cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Indonesian History
ISSN : 22526633     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Indonesia History merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian atau artikel konseptual tentang pendekatan kajian sejarah dan sejarah Indonesia. Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNNES dan dikelola oleh Tim Jurnal Jurusan Sejarah FIS-UNNES. Jurnal ini terbit 2 kali setiap tahunnya pada bulan Juli dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
SEJARAH KERETA API RUTE SEMARANG-REMBANG TAHUN 1967-1988 Kusuma, Rosa; Purnomo, Arif; Romadi, Romadi
Journal of Indonesian History Vol 7 No 1 (2018): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kereta api Semarang-Rembang adalah kereta api yang cukup berkembang pada masa penjajahan Belanda. Setelah kemerdekaan kereta api diambilalih oleh bangsa Indonesia. Kereta api di rute ini mengalami kerugian dan akhirnya ditutup pada tahun 1988 karena tidak mampu bersaing dengan moda transportasi lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Perkembangan kereta api Semarang-Rembang tidak berjalan dengan baik. Perkembangan sarana prasarana berjalan lambat dan konsumen semakin berkurang. Kebijakan pemerintah terkait kereta api Semarang-Rembang yaitu rute ini dimasukkan dalam jalur lintas cabang. Kebijakan pemerintah yang lain yaitu menggembangkan jalur transpotasi jalan raya. Kebijakan pemerintah terkait perkeretaapian Semarang-Rembang yang paling besar yaitu terkait dengan penutupan jalur kereta api rute ini.  Kereta api Semarang-Rembang ditutup dengan alasan merugi. Pada awal tahun 1970an transportasi jalan raya berkembang pesat. Penumpang kereta api beralih menggunakan transportasi jalan raya. Semakin lama perusahaan kereta api tidak mampu menutup kerugian. Akhirnya rute ini secara resmi ditutup pada tahun 1988.
MENELISIK PERAN GURU DALAM PEMBUMIAN NASIONALISME AWAL ABAD XX Romadi, Romadi
Journal of Indonesian History Vol 7 No 1 (2018): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru mempunyai peran  sebagai penggerak  dan pendorong perubahan masyarakat, karena guru mempunyai intelektualitas dan kesadaran yang tinggi, serta mempunyai posisi yang “agung” sepanjang jaman. Pada awal abad XX, guru mempunyai peran membangkitkan kesadaran masyarakat akan nasib bangsanya, dengan metode dan pendekatan yang diterapkan dalam proses pembelajaran, maupun tulisan-tulisannya. Guru berperan “menyemaikan nasioalisme” bangsa,  baik melalui proses pembelajaran maupun tulisan-tulisannya. Willem Iskandar seorang guru dari Tapanuli, dalam surat kabar De Locomotief yang terbit di Semarang  disebutkan sebagai  pionir pendidikan Bumi Putera menjalin komunikasi dengan teman-teman sejawat sesama guru dari etnis lain untuk memikirkan kemajuan bangsanya. Sementara itu, Ki Hajar Dewantoro ingin memadukan antara pendidikan Timur yang lebih menekankan aspek spiritual dengan pendidikan Barat yang menekankan aspek akademik. Pastor Van Rijkevorsel, guru berkebangsaan Belanda, pada 1926 mementaskan cerita kepahlawaan Pangeran Trunojoyo (De opstand van Tarunodjojo) di Muntilan, yang diperankan oleh murid-muridnya yang orang Indonesia. Dengan demikian,  amat besar peran guru dalam membumikan semangat nasionalisme ke segenap lapisan masyarakat Indonesia.
PERCIKAN API REVOLUSI DI KAMPUNG TULUNG MAGELANG 1945 Amin, Syaiful; Kurniawan, Ganda Febri
Journal of Indonesian History Vol 7 No 1 (2018): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa kajian tentang Revolusi Indonesia masih terfokus pada wilayah administrasi yang luas, seperti Provinsi atau Kabupaten/Kota. Padahal, desa juga memiliki potensi untuk dikaji tentang keterlibatannya dalam proses perubahan cepat yang terjadi pasca kekalahan Jepang melawan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya (PATR). Kampung Tulung di Kota Magelang merupakan contoh kasus, dimana desa ikut terlibat merasakan percikan api revolusi yang membakar semangat rakyat untuk merdeka. Kondisi Magelang yang darurat, kemudian disikapi oleh pemerintah pusat dengan menjadikan daerah Magelang sebagai daerah darurat militer. Saat Jepang melakukan pawai milter dari Semarang dan tiba di Kampung Tulung. Dalam waktu sangat singkat Tentara Kido Butai telah sampai di belakang Kelurahan, dan oleh para Pemuda yang berada di Kelurahan mengira bahwa itu adalah kawan sendiri yang berasal dari Tentara Keamana Rakyat (BKR). Para Pemuda sibuk menyiapkan makan siang bagi para pejuang, karena di Kelurahan itu adalah penyelenggara Dapur Umum. Kedatangan mendadak para Tentara Kido Butai menyerang para pemuda yang tidak bersenjata untuk melawan. Akibatnya, penduduk Kampung Tulung yang berada di sekitar dan dalam Kantor Kelurahan dibantai dengan kejam. Jumlah penduduk Kampung Tulung tewas yang berhasil teridentifikasi berjumlah 42 orang, pemuda 42 orang, 16 pejuang, dan 26 anggota TKR berasal dari Kelurahan Magelang. Penyerangan tersebut disinyalir dilatarbelakangi oleh faktor kebrutalan situasi perang. Jepang yang sudah terdesak oleh Sekutu dan Tentara Republik mencoba bertindak agresif, sehingga mereka tidak segan melakukan penjarahan bahkan pembunuhan.
PERISTIWA 03 OKTOBER 1945 DI KOTA PEKALONGAN (ANALISIS DAMPAK SOSIAL & DAMPAK POLITIK) Nugraha, Adhi Wahyu; Utomo, Cahyo Budi
Journal of Indonesian History Vol 7 No 1 (2018): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 yang dilakukan oleh pahlawan dan proklamator telah membuahkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Secara langsung maupun tidak langsung, hal tersebut membawa dampak bagi masyarakat Indonesia di masing-masing daerah tak terkecuali di Kota Pekalongan. Dampak yang dihasilkan dari perang kemerdekaan meliputi berberapa bidang yakni bidang sosial, politik, psikologis, dan ekonomi. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menyertakan beberapa sumber primer dan sumber sekunder untuk mendukung data hasil penelitian serta menggunakan teori sosial dan teori politik untuk menganalisis dampak akibat pertempuran 03 Oktober 1945 di Kota Pekalongan. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat dampak sosial psikologis yang dialami oleh para korban, tenaga medis kesehatan serta beberapa relawan yang secara langsung maupun tidak langsung ikut berperan dalam peristiwa tersebut. Dampak sosial psikologis berupa trauma pasca perang (Post Traumatic Stress Disorder) serta duka yang mendalam bagi keluarga yang kehilangan suami atau anaknya yang menjadi korban dari peristiwa tersebut. Sementara dampak politik terlihat dari kekosongan kepemimpinan yang berlangsung sementara di Kota Pekalongan.
Wartawan Tiga Zaman : Biografi Singkat Perjalanan dan Pemikiran Rosihan Anwar 1948 - 1983 Padiatra, Aditia Muara
Journal of Indonesian History Vol 8 No 1 (2019): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita seringkali membaca majalah dan suratkabar, menonton acara berita di televisi, atau hanya sekedar melakukan mengunduh berita dari media daring untuk mendapatkan informasi terbaru. Aktivitas ini sebenarnya membawa kita untuk bersentuhan dengan jaringan informasi yang lazim kita sebut sebagai pers. Dalam manajemennya, pers mempunyai orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk behu-membahu bersama membangun dan membesarkan perusahaannya, beberapa diantara juga merupakan figur dan peletak dasar daripada jurnalisme di Indonesia. Dalam konteks sejarah Indonesia, salah satu tokoh pers tersebut adalah Rosihan Anwar, seorang jurnalis dan pemimpin surat kabar Pedoman yang hidup pada masa Orde Lama dan awal Orde Baru.-Melalui metode sejarah, menarik untuk menyimak bagaimana sepakterjang dan pasang surut kehidupan daripada Rosihan Anwar, sebagai seorang jurnalis yang sering disebut-sebut sebagai wartawan tiga zaman dalam belantika sejarah pers di tanah air. Keywords : Biografi, Pers, Rosihan Anwar   Abstract In everyday life, of course we have read magazines and newspapers, watched news on television, or just downloaded the latest news in online media to see the information available. These activities, actually brought us in touch with the information network commonly referred as the press. In its management, the press certainly has people from various backgrounds to work in it to enlarge the company, some of which are also figures and milestones of journalism in Indonesia. In the context of Indonesian history, one of the press figures was Rosihan Anwar, a journalist and leader of the Pedoman newspaper who lived during the Old Order and the New Order. Through the method of history, it is interesting to know how the twists and turns of the lives of Rosihan Anwar, as a journalist who are often lined up as journalists of the three epochs in the Indonesian press history. Keywords : Biography, Press, Rosihan Anwar
Memoar Sepatu: Cetakan Realitas di Antara Sumur, Dapur, dan Kasur Anindya, Benedicta
Journal of Indonesian History Vol 8 No 1 (2019): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya seni rupa menjadi salah satu media yang merepresentasikan isu dan stereotip gender. Selama ini, perempuan sebagai pihak yang dilekati stereotip pekerjaan dapur-sumur-kasur terbentuk bukan hanya karena unsur eksternal perempuan dan sistem sosial tetapi hadir juga dalam mindset perempuan sendiri, dan subur diwariskan oleh para perempuan. Perempuan dimetaforakan dalam sepatu yang mengandung makna bagian terdepan dari sejumlah pengalaman yang pada akhirnya tersimpan dalam memori manusia. Dalam konteks yang lebih luas, sepatu lekat dengan metafora alat pendukung dan “alas” yang masih lekat dalam diri perempuan hingga hari ini. Tulisan ulasan rancangan karya ini menjawab pertanyaan bagaimana stereotip gender diwujudkan dalam karya seni rupa Memoar Sepatu. Mereferensi beberapa karya dan tulisan terdahulu yang turut melestarikan pembongkaran stereotip perempuan dalam konteks hari ini, rancangan karya seni rupa Memoar Sepatu hadir untuk memaparkan bahwa perempuan sendiri – sebagai subyek – kadang memperkuat stereotip gender. Karya seni rupa Memoar Sepatu diwujudkan dengan merujuk proses penciptaan David Campbell yaitu preparation, concentration, incubation, dan illumination. Tahap penciptaannya melalui dua tahap proses penciptaaan idea mapping dan sketching (produksi) serta dengan tiga pendekatan yaitu realisme, warna kontras, dan “de-komputerisasi”. Realisme berarti terwujud dalam gambar atau bentuk nyata, warna kontras dimaksud memberikan penekanan dan alur pembacaan visual, dan “de-komputerisasi” Campbell dengan maksud menghadirkan pengalaman visual baru. Keenam karya Memoar Sepatu menarasikan jejak-jejak stereotip gender yang masih ditemukan hingga hari ini. Adapun kesimpulan dari rancangan karya seni rupa Memoar Sepatu adalah perempuan masih lekat dengan stereotip sumur, dapur, dan kasur terjalin dalam beragam kepingan ujaran, pengalaman, ungkapan canda, kebiasaan, dan pemakluman kecil tetapi jamak dalam setiap peristiwa sehari-hari, baik dalam ranah domestik rumah tangga maupun dalam lingkungan sosial seperti lingkungan kerja.   Kata kunci: stereotip, gender, perempuan, memoar sepatu
Persepsi Kematian Yang Tidak Menakutkan Dalam Karya Seni Rupa Pamuji, Yanuar Ikhsan
Journal of Indonesian History Vol 8 No 1 (2019): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan tema menjadi salah satu tolak ukur penting dalam sebuah karya seni. Ketertarikan seniman terhadap sebuah tema yang diusung sangat subjektif sehinga bisa menjadi menarik atau biasa saja bagi audience yang menikmati karya seni. Kematian menjadi keniscayaan bagi yang diberi kehidupan, oleh karena itu kematian selalu kontekstual dengan zamanya. Agar tema ini tidak subjektif maka dilakukan wawancara dan diseleksi dengan literasi buku sehingga diperoleh persepsi kematian yang tidak menakutkan  yang objektif. Pada proses visualisasi karya tidak hanya menekankan pada metafor saja, tetapi juga mempertimbangkan material yang dipilih dan cara penyajianya. Diera kontemporer ini banyak bermunculan karya konseptual yang tidak begitu mempertimbangkan teknik yang erat kaitanya dengan material dan cara penyajianya, sehingga cara yang sangat modernis sebagai strategi berkesenian di era kontemporer. Proses penciptaan karya seni dengan menggunakan bagan penciptaan David Campbell yaitu  Preparation : wawancara untuk memperoleh persepsi kematian , Contruction: mengeliminasi hasil wawancara dengan literasi buku,Inkubation:pemikiran kembali ide kematian yang akan diproduksi ,Illumination:mengkonstruk karya dengan pertimbangan metafor, material, dan penyajian , Verivication produksi karya. Kata kunci: kematian, metafor, material, dan penyajian.
Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Girikusumo di Demak Tahun 1997-2008 Faiz, Mazdar; Sodiq, Ibnu; Amin, Syaiful
Journal of Indonesian History Vol 8 No 1 (2019): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v8i1.27972

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menjelaskan bagaimana sejarah dan perkembangan pondok pesantren Girikusumo tahun 1997-2008; (2) Menjelaskan peran kyai dalam perkembangan pondok pesantren Girikusumo; dan (3) Menjelaskan pengaruh pondok pesantren Girikusumo bagi masyarakat Girikusumo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Girikusumo didirikan pada tahun 1868 oleh Muhammad Hadi. Pesantren Girikusumo merupakan pesantren yang selain memberikan pengajaran dan pendidikan juga sebagai pesantren yang terkenal sebagai pusat pengajaran Tarekat Naqsyabandiyah. Pada tahun 1997 pesantren Girikusumo mengalami perkembangan yang cukup pesat hingga saat ini. Sosok kyai yang kharismatik sangat berperan dalam perkembangan pondok pesantren Girikusumo. Adanya pondok pesantren Girikusumo sangat berpengaruh bagi masyarakat Girikusumo mulai dampak sosial, agama, pendidikan dan ekonomi. Kata Kunci: perkembangan, pesantren dan peran kyai
Rambut Gondrong di Semarang Pada Tahun 1967-1973 Wijanarko, Taufik Silvan; Wijayanti, Putri Agus; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 8 No 1 (2019): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v8i1.32209

Abstract

Kebijakan pelarangan rambut gondrong pada masa Orde Baru terjadi pada tahun 1970-an. Saat itu, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro di layar TVRI mengatakan bahwa rambut gondrong yang sedang populer membuat anak muda bersikap ‘acuh tak acuh’. Pernyataan tersebut menjadi penanda bahwa permasalahan rambut gondrong sedemikian gawatnya. Selain itu, operasi penertiban rambut gondrong mulai gencar dilakukan oleh aparat negara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada masa pemerintah Orde Baru, anak muda diidealkan menjadi anak yang penurut dan patuh terhadap orang tua seperti dalam konsep keluarga Jawa. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah membatasi anak muda ikut dalam kegiatan politik. Di samping itu, Orde Baru menerapkan politik pintu terbuka yang membuka akses seluas-luasnya pada Barat. Tidak heran jika musik rock yang pada masa Soekarno dianggap sebagai musik ngak-ngik-ngok menjadi populer pada masa Orde Baru. Salah satu band yang cukup populer di kalangan anak muda pada waktu itu adalah The Beatles. Band asal Inggris tersebut identik dengan rambutnya yang gondrong. Wajar jika anak muda mulai meniru cara berpakaian dan gaya rambut The Beatles. Melihat realitas tersebut, pemerintah merasa khawatir dengan tren rambut gondrong yang melanda anak muda. Pemerintah menganggap bahwa baik-tidaknya tingkah laku anak muda dapat dilihat dari cara berpakaian dan gaya rambut. Bagi Orde Baru, rambut cepak ala ABRI dianggap menjadi potongan rambut yang ideal.
Kampung-Kota dan Permukiman Kumuh di Kota Bandung Tahun 1965-1985 Kausan, Bagas Yusuf; Wijayanti, Putri Agus; Atno, Atno
Journal of Indonesian History Vol 8 No 1 (2019): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v8i1.32211

Abstract

Pada tahun 1970-1980an, seiring dengan berkembangnya perencanaan kota metropolitan, masalah permukiman menjadi satu gejala yang terjadi nyaris di setiap kota besar di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh daya tampung kota yang terbatas, sementara lonjakan jumlah penduduk akibat dari urbanisasi terus mengalami peningkatan. Akibatnya banyak para pendatang yang kemudian bermukim di lahan-lahan tidak terpakai dan mengisi kantong-kantong perkampungan kota yang sebelumnya telah ada. Penelitian ini membahas tentang sejarah kampung-kota, terutama terkait posisinya dalam perencanaan kota yang semakin modern. Lebih lanjut, penelitian ini mencoba melihat cara pemerintah memandang perkampungan-kota dan meninjau upaya apa saja yang pernah dilakukan pemerintah guna memperbaiki lingkungan perkampungan kota tersebut. Setelah ditinjau, dalam rentang tahun 1970-1980an, aneka bentuk program perbaikan perkampungan pernah dilaksanakan di Kota Bandung. Meskipun ada pula program perbaikan perkampungan yang murni diinisiasi secara swadaya oleh masyarakat, sebagian besar program perbaikan perkampungan pada saat itu merupakan proyek pemerintah yang bekerja sama dengan beberapa lembaga filantropi. Namun dengan hanya mengambil fokus pada perbaikan aspek fisik perkampungan, beberapa program perbaikan pun tidak berdampak secara signifikan terhadap masyarakat. Sebab, membaiknya lingkungan perkampungan tidak menjamin membaiknya kondisi perekonomian mereka yang lebih banyak terserap ke dalam ekonomi informal perkotaan.

Page 8 of 28 | Total Record : 278