Produktivitas aparatur desa merupakan determinan utama dalam efektivitas penyelenggaraan layanan publik di tingkat lokal. Namun, literatur terdahulu menunjukkan adanya inkonsistensi model kinerja pada sektor publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstrain struktural gaya kepemimpinan transformasional dan motivasi intrinsik terhadap kinerja aparatur desa dalam konteks rural bureaucracy. Menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan metode survei, data dikumpulkan melalui sensus jenuh terhadap 44 perangkat desa di Desa Margalaksana, Kabupaten Tasikmalaya. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa motivasi intrinsik memiliki dampak positif yang dominan dan signifikan dalam memacu kinerja (β = 0,766; t = 7,736; sig. 0,000 < 0,05). Sebaliknya, pola kepemimpinan transformasional tidak mampu memberikan kontribusi parsial yang signifikan secara statistik (β = 0,192; t = 1,938; sig. 0,059 > 0,05), mengindikasikan adanya sekat struktural serta budaya administrasi paternalistik yang kuat dalam tata kelola perdesaan. Secara simultan, kedua variabel mengonfirmasi daya determinasi sebesar 86,3% terhadap variabilitas performa (R2 = 0,863). Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa modernisasi tata kelola desa tidak dapat bertumpu pada retorika kepemimpinan semata, melainkan menuntut penguatan motivasi mandiri secara struktural serta transformasi kultur organisasi. The productivity of village officials is a key determinant of local public service delivery. However, empirical literature exhibits inconsistent results regarding the drivers of public sector performance models. This study examines the structural constraints of transformational leadership styles and intrinsic motivation on village apparatus performance within a rural bureaucracy context. Utilizing a quantitative associative approach with a survey method, data were compiled from a saturated census of 44 village officials in Margalaksana Village, Tasikmalaya Regency. Multiple linear regression analysis reveals that intrinsic motivation exerts a dominant, significant positive effect on driving performance (β = 0.766; t = 7.736; sig. 0.000 < 0.05). Conversely, transformational leadership patterns fail to achieve statistical significance in its partial contribution (β = 0.192; t = 1.938; sig. 0.059 > 0.05), highlighting structural barriers and deeply rooted paternalistic administrative cultures in rural governance. Simultaneously, both variables explain 86.3% of performance variance (R2 = 0.863). These findings imply that administrative modernization in rural areas cannot rely solely on leadership rhetoric but requires structural strengthening of self-motivation and organizational culture transformation.