Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pertanggungjawaban pelaku usaha terhadap peredaran produk skincare tanpa izin edar di Indonesia Zara Siti Erfira; Fidelya Heryxlim Eng; Vincensia Esti Purnama Sari
Cessie : Jurnal Ilmiah Hukum Vol. 4 No. 6 (2026): Cessie: Jurnal Ilmiah Hukum
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/cessie.v4i6.2009

Abstract

Peredaran produk skincare tanpa izin edar dari BPOM di Indonesia menjadi isu serius yang mengancam kesehatan konsumen, terutama karena potensi kandungan bahan berbahaya seperti merkuri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertanggungjawaban hukum pelaku usaha atas peredaran produk skincare ilegal serta kewajiban memperoleh izin edar sesuai regulasi nasional. Metode yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dikumpulkan melalui studi pustaka dan dianalisis secara kualitatif deskriptif-analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mewajibkan pelaku usaha menjamin keamanan produk, memberikan informasi yang benar, dan bertanggung jawab atas kerugian konsumen. Selain itu, Peraturan BPOM No. 23 Tahun 2019 secara tegas melarang penggunaan merkuri dalam kosmetik karena risiko toksisitas yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius. Temuan juga menunjukkan lemahnya pengawasan, terutama di platform e-commerce. Pelaku usaha dapat dikenakan sanksi berupa pencabutan izin dan denda hingga Rp2M. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara BPOM, Kementerian Kesehatan, dan marketplace serta penegakan hukum yang lebih tegas.
Regulasi Kecerdasan Buatan Tanpa Sanksi: Analisis Kritis Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) tentang Etika Kecerdasan Artifisial dalam Perspektif Hukum Indonesia Eka Nurhikmah; Fadhel Koto Bida Mulyono; Yeremia Haganta Kaban; Fidelya Heryxlim Eng; Nelvina Djaja; Pietro Grassio Ekoyulio
JURNAL ILMIAH RESEARCH AND DEVELOPMENT STUDENT Vol. 4 No. 3 (2026): September: Jurnal Ilmiah Research and Development
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jis.v4i3.2599

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) in Indonesia has been accompanied by a rising number of AI-based digital fraud cases, including deepfake and voice cloning, while Indonesia still lacks a dedicated law for AI. In response, the government drafted a Presidential Regulation on AI Ethics (RPerpres Etika AI), adopting a soft law approach without sanctions, which differs from the European Union's risk-based approach in the EU AI Act that includes binding sanctions. This study is a prescriptive-analytical normative legal research using statutory, comparative, and conceptual approaches, aiming to analyze the normative construction of the RPerpres and to assess the adequacy of its soft law approach without sanctions in addressing the risk of AI misuse. The findings show that the RPerpres establishes nine ethical values, distributes responsibility among Users, Sector Actors, and Ministries/Agencies, and classifies AI risk into three levels, but contains no binding sanctions, lacks clarity on enforcement authority, and remains dependent on the ITE Law, the PDP Law, and the Criminal Code, none of which were specifically designed for the characteristics of AI. Compared to the EU AI Act, which applies risk classification, mandatory conformity assessment, and tiered administrative sanctions, the RPerpres risks becoming a regulation without substantive binding force. This study identifies several aspects that need to be strengthened, such as strengthening through risk-based sanctions, and consolidation through a dedicated AI law, in order to provide stronger legal certainty while remaining proportionate to Indonesia's institutional and economic context.