Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Pada Sapi Simmental Di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo Yanto Yanto; Ramlan Pomolango; Mohammad Ervandi; Wahyu Sulistyo; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9971

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB) serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi status kebuntingan pada sapi Simental induk di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap 27 ekor sapi Simental induk yang memenuhi kriteria sebagai akseptor IB. Variabel bebas yang diamati meliputi umur, paritas, Body Condition Score (BCS), kualitas pakan, dan kemampuan deteksi birahi, sedangkan variabel terikat adalah status kebuntingan. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan IB masih tergolong rendah, dengan nilai Service per Conception (S/C) sebesar 3,44, Conception Rate (CR) sebesar 16,36%, dan Non Return Rate (NRR) sebesar 59,26%. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas pakan berpengaruh nyata terhadap status kebuntingan dengan nilai signifikansi 0,036 (P<0,05) dan nilai odds ratio sebesar 6,806. Hal ini menunjukkan bahwa sapi induk yang memperoleh kualitas pakan lebih baik memiliki peluang bunting 6,806 kali lebih tinggi dibandingkan ternak dengan kualitas pakan yang kurang baik. Sementara itu, variabel umur, paritas, BCS dan kemampuan deteksi birahi tidak menunjukkan pengaruh nyata secara statistik terhadap status kebuntingan (P>0,05). Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,467 menunjukkan bahwa variabel penelitian mampu menjelaskan variasi status kebuntingan sebesar 46,7%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan inseminasi buatan pada sapi Simental induk di Kecamatan Mootilango masih belum optimal dan kualitas pakan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan kebuntingan.
Hubungan Body Condition Score Dengan Interval Beranak Pada Sapi Potong Pada Sistem Pemeliharaan Rakyat Di Desa Sukamakmur Kecamatan Tolangohula Miskam Miskam; Widiastuti Ardiansyah; Mohammad Ervandi; Susan Mokoolang; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9990

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Body Condition Score (BCS) dengan interval beranak pada sapi potong dalam sistem pemeliharaan rakyat di Desa Sukamakmur, Kecamatan Tolangohula. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap kondisi tubuh ternak untuk penilaian BCS serta wawancara dengan peternak untuk memperoleh data reproduksi, khususnya interval beranak. Sampel penelitian terdiri dari induk sapi potong yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal (p<0,05), sehingga analisis hubungan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ternak memiliki BCS pada skor 3 (kondisi ideal) dan interval beranak berada pada kisaran 12 - 14 bulan (kategori efisien). Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara BCS dan interval beranak dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,738 dan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai BCS diikuti dengan penurunan interval beranak, yang berarti kondisi tubuh ternak yang optimal berperan dalam meningkatkan efisiensi reproduksi. Dengan demikian BCS dapat digunakan sebagai indikator praktis dalam pengelolaan reproduksi sapi potong pada sistem pemeliharaan rakyat.
Evaluasi Keberhasilan Reproduksi Sapi Betina Hasil Inseminasi Buatan Menggunakan Metode Rektovaginal Di Desa Pangahu Kecamatan Asparaga Kabupaten Gorontalo Trimulyono Trimulyono; Wahyu Sulistyo; Terri Repi; Mohammad Ervandi; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1053

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan reproduksi sapi betina hasil inseminasi buatan menggunakan metode rektovaginal di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data melalui observasi, pencatatan reproduksi ternak, dan wawancara terstruktur dengan peternak. Variabel yang diamati meliputi Service per Conception (S/C), Conception Rate (CR), Non Return Rate (NRR) dan Calving Interval (CI). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk memperoleh nilai rata-rata, persentase, dan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai S/C sebesar 1,70 yang termasuk dalam kategori baik, nilai CR sebesar 60,23% yang berada pada batas bawah kategori baik dan nilai NRR sebesar 70,45% yang juga tergolong baik. Namun demikian nilai Calving Interval sebesar 416,51 hari (± 13,9 bulan) menunjukkan bahwa efisiensi reproduksi jangka menengah masih belum optimal. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan reproduksi sapi betina hasil inseminasi buatan di lokasi penelitian berada pada kategori cukup baik, terutama pada aspek keberhasilan konsepsi awal, namun masih memerlukan peningkatan dalam manajemen reproduksi pasca beranak untuk mencapai efisiensi reproduksi yang optimal.