Melianus Salakory
Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penguatan dan Penanaman Nilai Adat dalam Tradisi Tiga Gandong Tamilouw, Hutumuri, dan Siri Sori Nisa H. Nusalelu; Melianus Salakory; Ferdinand Salomo Leuwol
JENDELA PENGETAHUAN Vol 19 No 1 (2026): JENDELA PENGETAHUAN
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jp19iss1pp173-187

Abstract

Tradisi Tiga Gandong di Negeri Tamilouw, Hutumuri, dan Siri-Sori merupakan sistem kekerabatan adat yang berfungsi menjaga persaudaraan, solidaritas, dan keharmonisan masyarakat Maluku. Namun, arus globalisasi, modernisasi, dan perubahan pola hidup generasi muda menyebabkan terjadinya penurunan pemahaman terhadap nilai-nilai adat yang terkandung dalam tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai adat dalam Tradisi Tiga Gandong, menganalisis bentuk penguatan nilai adat, mengkaji strategi penanaman nilai adat kepada generasi muda, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam proses pelestariannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, pemerintah negeri, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat pada tiga negeri gandong. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai adat yang terkandung dalam Tradisi Tiga Gandong meliputi solidaritas, gotong royong (masohi), toleransi, nilai religius dan spiritual, penghormatan kepada leluhur, tanggung jawab kolektif, dan loyalitas antar-negeri. Penguatan nilai adat dilakukan melalui ritual adat, peran lembaga adat, kegiatan sosial budaya, serta hubungan kerja sama antarnegeri. Penanaman nilai adat berlangsung melalui keluarga, pendidikan formal, keterlibatan dalam ritual adat, keteladanan tokoh adat, dan pembiasaan sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberlanjutan Tradisi Tiga Gandong tidak hanya bergantung pada pelaksanaan ritual, tetapi juga pada integrasi nilai adat dalam pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara lembaga adat, pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk memperkuat pewarisan nilai adat kepada generasi muda secara berkelanjutan. Temuan ini memperkaya kajian tentang pelestarian sistem kekerabatan adat berbasis budaya lokal di wilayah kepulauan Maluku. Berdasarkan hasil penelitian, nilai-nilai adat perlu diintegrasikan secara lebih sistematis dalam pendidikan, dokumentasi digital, dan program pemberdayaan pemuda guna menjaga keberlanjutan identitas budaya dan memperkuat kohesi sosial masyarakat.
Kualitas dan kuantitas air bersih masyarakat Desa Ewiri Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan Yolanda Teslatu; Melianus Salakory; Robert Berthy Riry
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp131–147

Abstract

Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia, namun ketersediaannya baik dari segi kualitas maupun kuantitas masih menjadi permasalahan di wilayah pedesaan, termasuk Desa Ewiri Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan, dimana sumber air memiliki kandungan kapur yang tinggi sehingga berpotensi mempengaruhi kelayakan konsumsi dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas dan kuantitas air bersih yang digunakan masyarakat serta kesesuaiannya dengan kebutuhan domestik berdasarkan standar kualitas air bersih. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan pengujian laboratorium terhadap parameter fisika, kimia, dan biologi, dengan sampel diambil secara simple random sampling dari rumah tangga pengguna air serta dianalisis mengacu pada standar Permenkes tentang kualitas air bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik air tergolong jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, sedangkan secara kimia terdapat kandungan kapur atau kesadahan yang cukup tinggi yang ditandai dengan terbentuknya kerak putih saat pemanasan, namun masih berada dalam batas yang diperbolehkan untuk kebutuhan domestik. Dari aspek kuantitas, ketersediaan air dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci, meskipun pada musim kemarau berpotensi mengalami penurunan debit air. Temuan ini menunjukkan bahwa sumber air di Desa Ewiri masih layak digunakan, tetapi memerlukan pengolahan sederhana sebelum dikonsumsi guna mengurangi kadar kapur dan meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang. Implikasinya, diperlukan pengelolaan sumber air melalui sistem penyaringan sederhana, edukasi masyarakat terkait kualitas air, serta dukungan pemerintah dalam penyediaan sarana air bersih yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Kata kunci: kualitas air, kuantitas air, air bersih