cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development)
ISSN : 25415581     EISSN : 25415603     DOI : -
Core Subject : Health,
The "Higeia" (Journal of Public Health Research and Development) is a scientific periodical journal containing scientific papers in the form of qualitative and quantitative research reports or research articles (original article research paper) with focus on epidemiology, biostatistics and population, health promotion, health environment, occupational health and safety, health policy administration, public health nutrition, hospital management, maternal and child health, and reproductive health.
Arjuna Subject : -
Articles 963 Documents
PERSEPSI MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT MENGENAI USAHA KOMUNIKASI KESEHATAN COVID-19
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.48515

Abstract

Peningkatan kasus COVID-19 di Indonsia sudah masuk ke tahap darurat bencana namun masyarakat masih banyak yang tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan. Diperlukan edukasi yang massif melalui komunikasi kesehatan dengan melibakan mahasiswa kesehatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam melakukan komunikasi kesehatan terkait COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Sebanyak 292 responden berpartisipasi mengisi kuesioner online menggunakan google form melalui media social sejak 8−24 Desember 2020. Hasil penelitian menunjukan mayoritas mahasiswa memiliki minat dalam melakukan komunikasi kesehatan terkait COVID-19 (97,6%), namun masih banyak mahasiswa yang belum melakukannya (54,1%). Media sosial yang banyak dipilih untuk melakukan komunikasi kesehatan adalah Instagram (88%). Mahasiswa merasa perlu melakukan komunikasi kesehatan karena berisiko terinfeksi (60,9%), kasus COVID-19 sulit terkontrol (92,5%), merupakan perbuatan baik dan menambah informasi (99%), dan kesal pada masyarakat yang abai (89,7%). Sementara hambatan yang dirasakan karena merasa tidak memiliki ilmu yang cukup (52,1%). Mahasiswa kesehatan masyarakat berminat melakukan komunikasi kesehatan terkait COVID-19, namun terdapat beberapa hambatan yang dirasakan. Pihak universitas maupun fakultas diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara minat dan hambatan mahasiswa kesehatan masyarakat dalam melakukan komunikasi kesehatan terkait COVID-19
Literasi Kesehatan Mental Dan Status Kesehatan Mental Dewasa Awal Pengguna Media Sosial
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.49871

Abstract

Secara statistik, 61,8% masyarakat Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial, dengan pengguna terbanyak ada pada kelompok usia 25-34 tahun. Penggunaan media sosial dapat berdampak negatif, namun juga potensial untuk memberikan manfaat terhadap kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh literasi kesehatan mental terhadap status kesehatan mental dewasa awal pengguna media sosial. Literasi kesehatan mental diukur menggunakan alat ukur Mental Health Literacy (MHL), status kesehatan mental diukur menggunakan Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif cross-sectional, dilakukan pada bulan Agustus 2021 secara daring. Responden terdiri dari 58 laki-laki dan 118 perempuan (Musia = 26,1; SDusia = 1,89). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kelompok yang mengetahui platform kesehatan mental di media sosial memiliki literasi kesehatan yang lebih tinggi baik dalam pengetahuan, keyakinan maupun sumber daya, namun literasi kesehatan mental tidak memprediksi status kesehatan mental. Hasil ini menunjukkan bahwa kesehatan mental individu merupakan kondisi yang faktor determinannya cukup kompleks, sehingga literasi kesehatan mental perlu diiringi oleh variabel-variabel lainnya.
Pengetahuan Dan Persepsi Masyarakat Merupakan Faktor Dominan Yang Mempengaruhi Kesediaan Masyarakat Untuk Divaksinasi
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.51724

Abstract

ABSTRAK Vaksin Covid-19 pada saat ini masih tergolong baru sehingga menimbulkan keraguan publik tentang Vaksin Covid-19. Hal ini disebabkan banyaknya isu yang beredar di masyarakat tentang Vaksin Covid-19. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk divaksinasi Covid-19. Dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi adalah masyarakat berusia 18 tahun keatas yang belum divaksinasi. Penelitian ini melibatkan 189 sampel yang diambil dengan menggunakan Purposive Sampling, teknik pengambilan sampel menggunakan univariat, bivariat, multivariat dengan uji regresi logistik berganda dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh secara signifikan dengan kesediaan untuk vaksinasi adalah pengetahuan, persepsi, isu/ rumor, media informasi, dukungan petugas dan dukungan keluarga. Sementara variabel yang tidak berpengaruh dukungan tetangga sekitar dan dukungan tokoh masyarakat. Pada akhirnya penelitian ini dapat dijadikan titik awal dalam memberikan edukasi dan motivasi terhadap masyarakat agar bersedia untuk divaksinasi. ABSTRACTThe Covid-19 vaccine is currently relatively new, raising public doubts about the Covid-19 vaccine. This is due to the many issues circulating in the community about the Covid-19 Vaccine. This study aims to find out the factors that affect people's willingness to be vaccinated against Covid-19. Using quantitative methods with cross sectional design. The population is a society aged 18 years and over that has not been vaccinated. The study involved 189 samples taken using Purposive Sampling, a sampling technique using univariate, bivariate, and multivariate with multiple logistic regression. The results showed that the variables that significantly influenced the willingness to vaccinate were knowledge, perceptions, issues/rumors, information media, officer support and family support. While variables that do not affect the support of neighbors around and the support of community leaders. In the end, this research can be used as a starting point in providing education and motivation to the public to be willing to be vaccinated.
ANALISIS INTENSI MENUNDA HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWA DI SOLO RAYA
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.52038

Abstract

Prevalensi remaja yang melakukan seks pranikah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Studi tentang intensi perilaku seksual pranikah penting dilakukan. Penelitian bertujuan mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan niat menunda hubungan seksual pranikah pada mahasiswa di Solo Raya berdasarkan Theory of Planned Behavior. Studi potong lintang dilakukan dilakukan pada 3 universitas di Solo Raya pada Februari- Mei 2021. Sampel penelitian adalah 365 mahasiswa s-1, belum menikah, belum pernah melakukan sexual intercourse dan berusia 20-24 tahun. Teknik sampel yaitu kuota sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring. Analisis regresi logistik berganda dilakukan pada tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat menunda hubungan seksual pranikah lebih tinggi pada mahasiswi. Faktor yang berhubungan secara signifikan pada mahasiswa adalah sikap OR 3,3 95%CI(1,9-9,0), sementara pada mahasiswi adalah sikap OR 5,6 95%CI(1,4-22,3) dan persepsi control perilaku OR 4,8 95%CI (1,2-19,6). Faktor yang berhubungan dengan niat menunda seksual pranikah ditemukan berbeda antara mahasiswa dan mahasiswi. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk menemukan pendekatan yang tepat untuk mengintervensi sikap mahasiswa sehingga dapat mengubah niat dan perilaku remaja berkaitan dengan seksualitasnya.
Persepsi dengan Perilaku Pencegahan Covid-19 pada Lansia Penderita Hipertensi
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.52301

Abstract

Kasus Covid-19 pada lansia di Puskesmas Kertek 1 mencapai 87 orang (19%), dan lansia yang meninggal sebanyak 22 orang (25%). Komorbid Covid-19 di Puskesmas Kertek 1 pada lansia tertinggi adalah hipertensi (11%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan persepsi dengan perilaku pencegahan Covid -19 pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskemas Kertek 1. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel yang ditetapkan sebesar 245 orang, diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Data dianalisis menggunakan SPSS dengan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai p value semua variabel<0,05 (p=0,000). Simpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, dan persepsi isyarat bertindak dengan perilaku pencegahan Covid-19 pada lansia hipertensi.
PERSEPSI PERNIKAHAN DINI DI SISWA SEKOLAH MENENGAH DI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.53439

Abstract

Abstrak Kasus pernikahan dini di Kota Semarang melonjak tajam ditengah pandemi COVID-19, pada tahun 2019 tercatat ada 109 kasus, dan ditahun 2020 meningkat menjadi 217 kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan persepsi pernikahan dini berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status sekolah, jenis sekolah, dan tempat tinggal. Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sejumlah 99 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square dengan uji alternatifnya uji Fisher. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15-30 Oktober 2021. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi pernikahan dini dengan jenis kelamin (pvalue=0,043), usia siswa laki-laki (pvalue=0,013), usia siswa perempuan (pvalue=0,002), tingkat pendidikan siswa laki-laki (pvalue=0,013), tingkat pendidikan siswa perempuan (pvalue=0,002),dan tempat tinggal siswa laki-laki (pvalue=0,041) tempat tinggal siswa perempuan (pvalue=0,006). Simpulan pada penelitian ini yaitu variabel jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal terdapat perbedaan dengan persepsi dan variabel status sekolah dan jenis sekolah tidak ada perbedaan dengan persepsi pernikahan dini. Abstract Cases of early marriage in the Semarang City increased significantly in the middle of the COVID-19 pandemic. In 2019 there were 109 cases, and in 2020 it increased to 217 cases. The objective was to determine differences in perceptions of early marriage based on gender, age, education level, school status, type of school, and residence. This research was quantitative with a cross-sectional approach. The number of samples was 99 respondents. Data were analyzed using the chi-square test with Fisher's exact test as an alternative. The research was conducted on 15-30 October 2021. The results showed that there were differences in the perception of early marriage by gender (p=0.043), male student age (p=0.013), female student age (p=0.002), male student education level (p=0.013), the education level of female students (p=0.002), and male student residence (p=0.041) female student residence (p=0.006). The conclusions there are differences between perceptions with gender, age, education level, and place of residence and there are no differences with perceptions of early marriage is school status and type of school.
PERAN GENDER, PENGETAHUAN, DAN SIKAP TERHADAP SEKSUALITAS DALAM KEPUTUSAN MENIKAH DINI
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.53539

Abstract

Abstrak Pernikahan merupakan suatu ikatan antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami dan istri, dan memiliki tujuan untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Menurut data Pengadilan Agama Kota Semarang, peningkatan jumlah pemohon dispensasi pernikahan mencapai 45% dari 125 orang menjadi 226 orang pada tahun 2020. Dampak pernikahan dini pada ibu usia 18 tahun mempunyai resiko untuk melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR). Angka kematian bayi memilki resiko 60% lebih tinggi pada ibu yang masih berusia di bawah 18 tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara peran gender, pengetahuan, dan sikap terhadap seksualitas dengan keputusan menikah dini. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober – 10 November 2021. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, menggunakan rancangan desain case control. Sampel yang ditetapkan sebesar 124 dengan teknik purposive sampling. Instrumen pada penelitian adalah kuesioner terstruktur. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara peran gender (p=0,000 ,OR= 3,918) , pengetahuan (p= 0,000 , OR=18,452) , dan sikap terhadap seksualitas (p= 0,000 , OR=4,753) dengan keputusan menikah dini. Abstract Marriage is a bond between man and woman as husband and wife, and has the goal of building a happy household. According data from the Semarang City Religious Court, the increase in the number of applicants for marriage dispensation reached 45% from 125 people to 226 people in 2020. The impact of adolescence on mothers aged 18 years has a risk of giving birth to babies with low birth weight (LBW). Infant mortality has 60% higher risk in mothers who are under 18 years of age. The purpose of this study was to determine the relationship between gender roles, knowledge, and attitudes towards sexuality with the decision to adolescence. The research was conducted on October 10 – November 10, 2021. This research is a quantitative study, using a case control design. The sample is set at 124 with purposive sampling technique. The instrument in this research is a structured questionnaire. Data were analyzed use chi square test. The result showed that there was a relationship between gender roles (p=0.000, OR=3.918), knowledge (p=0.000, OR=18.452), and attitudes toward sexuality (p=0.000, OR=4.753) with the decision to adolescence.
Bagaimana MITIGASI BENCANA BANJIR DI KOTA SEMARANG ?
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.53812

Abstract

Abstrak Kota Semarang menduduki peringkat ke dua penyumbang bencana di Jawa Tengah dan peringkat enam tertinggi bencana banjir. Banjir di Kota Semarang terjadi salah satunya diakibatkan penurunan ketinggian tanah sebesar 7,7cm/4tahun. Kota Semarang rentan terjadi bencana banjir karena tingginya air pasang, meningkatnya ketinggian air laut akibat pemanasan global, sistem drainase yang kurang baik serta masyarakatnya yang masih tidak menjaga lingkungan. Penurunan tanah dan masyarakat yang tidak menjaga lingkungan adalah beberapa hal yang menyebabkan kenaikan angka kejadian bencana banjir dari 14,7% pada tahun 2019 menjadi 16,3% pada tahun 2020. Penelitian dengan metode kuantitatif deskriptif pada bulan Juni sampai Oktober 2021 bertujuan untuk dapat memberikan gambaran mitigasi bencana banjir di Kota Semarang dengan dasar Permendagri No. 33 Tahun 2006, mitigasi bencana banjir akan digambarkan melalui 19 indikator. Kota Semarang dinilai kurang dapat menerapkan Permendagri No. 33 Tahun 2006 dengan baik karena Kota Semarang hanya berhasil menerapkan 52,6% atau 10 indikator dan belum menerapkan 47,4% atau 9 indikator mitigasi bencana dari 19 indikator mitigasi bencana yang terdapat dalam Permendagri No. 33 Tahun 2006. Abstract Semarang City is ranked as the second largest contributor to disasters in Central Java and the sixth highest number of flood disasters. One of the causes of flooding in Semarang City is a decrease in the height of the ground by 7.7 cm / 4 years. Semarang City is prone to flooding due to high tides, rising sea levels due to global warming, poor drainage system and people who still do not take care of the environment. Land subsidence and people who do not take care of the environment are some of the things that have caused an increase in the number of flood disasters from 14.7% in 2019 to 16.3% in 2020. Research with descriptive quantitative methods in June to October 2021 aims to provide description of flood disaster mitigation in Semarang City on the basis of Permendagri No. 33 of 2006, flood disaster mitigation will be described through 19 indicators. Semarang City is considered less able to implement Permendagri No. 33 of 2006 was good because Semarang City Goverment only succeeded in implementing 52.6% or 10 indicators and had not implemented 47.4% or 9 disaster mitigation indicators from the 19 disaster mitigation indicators contained in Permendagri No. 33 of 2006.
FAKTOR LINGKUNGAN, PERILAKU PERSONAL HYGIENE DAN PEMAKAIAN APD TERHADAP KEJADIAN LEPTOSPIROSIS
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.53916

Abstract

Demak memiliki kasus tertinggi di Jawa Tengah tahun 2020 yaitu sebanyak 108 kasus (IR 9,2 per 100.000 penduduk) dan 14 kematian (CFR 13%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan, perilaku personal higiene, dan pemakaian alat pelindung diri dengan kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan case control dengan besar sampel 45 kasus dan 45 kontrol diambil dengan teknik proportionate stratified random sampling dan purposive sampling. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan kondisi selokan (p=0,026), kondisi tempat sampah (p=0,030), keberadaan tikus (p=0,030), perilaku mencuci kaki (p=0,001), perilaku mencuci tangan (p=0,001), perilaku membersihkan diri di sungai (0,030), perilaku merawat luka (p=0,018), perilaku memakai sarung tangan (p=0,003), perilaku memakai alas kaki (p=0,013) dengan kejadian Leptospirosis. Simpulan penelitian adalah ada hubungan antara kondisi selokan, kondisi tempat sampah, keberadaan tikus, perilaku mencuci kaki, perilaku mencucui tangan, perilaku membersihkan diri di sungai, perilaku merawat luka, perilaku memakai sarung tangan dan perilaku memakai alas kaki dengan kejadian Leptospirosis.
KEJADIAN PERNIKAHAN USIA DINI PADA WANITA USIA 15-24 TAHUN DI KECAMATAN ARUT SELATAN
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v6i2.54231

Abstract

Abstrak Berdasarkan data BPS dan UNICEF tahun 2020 , pada tahun 2018 Indonesia memiliki angka 1.220.900 perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun, dan angka ini menempatkan Indonesia pada 10 negara dengan angka absolut perkawinan anak tertinggi di dunia. Studi pendahuluan di KUA Arut Selatan, Kecamatan Arut Selatan merupan Kecamatan dengan kasus pernikahan usia dini selama 3 tahun berturut-turut (2018-2020). Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pernikahan usia dini pada wanita usia 15-24 tahun di Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan case control. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2021 yang dilakukan di Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah. Sampel penelitian berjumlah 70 responden, 35 responden kasus, 35 responden kontrol. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa faktor pengetahuan (p-value=0,001) OR=10,54, Sikap responden (p-value=0,002) OR=0,209, tingkat pendidikan responden (p-value=0,004) OR=4,18, Suku (p-value=0,000) OR=11,50, akses informasi (p-value=0,053) OR=2,59, pendidikan orang tua (p-value=0,031) OR=2,87, penghasilan orang tua (p-value=0,000) OR=6,76. pekerjaan orang tua (p-value=0,054) OR=2,16, peran institusi pendidikan (p-value=0,131) OR=0,46, peran tokoh agama (p-value=0,220) OR=1,83. Simpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara faktor pengetahuan, sikap responden, tingkat pendidikan responden, suku, pendidikan orang tua, dan penghasilan orang tua. Tidak ada hubungan antara faktor akses informasi, pekerjaan orang tua, peran institusi pendidikan , dan peran tokoh agama. Abstract Based on data from BPS and UNICEF in 2020, in 2018 Indonesia had 1,220,900 women who married before the age of 18, and this figure places Indonesia in the 10 countries with the highest absolute number of child marriages in the world. Preliminary study at KUA Arut Selatan, Arut Selatan Subdistrict is a sub-district with cases of early marriage for 3 consecutive years (2018-2020). The purpose of this study was to analyze the factors associated with early marriage in South Arut District, West Kotawaringin Regency. This type of research is analytic observational with a case control design. This research activity was carried out on October 11, 2021 which was carried out in the South Arut District, West Kotawaringin Regency, Central Kalimantan Province. The research sample was 70 respondents, 35 case respondents, 35 control respondents. The instrument used is a questionnaire. The results show that the knowledge factor (p-value = 0.001) OR = 10.54, the attitude of the respondent (p-value = 0.002) OR = 0.209, the respondent's education level (p-value = 0.004) OR = 4.18, ethnicity (p -value=0.000) OR=11.50, access to information (p-value=0.053) OR=2.59, parent's education (p-value=0.031) OR=2.87, parent's income (p-value= 0.000) OR=6.76. parents' occupations (p-value=0.054) OR=2.16, the role of educational institutions (p-value=0.131) OR=0.46, the role of religious leaders (p-value=0.220) OR=1.83. The conclusion of this study is that there is a relationship between knowledge factors, respondents' attitudes, respondents' education level, ethnicity, parents' education, and parents' income. There is no relationship between the factors of access to information, parents' occupations, the role of educational institutions, and the role of religious leaders.

Filter by Year

2017 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 3 (2024): July 2024 Vol 8 No 2 (2024): April 2024 Vol 8 No 1 (2024): January 2024 Vol 7 No 4 (2023): October 2023 Vol 7 No 3 (2023): July 2023 Vol 7 No 2 (2023): April 2023 Vol 7 No 1 (2023): January 2023 Vol 7 No Sup (2023): Suplemen July 2023 Vol 6 No 4 (2022): October 2022 Vol 6 No 3 (2022): HIGEIA: Juli 2022 Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022 Vol 6 No 1 (2022): HIGEIA: January 2022 Vol 5 No 4 (2021): HIGEIA: Oktober 2021 Vol 5 No 3 (2021): HIGEIA: Juli 2021 Vol 5 No 3 (2021): HIGEIA: Juli 2021 (Article in Press) Vol 5 No 2 (2021): HIGEIA: April 2021 Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2021 Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2020 Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020 Vol 4 No Special 4 (2020): HIGEIA: December 2020 Vol 4 No 3 (2020): HIGEIA: July 2020 Vol 4 No Special 3 (2020): HIGEIA: November 2020 Vol 4 No 2 (2020): HIGEIA: April 2020 Vol 4 No Special 2 (2020): HIGEIA: October 2020 Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020 Vol 4 No Special 1 (2020): HIGEIA: September 2020 Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019 Vol 3 No 3 (2019): HIGEIA: July 2019 Vol 3 No 2 (2019): HIGEIA: April 2019 Vol 3 No 2 (2019): HIGEIA: April 2019 Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019 Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019 Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA Vol 2 No 3 (2018): HIGEIA Vol 2 No 3 (2018): HIGEIA Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA Vol 1 No 3 (2017): HIGEIA Vol 1 No 3 (2017): HIGEIA Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA More Issue