Rini Budi Astuti
Program Studi Profesi Apoteker, Universitas Sebelas Maret, Jalan Ir. Sutami 36 Kentingan, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah. Indonesia 57126.

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Rasionalitas dan Potensi Drug-Related Problems pada Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap dengan Ulkus Diabetes Mellitus Tipe II Vinci Mizranita; Inayatush Sholihah; Novita Dhewi Ikakusumawati; Tiara Dewi Salindri Pratama; Rini Budi Astuti; Devi Yanthre Sari Manurung; Akbar Eka Nugraha
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 1 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i1.28510

Abstract

Ulkus diabetes melitus (DM) tipe II merupakan komplikasi kronis yang sering menimbulkan infeksi serius, memerlukan terapi antibiotik, dan berisiko tinggi terhadap kejadian drug-related problems. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas dan penggunaan antibiotik, serta identifikasi drug-related problems pada pasien ulkus diabetes mellitus tipe II. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada 44 pasien ulkus diabetes mellitus tipe II di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan klasifikasi PCNE V9.1 untuk mengidentifikasi drug-related problems. Sebagian besar pasien berusia 60–74 tahun (52%), memiliki komplikasi terbesar makrovaskuler (91%), khususnya hipertensi (43,75%) dan amputasi (34,38%). Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (27%) dan metronidazol (20%), dengan rute pemberian secara parenteral (66,94%) sebagai rute pemberian utama. Sebanyak 113 kasus kejadian drug-related problems yang teridentifikasi, didominasi oleh kombinasi penggunaan obat yang tidak sesuai (51,3%), dosis tidak tepat, dan terapi tidak sesuai dengan formularium atau guideline. Penggunaan antibiotik pada pasien ulkus diabetes mellitus sebagian besar sesuai rekomendasi, namun tetap memiliki risiko tinggi. Diperlukan pemantauan terapi, medication review, dan intervensi terapi berbasis guideline untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. 
Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Tingkat Pengetahuan TB Paru pada Warga Kelurahan Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta Rini Budi Astuti; Rasmaya Niruri; Saptono Hadi
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 1 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i1.30086

Abstract

Kota Surakarta merupakan kota dengan kasus Tuberkulosis (TB) terbanyak keempat di Jawa Tengah. Pengetahuan masyarakat terkait TB merupakan salah satu cara mencegah penyebaran kasus TB. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan serta faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan masyarakat Kelurahan Ketelan terkait TB Paru. Penelitian ini penting untuk merancang intervensi edukasi yang tepat sasaran sesuai karakteristik demografi masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan metode total sampling. Data diolah menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan 62% responden berusia > 45 tahun, 76% responden berjenis kelamin perempuan, 62% responden menempuh pendidikan formal > 9 tahun, 58% responden memiliki status tidak bekerja, 62% responden memiliki penghasilan diatas UMK Surakarta, 52% responden pernah mendapat informasi terkait TB Paru dan 86% responden belum pernah mengalami kontak erat dengan penderita TB Paru. Pengetahuan responden paling rendah adalah pengetahuan terkait pencegahan TB Paru dan gejala TB Paru. Hasil ini dapat menjadi dasar pentingnya pemberian informasi lebih intensif terkait pencegahan dan gejala TB Paru pada warga. Sebanyak 46% responden memiliki tingkat pengetahuan terkait TB Paru cukup. Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan responden terkait TB Paru antara lain usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, paparan informasi serta pengalaman kontak erat dengan pasien TB Paru.
Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Tingkat Pengetahuan TB Paru pada Warga Kelurahan Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta Rini Budi Astuti; Rasmaya Niruri; Saptono Hadi
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 1 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i1.30086

Abstract

Kota Surakarta merupakan kota dengan kasus Tuberkulosis (TB) terbanyak keempat di Jawa Tengah. Pengetahuan masyarakat terkait TB merupakan salah satu cara mencegah penyebaran kasus TB. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan serta faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan masyarakat Kelurahan Ketelan terkait TB Paru. Penelitian ini penting untuk merancang intervensi edukasi yang tepat sasaran sesuai karakteristik demografi masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan metode total sampling. Data diolah menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan 62% responden berusia > 45 tahun, 76% responden berjenis kelamin perempuan, 62% responden menempuh pendidikan formal > 9 tahun, 58% responden memiliki status tidak bekerja, 62% responden memiliki penghasilan diatas UMK Surakarta, 52% responden pernah mendapat informasi terkait TB Paru dan 86% responden belum pernah mengalami kontak erat dengan penderita TB Paru. Pengetahuan responden paling rendah adalah pengetahuan terkait pencegahan TB Paru dan gejala TB Paru. Hasil ini dapat menjadi dasar pentingnya pemberian informasi lebih intensif terkait pencegahan dan gejala TB Paru pada warga. Sebanyak 46% responden memiliki tingkat pengetahuan terkait TB Paru cukup. Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan responden terkait TB Paru antara lain usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, paparan informasi serta pengalaman kontak erat dengan pasien TB Paru.
Rasionalitas dan Potensi Drug-Related Problems pada Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap dengan Ulkus Diabetes Mellitus Tipe II Vinci Mizranita; Inayatush Sholihah; Novita Dhewi Ikakusumawati; Tiara Dewi Salindri Pratama; Rini Budi Astuti; Devi Yanthre Sari Manurung; Akbar Eka Nugraha
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 1 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i1.28510

Abstract

Ulkus diabetes melitus (DM) tipe II merupakan komplikasi kronis yang sering menimbulkan infeksi serius, memerlukan terapi antibiotik, dan berisiko tinggi terhadap kejadian drug-related problems. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas dan penggunaan antibiotik, serta identifikasi drug-related problems pada pasien ulkus diabetes mellitus tipe II. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada 44 pasien ulkus diabetes mellitus tipe II di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan klasifikasi PCNE V9.1 untuk mengidentifikasi drug-related problems. Sebagian besar pasien berusia 60–74 tahun (52%), memiliki komplikasi terbesar makrovaskuler (91%), khususnya hipertensi (43,75%) dan amputasi (34,38%). Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (27%) dan metronidazol (20%), dengan rute pemberian secara parenteral (66,94%) sebagai rute pemberian utama. Sebanyak 113 kasus kejadian drug-related problems yang teridentifikasi, didominasi oleh kombinasi penggunaan obat yang tidak sesuai (51,3%), dosis tidak tepat, dan terapi tidak sesuai dengan formularium atau guideline. Penggunaan antibiotik pada pasien ulkus diabetes mellitus sebagian besar sesuai rekomendasi, namun tetap memiliki risiko tinggi. Diperlukan pemantauan terapi, medication review, dan intervensi terapi berbasis guideline untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.