Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Makanan Ultra-Proses Berperan sebagai Mediator Hubungan Ketahanan Pangan dengan Status Kelebihan Gizi atau Obesitas pada Dewasa: Literature Review: Ultra-Processed Food can be a Mediator between Food Security Status and Overweight or Obesity among Adults: A Literature Review Farah Faza; Unun Fitry Febria Bafani; Idri Iqra Fikha
Amerta Nutrition Vol. 7 No. 1 (2023): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v7i1.2023.161-174

Abstract

Background: The ultra-processed food (UPF) contributed 20-85% of total daily calories. The consumption of UPF can be triggered by food security status. Many studies revealed that UPF consumption has a direct negative impact on health, mainly in overweight and obesity.  Objectives: To review published studies assessing food security, UPF consumption, and overweight or obesity and find the possible links between those three factors. Methods: A literature review of scientific articles about food security, UPF consumption, and overweight or obesity, selected systematically according to the PRISMA Diagram. All articles were gathered through medical search engines, including PubMed, ScienceDirect, and Scopus, from December 2021 to February 2022. The bias risk of each selected paper was assessed using the checklist from The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal. Peer review and group discussions were performed to assess the quality of all articles gathered as objectively as possible using the STROBE Checklist. A narrative synthesis approach was opted to unify all findings across included studies systematically.  Results: Nineteen (19) scientific published papers were filtered. The association between food security status and UPF consumption showed inconsistent findings. However, UPF consumption revealed a consistent association with overweight/obesity, where the higher the UPF intake, the greater odds of being overweight/obese. The relationship between food security status and overweight or obesity tended to have a similar pattern. In high-income countries, the association was negative (the more food insecure, the higher overweight or obesity), while in low- and middle-income countries showed the opposite. The pathway could be: (1) food-insecure adults have higher UPF intake, hence gaining body weight, or (2) food-secure adults have higher UPF intake, hence gaining body weight.  Conclusions: UPF consumption is indicated as a potential mediator for food security status and nutritional status (overweight/obesity) through two pathways involving socio-demographic factors, psychological factors, social protections, and food choice motives. 
Hubungan Kerawanan Pangan dengan Obesitas pada Orang Dewasa Idri Iqra Fikha
Nutriology : Jurnal Pangan,Gizi,Kesehatan Vol 4 No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Program Studi Gizi, Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/nutriology.v4i2.3385

Abstract

Kenaikan berat badan adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama,terutama pada kelompok usia dewasa. Peningkatan angka obesitas perlu mendapatkan perhatian karena obesitas merupakan salah satu penyebab berbagai penyakit tidak menular (PTM). Salahsatu faktor yang dapat menyebabkan obesitas adalah ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan yang dimetabolisme oleh tubuh sehingga terjadi penumpukan lemak. Permasalahan ini saat ini bukan hanya terjadi di negara – negara maju, akan tetapi juga sudah mulai terjadi di negara – negara berkembang. Hal ini sejalan dengan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok pekerjaan, yang banyak menderita obesitas adalah kelompok yang berpenghasilan menegah ke bawah. Metode yang digunakan adalah studi literatur sesuai topik dengan menggunakan PubMed, Web of Knowledge dan Google Scholar. Berdasarkan studi literatur ditemukan bahwa terdapat hubungan antara kerawanan pangan dengan kejadian obesitas pada wanita dewasa, terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan paradoks ini, diantaranya karena factor kebudayaan (patriarki) sehingga Ibu lebih mengutamakan makanan bergizi untuk anak dan suaminya. Selain itu, makanan padat energi juga mudah didapatkan dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi, belum ada skema pasti yang membuktikan paradoks ini, oleh karena itu dibuuhkan penelitian lanjutan untukmembuktikan paradoks ini.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Remaja Putri Pada Siswi Kelas VII SMPN 14 Kota Pekanbaru Tahun 2023 Anugerah Humairah; Shelly Puspa Anggraini; Idri Iqra Fikha
JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) Vol. 3 No. 1 (2024): JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
Publisher : UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35141/kia.v3i1.1006

Abstract

Remaja merupakan masa dimana peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang mana rentang usia 10-19 tahun, masa tersebut membentuk pondasi kehidupan reproduksinya. Data Riskesdas 2018 menggambarkan provinsi Riau adalah salah satu provinsi dengan prevalensi status gizi (IMT/U Z-Skor) pada remaja usia 13-15 tahun sangat kurus 2,68%. Sedangkan untuk di Kota Pekanbaru prevalensi status gizi (IMT/U Z-Skor) pada remaja usia 13-15 tahun sangat kurus 3,69%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gizi bagi remaja putri serta faktor-faktor yang berpengaruh. Metodelogi penelitian ini menggunakan desain “crossectional” Populasi penelitian adalah siswi kelas VII SMPN 14 Pekanbaru. Dari 111 orang yang berhasil di data 92 orang, sampel penelitian sama dengan populasi. Tehnik pengambilan sampel secara purporsiv. Penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai September 2023. Hasil penelitian menunjukkan masih ditemukan status gizi remaja putri < normal 29,3%, pendidikan ibu < SLTP 82,6%, Pekerjaan Ayah sebagian besar non PNS 98,9%. Pendapatan < UMR sebanyak 88%, Pola makan siswi < 3 kali dalam sehari 55,4%. Pengetahuan siswi kurang tentang gizi remaja sebanyak (90,2%). Ada hubungan bermakna antara pendapatan dengan status gizi 0,694 artinya pendapatan orang tua dapat mencegah status gizi < normal. Ada hubungan antara pengetahuan dengan keadaan gizi remaja putri OR 1,5 artinya siswi dengan pengetahuan kurang tentang gizi remaja berisiko 1,5 kali lipat mengalami gizi kurang Kepada pihak sekolah disarankan dapat menyampaikan informasi formal melalui mata pelajaran terkait disekolah, mendatangkan nara sumber, serta menyebarluaskan informasi gizi bagi remaja putri melalui buku saku, brosur, leaflet, poster. Kepada puskesmas diharapkan dapat memberikan penyuluhan gizi remaja, menyebarluaskan informasi tentang status gizi remaja putri melalui poster, brosur, leaflet, dan melakukan kegiatan rutin penjaringan kesehatan terhadap remaja putri, melalui pengukuran BB, TB berkala, dan bila memungkinkan memberikan Makanan Tambahan dan Tablet Tambah Darah bekerjasama dengan komite sekolah, Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat.
DIETARY INTAKE AND GREENHOUSE GAS EMISSION IMPACT IN INDONESIA : A LITERATURE REVIEW Bafani, Unun; Faza, Farah; Fikha, Idri Iqra
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.34936

Abstract

Meningkatnya suhu global akibat degradasi lingkungan menjadi perhatian utama. Emisi gas rumah kaca (GRK), sebagian berasal dari konsumsi makanan manusia, memberikan kontribusi yang signifikan. Tinjauan ini secara sistematis mengidentifikasi studi di Indonesia yang meneliti hubungan antara konsumsi makanan dan dampak lingkungan, terutama GRK. Penelitian dari Science Direct dan Pubmed antara tahun 2002 dan 2022 dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan konsumsi makanan berbasis hewani dan olahan, dengan asupan makanan berserat tinggi yang rendah. Tingkat konsumsi saat ini sedikit melebihi target global, kemungkinan karena peningkatan konsumsi kelompok makanan dengan emisi GRK yang lebih tinggi. Transformasi pola makan, termasuk pilihan makanan dan jumlahnya, memainkan peran penting. Pergeseran ke arah makanan berbasis hewani dan olahan, ditambah dengan asupan makanan berserat tinggi yang terus-menerus rendah, berdampak pada lingkungan. Mengonsumsi makanan beragam dalam porsi yang dianjurkan sangat penting untuk meminimalkan GRK dari konsumsi makanan
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Remaja Putri Pada Siswi Kelas VII SMPN 14 Kota Pekanbaru Tahun 2023 Humairah, Anugerah; Shelly Puspa Anggraini; Idri Iqra Fikha
JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) Vol. 3 No. 1 (2024): JURNAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
Publisher : UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja merupakan masa dimana peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang mana rentang usia 10-19 tahun, masa tersebut membentuk pondasi kehidupan reproduksinya. Data Riskesdas 2018 menggambarkan provinsi Riau adalah salah satu provinsi dengan prevalensi status gizi (IMT/U Z-Skor) pada remaja usia 13-15 tahun sangat kurus 2,68%. Sedangkan untuk di Kota Pekanbaru prevalensi status gizi (IMT/U Z-Skor) pada remaja usia 13-15 tahun sangat kurus 3,69%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gizi bagi remaja putri serta faktor-faktor yang berpengaruh. Metodelogi penelitian ini menggunakan desain “crossectional” Populasi penelitian adalah siswi kelas VII SMPN 14 Pekanbaru. Dari 111 orang yang berhasil di data 92 orang, sampel penelitian sama dengan populasi. Tehnik pengambilan sampel secara purporsiv. Penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai September 2023. Hasil penelitian menunjukkan masih ditemukan status gizi remaja putri < normal 29,3%, pendidikan ibu < SLTP 82,6%, Pekerjaan Ayah sebagian besar non PNS 98,9%. Pendapatan < UMR sebanyak 88%, Pola makan siswi < 3 kali dalam sehari 55,4%. Pengetahuan siswi kurang tentang gizi remaja sebanyak (90,2%). Ada hubungan bermakna antara pendapatan dengan status gizi 0,694 artinya pendapatan orang tua dapat mencegah status gizi < normal. Ada hubungan antara pengetahuan dengan keadaan gizi remaja putri OR 1,5 artinya siswi dengan pengetahuan kurang tentang gizi remaja berisiko 1,5 kali lipat mengalami gizi kurang Kepada pihak sekolah disarankan dapat menyampaikan informasi formal melalui mata pelajaran terkait disekolah, mendatangkan nara sumber, serta menyebarluaskan informasi gizi bagi remaja putri melalui buku saku, brosur, leaflet, poster. Kepada puskesmas diharapkan dapat memberikan penyuluhan gizi remaja, menyebarluaskan informasi tentang status gizi remaja putri melalui poster, brosur, leaflet, dan melakukan kegiatan rutin penjaringan kesehatan terhadap remaja putri, melalui pengukuran BB, TB berkala, dan bila memungkinkan memberikan Makanan Tambahan dan Tablet Tambah Darah bekerjasama dengan komite sekolah, Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat.
Pola Makan dan Status Gizi Sebagai Faktor Risiko Anemia Pada Remaja Anggraini, Shelly Puspa; Fikha, Idri Iqra; Humairah, Anugerah; Febrina, Yori
JURNAL PENDIDIKAN KESEHATAN Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Kesehatan
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pekanbaru Medical Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on data from the World Health Organization (WHO) in world health statistics in 2021, it shows that the prevalence of anemia in women of reproductive age (15-49) ranges from 29.9%. The results of the Basic Health Research report (Riskesdas, 2018) show that the prevalence of anemia in adolescent girls ranges from 27.2% in the age group of 15-24 years. The purpose of this study is to determine the relationship between diet and nutritional status with hemoglobin levels in adolescent girls at the Babussalam Islamic boarding school in Pekanbaru. The method used in quantitative analytical research uses a crosssectional approach, where the research is carried out at the time of data collection between independent variables and dependent variables which are carried out together at the same time, with a large population of 78 adolescent female respondents in class XI and class XII of Babussalam High School Pekanbaru. Respondents were selected using the total sampling technique. The results of the statistical test showed that there was no significant average difference between diet and hemoglobin levels in the respondents because the p-value result was 0.4 >0.05. The results of the statistical test showed that there was no significant average difference between nutritional status and hemoglobin levels in respondents because the p-value result was 0.3>0.05. The conclusion was that there was no significant average difference between diet and nutritional status and hemoglobin levels in adolescent girls of Babussalam High School Pekanbaru
HUBUNGAN RIWAYAT KELUARGA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PEKANBARU MEDICAL CENTER Puspa Anggraini, Shelly; Humairah, Anugerah; Iqra Fikha, Idri; Jelsa Nabilah, Okta
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 3 (2025): Vol. 7 No. 3 Edisi 2 April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i3.3178

Abstract

Hypertension remains a condition whose symptoms and risk factors are not widely recognized and is classified as a degenerative disease. Genetic predisposition plays a significant role in the development of hypertension, both directly and indirectly. A study investigating risk factors for hypertension among communities living along the Siak River revealed that the majority of respondents diagnosed with hypertension (71.8%) had a family history of the disease. The presence of hypertension and cardiovascular disease within the family is associated with a 2- to 5-fold increased risk of developing hypertension. Genetic factors are therefore considered to contribute substantially to the risk of hypertension. Other studies have reported that 70–80% of essential hypertension cases are associated with a positive family history. This study aimed to examine the association between family history and the incidence of hypertension among outpatient hypertensive patients at Pekanbaru Medical Center Hospital. A quantitative analytic method with a cross-sectional design was employed, involving a total of 102 respondents. The study population comprised hypertensive outpatients aged 26 to 59 years attending the Internal Medicine Clinic. The results of statistical analysis indicated no significant association between family history and the incidence of hypertension, as demonstrated by a p-value of 0.253 (p > 0.05).Keywords      : Hypertension, Genetic factor.
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA 26 – 59 TAHUN DI RUMAH SAKIT PEKANBARU MEDICAL CENTER Humairah, Anugerah; Puspa Anggraini, Shelly; Iqra Fikha, Idri; Jelsa Nabilah, Okta
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 3 (2025): Vol. 7 No. 3 Edisi 2 April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i3.3177

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) that are the leading cause of death globally include cardiovascular diseases. The majority of cardiovascular diseases are caused by controllable risk factors, among which is hypertension. Hypertension is an increase in arterial blood pressure where systolic blood pressure is equal to or greater than 140 mmHg and/or diastolic blood pressure is equal to or greater than 90 mmHg. Hypertension is known as the "silent killer" because it often presents without symptoms. WHO has recorded that at least 1.28 billion adults aged ≥18 years worldwide suffer from hypertension, with the majority (two-thirds) living in low- and middle-income countries. It is estimated that 46% of adults with hypertension are unaware of their condition. Less than half (42%) of adults with hypertension are diagnosed and treated, and only about 1 in 5 adults (21%) with hypertension are able to control it. Hypertension is a leading cause of premature death globally. One of the global NCD targets is to reduce the prevalence of hypertension by 33% between 2010 and 2030. One of the suspected risk factors influencing the incidence of hypertension is nutritional status. Research shows that individuals who are overweight are at greater risk of developing hypertension compared to those with a lower body weight. Overnutrition increases the risk of hypertension for several reasons. The larger the body mass, the more blood is needed to supply oxygen and nutrients to body tissues. This leads to an increase in blood volume circulating through blood vessels, which in turn exerts greater pressure on artery walls, potentially causing an increase in blood pressure. In addition, excess body weight also raises heart rate frequency. This study aims to determine the relationship between nutritional status and the incidence of hypertension in individuals aged 26–59 years at Pekanbaru Medical Center Hospital. This research uses a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 102 respondents selected using quota sampling. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed no significant relationship between nutritional status and the incidence of hypertension (p = 0.579).Keywords: Hypertension, Nutritional Status, Age 26–59 Years
PMP: Pemberdayaan Kelompok Remaja Masjid Al-Karomah dalam Pembuatan Virgin Coconut Oil wangi Pandanus Amarylifolius (VCO wangi daun pandan) untuk kesehatan kulit lanjut usia di Kecamatan Tenayan Raya Ovari, Isna; Winda, Desy; Fikha, Iqra Idri; Wahyuni, Fitra
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 6 (2024): Journal of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i6.1849

Abstract

The empowerment activities for the Al-Karomah Mosque youth group in Bencah Lesung Village, Tenayan Raya Subdistrict, are a Community Service Program between STIKes Pekanbaru Medical Center and the target partner, the Al-Karomah Mosque youth. The activities include the following sequence: first, the target partner is provided with knowledge about Virgin Coconut Oil (VCO) with the fragrance of Pandanus Amaryllifolius. Next, the mosque youth are trained and guided directly in making Virgin Coconut Oil with the fragrance of Pandanus Amaryllifolius (VCO with pandan leaf fragrance). After that, the VCO is packaged into glass bottles and labeled. Subsequently, the elderly members of the Al-Karomah Mosque congregation (who are members of the Majelis Taklim) are gathered for a health counseling session on the use of VCO with pandan leaf fragrance for elderly skincare. This community service activity has been carried out at the Al-Karomah Mosque. The VCO with pandan leaf fragrance produced from this activity has been well-received by the elderly, as it has numerous benefits for the skin, including the distinctive pandan leaf fragrance, the clarity of the oil, its safety from chemicals, ease of use, the attractive bottle design, and, importantly, its affordability. The outcomes of this activity are as follows: based on data analysis, the Al-Karomah Mosque youth group has increased their knowledge about VCO with pandan leaf fragrance, including its production, packaging, and usage for the elderly. After receiving training and direct practice in making VCO with pandan leaf fragrance, the mosque youth are now able to produce it simply. Evaluation from the elderly who have been using the VCO regularly for 4 weeks indicates noticeable changes in their skin, such as feeling softer, smoother, and more hydrated. The sequence of these activities can be viewed in videos uploaded on Instagram, YouTube, and TikTok by STIKes Pekanbaru Medical Center. The news of this activity has also been featured in the Pekanbaru Pos electronic print media. And will also be published in the Journal of Human and Education (JAHE), which has been accredited by SINTA 5.
Hubungan Kerawanan Pangan dengan Obesitas pada Orang Dewasa Fikha, Idri Iqra
Nutriology : Jurnal Pangan, Gizi, Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Program Studi Gizi, Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/nutriology.v4i2.3385

Abstract

Kenaikan berat badan adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama,terutama pada kelompok usia dewasa. Peningkatan angka obesitas perlu mendapatkan perhatian karena obesitas merupakan salah satu penyebab berbagai penyakit tidak menular (PTM). Salahsatu faktor yang dapat menyebabkan obesitas adalah ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan yang dimetabolisme oleh tubuh sehingga terjadi penumpukan lemak. Permasalahan ini saat ini bukan hanya terjadi di negara – negara maju, akan tetapi juga sudah mulai terjadi di negara – negara berkembang. Hal ini sejalan dengan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok pekerjaan, yang banyak menderita obesitas adalah kelompok yang berpenghasilan menegah ke bawah. Metode yang digunakan adalah studi literatur sesuai topik dengan menggunakan PubMed, Web of Knowledge dan Google Scholar. Berdasarkan studi literatur ditemukan bahwa terdapat hubungan antara kerawanan pangan dengan kejadian obesitas pada wanita dewasa, terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan paradoks ini, diantaranya karena factor kebudayaan (patriarki) sehingga Ibu lebih mengutamakan makanan bergizi untuk anak dan suaminya. Selain itu, makanan padat energi juga mudah didapatkan dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi, belum ada skema pasti yang membuktikan paradoks ini, oleh karena itu dibuuhkan penelitian lanjutan untukmembuktikan paradoks ini.