Nur Rofiah
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dimensi Spiritual dalam Tafsir Al-Azhar: Analisis Konseptual dengan Pendekatan Qur’ani terhadap Gangguan Kecemasan Liana Isma Aprianti; Nur Rofiah; Nurbaiti Nurbaiti
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.34635

Abstract

Abstrak Gangguan kecemasan merupakan fenomena psikologis yang semakin meningkat dalam kehidupan masyarakat modern, terutama pada remaja dan dewasa muda. Kompleksitas tekanan hidup, tuntutan sosial yang tinggi, serta percepatan perubahan zaman berkontribusi terhadap munculnya kecemasan kolektif dan krisis eksistensial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep penanganan kecemasan melalui pendekatan spiritual Islam dalam perspektif Hamka, serta relevansinya dengan psikologi modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kecemasan dan penafsiran Hamka, kemudian dikaji secara konseptual menggunakan kerangka psikologi ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual seperti tauhid, tawakal, keikhlasan, pemaknaan hidup, dan orientasi ketuhanan berperan sebagai mekanisme koping yang adaptif dalam mereduksi kecemasan, memperkuat resiliensi psikologis, serta menciptakan ketenangan batin yang stabil. Pendekatan Hamka secara konseptual sejalan dengan temuan psikologi modern, khususnya dalam aspek makna hidup, harga diri, dan dukungan sosial. Maka, pendekatan Qur’ani melalui perspektif Hamka menawarkan penanganan gangguan kecemasan yang holistic, integrative, dan relevan bagi konteks kehidupan masyarakat modern. Kata kunci: kecemasan, psikologi Islam, Tafsir Hamka, Spiritualitas, Kesehatan mental.  
Wounded Masculinity Perspektif Al-Qur’an: Analisis Kerangka Teoretis untuk Mewujudkan Keadilan Gender Sri Satyaningtyas; Ahmad Zain Sarnoto; Nur Rofiah
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2906

Abstract

Fenomena wounded masculinity (maskulinitas yang terluka) merupakan persoalan sosial dan psikologis yang muncul akibat konstruksi maskulinitas patriarkal yang kaku, menuntut laki-laki untuk selalu kuat, dominan, dan menekan ekspresi emosional. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental laki-laki, tetapi juga memperparah ketimpangan relasi gender dan kekerasan berbasis gender. Kajian gender selama ini cenderung berfokus pada perempuan sebagai korban patriarki, sementara krisis identitas dan luka sosial yang dialami laki-laki masih relatif terabaikan, khususnya dalam studi tafsir Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep wounded masculinity, mengkaji respons Al-Qur’an terhadap problematika maskulinitas, serta membangun kerangka teoritis integratif antara tafsir Al-Qur’an dan teori gender guna mewujudkan keadilan gender. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), serta analisis tematik dan hermeneutik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan maskulinitas, relasi gender, dan ekspresi emosional laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak menetapkan satu model maskulinitas tunggal, melainkan mengakomodasi keberagaman ekspresi maskulinitas yang bersifat manusiawi, emosional, dan spiritual. Al-Qur’an menawarkan strategi preventif dan kuratif terhadap wounded masculinity melalui nilai-nilai keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan keseimbangan relasi gender. Penelitian ini merumuskan konsep positive masculinity perspektif Al-Qur’an sebagai alternatif atas maskulinitas hegemonik dan patriarkal. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan tafsir berperspektif gender yang tidak hanya membela perempuan, tetapi juga membebaskan laki-laki dari luka konstruksi maskulinitas yang merugikan, serta mendorong terwujudnya relasi gender yang lebih adil, inklusif, dan berkeadaban.
Autokritik Penafsiran Hannan Lahham atas Ayat Poligami, Qiwâmah dan Nusyûz Perspektif Agensi Naila Kabeer Tasya Nabilah Herman; Nur Arfiyah Febriyani; Nur Rofiah
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2912

Abstract

Artikel ini mengkaji autokritik penafsiran Hannan Lahham atas ayat poligami (QS. an-Nisâ`/4: 3), qiwâmah dan nusyûz (QS. an-Nisâ`/4: 34) serta menimbang implikasinya bagi pemberdayaan perempuan melalui perspektif agensi Naila Kabeer. Berbeda dengan sejumlah mufasir perempuan lain yang memusatkan kritik pada dominasi laki-laki, Lahham menempuh jalan autokritik dengan menekankan bahwa kesetaraan dicapai melalui transformasi diri dan pelaksanaan kewajiban sebelum menuntut hak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis kepustakaan (library research) dengan kerangka hermeneutika Hans-Georg Gadamer dan teori agensi Naila Kabeer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Lahham dalam kerangka Kabeer, menunjukkan bahwa penafsirannya berada pada kategori agensi adaptif yang mengurangi ketimpangan tanpa mengubah struktur kuasa patriarkal secara mendasar. Dengan demikian, meskipun mengandung unsur pembaruan, penafsirannya lebih berfungsi memperhalus ketimpangan gender daripada mentransformasikannya secara fundamental.
RELASI KUASA DALAM TAFSIR HAK DῙNI KUR’ĀN DILI : STUDI ATAS PENAFSIRAN ELMALILI HAMDI YAZIR TERHADAP AYAT POLIGAMI PADA MASA TRANSISI TURKI Ardi Kurniawan; Darwis Hude; Nur Rofiah
El-Mu'Jam. Jurnal Kajian Al Qur'an dan Al-Hadis Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : IAINU Kebumen Prodi IAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33507/44vp0563

Abstract

This article explores the relationship between power and Qur’anic interpretation by examining Elmalılı Hamdi Yazır’s exegesis of polygamy verses in the Turkish context. It argues that interpretation is not purely intellectual but often intersects with political authority, functioning as a tool of legitimacy for state policies. This dynamic became especially visible during Turkey’s transition from the Ottoman Caliphate to the modern Republic, when religious interpretation was mobilized to support emerging political ideologies and national identity. This study employs a qualitative library research method, drawing on primary sources from Elmalılı’s works and relevant secondary literature. Using descriptive-analytical and historical-critical-contextual approaches, the research situates his interpretation within broader socio-political transformations. The findings reveal that Elmalılı’s interpretation of polygamy reflects a high degree of intellectual independence and was not shaped by direct state intervention. He emphasizes justice as the central condition for polygamy, framing it within ethical, social, and humanitarian considerations. Rather than prohibiting the practice outright, he underscores that it must adhere to principles of fairness and public welfare. For Elmalılı, polygamy is not an unrestricted right but a conditional practice bound by moral responsibility and the historical context of revelation.