Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Arahan Pengelolaan Optimasi Faktor Produksi Pada Agribisnis Buah Naga Di Desa Banuroja Dewa Oka Suparwata; Ramlan Pomolango
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 2 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i2.352

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Arahan Pengelolaan Optimasi Faktor Produksi Pada Agribisnis Buah Naga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, pada Bulan April sampai Juli 2019. Penelitian ini didesain dengan metode survei. Populasi petani buah naga di desa banuroja sebanyak 160 orang. Sampel ditentukan sebesar 30% dari populasi, sehingga diperoleh 48 responden. Penentuan sampel dilakukan secara acak sederhana. Untuk optimalisasi faktor produksi optimal maka digunakan analisis Linear Programming (LP), dengan bantuan software Lindo 6.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: optimasi faktor produksi dalam pengelolaan agribisnis buah naga berdasarkan analisis LP yang direkomendasikan ialah lahan 1,12 Ha, bibit 670 batang, pupuk kandang 2756,1 Kg, tenag kerja 16,1 HOK, pestisida 2,66 Liter, POC 2,66 Liter, pupuk urea 81,6 Kg, dan pupuk ponska 133,29 Kg. Hal ini menjadi dasar pertimbangan pada pengelolaan agribisnis buah naga di pekarangan pada masyarakat desa banuroja, sehingga petani dapat mempertimbangkan antara pengeluaran biaya usahatani dengan hasil produksi yang diterimanya.
Performance of Kampung Unggul Balitnak (KUB) Chickens with the Additions of Soya Flour in the Diet Susan Mokoolang; Agustriyanto Abudi; Ramlan Pomolango; Fahrullah Fahrullah
Jurnal Biologi Tropis Vol. 23 No. 2 (2023): April-June
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v23i2.4707

Abstract

Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) is the result of selecting native Indonesian kampong chicken strains for six generations that have advantages in terms of maintenance due to the level of feed consumption that is less. The aim of this research was to the effect of soybean flour on the performances of Balitnak Superior Kampong Chicken (KUB). This study used a completely Randomised Design consisting of 5 treatments and 4 replicates. The treatments consisted of T1: basal + 0% soya flour; T2: basal + 2,5% soya flour; T3: basal + 5% soy flour; T4: basal + 7.5% soya flour and T5: basal + 10% soya flour. The results showed that the use of soya flour in the ration of KUB chickens gave an increase in ration consumption, weight gain and could increase the efficiency of ration use. The best concentration of soya flour in the KUB chicken ration was 10%.
Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Pada Sapi Simmental Di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo Yanto Yanto; Ramlan Pomolango; Mohammad Ervandi; Wahyu Sulistyo; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9971

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB) serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi status kebuntingan pada sapi Simental induk di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap 27 ekor sapi Simental induk yang memenuhi kriteria sebagai akseptor IB. Variabel bebas yang diamati meliputi umur, paritas, Body Condition Score (BCS), kualitas pakan, dan kemampuan deteksi birahi, sedangkan variabel terikat adalah status kebuntingan. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan IB masih tergolong rendah, dengan nilai Service per Conception (S/C) sebesar 3,44, Conception Rate (CR) sebesar 16,36%, dan Non Return Rate (NRR) sebesar 59,26%. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas pakan berpengaruh nyata terhadap status kebuntingan dengan nilai signifikansi 0,036 (P<0,05) dan nilai odds ratio sebesar 6,806. Hal ini menunjukkan bahwa sapi induk yang memperoleh kualitas pakan lebih baik memiliki peluang bunting 6,806 kali lebih tinggi dibandingkan ternak dengan kualitas pakan yang kurang baik. Sementara itu, variabel umur, paritas, BCS dan kemampuan deteksi birahi tidak menunjukkan pengaruh nyata secara statistik terhadap status kebuntingan (P>0,05). Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,467 menunjukkan bahwa variabel penelitian mampu menjelaskan variasi status kebuntingan sebesar 46,7%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan inseminasi buatan pada sapi Simental induk di Kecamatan Mootilango masih belum optimal dan kualitas pakan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan kebuntingan.
Karakteristik Sosial Ekonomi Peternak Sapi Potong Dan Kaitannya Dengan Skala Usaha Di Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo Irhamni Abdullah; Ishak Korompot; Ramlan Pomolango; Meity Melani Mokoginta; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial dan ekonomi peternak sapi potong serta hubungannya dengan skala usaha di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 91 responden yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Variabel penelitian meliputi karakteristik sosial (umur, pendidikan, pengalaman beternak dan jumlah tanggungan keluarga), karakteristik ekonomi (sumber modal, biaya operasional dan pendapatan), serta skala usaha yang diukur berdasarkan jumlah kepemilikan ternak. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sosial peternak berada pada kategori sedang hingga tinggi dan relatif homogen, sedangkan karakteristik ekonomi berada pada kategori rendah hingga sedang. Skala usaha peternakan sapi potong didominasi oleh skala kecil hingga menengah. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa karakteristik sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan skala usaha (rs = 0,037; p > 0,05), sedangkan karakteristik ekonomi memiliki hubungan yang sangat kuat dan signifikan (rs = 0,837; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan determinan utama dalam pengembangan skala usaha peternakan sapi potong, karakteristik sosial tidak berpengaruh secara langsung. Peningkatan skala usaha perlu difokuskan pada penguatan akses terhadap sumber daya ekonomi, khususnya modal dan pendapatan usaha.
Studi Komparatif Karakteristik Dan Indeks Morfometrik Sebagai Prediktor Bobot Badan Pada Sapi Bali (Bos Javanicus), Simmental Dan Limousin (Bos Taurus) Di Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo Prayoga Setiawan; Wahyu Sulistyo; Ishak Korompot; Ramlan Pomolango; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1057

Abstract

Perbedaan karakteristik genetik antar bangsa sapi menyebabkan variasi ukuran tubuh dan performans. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi performans ternak adalah melalui pengukuran karakteristik morfometrik, yang dapat menggambarkan pertumbuhan, perkembangan kerangka tubuh serta kapasitas produksi ternak. Karakteristik morfometrik berhubungan erat dengan bobot badan ternak yang merupakan salah satu indikator utama produktivitas sapi potong karena berkaitan langsung dengan potensi produksi daging dan nilai ekonomi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan indeks morfometrik sebagai prediktor estimasi bobot badan pada sapi Bali (Bos javanicus), sapi Simmental dan sapi Limousin (Bos taurus) di Kecamatan Wonosari. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian terdiri atas 60 ekor sapi jantan umur 2–3 tahun untuk setiap bangsa sapi. Variabel yang diamati meliputi karakteristik morfometrik berupa tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada dan lebar pinggul. Indeks morfometrik yang dihitung meliputi Body Index (BI), Thoracic Index (TI) dan Pelvic Index (PI). Estimasi bobot badan dihitung menggunakan rumus Winter. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan nilai rerata, standar deviasi dan koefisien varians, dilanjutkan dengan analisis korelasi Pearson dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Simmental dan sapi Limousin memiliki karakteristik morfometrik dan estimasi bobot badan lebih tinggi dibandingkan sapi Bali. Nilai Body Index tertinggi terdapat pada sapi Bali, sedangkan Thoracic Index dan Pelvic Index tertinggi terdapat pada sapi Limousin. Karakteristik morfometrik menunjukkan hubungan kuat hingga sangat kuat terhadap bobot badan, dimana sebagian besar variabel memiliki hubungan signifikan (Sig.<0,05). Pada sapi Limousin, variabel lebar dada dan lebar pinggul menunjukkan hubungan yang relatif lebih rendah terhadap bobot badan dibandingkan variabel morfometrik lainnya. Hasil regresi menunjukkan bahwa model terbaik diperoleh pada sapi Simmental dengan nilai R² sebesar 0,666, diikuti sapi Limousin sebesar 0,580 dan sapi Bali sebesar 0,283. Variabel dominan yang berpengaruh terhadap bobot badan adalah Body Index pada sapi Bali dan sapi Limousin, sedangkan pada sapi Simmental terdiri atas Body Index dan Pelvic Index. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karakteristik morfometrik memiliki kemampuan lebih baik dalam memprediksi bobot badan dibandingkan indeks morfometrik. Ukuran tubuh seperti lingkar dada dan panjang badan dapat digunakan sebagai indikator praktis dalam pendugaan bobot badan dan evaluasi performa fenotipik sapi potong pada sistem peternakan rakyat.