Tiara Dewi Salindri Pratama
Department Of Pharmacy, Faculty Of Mathematics And Natural Sciences, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Formulation of Nifedipine–Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) Solid Dispersion System and Intrinsic Dissolution Rate Evaluation Riza Maulana; Henry Harto; Tiara Dewi Salindri Pratama
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v19i2.20545

Abstract

Nifedipine is a drug that acts as an antihypertensive and anti-angina. Nifedipine is known as a drug with poor water solubility. This characteristic will affect the intrinsic dissolution rate so that it can affect the absorption process and reduce the amount of drug that reaches systemic circulation. One of the strategies to increase the intrinsic dissolution rate is developing nifedipine to solid dispersions form. This study aims to observe the intrinsic dissolution rate of nifedipine after it has been made into a solid dispersion. Four samples were prepared, including three solid dispersions of nifedipine-PVP K-30 and one sample of pure nifedipine. The results of the intrinsic dissolution tests are then interpreted through the intrinsic dissolution rate constant (G). The solid dispersions with concentration of nifedipine-PVP K-30 90%:10%; 75%:25%; 60%:40% (w/w), and pure nifedipine produced G values of 3.63; 9.33; 12.63; and 2.08 µg/mm2. min1, consecutively. It shows that the formulation of nifedipine-PVP K-30 solid dispersions has higher G values than pure nifedipine. In addition, increasing PVP K-30 concentration up to 40 % (w/w) can increase the intrinsic dissolution rate of the nifedipine-PVP K-30 solid dispersion system.
Rasionalitas dan Potensi Drug-Related Problems pada Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap dengan Ulkus Diabetes Mellitus Tipe II Vinci Mizranita; Inayatush Sholihah; Novita Dhewi Ikakusumawati; Tiara Dewi Salindri Pratama; Rini Budi Astuti; Devi Yanthre Sari Manurung; Akbar Eka Nugraha
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 1 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i1.28510

Abstract

Ulkus diabetes melitus (DM) tipe II merupakan komplikasi kronis yang sering menimbulkan infeksi serius, memerlukan terapi antibiotik, dan berisiko tinggi terhadap kejadian drug-related problems. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas dan penggunaan antibiotik, serta identifikasi drug-related problems pada pasien ulkus diabetes mellitus tipe II. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada 44 pasien ulkus diabetes mellitus tipe II di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan klasifikasi PCNE V9.1 untuk mengidentifikasi drug-related problems. Sebagian besar pasien berusia 60–74 tahun (52%), memiliki komplikasi terbesar makrovaskuler (91%), khususnya hipertensi (43,75%) dan amputasi (34,38%). Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (27%) dan metronidazol (20%), dengan rute pemberian secara parenteral (66,94%) sebagai rute pemberian utama. Sebanyak 113 kasus kejadian drug-related problems yang teridentifikasi, didominasi oleh kombinasi penggunaan obat yang tidak sesuai (51,3%), dosis tidak tepat, dan terapi tidak sesuai dengan formularium atau guideline. Penggunaan antibiotik pada pasien ulkus diabetes mellitus sebagian besar sesuai rekomendasi, namun tetap memiliki risiko tinggi. Diperlukan pemantauan terapi, medication review, dan intervensi terapi berbasis guideline untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. 
ANALISIS PENGOBATAN PASIEN BIPOLAR PADA FASE DEPRESIF DENGAN ANTIDEPRESAN Tiara Dewi Salindri Pratama; Novita Dhewi Ikakusumawati; Dheananda Arikah Deddy
Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi Vol 11 No 1 (2026): Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/hf6sye72

Abstract

Gangguan bipolar merupakan gangguan mood yang menyebabkan perubahan suasana hati seseorang secara ekstrem dan tiba-tiba, mulai dari posisi terendah yaitu depresi serta posisi tertinggi yaitu manik. Salah satu terapi farmakologi untuk mengobati pasien bipolar yaitu dengan antidepresan. Pemberian antidepresan pada pasien bipolar membutuhkan rentang waktu yang panjang, sehingga dapat menyebabkan terjadinya permasalahan terkait obat atau drug related problems (DRPs). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa adanya kejadian drug related problems (DRPs) pada pasien bipolar rawat inap di RSJD dr. Arif Zainuddin Surakarta dalam periode Januari 2020 – Desember 2024. Desain dari penelitian ini yaitu cross sectional retrospektif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 97 kasus. Data yang diambil yaitu data yang berdasarkan pada rekam medis pasien. Penyajian data akan dilakukan secara deskriptif dan ditampilkan dalam presentase. Pola penggunaan antidepresan yang mendominasi yaitu maprotilin dengan dosis 50 mg/hari dan penggunaan antidepresan dikombinasikan dengan obat lainnya. Kasus drug related problems (DRPs) yang terjadi yaitu pemilihan obat sebanyak 174 kasus (67,97%), pemilihan dosis sebanyak 41 kasus (16,02%) dan durasi pengobatan sebanyak 41 kasus (16,02%).
Rasionalitas dan Potensi Drug-Related Problems pada Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap dengan Ulkus Diabetes Mellitus Tipe II Vinci Mizranita; Inayatush Sholihah; Novita Dhewi Ikakusumawati; Tiara Dewi Salindri Pratama; Rini Budi Astuti; Devi Yanthre Sari Manurung; Akbar Eka Nugraha
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 1 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i1.28510

Abstract

Ulkus diabetes melitus (DM) tipe II merupakan komplikasi kronis yang sering menimbulkan infeksi serius, memerlukan terapi antibiotik, dan berisiko tinggi terhadap kejadian drug-related problems. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas dan penggunaan antibiotik, serta identifikasi drug-related problems pada pasien ulkus diabetes mellitus tipe II. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada 44 pasien ulkus diabetes mellitus tipe II di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan klasifikasi PCNE V9.1 untuk mengidentifikasi drug-related problems. Sebagian besar pasien berusia 60–74 tahun (52%), memiliki komplikasi terbesar makrovaskuler (91%), khususnya hipertensi (43,75%) dan amputasi (34,38%). Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (27%) dan metronidazol (20%), dengan rute pemberian secara parenteral (66,94%) sebagai rute pemberian utama. Sebanyak 113 kasus kejadian drug-related problems yang teridentifikasi, didominasi oleh kombinasi penggunaan obat yang tidak sesuai (51,3%), dosis tidak tepat, dan terapi tidak sesuai dengan formularium atau guideline. Penggunaan antibiotik pada pasien ulkus diabetes mellitus sebagian besar sesuai rekomendasi, namun tetap memiliki risiko tinggi. Diperlukan pemantauan terapi, medication review, dan intervensi terapi berbasis guideline untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. 
Tamanu Oil (Calophyllum inophyllum L.) Promotes Wound-Healing Activity in Alloxan-Induced Diabetic Rats, and Its Fatty Acids Profile Rita Rakhmawati; Saptono Hadi; Ahmad Ainurofiq; Estu Retnaningtyas Nugraheni; Syaiful Choiri; Tiara Dewi Salindri Pratama
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i2.80107

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease and is a severe threat because it causes diabetic wounds. Treating injuries in patients with DM is dominated by synthetic chemicals such as anti-inflammatory, corticosteroids, and antibacterial. It has side effects, so further exploration of natural ingredients is needed. One plant that has the potential to heal wounds is tamanu oil or nyamplung oil. This study aimed to investigate the effect of tamanu oil on the healing of diabetic wounds and the fatty acid composition profile. Male rats of the Wistar strain (Ratus novergius) were given incision wounds along a 2 cm depth of 2 mm, randomly divided into three groups, by applying topically twice a day. We are profiling fatty acids using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). As far as we know, this is the first study showing that tamanu oil can speed up the healing of diabetic wounds in rats. The Tamanu oil containing oleic acid (42.65%), linoleic acid (25.69%), stearic acid (16.50%), and palmitic acid (12,93) had better effectiveness than other groups, demonstrated by wound closure exceeding 50% on day six and wound closure by 100% on day nine.
Uji Aktivitas Afrodisiaka Ekstrak Sambiloto (Andrographis Paniculata) pada Tikus Jantan Galur Wistar Tiara Dewi Salindri Pratama; Dinar Sari Cahyaningrum Wahyuni; Ahmad Ainurofiq; Saptono Hadi; Syaiful Choiri; Rita Rakhmawati; Estu Retnaningtyas Nugraheni
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v11i1.94957

Abstract

Salah satu obat tradisional yang sudah digunakan sejak zaman dahulu secara turun menurun di Indonesia adalah sambiloto.  Permasalahan disfungsi seksual, terutama pada pria, dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan kesehatan mental. Pemilihan sambiloto sebagai bahan baku karena tanaman sambiloto memiliki aktifitas sebagai afrodisiak melalui pengaturan kadar hormon atau efek langsung pada jaringan seksual. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji aktivitas seksual hewan uji tikus jantan galur Wistar pada efek pemberian ekstrak etanol sambiloto. Selama tujuh hari, hewan uji akan diberikan ekstrak setiap hari, dan perilaku seksualnya akan diamati 30 menit setelah pemberian terakhir. Kelompok perlakuan pada penelitian ini dibagi menjadi 5 yaitu perlakuan kontrol negatif yang diberikan aquades, perlakuan kontrol positif yang menerima ekstrak pasak bumi dengan dosis sebanyak 7,5 mg/kgBB, serta kelompok perlakuan dengan ekstrak sambiloto, kelompok perlakuan dosis pertama (26,5 mg/kgBB), dosis kedua (50,5 mg/kgBB), dan dosis ketiga (100,5 mg/kgBB). Setiap kelompok terdiri dari tujuh tikus jantan. Dilakukan pengamatan setelah 30 menit pemberian ekstrak dengan memasukkan tikus jantan ke dalam chamber tikus betina dan diamati selama 30 menit. Parameter yang diamati meliputi Frekuensi pemasangan (Mounting Frequency), frekuensi intromisi (Intromission Frequency), latensi pemasangan (Mounting Latency), dan latensi intromisi (Intromission Latency). Hasil dari penelitian menunjukkan jika pemberian ekstrak etanol sambiloto pada dosis 26,5 mg/kgBB, 50,5 mg/kgBB, dan 100,5 mg/kgBB memengaruhi aktivitas seksual hewan uji yang dilihat dari parameter frekuensi pemasangan (Mounting Frequency), frekuensi intromisi (Intromission Frequency), latensi pemasangan (Mounting Latency), dan latensi intromisi (Intromission Latency).