Cecep Dudung Julianto
Institut Pendidikan Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES ATAS LAGU “DI AKHIR PERANG” NADIN AMIZAH Dela Ayu Puspita; Aditya Ansor Alsunah; Lina Siti Nurwahidah; Cecep Dudung Julianto
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.296

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji makna yang terkandung dalam lirik lagu Di Akhir Perang karya Nadin Amizah dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Analisis semiotika Roland Barthes dalam penelitian ini menitikberatkan pada tiga tataran pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam lirik lagu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi. Data penelitian diperoleh dari lirik lagu serta sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotatif dalam lagu ini menggambarkan kondisi pascakonflik, makna konotatif merepresentasikan konflik batin dan luka emosional dalam hubungan interpersonal, sedangkan makna mitos membangun pemahaman budaya bahwa cinta dipersepsikansebagai perjuangan emosional yang sarat dengan pengorbanan dan penderitaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian semiotika terhadap karya musik populer Indonesia. KATA KUNCI: lirik lagu; semiotika Roland Barthes; denotasi; konotasi; mitos >  ROLAND BARTHES’ SEMIOTIC ANALYSIS OF NADIN AMIZAH’S SONG “Di Akhir Perang”   ABSTRACT: This study examines the meaning contained in the lyrics of the song "Di Akhir Perang" by Nadin Amizah using Roland Barthes' semiotic theory. Roland Barthes' semiotic analysis in this study focuses on three levels of meaning: denotation, connotation, and myth, contained in the song's lyrics. The research method used is qualitative interpretative with data collection techniques in the form of documentation studies. The research data were obtained from the song's lyrics and relevant literature sources. The results show that the denotative meaning in this song depicts post-conflict conditions, the connotative meaning represents inner conflict and emotional wounds in interpersonal relationships, while the mythical meaning builds a cultural understanding that love is perceived as an emotional struggle filled with sacrifice and suffering. This research is expected to contribute to the semiotic study of Indonesian popular music. KEYWORDS: song lyrics; Roland Barthes` semiotics; denotation; connotation; myth
PENCARIAN MAKNA HIDUP TOKOH UTAMA NOVEL SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI : KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Fiam Musahlah; Aditya Ansor Alsunah; Lina Siti Nurwahidah; Cecep Dudung Julianto
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v7i2.22998

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pencarian makna hidup tokoh utama dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Fokus penelitian diarahkan pada dinamika psikologis tokoh utama yang mengalami krisis eksistensial, kehampaan makna hidup, serta perubahan batin sepanjang alur cerita. Krisis tersebut muncul akibat tekanan hidup, kegagalan personal, serta perasaan kehilangan yang berkelanjutan sehingga mendorong tokoh pada kondisi putus asa dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis teks. Data penelitian berupa kutipan dialog, narasi, dan monolog batin tokoh utama yang merepresentasikan kondisi psikologisnya. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, klasifikasi, dan interpretasi data berdasarkan konsep psikologi sastra. Landasan teori yang digunakan adalah teori logoterapi Viktor E. Frankl, khususnya konsep kehampaan eksistensial serta tiga sumber makna hidup, yaitu nilai pengalaman, nilai sikap, dan nilai kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama mengalami krisis eksistensial yang ditandai oleh perasaan hampa, kehilangan harapan, dan kecenderungan bunuh diri. Namun, melalui pengalaman sederhana, relasi kemanusiaan, serta perubahan sikap dalam memaknai penderitaan, tokoh utama secara bertahap mampu menemukan kembali makna hidupnya secara lebih bermakna dan manusiawi dalam konteks kehidupan sosial sehari-hari..  
ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA SARKASME NETIZEN PADA AKUN TIK TOK NISA SABYAN Yosi Yolanda Maulani; Aditya Ansor Alsunah; Lina Siti Nurwahidah; Cecep Dudung Julianto
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v7i2.22993

Abstract

Media sosial menjadi ruang bebas bagi pengguna untuk menyampaikan opini dan mengekspresikan sikap terhadap berbagai fenomena publik. Salah satu bentuk ekspresi yang sering muncul adalah penggunaan bahasa sarkasme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa sarkasme netizen pada kolom komentar akun TikTok Nisa Sabyan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa komentar netizen pada unggahan akun tersebut selama bulan Oktober 2025. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis berdasarkan konteks serta makna tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa sarkasme digunakan sebagai bentuk sindiran, ejekan, dan kritik sosial yang menyoroti ketidaksesuaian antara citra religius dan perilaku individu menurut persepsi publik. Temuan ini memperlihatkan rendahnya kesadaran netizen terhadap kesantunan berbahasa di media sosial serta pentingnya etika komunikasi dalam ruang digital.  
CAMPUR KODE PADA KONTEN TIKTOK KREATOR GARUT: MANG EPUL SI TUKANG DAHAR SEBAGAI REPRESENTASI BAHASA ANAK MUDA GARUT Siti Nur Halimah; Aditya Ansor Alsunah; Lina Siti Nurwahidah; Cecep Dudung Julianto
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v7i2.23000

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya penggunaan campur kode dalam konten media sosial yang mencerminkan dinamika bahasa anak muda, khususnya di daerah Garut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk campur kode dalam konten TikTok Mang Epul Si Tukang Dahar serta menjelaskan bagaimana campur kode tersebut merepresentasikan bahasa anak muda Garut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa dua video vlog yang diunggah pada akun TikTok Mang Epul Si Tukang Dahar. Analisis data dilakukan berdasarkan teori campur kode Muysken yang mengklasifikasikan campur kode ke dalam tiga kategori, yaitu insertion, alternation, dan congruent lexicalization. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga jenis campur kode tersebut ditemukan dalam video yang dianalisis, dengan dominasi insertion dan congruent lexicalization melalui perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Campur kode dalam konten tersebut berfungsi sebagai sarana pembentukan identitas, keakraban, ekspresi diri, serta komunikasi populer di media sosial. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa oleh Mang Epul merepresentasikan bahasa anak muda Garut yang bersifat kreatif, fleksibel, dan tetap mempertahankan identitas budaya lokal, sehingga berimplikasi pada pemahaman perkembangan bahasa daerah di ranah digital.  
STRATEGI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KRITIK PENONTON TERHADAP FILM MERAH PUTIH: ONE FOR ALL DI PLATFORM TIKTOK Wasi Alya Rizki; Didin Sahidin; Cecep Dudung Julianto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.48998

Abstract

This study aims to describe the forms of positive and negative criticism and analyze the politeness strategies used by the audience in responding to the film "Merah Putih: One for All" on TikTok social media. The method used is descriptive qualitative with a pragmatic approach. The research data consisted of netizens' comments collected through observation and note-taking techniques, then analyzed using Brown and Levinson's politeness theory. The results showed a polarization of audience responses. Positive criticism tends to focus on ideological aspects, nationalism, and moral messages with a dominance of positive politeness strategies to build solidarity. Conversely, negative criticism dominates discussions on visual technical aspects, asset originality, and marketing, which are often conveyed using bald on record strategies and off-record strategies in the form of sarcasm and humor. This phenomenon indicates that the context of TikTok social media encourages the use of direct and entertaining language styles in conveying film criticism.