Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengembangan Formulasi Tablet Karbon Aktif Kayu Gelam (Melaleuca Sp) sebagai Alternatif Pengobatan Antidiare Tuti Alawiyah; Raihanah Raihanah; Setia Budi; Sismeri Dona
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i1.1402

Abstract

Background: Diarrhea remains a major global health problem requiring effective and safe therapeutic interventions. The utilization of natural activated carbon presents a promising alternative for antidiarrheal therapy. Objective: This study aimed to develop an activated carbon tablet formulation derived from Kayu Gelam (Melaleuca sp.) and to evaluate the physical and chemical quality of the resulting tablets. Methods: Activated carbon was obtained through carbonization and chemical activation processes, then formulated into three tablet formulas with varying concentrations of polyvinylpyrrolidone (PVP) as a binder: 2% (Formula 1), 3% (Formula 2), and 4% (Formula 3). Tablet quality evaluation included pH measurement, weight uniformity, hardness, friability, and disintegration time. Data were analyzed using one-way ANOVA. Results: The pH values of Formulas 1, 2, and 3 were 6.15, 6.65, and 6.85, respectively, all within the neutral range (5.8–7.4) and safe for biological systems. The average tablet weights were 157.0 mg, 153.5 mg, and 158.5 mg, respectively, meeting weight uniformity requirements. Hardness values were 6.47 kg, 6.83 kg, and 7.67 kg, indicating adequate mechanical strength. Friability values were 0.664%, 0.763%, and 0.502%, all below the acceptable limit of 1%. Disintegration times were 13.01 min, 13.65 min, and 13.85 min, respectively, satisfying the requirement of less than 15 minutes. One-way ANOVA revealed significant differences (p < 0.05) in pH, hardness, friability, and disintegration time among the three formulas, while weight uniformity showed no significant difference (p > 0.05). Conclusion: All formulated Kayu Gelam activated carbon tablets met the required physical and chemical quality parameters, demonstrating their potential for further development as an alternative antidiarrheal tablet preparation.
Penggunaan Tanaman Sebagai Obat pada Masyarakat Banjarmasin Tengah: The Use of Plants as Medicine Among the Community of Central Banjarmasin Norsarida Aryani; Rohama Rohama; Raihanah Raihanah; Melviani Melviani
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.11335

Abstract

Latar Belakang: Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan sekitar 30.000 spesies tumbuhan, di mana ±9.600 di antaranya berkhasiat obat dan ±300 spesies sebagai bahan baku jamu dan obat tradisional. Masyarakat Banjarmasin, khususnya Kecamatan Banjarmasin Tengah, memanfaatkan tanaman obat tradisional sebagai pengobatan dan pemeliharaan Kesehatan. Tujuan: Mengetahui jenis tanaman obat, bagian yang digunakan, cara pengolahan dan pemanfaatan tanaman obat. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling terhadap 28 responden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Analisis secara deskriptif menggambarkan pola pemanfaatan tanaman obat. Hasil: Ada 24 jenis tanaman obat yang digunakan masyarakat. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun (54,2%). Penyakit paling banyak diobati hipertensi (40%), tanaman yang digunakan yaitu sirsak (12,5%). Cara pengolahan dominan adalah direbus (87,5%), dan cara penggunaan terbanyak adalah diminum (87,5%). Simpulan: Masyarakat Banjarmasin Tengah masih mempertahankan tradisi pengobatan dengan tanaman obat sebagai bagian dari kearifan lokal. Hasil ini penting sebagai dasar pengembangan penelitian etnomedisin dan pelestarian tanaman obat untuk menunjang kesehatan masyarakat.
Evaluasi Fisikokimia Ekstrak Gliserin Kulit Buah Delima (Punica granatum L.) pada Sediaan Serum Gel Anti Jerawat: Physicochmical Evaluation of Glycerin Extract of Pomegranate Peels (Punica grabatum L.) in an Anti-Acne Serum Gel Formulation Mia Audina; Raihanah Raihanah; Agus Setiawan; Ahmad Faisal; Lutfhi Lutfhi; Siti Monica Anjani; Ni Luh Lady Listiani Rahayu
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.12001

Abstract

Jerawat (acne vulgaris) merupakan masalah kulit yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk bakteri Cutibacterium acnes dan proses inflamasi. Penggunaan obat konvensional sering menimbulkan efek iritasi sehingga mendorong pencarian alternatif alami, salah satunya kulit buah delima (Punica granatum L.) yang kaya akan polifenol dan memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisikokimia ekstrak gliserin kulit buah delima pada sediaan serum gel antijerawat dengan dua konsentrasi ekstrak, yaitu Formula I (FI) 15% dan Formula II (FII) 30%. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kedua formula memenuhi kriteria sediaan topikal yang baik. Secara organoleptis, kedua formula berbentuk kental, berair, dan memiliki aroma khas delima, dengan FII berwarna cokelat sedangkan FI berwarna kekuningan. Nilai pH kedua formula berada dalam rentang pH kulit (4,5–6,8) dan viskositasnya memenuhi syarat (2.000–4.000 cPs) dengan sifat aliran pseudoplastis. Secara statistik, FII menunjukkan daya sebar (6,78 ± 0,16 cm) dan daya lekat (188,33 ± 1,53 detik) yang lebih tinggi dan berbeda signifikan dibandingkan FI, yang menunjukkan kemudahan aplikasi serta retensi kulit yang lebih baik. Berdasarkan hasil karakteristik fisikokimia, FII (30%) disimpulkan sebagai formula yang paling optimal.