Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

IMPLEMENTING SENGE’S LEARNING ORGANISATION MODEL IN ISLAMIC EDUCATIONAL INSTITUTIONS: A CASE STUDY OF PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH Sofwan Manaf; Busthomi Ibrohim; Muhammad Irfanudin Kurniawan; Fajar Suryono; Musthofa Musthofa; Duna Izfanna; Mastur
TADBIRUNA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): TADBIRUNA
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/jurnalmanajemenpendidikanislam.v5i2.2507

Abstract

This study aims to examine the implementation of Senge’s Learning Organisation model within the context of Islamic boarding school (pesantren) management, with a specific focus on Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Employing a qualitative case study methodology, data were collected through in-depth interviews with key informants, including institutional leaders, senior teachers, and administrators, supplemented by participant observation and document analysis over six months. The findings reveal that Darunnajah has effectively operationalised the five subsystems of Marquardt’s learning organisation framework: learning dynamics, organisational transformation, people empowerment, knowledge management, and technology application, while preserving its core Islamic identity. The pesantren demonstrates continuous learning through formal and non-formal pedagogical approaches, systematic organisational transformation from a traditional to a modern governance structure, strategic human resource empowerment through professional development and international partnerships, knowledge management through structured information dissemination, and technology integration across all educational levels. Currently operating 23 branch campuses across Indonesia, Darunnajah exemplifies how learning organisation principles can drive sustainable institutional expansion. The study concludes that the successful synthesis of Western organisational learning theory with Islamic educational philosophy at Darunnajah provides a replicable model for pesantren modernisation. This research contributes to the literature by bridging the gap between learning organisation theory developed in corporate settings and its application in faith-based educational institutions.
ISLAMIC ECOTHEOLOGY AND ENVIRONMENTAL SUSTAINABILITY: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW OF CONCEPTUAL FRAMEWORKS, METHODOLOGICAL APPROACHES, AND RESEARCH TRAJECTORIES Much. Hasan Darojat; Sofwan Manaf; Duna Izfanna; Rokimin Rokimin
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 15 No 01 (2026): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v15i01.9803

Abstract

Background: The worsening global environmental crisis requires a values-based approach that goes beyond conventional policy frameworks. In this context, Islamic ecotheology offers an ethical perspective relevant to the principles of sustainability. Research Objective: To identify publication trends, dominant theoretical frameworks, and patterns of integration between religious environmental ethics and sustainability practices in Islamic ecotheology literature. The method used was a systematic literature review (SLR) following PRISMA guidelines. A search was conducted through Scopus using nine keyword combinations, resulting in 847 initial records. After applying inclusion criteria (period 2015–2025, journals indexed Q1–Q4, topic relevance), 80 full articles were analyzed using bibliometric profiles and qualitative thematic synthesis with the Watase Uake system. The research findings show a dominance of qualitative methods (75%) and a bipolar geographical distribution between Muslim-majority developing countries and Western academic institutions. Thematic concentrations fall into four main clusters: theological concepts (44%), sustainability practices (35%), environmental ethics (25%), and interpretation of religious texts (19%). This research also identified important gaps, including the limited use of quantitative methods, minimal policy-practice linkages, and a lack of cross-religious comparative studies. In conclusion, Islamic ecotheology offers a transformational ethical framework for raising environmental awareness. Future research should focus on the development of standardized measurement instruments, policy-based research, and interfaith dialogue to enhance scientific rigor and practical impact.
PRAKTIK BAIK PEMBELAJARAN AGAMA DAN MORAL PADA ANAK USIA 5- 6 TAHUN DI TADIKA PASTI AL-MUKMIN, MALAYSIA Nur Anjeli; A. Atika Tamara; Nurtiyawati; Afifah Maharani; Duna Izfanna; Siti Salina Binti Samaun
Awladuna: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol. 2 No. 1 (2024): Awladuna: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Darunnajah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61159/awladuna.v2i1.268

Abstract

Pendidikan agama dan moral merupakan salah satu bagian dari pengembangan aspek perkembangan anak yang sering dikesampingkan. Nilai agama dan moral merupakan bagian dari pengembangan diri anak yang dimulai sejak usi dini. Pendidikan moral dilakukan untuk menjadikan peserta didik menjadi beradab dan mampu menjadi manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Namun pada kenyataannya, masih banyak siswa yang dijumpai melakukan perilaku menyimpang yang pada akhirnya muncul degradasi moral pada peserta didik. Sekolah akan benar-benar bermakna jika sudah menerapkan pendidikan moral kepada peserta didik secara totalitas. Pendidikan Agama Islam bagi anak usia dini juga sebagai sarana untuk menyiapkan peserta didik dalam mememahami, mengenal, bertakwa, mengimani ajaran agama, mengamalkan akhlak mulia beragama Islam dari sumber utamanya yaitu kitab suci Alquran dan hadist, melalui kegiatan pengajaran, pembimbingan dan latihan serta penggunaan pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk menggali praktik baik pembelajaran agama dan moral pada anak usia 5-6 tahun di Tadika Pasti Al-Mukmin, Malaysia. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisa data menggunakan teknik analisa data kualitatif. Berdasarkan hasil yang diperoleh, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran agama dan moral diberikan kepada anak melalui pengenalan-pengenalan mengenai ciptaan Allah tentang alam dan seisinya. Kemudian dikenalkan ibadah terutama sholat, wudhu, dan doa sehari-hari. Juga diajarkan pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa Islami agar terbentuk akhlak karimah. Menanamkan agama dan moral pada anak usia dini sangatlah penting sebab agama dan moral adalah pondasi utama dalam membentuk karakter anak yang bertujuan agar terciptanya manusia yang berakhlak mulia serta memberikan sang anak bekal saat menghadapi kehidupan di hari-hari berikutnya hingga ia dewasa. Katakunci: Pembelajaran Moral, Agama, Anak Usia 5-6 Tahun
Efektivitas Program Anti Bullying di Sekolah: Sebuah Tinjauan Kritis atas Potensi Seminar sebagai Intervensi Edukatif Terstruktur Mutiara Sabila Ramdhaliani; Duna Izfanna; Amara Tanjia; Dona Kirani Purnomo; Amara Tanjia; Alyka Putri Lestari; A’isyah Tul Alya; Selly Najwa Shadrina
Educivilia: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Educivilia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/ejpm.v7i2.24293

Abstract

Perundungan di lingkungan sekolah Indonesia menunjukkan peningkatan yang berkelanjutan: kasus kekerasan di satuan pendidikan naik dari 91 kasus pada 2020 menjadi 573 kasus pada 2024 dan 641 kasus pada 2025, sedangkan sepanjang Januari–Maret 2026 saja telah tercatat 233 kasus dengan 19% diantaranya berupa perundungan, mengindikasikan kesenjangan antara fungsi ideal sekolah sebagai ruang aman dan realitas kekerasan yang terjadi. Tinjauan ini bertujuan menganalisis efektivitas program pencegahan perundungan, dengan fokus khusus pada potensi seminar sebagai intervensi edukatif terstruktur. Metode pelaksanaan yang dikaji merujuk pada kegiatan seminar di SDN Melati, Bogor, yang menggunakan pendekatan partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, dan media visual untuk meningkatkan pemahaman 32 peserta didik kelas VI tentang bentuk-bentuk perundungan serta strategi pencegahannya. Analisis literatur mengungkapkan bahwa pendekatan kebijakan top-down dan seminar generik sering gagal beresonansi di tingkat siswa karena kurangnya kontekstualisasi dengan budaya sekolah. Temuan utama menegaskan bahwa intervensi efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang dinamika sosial sekolah, termasuk peran saksi dalam memutus siklus perundungan. Dampak perundungan bersifat multidimensi, psikologis, akademik, dan sosial dengan risiko jangka panjang seperti depresi hingga perilaku suicidal. Studi menunjukkan pendekatan multi-komponen yang melibatkan seluruh komunitas sekolah cenderung lebih efektif dibandingkan intervensi tunggal. Namun, implementasi kebijakan di tingkat satuan pendidikan masih belum konsisten, dan pengetahuan siswa terhadap kebijakan anti-bullying sering terbatas. Tinjauan ini memosisikan seminar anti-perundungan sebagai wahana dialogis potensial untuk mentransformasi pemahaman kognitif menjadi komitmen etis menumbuhkan empati. Keterbatasan utama kegiatan ini terletak pada desainnya yang berdosis tunggal selama 60 menit pada satu rombongan belajar tanpa pengukuran prates–pascates dan tindak lanjut, sehingga dampaknya baru dapat diklaim pada tataran reaksi dan pengetahuan, belum pada perubahan perilaku. Penelitian mendatang perlu menggunakan desain longitudinal dan komparatif untuk mengkaji faktor kontekstual seperti budaya sekolah dan lanskap digital dalam memediasi efektivitas program. Pengembangan intervensi berbasis seminar yang sistematis dan terintegrasi dengan pendekatan partisipatif digital menjadi agenda riset kritis untuk menjembatani kesenjangan antara retorika kebijakan dan realitas keamanan yang dialami peserta didik.
Student Mental Health and Psychological Supports at Pondok Pesantren: A Mixed-Method Case Study Duna Izfanna; Mimi Fitriana; Much Hasan Darojat
Tazkiya Journal of Psychology Vol. 13 No. 2 (2025): TAZKIYA Journal of Psychology
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tazkiya.v13i2.47345

Abstract

The demand for mental health supports for students in the educational system is growing. As a distinct Islamic educational institution where students stay full-time in one community, Pondok Pesantren needs to provide supportive environment for students since their home life is separate and less supportive. Differences in background and adaptability can result in some students experiencing difficulties, feeling anxious, afraid, uncomfortable, isolated, and even deciding to move. It is essential to know the mental health condition of the students to identify early warning signs of mental health problems. The purpose of this study is to analyze the mental health of students in Pondok Pesantren Darunnajah, factors contributing to their mental health, and their coping methods in maintaining mental health. It used mixed method design, combining The Strength and Difficulties Questionnaires (SDQ Goodman) for quantitative data and interviews for qualitative insights. The questionnaire was conducted to 160 students, age 12-18 years old, using stratified sampling based on gender and class. 16 students and teachers were selected using purposeful sampling techniques and interviewed. The research found that the majority of student (79.4%) were classified as normal, 19.4% borderline, and 1.3% needing assistance. Peer problems had the lowest average value (2.46). Male students are higher on hyperactivity (5.39), while emotional difficulties are more common in female (4.40). There are five factors contributing the mental health; students’ adaptability, social skill, family support, teacher support, and religious belief. They maintained their mental health by having friends, enjoying lives and activities in Pondok Pesantren, also by enhancing religious beliefs and performing religious activities. The findings highlight the importance of providing psychological supports based on gender and class as well as integrating religious belief and social supports in promoting mental health within Pondok Pesantren.
Model Intervensi Kolaboratif Keluarga-Sekolah dalam Mitigasi Dampak Negatif Gadget pada Anak dan Remaja Keyla Syalsa Billa; Duna Izfanna; Pauly Demanda; Zahra Adelia Putri; Lala Cahya Kamila; Amanda Zulaikha Pulungan; Muhammad Iman Kurniawan
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2026): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v8i2.19481

Abstract

This research responds to the crisis of excessive gadget use among Indonesian children and adolescents, which reaches 8-9 hours per day, far exceeding global recommendations. The study aims to formulate a holistic intervention strategy based on Islamic educational values, which has been lacking in the literature. We detected a gap between screen time recommendations and their implementation in the local context, as well as a lack of policy models in Islamic educational institutions to mitigate the negative impacts of gadgets. The activity was carried out through a participatory seminar entitled "The Positive and Negative Impacts of Gadget Use and the Urgency of Wise Use," featuring Islamic education experts. This method combined material delivery with interactive dialogue and involved 30 educators. We deliberately eliminated digital presentations and replaced them with printed modules and family activity sheets to ground the anti-gadget approach in concrete terms. Key findings revealed that gadget addiction, decreased children's focus, and parenting conflicts due to parental inconsistency were the dominant complaints among participants. The presenters introduced four main strategies: strengthening direct communication and empathy, access to structured encryption, developing children's potential without excessive technology, and parental collaboration through firmness and role modeling. Over 70% of participants actively shared their experiences and responded positively to this approach. Discussions yielded practical solutions such as agreed-upon device-free zones, enjoyable alternative activities, and alignment of parenting styles. The study concluded that the anti-gadget approach is not a rejection of technology, but rather a conscious effort to restore digital-human balance. Consequently, Islamic educational institutions need to establish curricular and extracurricular policies that strengthen collective parenting capacity. Future research will focus on developing a longitudinal intervention model and measuring the effectiveness of the anti-gadget policy at Melati Cidokom Elementary School in Bogor.
Meningkatkan Pemahaman Orang Tua Terhadap Pengasuhan Gen Z Melalui Seminar Parenting Duna Izfanna; Hasim Abdul; Nabiila; Mullia Ningsih
Khidmatuna: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Khidmatuna: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/khidmatuna.v6i2.3731

Abstract

Generasi Z merupakan kelompok individu yang tumbuh dalam era digital dengan akses teknologi yang luas. Kondisi ini membawa tantangan tersendiri bagi orang tua dalam menerapkan pola asuh yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai moral dan spiritual. Seminar parenting ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua di RW 07, Kelurahan Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, mengenai strategi pengasuhan yang efektif untuk Generasi Z. Kegiatan ini dilaksanakan pada 21 Februari 2025 di Masjid Al-Amin dengan metode seminar yang menghadirkan Ustadzah Duna Izfanna, M.Ed., Ph.D., sebagai pemateri utama. Hasil seminar menunjukkan bahwa peserta memiliki antusiasme tinggi dalam memahami konsep pola asuh yang sesuai dengan kebutuhan anak di era digital. Dari 25 peserta yang hadir, lebih dari 70% aktif dalam diskusi dan berbagi pengalaman terkait tantangan pengasuhan. Pemateri menekankan pentingnya menyamakan visi keluarga, membangun komunikasi yang positif, serta menerapkan aturan yang jelas guna membentuk anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Selain itu, seminar ini juga menyoroti peran orang tua dalam mengelola penggunaan teknologi di rumah agar tetap memberikan dampak positif bagi perkembangan anak. Dengan adanya seminar ini, diharapkan para orang tua dapat menerapkan pola asuh yang lebih adaptif dan berorientasi pada pembentukan karakter anak yang seimbang antara aspek spiritual, emosional, dan intelektual. Rekomendasi dari seminar ini mencakup perlunya edukasi berkelanjutan bagi orang tua, pendampingan dalam pola asuh, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan optimal bagi Generasi Z.