pada tinggi kursi. Model kursi 1 produksi lama memiliki 100% ketidakcocokan pada kedalaman kursi. Hasil evaluasi ini mampu menunjukkan model kursi yang memiliki tingkat ketidakcocokan paling kecil sehingga pemilihan model kursi terbaru harus mempertimbangkan data antropometri. Furniture at class, is one of the physical property to support the learning process. Human health is greatly influenced by furniture such as tables and chairs used when they are sitting. Student activities in university mostly done at class with static sitting positions. Sitting in a long time is one of the factors that cause musculoskeletal disorders, especially in the lower back. The symptoms of musculoskeletal disorders in adolescents is a significant risk factor for the occurrence of musculoskeletal disorders in adulthood. Anthropometric results can show a mismatch of dimensions of the furniture used, which results in discomfort, limb pain, and the occurrence of musculoskeletal disorders. Correct standing and sitting position is an important factor for the prevention of this problem. The results of this study indicate a mismatch between the anthropometric size of students and the design of chairs used at universities for the learning process. Anthropometric data was taken from 80 students with a distribution of 50% male and 50% female. Three lecture chair models were used as an mismatch evaluation. First chair model was the old model chair that is not used anymore, second chair model is a chair that has begun to be replaced, the last chair model is the latest seat used in university. The three chair models available at a university have variations in mismatch with student anthropometry. The latest production chair model no 3 has a 100% mismatch at table height and at 50% at chair height. Old production, the chair no 1 models have 100% mismatch in chair depth. The results of this evaluation were able to show the chair model that has the smallest degree of mismatch, so the selection of the next chair model must consider anthropometric data.
SIMULASI PENERAPAN END PLATE WING TIP DEVICES PADA PESAWAT MODEL UAV JENIS GLIDER Azmi, Azhim Asyratul; Wahyudi, Wahyudi; Nugroho, Aris Widyo
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3239

Abstract

Aliran udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah menimbulkan pusaran udara pada ujung sayap atau biasa dikenal sebagai wing tip vortices. Wing tip vortices menyebabkan downwash yang mengurangi nilai gaya angkat pada sayap. Berbagai tipe wing tip devices kemudian dirancang untuk mengurangi wing tip vortices, salah satunya adalah wing tip devices jenis end plate. Penelitian pengaruh penerapan wing tip devices dengan variasi sudut kemiringan dapat menggunakan metode pendekatan simulasi. Wing tip devices jenis end plate dirancang dengan desain mengacu pada Withcomb winglet bagian atas. Objek simulasi meliputi pesawat model glider tanpa end plate, menggunakan end plate dengan sudut kemiringan 0o dan end plate dengan sudut kemiringan 15°. Simulasi dilakukan dengan tiga variasi kecepatan jelajah 50, 60, dan 70 km/jam. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penerapan end plate dapat meningkatkan nilai gaya angkat. Persentase peningkatan terbesar yaitu 4,1% menggunakan end plate dengan sudut kemiringan 15° pada kecepatan 70 km/jam. Persentase penurunan nilai gaya hambat terbesar terjadi pada konfigurasi end plate dengan sudut kemiringan 15° pada kecepatan 50 km/jam yaitu sebesar 1,04%. Hasil kontur dan iso surface menunjukkan bahwa penerapan end plate pada ujung sayap menjadikan distribusi tekanan lebih merata di permukaan sayap sehingga terjadi peningkatan nilai gaya angkat. Air flow moving from high pressure to low pressure produces vortex at wing tip known as wing tip vortices. Wing tip vortices generate downwash flow and reduce distribution of pressure on the wing. Many types of wing tip devices had been designed to reduce wing tip vortices effect, one of the design is known as end plate wing tip devices. Research of wing tip devices with cant angle variation can be conducted by simulation approach. The end plate wing tip devices has been designed according to the upper section of with comb winglet. The object of simulation was a glider plane model without end plate, end plate with cant angel 0° and 15°. Simulation had been observed with three variations of cruising speed: 50, 60, and 70 km/h. Simulation result shows the 15° end plate can increase 4.1% lift at 70 km/h, and reduce 1.04% drag at 50 km/h compared to wing tip without end plate. Contour and iso surface result the end plate make pressure distribution on wing pressure more uniform and generated more lift. 
UNJUK KERJA MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR CAMPURAN BIODIESEL JARAK DAN BIODIESEL JELANTAH Wahyudi, Wahyudi; Sarip, Sarip; Sudarja, Sudarja; Suhatno, Haris
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3135

Abstract

AbstrakCadangan bahan bakar fosil yang bersifat tidak dapat diperbarui semakin menipis. Pengembangan energi terbarukan perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, diantaranya dengan pemanfaatan minyak nabati menjadi biodisel. Pada penelitian ini digunakan bahan baku biodisel campuran minyak jarak dan biodisel minyak jelantah yang dikombinasikan dengan minyak solar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja dari mesin disel dengan menggunakan bahan bakar solar 100% dan campuran biodisel jarak ? jelantah dan solar dengan variasi 5% biodisel ? 95% solar (B5), 10% biodisel ? 90% solar (B10) dan 15% biodisel ? 85% solar (B15). Penelitian dimulai dengan melakukan pengujian sifat fisis bahan bakar meliputi viskositas, densitas, flashpoint, nilai kalor. Selanjutnya dilakukan uji unjuk kerja mesin disel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya yang dihasilkan dari bahan bakar B5, B10, B15 masih lebih rendah daripada bahan bakar solar murni. Laju konsumsi bahan bakar pada biodisel B5, B10, dan B15 lebih rendah dibanding bahan bakar solar murni. AbstractReserves of non-renewable fossil fuels are diminishing. Renewable energy development needs to be done to reduce dependence on fossil fuels, including the utilization of vegetable oil into biodiesel. This research used a mixture of jatropha and waste cooking oil biodiesel combined with diesel oil. The purpose of this study was to determine the performance of diesel engines using 100% diesel fuel and biodiesel with a variation of 5% biodiesel - 95% diesel (B5), 10% biodiesel - 90% diesel (B10) and 15% biodiesel - 85% diesel (B15). The study has begun by testing the physical properties of the fuel, including viscosity, density, flashpoint, heating value. Then the diesel engine performance test was carried out. The results showed that the power produced from B5, B10, B15 fuels was lower than pure diesel fuel. The fuel consumption rate of B5, B10, and B15 biodiesel is lower than pure diesel fuel.
PERANCANGAN ULANG TATALETAK FASILITAS INDUSTRI SANDAL DENGAN METODE CORELAP Faishal, Muhammad; Putra, Muhammad Khrisna
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3245

Abstract

Tata letak pabrik yang baik dapat menempatkan berbagai fasilitas dan peralatan fisik secara teratur sehingga mendukung pekerjaan berjalan secara produktif. Penelitian kali ini dilakukan di perusahaan yang memproduksi sandal spon sebagai fasilitas di penginapan. Perusahaan ini memiliki masalah yaitu pemborosan pada aliran material di beberapa area yang seharusnya tidak diperlukan seperti dari gudang ke proses pengeleman berjarak ± 50 m. selain itu juga masih terdapat lintasan yang bersimpangan seperti pada penjahitan cup ke penjahitan sol. Penelitian ini bertujuan untuk membuat tata letak fasilitas baru yang tepat dan baik untuk mengurangi pemborosan jarak material handling yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Computerized Relationship Layout Planning (CORELAP). Dengan membuat  layout alternative sebanyak 5 dengan nilai score berbeda. Layout dengan score terkecil yang akan dipilih. Metode CORELAP merupakan metode construction yang mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif sehingga menentukan fasilitas pertama yang diletakkan didalam layout diperlukan data keterkaitan hubungan aktivitas. Hasil penelitian ini mendapatkan usulan tata letak fasilitas dengan CORELAP lternatif terpilih yang melakukan pengoptimalan dengan merubah 9 departemen sehingga mendapatkan pegurangan jarak total sebesar 46%, atau  menjadi 125.8 m. A good layout can assign various facilities and physical equipment on a systematically to support activities running productively. This research was conducted at a company that manufactures sponge slippers as a facility at the inn. This company has a problem that is waste in the flow of material in some areas that should not be needed such as from the warehouse to the gluing process within ± 50 m. besides that, there are still crossing trajectories such as the sewing of the cup to the sewing of the sol. This study aims to make the layout of new facilities appropriate and good to reduce the waste of material handling distance that occurs. The method used in this study uses Computerized Relationship Layout Planning (CORELAP). By making alternative layouts of 5 with different score values. The layout with the smallest score will be chosen. CORELAP method is a construction method that converts qualitative data into quantitative data so as to determine the first facility that is placed in the layout, it requires data related to the activity relationship. The results of this study get a proposed layout of facilities with selected alternative CORELAP who optimize by changing 9 departments to get a reduction in a total distance of 46% or reduce until 125.8 m.
DISAIN DAN PEMBUATAN ALAT PREHEAT INDUKSI PADA PENGELASAN GESEK LOGAM DISSIMILAR Rahman, Reza Taufikur; Nugroho, Aris Widyo; Suwanda, Totok
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3240

Abstract

Pengelasan gesek diketahui memiliki keunggulan mampu menyambung dua logam yang berbeda (dissimilar). Meskipun demikian, pengelasan ini masih mengalami kesulitan dalam proses penyambungan karena perbedaan titik lebur dari kedua logam yang disambung. Agar perbedaan suhu pada daerah yang bergesekan tidak terlalu besar, perlu dilakukan pemanasan awal /preheat pada logam dengan titik lebur yang lebih tinggi. Tulisan ini membahas disain dan pembuatan mesin preheat induksi pada las gesek logam dissimilar. Pemanas induksi yang digunakan adalah prinsip-prinsip arus eddy dengan frekuensi tinggi. Mesin preheat induksi ini terdiri atas komponen utama yaitu transformator, diode, transistor mosfet, kapasitor, kumparan kerja, induktor, dan resistor. Kumparan kerja terbuat dari pipa pejal tembaga berdiameter 5 mm, jumlah lilitan, n = 6 lilit dengan tinggi kumparan 35 mm dan diameter lilitan 40 mm. Setelah terangkai, dilakukan pengujian pada silinder pejal stainless steel berdiameter 14 mm dan panjang daerah pemanasan 30 mm. Pemanasan dilakukan sehingga silinder mencapai temperatur >600 °C. Termokopel tipe K digunakan untuk mengukur temperatur silinder. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mesin memiliki spesifikasi berupa tegangan kerja rangkaian 20 Volt dan arus maksimal 44 ampere. Temperatur naik dengan cepat hingga 600 °C setelah 70 detik pertama kemudian naik sedikit dan stabil sampai dengan maksimum temperatur 683 °C dengan waktu pengujian sampai dengan 300 detik. Daya listrik berkisar antara 320-674 watt. Hasil ini menunjukkan bahwa mesin preheater telah berhasil dibuat dan berpotensi dapat digunakan sebagai preheater pada proses las gesek dissimilar. Friction welding is known to have the advantage of being able to connect two different metals (dissimilar). However, this welding is still experiencing difficulties in the joining process because of the different melting points of the two metals being joined. In order the temperatur difference in the rubbing area is not too large, it is necessary to do preheat the metal with a higher melting point. This paper discusses the design and manufacture of induction preheat machines in dissimilar metal friction welding. Induction heaters are applied using the principle of eddy current with high frequency. This induction preheat machine consists of main components namely transformer, diode, mosfet transistor, capacitor, working coil, inductor and resistor. The working coil was made of solid copper pipe with a diameter of 5 mm, number of turns, n = 6 turns with coil height of 35 mm and diameter of coil of 40 mm. After being assembled, testing was carried out on a solid stainless steel cylinder with a diameter of 14 mm and a length of 30 mm heating area. The heating process was conducted to achieve temperatur of the higher than 600 °C. A K type thermocouple was used to measure the temperatur. The test results showed that the machine had specifications as follows: a 20 Volt circuit working voltage, with a maximum current of 44 amperes. Temperatur rose rapidly up to 600 °C after the first 70 seconds then increased slightly and was stable up to a maximum temperatur of 683 °C during 300 seconds. Electrical power ranged from 320-674 watts. These results indicated that the preheater machine was successfully fabricated and was potentially be used as a preheater equipment in the dissimilar friction welding process.
PERANCANGAN SISTEM AUTONOMOUS PADA PESAWAT MODEL UAV JENIS GLIDER Azmi, Azhim Asyratul; Wahyudi, Wahyudi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3134

Abstract

AbstrakPesawat model jenis glider merupakan pesawat yang mampu terbang dangan kecepatan rendah dan memiliki efisiensi tinggi dalam penggunaan sumber daya tenaga yang digunakan, sehingga banyak digunakan untuk misi pemantauan. Misi pemantauan menggunakan pesawat glider memiliki keterbatasan. Pilot sebagai ahli kemudi pesawat memiliki keterbatasan jarak pandang, sehingga misi pemantauan yang dilakukan hanya sebatas jarak pandang pilot itu sendiri. Untuk meningkatkan luas area pemantauan, pesawat harus dapat terbang secara mandiri atau biasa disebut dengan aotonomous. Pesawat model yang mampu terbang secara autonomous disebut dengan pesawat model Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Paenerapan sistem autonomous pada pesawat model UAV dilakukan dengan menggunakan perangkat autonomous berupa flight controller, GPS, software GCS dan telemetri. Pemilihan perangkat autonomous disesuaikan terhadap spesifikasi pesawat model Solfix yang meripan pesawat model jenis glider untuk pemantauan titik api kebakaran hutan. Pemberian parameter atur yang merupan kontrol PID dilakukan dengan metode eksperimen uji terbang secara langsung. Nilai parameter atur diperoleh dari observasi yang dilakukan terhadap pergerakan pesawat ketika auto mode. Waypoint uji terbang berbentuk persegi dengan jarak 500m untuk setiap sisi.Pesawat model Solfix dapat terbang secara autonomous dengan stabil melewati waypointyang ditentukan. AbstractGlider model airplane is an aircraft model with low speed cruising capability and high energy efficiency, widely used for observation missions. The main problem of using glider model plane to observation missions is the limitation of pilot visibility. Glider model airplane must be able to fly autonomously that also known as Unamanned Aerial Vehicle (UAV) to increase observation area futher. Implimitation of autonomous system on glider model airplane can be carried out by applying flight controller, GPS, GCS software and telemetry. Autonomous system was applied and adjusted to glider model airplane called Solfix. Arduflyer 1.5 Flight controller was used in this topic with flight test experimental approach to reach flight setup and tuning. Rectangle shape waypoint was set up with 90 m width and 100 m long. The flying set up and tuning was reached by observed airplane movement behavior on auto mode to follow the waypoint. Solfix model airplane was successfully flown on auto mode by following the waypoint with flight tuning: RLL2SRV_P=1,5;RLL2SRV_D=0,1;PTCH2SRV_P=1,5; PTCH2SRV_D =0,12; YAW2SRV_RLL=1,0; YAW2SEV_DAMP=0,3 and Rudder Mix=0,250.       
PENGARUH DIMENSI RESERVOIR TERHADAP FLOW RATE POMPA INFUS INSULIN Adi, Rahmad Kuncoro; Krisdiyanto, Krisdiyanto
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3246

Abstract

Pompa infus insulin adalah peralatan medis semi otomatis yang digunakan untuk mengontrol tingkat gula darah penderita diabetes. Cara kerja perangkat tersebut yaitu dengan cara memasukkan insulin dari reservoir insulin kedalam tubuh pasien secara kontinu. Reservoir insulin adalah tempat penyimpanan insulin sebelum dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Komponen utama pompa infus insulin terdiri dari pompa, motor, reservoir, tube, dan microprocessor. Perangkat tersebut memasukkan insulin sesuai dengan flow rate yang telah diatur. Dimensi dari reservoir insulin mempengaruhi flow rate perangkat tersebut. Dimensi reservoir perlu dipertimbangkan agar flow rate yang keluar dari perangkat tersebut akurat. Simulasi pemberian kecepatan fluida pada reservoir insulin dapat dilakukan dengan perangkat lunak berbasis computational fluid dynamics. Kecepatan yang dimasukkan dapat dipakai untuk menghitung flow rate fluida. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simulasi perubahan diameter reservoir insulin akan mempengaruhi flow rate. An insulin infusion pump is a semi-automatic medical device used to control blood glucose level of diabetic patient. The device works by infusing insulin from the insulin reservoir into the patient's body continuously. Insulin reservoir is a container where insulin is stored before being injected into the patient's body. The main components of insulin infusion pumps consist of a pump, a motor, a reservoir, tubes and a microprocessor. The device injects the insulin according to a regulated flow rate. The dimensions of the reservoir need to be considered so that the flow rate of the insulin is delivered accurately. The simulation of fluid velocity in the insulin reservoir was carried out using a computational fluid dynamics software. The entered fluid velocity were used to calculate fluid flow rates. The results of this study indicate that the simulation of changes in the diameter of the insulin reservoir will affect the flow rate. The smaller reservoir dimension make the flow rate that comes out of the nozzle approaches the flow rate that has been set in the insulin infusion pump program.

Page 4 of 28 | Total Record : 275