cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development)
ISSN : 25415581     EISSN : 25415603     DOI : -
Core Subject : Health,
The "Higeia" (Journal of Public Health Research and Development) is a scientific periodical journal containing scientific papers in the form of qualitative and quantitative research reports or research articles (original article research paper) with focus on epidemiology, biostatistics and population, health promotion, health environment, occupational health and safety, health policy administration, public health nutrition, hospital management, maternal and child health, and reproductive health.
Arjuna Subject : -
Articles 963 Documents
Program Upaya Kesehatan Kerja pada Sektor Informal Wahyuni, Nurul Fitri Qur'ani
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 1 (2020): HIGEIA: September 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 1.35737

Abstract

Kelompok pekerja sektor informal masih mendominasi di Indonesia. Di sisi lain, kelompok pekerja sektor informal relatif kurang mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya bidang kesehatan. Setiap tempat kerja memiliki potensi bahaya yang dapat menimbulkan penyakit dan kecelakaan pada pekerja. Sehingga untuk mendekatkan dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan pada usaha sektor informal dibentuk adanya Pos UKK. Tujuan penelitian untuk mengetahui penerapan program upaya kesehatan kerja pada sektor informal. Jenis penelitian ini adalah evaluatif dengan rancangan eksplanatif yang dilaksanakan pada September 2019 sampai November 2019. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 poin indikator, rata-rata persentase indikator penerapan yang sesuai sebesar 22,5% (18 indikator), tidak sesuai sebesar 36,25% (29 indikator), dan tidak ada sebesar 41,25% (33 indikator). Simpulan dari penelitian ini yaitu penerapan program upaya kesehatan kerja pada sektor informal di wilayah kerja Puskesmas Bergas masih belum maksimal. Saran dari penelitian ini yaitu pengelola program upaya kesehatan kerja dan kader melaksanakan kegiatan yang tidak sesuai dan tidak ada. Kata kunci: Program Upaya Kesehatan Kerja, Sektor Informal, Puskesmas Bergas
Implementasi Program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular Ratnasari, Ika Ayu
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 4 (2020): HIGEIA: December 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 4.35918

Abstract

Abstrak Cakupan kegiatan Posbindu Widuri dan Posbindu Sehat Lestari masing-masing sebesar 0,6% dan 0,2% termasuk kategori merah karena dibawah target Kemenkes yaitu 10% dan tidak semua Posbindu berjalan aktif setiap bulan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui implementasi program Posbindu PTM di wilayah kerja Puskesmas Bulu Lor. Jenis penelitian studi kasus metode kualitatif rancangan deskriptif. Narasumber ditentukan melalui teknik purposive sampling sebanyak 7 orang, yakni 3 narasumber utama dan 4 triangulasi. Teknik pengambilan data melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipatif pasif, dokumentasi. Instrumen yang digunakan lembar observasi dan pedoman wawancara. Analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi yang diberikan belum menyeluruh kepada sasaran, tidak semua kader mendapat pelatihan, fasilitas masih belum lengkap, dana masih kurang, komitmen sebagian pelaksana masih kurang, SOP khusus program Posbindu PTM belum dibuat oleh Puskesmas, simpulan dalam penelitian ini adalah implementasi program Posbindu PTM di wilayah kerja Puskesmas Bulu Lor belum optimal. Abstract The coverage of Posbindu Widuri and Posbindu Sehat Lestari activity is 0.6% and 0.2% for each which includes in the red category because it is below the Ministry of Health's target of 10%, and not all Posbindu is active in every month. The purpose of this study was to find out the implementation of the Posbindu PTM program in the working area of Bulu Lor Health Center. This research type was a case study of a descriptive qualitative method. The interviewees were determined through 7 purposive sampling techniques, these were 3 main interviewees and 4 triangulations. Data collection techniques were through semi-structured interviews, passive participatory observation, and documentation. The instrument used was the observation sheet and interview guidelines. The data analysis used data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that the communication provided was not comprehensive to the target, not all cadres got a training, the facilities were still incomplete, the fund was still lackingthe commitment of some implementers was still lacking, and the specifically SOP for the Posbindu PTM program has not been made by the Health Center, Conclusion of this study is the implementation of the Posbindu PTM program in the working area of ​​ Bulu Lor Health Center was not optimal.
Penerapan Kids Safety Park sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan pada Taman Bermain Saputra, Wisda Fahmi; Widowati, Evi
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v5i1.36045

Abstract

Taman Bermain merupakan tempat yang menyediakan rekreasi untuk anak -anak, memainkan peran dalam perkembangan ketrampilan, koordinasi, kognitif, psikososial, dan fisik. Anak-anak sangat aktif bergerak, mencari pengalaman dan berinteraksi dengan sekitarnya tanpa rasa ketakutan. Hal ini menjadikan posisi dan kondisi anak menjadi rentan terhadap berbagai masalah, seperti masalah kesehatan fisik dan psikis, masalah pendidikan, dan masalah tindak kriminalitas. Pengelolaan taman yang memiliki fasilitas ruang bermain bagi anak memerlukan pengendalian faktor keamanan dan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, kemudahan aksesbilitas dan keindahan/estetika melalui penataan dan pengaturan komponen lokasi, tata letak, peralatan bermain, konstruksi, dan bahan/material. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penerapan kids safety park sebagai upaya pencegahan kecelakaan pada Taman Bermain Anak-Anak pada Wahana X di Wisata X Kabupaten Sleman, DIY. Jenis penelitian ini adalah dekriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 sampai bulan September 2019. Hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 46 poin indikator, rata-rata persentase indikator penerapan yang sesuai sejumlah 61% (28 indikator), tidak sesuai sejumlah 37% (17 indikator), dan tidak ada sejumlah 2% (1 indikator). Simpulan dari penelitian ini yaitu penerapan kids safety park sebagai upaya pencegahan kecelakaan pada Taman Bermain Anak-Anak Pada Wahana X di Wisata X Kabupaten Sleman, DIY masih belum maksimal. Saran dari penelitian ini yaitu pengelola Taman Bermain Anak-Anak pada Wahana X di Wisata X Kabupaten Sleman, DIY, melaksanakan kegiatan yang tidak sesuai dan tidak ada. Playground is a place that provides recreation for children, plays a role in the development of skills, coordination, cognitive, psychosocial, and physical. Children are very active in moving, looking for experiences and interacting with their surroundings without fear. This makes the position and condition of children become vulnerable to various problems, such as physical and psychological health problems, educational problems, and crime problems. Management of parks that have playroom facilities for children requires control of security and safety factors, health, comfort, ease of accessibility and beauty / aesthetics through the arrangement and arrangement of location components, layout, play equipment, construction, and materials. The research objective is to determine the description application of kids safety park as an effort to prevent accidents in the Children's Playground at Rides X in Tourism X Sleman Regency, DIY. This type of research is a quantitative descriptive conducted in August 2019 to September 2019. The results of this study note that from 46 indicator points, the average percentage of the appropriate implementation indicators is 61% (28 indicators), not suitable 37% (17 indicators) and none where 2% (1 indicator). The conclusion of this research is the application of kids safety park as an effort to prevent accidents in Children’s Playground at Wahana X in Wisata X, Kabupaten Sleman, DIY is still not optimal. Suggestions from this research are program managers of Children's Playgrounds at Rides X in Tourism X, Sleman Regency, DIY, carrying out activities that are not appropriate and non-existent.
Keterlambatan Pengobatan pada Penderita Leptospirosis Anggreni, Silvia Tiara
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 3 (2020): HIGEIA: November 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 3.36067

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri leptospira. Kasus leptospirosis tertinggi di Jawa Tengah berada di Kabupaten Demak (IR= 7,9) dan CFR = 20%. Tahun 2018 terdapat 48,3% penderita leptospirosis yang mengalami keterlambatan dalam menerima pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit dan 31% meninggal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan pengobatan pada penderita leptospirosis di Kabupaten Demak. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian case-control. Sampel yang digunakan berjumlah 36 kasus dan 36 kontrol. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. data dianalisis menggunakan uji chi-square. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui faktor yang berhubungan dengan keterlambatan pengobatan pada penderita leptospirosis adalah dukungan keluarga (p=0,003;OR= 4,63) dan jarak ke pelayanan kesehatan (p=0,031;OR= 2,9). Saran yang diberikan adalah perlu dilakukan penyuluhan dan pemberian informasi tentang leptospirosis kepada masyarakat secara menyeluruh terutama masyarakat yang memiliki pekerjaan atau tempat tinggal berisiko. Serta perhatian dan dukungan dari keluarga dapat memberikan dorongan untuk segera memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan sehingga dapat ditangani sejak awal.
Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II Ningrum, Deskasari Kurniyawati
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 3 (2020): HIGEIA: November 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 3.36231

Abstract

ABSTRAK Kepatuhan sangat penting dalam melakukan pengobatan karena berpengaruh terhadap hasil terapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada penderita DM tipe 2. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Sampel sebesar 105 responden.Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner. Data dianalisis menggunakan chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin (p-value 0,007; PR= 3,75), tingkat pendidikan (p-value 0,000; PR=29,6), tingkat pengetahuan (p-value 0,020; PR=2,9), jumlah obat yang diminum dalam sehari (p-value 0,014; PR=3,01), dukungan keluarga (p-value 0,000; PR=8,17), dan dukungan tenaga kesehatan (p-value 0,000; PR = 6,10) berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada penderita DM tipe 2. Usia, status pekerjaan, motivasi diri, lama menderita diabetes, dan jenis obat oral antidiabetes tidak berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada penderita DM tipe 2. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jenis kelamin, tingkat pengetahuan, jumlah obat yang diminum dalam sehari, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada penderita DM tipe ABSTRACT Compliance is very important in medication because affect the therapy result. The purpose of this study was to determine the factors associated with medication adherence in patients with DM type 2. This research is an analytic observasional cross sectional study design. Sampling use accidental sampling technique. Samples were 105 respondents. Data were obtained from questionnaire instrument. Analyzed by chi square test and logistic regression. The results showed that gender (p-value 0,007; PR= 3,75), level of education (p-value 0,000; PR=29,6), level of knowledge (p-value 0,020; PR=2,9), total of drugs taken in a day (p-value 0,014; PR=3,01), family support (p-value 0,000; PR=8,17), and support of health workers (p-value 0,000; PR = 6,10) associated with adherence to take medication in patients with type 2 DM. Age, work status, self motivation, duration of diabetes and types of oral antidiabetic drugs are not related to adherence to take drugs in patients with type 2 DM. The conclusion of this study is there is a relationship between gender, level of knowledge, the number of drugs taken in a day, family support, and support of health workers at patients with type 2 DM.
Pelaksanaan Program Kelas Ibu Hamil Risiko Tinggi Novitasari, Verlinda
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 4 (2020): HIGEIA: December 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 4.36257

Abstract

ABSTRAK Kelas ibu hamil merupakan sarana belajar bersama ibu hamil agar memperoleh pengetahuan yang cukup untuk mencegah komplikasi, meningkatkan cakupan kunjungan ibu hamil, dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program kelas ibu hamil risiko tinggi di Puskesmas Gondosari Kabupaten Kudus. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan September s.d November 2019. Jenis metode penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan utama berjumlah 4 orang yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling dan 5 informan triangulasi. Pengambilan data dilakukan dengan instrumen berupa pedoman wawancara mendalam, lembar observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian hasil penelitian dapat diketahui bahwa tenaga kesehatan yang berpartisipasi sudah cukup tetapi hanya 1 bidan yang telah mengikuti pelatihan. bidan belum mampu untuk menggerakan peran serta suami atau keluarga untuk mengikuti program kelas ibu hamil kemudian kegiatan yang sudah berjalan sudah dilaporkan tetapi belum ada evaluasi dari dinas kesehatan kabupaten Kudus. Pelaksanaan program kelas ibu hamil risiko tinggi belum sesuai dengan pedoman pelaksanaan kelas ibu bamil seperti yang ditetapkan oleh Kemenkes RI. ABSTRACT Pregnant mothers class is a means of learning together with pregnant women in order to gain enough knowledge to prevent complications, increase coverage of pregnant women 's visits, and deliver deliveries to health workers. The purpose of this study was to determine the implementation of high-risk pregnant mothers class programs in the Gondosari Health Center, Kudus Regency. This research was conducted in September to November 2019. This type of research method is qualitative with the type of case study. The main informants numbered 4 people selected based on purposive sampling techniques and 5 triangulation informants. Data was collected by instruments in the form of in-depth interview guidelines, observation sheets, and documentation. The results of the study revealed that there were enough health workers participating but only 1 midwife had participated in the training. midwives have not been able to mobilize the participation of their husbands or families to participate in the pregnant mothers class program and then the activities that have been running have been reported but there has been no evaluation from the Kudus district health office. The implementation of the high-risk pregnant mothers class program is not in accordance with the guidelines for the implementation of the Bamil-mother classes as stipulated by the Indonesian Ministry of Health.
Analisis Spasial Kasus Leptospirosis Berdasarkan Faktor Epidemiologi dan Faktor Risiko Lingkungan Zukhruf, Isnaini Alfazcha; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i4.36324

Abstract

Abstrak Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri Leptospira. Wilayah kerja Puskesmas Karangtengah merupakan daerah endemis leptospirosis. Pada tahun 2018 jumlah kasus leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Karangtengah mencapai 13 kasus (IR 18,95 per 100.000 penduduk). Faktor penularan letospirosis diantaranya adalah faktor epidemiologi dan faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran spasial kasus leptopsirosis berdasar faktor epidemiologi dan faktor risiko lingkungan di Wilayah Kerja Puskesmas Karangtengah Kabupaten Demak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel yang ditetapkan sebesar 13 sampel dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis spasial dengan metode ANN, buffer, dan overlay. Hasil penelitian menunjukkan pola persebaran kasus leptospirosis di wilayah kerja puskesmas Karangtengah adalah cluster atau mengelompok. Sebanyak 54% responden berjenis kelamin laki-laki, 46% responden memiliki pekerjaan beresiko, 61% responden tempat tinggalnya memiliki riwayat banjir, 39% responden tempat tinggalnya memiliki riwayat rob, 38% responden tinggal pada jarak >200 meter dari sawah, 54 % memiliki kondisi selokan yang buruk, dan 61% responden memiliki kondisi tempat pembuangan sampah yang buruk. Abstract Leptospirosis is acute infectious disease caused by Leptospira bacteria. Working area of Karangtengah Health Care is endemic area of leptospirosis. In 2018 the number of leptospirosis cases reached 13 cases (IR 18,95/ 100.000 population). Risk factor of Leptospirosis among others are epideiological factors and enviromental factors. The study aim to find out the spatial describe of leptospirosis cases from epidemiological factors and enviromental factors in working area of Karangtengah Health Care. This is a quantitative descriptive research. Sample were set at 13 samples using total sampling technique. Data were analyzed by using univariate analysis and spatial analysis with ANN, buffer, and overlay method. The result of the study find out that distribution pattern of leptospirosis cases in working area of Karangtengah Health Care is cluster. A total of 54% respondents were male sex, 46% of respondents had a risk job, 61% of respondent’s house had a flood history, 39% of respondent’s house had a rob history, 38% of respondent’s house were at a distance of >200 meters from fields. 54% of respondent’s drain were not good, and 61% of respondent’s garbage disposal facilities were not good.
Iklim, Sumber Agen, Breeding Places dan Resting Places Sekitar Penderita Filariasis Pesisir Milati, Tri Putri Nur; Siwiendrayanti, Arum
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v5i1.36329

Abstract

Abstrak Data filariasis tiga tahun terakhir di Kabupaten Demak yaitu 14 kasus (2016), 6 kasus (2017), dan 3 kasus (2018). Meskipun jumlah kasus setiap tahun mengalami penurunan, keberadaan penderita dapat menjadi sumber penularan dengan faktor lingkungan yang mendukung keberadaan vektor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui iklim, sumber agen, breeding places dan resting places sekitar penderita filariasis pesisir Demak. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Agustus – Oktober 2019. Sampel berjumlah 13 rumah penderita filariasis dengan menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan Global Positioning System (GPS). Hasil penelitian menunjukan Kabupaten Demak memiliki iklim tropis. Rata-rata jarak variabel penelitian terhadap rumah penderita yaitu genangan air (4,15 m); sungai (24,31 m); selokan (1,92 m); sawah (1,46 km); semak-semak (3,23 m); kandang ternak (7,92 m); dan penderita ke penderita lainnya (2,2 km). Keberadaan faktor lingkungan yang ditemukan di sekitar penderita mendukung adanya potensi penularan filariasis. Hal ini disebabkan adanya faktor lingkungan dapat mempengaruhi keberadaan nyamuk sebagai vektor penularan filariasis. Abstract Filariasis data in the last three years in Demak Regency were 14 cases (2016), 6 cases (2017) and 3 cases (2018). Even though the numbers of cases decrease each year, the patients of lymphatic filariasis can be the sources of transmission through mosquito vectors. The purpose of study was to determine climate, source agents, breeding places, and resting places around patients of filariasis Demak coastal. This research used descriptive quantitative. This research was conducted in August – October 2019. Samples were 13 houses of patients using purposive sampling. The instruments used observation sheets and the Global Positioning System (GPS). The results showed Demak Regency has a tropical climate. The average distance from the patient’s house is puddle (4.15 m); river (24.31 m); drain (1.92 m); rice field (1.46 km); bushes (3.23 m); cattle pen (7.92 m); and patient to other patients (2.2 km). The environmental factors around patients support the potential for transmission of lymphatic filariasis, due to environmental factors can affect the existence mosquitoes as a vector of filariasis transmission.
Perilaku Aman pada Siswa Sekolah Luar Biasa Hutagaol, Deborah Dina Marliana Br
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 1 (2020): HIGEIA: September 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 1.36760

Abstract

ABSTRAK Kejadian cedera pada anak sekolah sebesar 13% (Badan Litbang Depkes, 2018). Prevalensi disabilitas pada usia 0-14 tahun sebesar 5,1% (93 juta orang) dan 0,7% (13 juta orang) dan pada usia 15 tahun atau lebih sebesar 19,4% (892 juta orang) dan 3,8% (175 juta orang). Menurut UNICEF (2013), anak-anak penyandang disabilitas dapat tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinannya untuk mengalami kekerasan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, dan lembar dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah dan Guru YPAC Semarang, Siswa/i kelas V, VI, VIII, IX, XI,XII YPAC Semarang. Sebanyak 82,7% (23 siswa SLBD/D1) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan 85,7% (24 siswa SLBD/D1) memilih sikap yang positif atau masuk dalam kategori baik. Sebanyak 73,3% (22 siswa SLBC/C1) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan 63,3% (19 siswa SLBC/C1) memilih sikap yang positif. Berdasarkan pengamatan perilaku terdapat perbedaan antara SLBD/D1 dan SLBC/C1, para siswa SLBD/D1 lebih pasif dibanding SLBC/C1 dikarenakan keterbatasan fisik yang alami, sementara itu siswa SLBC/C1 tidak memiliki keterbatasan fisik yang dapat mengganggu kegiatan mereka. ABSTRACT DESCRIPTION OF SAFE BEHAVIOR IN STUDENT / I SLBC / C1 AND SLBD / D1 FOUNDATION DISABLED CHILD GUIDANCE (YPAC) SEMARANG The incidence of injuries to children in school by 13% (Research Agency Ministry of Health, 2018). The prevalence of disability at the age of 0-14 years of 5.1% (93 million people) and 0.7% (13 million people) and at the age of 15 years or more 19.4% (892 million people) and 3.8% (175 million people). According to UNICEF (2013), children with disabilities can be three to four times more likely to experience violence. This type of research is quantitative descriptive. The research instrument used observation sheet, interview, and documentation sheets. Informants in this study was the Principal and Teacher YPAC Semarang, Student / i class V, VI, VIII, IX, XI, XII YPAC Semarang. A total of 82.7% (23 students SLBD / D1) has a good knowledge level, and 85.7% (24 students SLBD / D1) choose a positive attitude or fall into either category. A total of 73.3% (22 students SLBC / C1) have a good knowledge level, and 63.3% (19 students SLBC / C1) choose a positive attitude. Based on observations of the behavior of a conflict between SLBD / D1 and SLBC / C1, the students SLBD / D1 is more passive than SLBC / C1 due to the natural physical limitations, while the students SLBC / C1 do not have physical limitations that can interfere with their activities.
Tingkat Kebugaran dan Kelelahan Kerja terhadap Kejadian Kecelakaan pada Pengemudi Bus Hikmah, Izzun Nuril
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i4.36815

Abstract

Abstrak Kelelahan (fatigue) merupakan salah satu risiko terjadinya penurunan derajat kesehatan tenaga kerja yang ditandai dengan melemahnya tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan, sehingga akan meningkatkan kesalahan dalam melakukan pekerjaan dan akibat fatalnya adalah terjadinya kecelakaan kerja. Kelelahan kerja terbukti memberikan kontribusi lebih dari 60% dalam kejadian kecelakaan kerja di tempat kerja. Seseorang yang memiliki kebugaran jasmani baik maka tidak akan mudah mengalami kelelahan saat bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kebugaran dan kelelahan kerja pada pengemudi, serta kecelakaan pada BRT Trans Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemudi paling banyak mengalami kelelahan tingkat ringan sebanyak 48 orang (68,57%), mempunyai tingkat kebugaran terbanyak pada kategori cukup 16 orang (44,44%), serta kejadian kecelakaan paling banyak terjadi yaitu kecelakaan ringan sebanyak 185 kasus (92,96%). Simpulan penelitian ini yaitu kelelahan kerja pada pengemudi masih termasuk kategori aman, sedangkan tingkat kebugaran masih harus ditingkatkan. Abstrac Fatigue is one of the risks of a decrease the labor's health status that is characterized by the weakening of the workforce in doing work or activities, It will increase errors doing work and the fatal result is the occurrence of work accidents. Work fatigue is proven to contribute more than 60% in workplace accidents. Someone who has good physical fitness will not easily experience fatigue while working. The purpose of this study was to determine the fitness level and work fatigue in the driver, as well as the incidence of accidents at the Bus Rapid Trans Semarang. This type of research was quantitative descriptive. Data were analyzed by univariate analysis. The results showed that 48 people (68.57%) experienced mild levels of fatigue, 16 people (44.44%) had the highest fitness level in the enough category and 185 cases (92.96%) of the mild accidents. The conclusion of this research was that work fatigue in the driver is still in the safe category, while the level of fitness must still be improved.

Filter by Year

2017 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 3 (2024): July 2024 Vol 8 No 2 (2024): April 2024 Vol 8 No 1 (2024): January 2024 Vol 7 No 4 (2023): October 2023 Vol 7 No 3 (2023): July 2023 Vol 7 No 2 (2023): April 2023 Vol 7 No 1 (2023): January 2023 Vol 7 No Sup (2023): Suplemen July 2023 Vol 6 No 4 (2022): October 2022 Vol 6 No 3 (2022): HIGEIA: Juli 2022 Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022 Vol 6 No 1 (2022): HIGEIA: January 2022 Vol 5 No 4 (2021): HIGEIA: Oktober 2021 Vol 5 No 3 (2021): HIGEIA: Juli 2021 (Article in Press) Vol 5 No 3 (2021): HIGEIA: Juli 2021 Vol 5 No 2 (2021): HIGEIA: April 2021 Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2021 Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2020 Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020 Vol 4 No Special 4 (2020): HIGEIA: December 2020 Vol 4 No Special 3 (2020): HIGEIA: November 2020 Vol 4 No 3 (2020): HIGEIA: July 2020 Vol 4 No 2 (2020): HIGEIA: April 2020 Vol 4 No Special 2 (2020): HIGEIA: October 2020 Vol 4 No Special 1 (2020): HIGEIA: September 2020 Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020 Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019 Vol 3 No 3 (2019): HIGEIA: July 2019 Vol 3 No 2 (2019): HIGEIA: April 2019 Vol 3 No 2 (2019): HIGEIA: April 2019 Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019 Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019 Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA Vol 2 No 3 (2018): HIGEIA Vol 2 No 3 (2018): HIGEIA Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA Vol 1 No 3 (2017): HIGEIA Vol 1 No 3 (2017): HIGEIA Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA More Issue