Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

MENINGKATKAN MINAT BACA PADA ANAK-ANAK KAMPUNG KA SAMA DENGAN LITERASI MEMBACA DONGENG Guntar, Elsita Lisnawati; Jetia Moon, Yuliana; Filomena Iku, Priska
Suluh Pendidikan : Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Vol 21 No 2 (2023): SULUH PENDIDIKAN : Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan
Publisher : IKIP SARASWATI TABANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46444/suluh-pendidikan.v21i2.651

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak literasi membaca dongeng pada peningkatan minat baca Anak-anak Kampung Ka Sama. Adapun penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data berupa minat baca dan sumber data adalah anak-anak Kampung Ka Sama. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, angket, wawancara, dan FGD. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dampak positif antara literasi membaca dongeng dan minat membaca anak-anak Kampung Ka sama. Anak-anak menunjukan peningkatan persepsi, motivasi, prilaku positif pada bacaan. Kegemaran membaca mulai meningkat sedikit demi sedikit. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa literasi membaca dongeng dapat meningkatkan minat baca pada anak-anak Kampung Ka Sama.
PEMBELAJARAN KOSA KATA MELALUI MÉTODE PETA PIKIRAN MOON, YULIANA JETIA; SUTAMA, I MADE
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v4i4.4012

Abstract

Vocabulary in language learning is a crucial component that needs to be mastered. This research aims to explore the application of the mind map method integrated with a Problem-Based Learning (PBL) approach in Indonesian language learning. Additionally, this study describes the use of digital media that can support the implementation of the mind map method and examines the challenges, solutions, and opportunities in applying this method in Indonesian language education. This research employs a library research methodology. The data consists of secondary sources, including scientific journal articles, books, proceedings, theses, and dissertations. Data collection is conducted by tracing, identifying, and selecting literature that meets predefined criteria. The mind map method is an innovative and effective learning approach for improving vocabulary acquisition. The incorporation of supporting technologies such as MindMeister, Ayoa, XMind, and similar applications enhances the learning experience, making it more engaging and interactive. Although challenges exist in its implementation—such as time constraints, technical difficulties, and varying skill levels among students these obstacles can be mitigated through solutions like training, effective time management, and collaborative learning. Furthermore, the opportunities offered by this method are significant, extending beyond basic vocabulary mastery to fostering the development of more complex language skills. ABSTRAKKosa kata dalam pembelajaran bahasa adalah bagian yang sangat penting untuk dikuasai. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan metode peta pikiran dipadukan dengan pendekatan berbasis Problem-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran bahasa Indonesia, selain itu penelitian ini juga  mendeskrisikan media digital yang dapat digunakan dalam penerapan métode peta pikiran, dan mendeksripsikan tantangan, solusi, dan peluang dalam penerapan metode peta pikiran dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan. Data penelitian berupa sumber informasi sekunder yang mencakup artikel jurnal ilmiah, buku, prosiding, tesis, dan disertasi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri, mengidentifikasi, dan memilih literatur yang sesuai dengan kriteria. Metode peta pikiran merupakan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan efektif untuk meningkatkan penguasaan kosa kata. Penggunaan teknologi pendukung seperti MindMeister, Ayoa, XMind, dan aplikasi sejenis semakin memperkaya pengalaman belajar yang  menarik dan interaktif. Meskipun terdapat tantangan dalam penerapannya, seperti keterbatasan waktu, kesulitan teknis, dan tingkat keterampilan siswa yang beragam, solusi seperti pelatihan, pengelolaan waktu yang baik, dan pembelajaran kolaboratif dapat mengatasi hambatan tersebut. Di sisi lain, peluang yang ditawarkan oleh metode ini sangat signifikan, tidak hanya untuk penguasaan kosa kata dasar tetapi juga untuk pengembangan kemampuan berbahasa yang lebih kompleks.
The Relationship Between Culture and Language: An Anthropological Linguistics Study Susianti, Hartanti Woro; Moon, Yuliana Jetia; Budi, Imanuel Setyo
LACULTOUR: Journal of Language and Cultural Tourism Vol. 3 No. 2 (2024): LACULTOUR: Journal of Language and Cultural Tourism
Publisher : Unit Pelayanan Bahasa, Politeknik Pariwisata Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52352/lacultour.v3i2.1611

Abstract

The interplay between culture and language is a central theme in anthropological linguistics. Culture encompasses values, beliefs, norms, and traditions passed down through generations, and language plays a fundamental role in expressing and preserving these cultural elements. This paper explores the reciprocal relationship between language and culture, illustrating how language not only reflects but also shapes the social and cultural realities of a community. By examining various examples, such as the use of honorifics in Japanese culture and the transmission of oral traditions in indigenous communities, the study highlights the role of language as a medium for cultural continuity. Additionally, it delves into how cultural changes, such as technological advancements, lead to the evolution of language, especially in the development of new vocabulary. Through this analysis, the paper aims to provide a comprehensive understanding of how language and culture mutually influence each other, facilitating the ongoing process of cultural preservation and transformation.
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Sastra Cerpen "Guru Jabut" Karya Hasan Al Banna Mesdi Wika Suryani Manullang; Dian Syahfitri; Yuliana Jetia Moon
KLITIKA Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025): Klitika
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/klitika.v7i1.6801

Abstract

Pendidikan karakter merupakan pilar utama yang berperan esensial dalam mewujudkan generasi unggul yang mengedepankan intelektualitas dan nilai moral. Sastra, khususnya cerpen, berperan strategis dalam menyampaikan nilai pendidikan karakter kepada generasi muda. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan komponen pendidikan karakter yang tercermin dalam sastra cerpen “Guru Jabut” di balik konteks sosial teks cerita secara tekstual. Penelitian ini mengaplikasikan metode kualitatif dengan penyajian data secara deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam  penelitian melingkupi dokumentasi, kajian pustaka, serta wawancara. Selanjutnya, perolehan data dianalisis menggunakan kajian isi dengan analisis interaktif pola Miles juga Huberman yang melingkupi tahapan mereduksi data, penyajian data, dan menarik simpulan atau memverifikasi. Hasil analisis membuktikan dalam topik penelitian Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Sastra Cerpen “Guru Jabut” Karya Hasan Al Banna, memperoleh 13 nilai pendidikan karakter sebab kemunculannya konsisten dengan didukung teori Wibowo, Lickona berasas pada Kemendiknas (2010), serta 29 data termanifestasi nilai pendidikan karakter yang didominasi cinta damai dan kepedulian sosial lewat pengaruh karakter Guru Jabut. Simpulan riset ini menegaskan cerpen “Guru Jabut” berperan strategis dalam menyampaikan nilai pendidikan karakter sebab cerpen mengandung banyak nilai pendidikan karakter yang mampu diserap oleh pembaca.
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM NOVEL “MIMI LAN MINTUNA” KARYA REMY SYLADO Yuliana Jetia Moon
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 8 No. 2 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jpkm.v8i2.687

Abstract

Kekerasan terhadap Perempuan dalam Novel “Mimi Lan Mintuna” Karya Remy Sylado. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan dan faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan pada tokoh-tokoh perempuan dalam novel Mimi Lan Mintuna karya Remy Sylado. Penelitian ini berbentuk deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa bentuk kekerasan, yaitu kekerasan fisik dan psikis, kekerasan nyata dan tersembunyi, kekerasan personal dan struktural, dan kekerasan berdasarkan area. Ada dua faktor penyebab kekerasan terhadap perempuan, yaitu faktor internal dan faktor ekternal
Exploring the Crisis of Cultural Identity as Reflected in Contemporary Manggarai Songs Yuliantari, Ans Prawati; Moon, Yuliana Jetia; Handoko, Cons Tri
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v26i2.17190

Abstract

This study aims to identify and analyze forms of cultural identity crisis in contemporary Manggarai songs circulating through social media. The study employs a qualitative approach, utilizing Fairclough's Critical Discourse Analysis method and Bhabha's Cultural Hybridity theory, to examine the relationship between song lyrics, social practices, and the use of cultural symbols. The results of this study indicate that the cultural identity crisis is reflected in ambivalent discourse and the use of traditional symbols in new forms that are inconsistent with their original meanings. Cultural symbols that were once sacred now appear in the context of emotional expression, social humor, and digital entertainment. This phenomenon shows a shift in meaning and function, where society is no longer in a position of established identity, but instead in a space of negotiation between tradition and modernity. Local music in the digital era has become an important arena for responding to social and economic pressures and the influence of media algorithms. This study concludes that cultural expression through songs reflects the dynamics of constantly changing identities. Recommendations for further research include expanding the study to other musical genres or different cultural contexts to understand the transformation of cultural identity in the broader digital landscape.
The Linguistic Landscape of Ruteng City: A Study on Shop Signs Owned by Chinese and Indigenous Indonesian Ethnic Groups Moon, Yuliana Jetia; Syahfitri, Dian; Hasbul, Wahyuni; Wirahyuni, Kadek
Jurnal Bahasa Indonesia Prima (BIP) Vol. 7 No. 2 (2025): Bahasa Indonesia Prima (BIP)
Publisher : Bahasa Indonesia Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/bip.v7i2.7165

Abstract

The main question in this research is how the shop signs owned by Chinese and Indigenous Indonesian communities in Ruteng represent ethnic identity and cultural values, reflect multicultural dynamics, and illustrate the process of acculturation within the public space. The objective of this research is to describe the forms of language representation used in the shop signs owned by Chinese and Indigenous Indonesian communities in Ruteng; to identify the cultural values reflected in the language choices and visual appearances of the shop signs; and to analyze how multicultural dynamics and cultural acculturation processes are manifested in the linguistic landscape of Ruteng City. This research used a qualitative approach, utilizing methods of observation, photography, interviews, content analysis, and literature study. The data were analyzed using content and thematic analysis techniques. The research results show that Indigenous Indonesian store owners tend to choose names and colors based on personal preferences and the concept of modernity. In contrast, Chinese store owners preserve cultural values by selecting names that carry meanings of luck, harmony, and feng shui principles. Chinese ethnic stores tend to have symbolic functions, whereas Indigenous Indonesian stores tend to be informative. The language used in Chinese ethnic stores is monolingual, while Indigenous Indonesian stores use both monolingual and bilingual languages. The multicultural dynamics, viewed through the lens of the linguistic landscape in Ruteng, show an acculturation process characterized by harmonious social integration, where cultural identity is preserved without constraining social interaction. Ruteng City emerges as an example of inclusive and dynamic multiculturalism.