Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PROSEDUR PEMERIKSAAN OS FEMUR BILATERAL MENGGUNAKAN PROYEKSI AP PELVIS PADA KASUS FRACTURE COLLUM FEMUR Thasyar, Thasyar; Fisnandya Meita Astari; Ike Ade Nur Liscyaningsih
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tulang proksimal femur merupakan bagian penting dari sistem muskuloskeletal, terdiri dari Caput femur, neck, trochanter mayor, dan trochanter minor. Salah satu kelainan yang sering terjadi pada bagian ini adalah patah tulang atau fraktur, khususnya pada collum femur. Dalam pemeriksaan radiografi femur umumnya pemeriksaan menggunakan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan Lateral. Pemeriksaan radiogafi femur pada kasus fracture collum femur di RS PKU Muhammadiyah Karanganyar menggunakan proyeksi AP Pelvis. Tujuannya adalah untuk mengetahui prosedur pelaksanaan, alasan penggunaan proyeksi tersebut, serta peran radiografi dalam mendukung diagnosis klinis. Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Karanganyar pada Juni hingga Agustus 2025. Subjek penelitian meliputi lima informan, terdiri dari tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu dokter pengirim. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan untuk menggali secara rinci proses dan pertimbangan klinis dalam pemeriksaan ini. Hasil: Persiapan alat dan bahan pada pemeriksaan radiografi femur dengan klinis fracture collum femur yaitu teridiri dari pesawat x-ray konvensional, kaset 35 x 43 cm, reader, printer, alat fiksasi. Tidak memiliki persiapan khusus, pasien melepaskan benda-benda yang dapat menyebabkan artefak. teknik pemeriksaannya menggunakan proyeksi AP Pelvis posisi supine dengan sinar vertikal tegak lurus, CP berada pada 3 Jari di bawah simpisis pubis. Alasan sudah dapat menegakkan diagnosa dan meminimalisir radiasi terhadap pasien dan menggunakan lateral femur tidak memungkinkan. Peran untuk melihat hasil radiografinya memastikan adanya fraktur dan faktor resiko lain pada pasien, menggunakan proyeksi AP Pelvis. Kesimpulan: Pemeriksaan radiografi fraktur collum femur secara klinis dapat ditegakkan dengan persiapan minimal dan fokus pada proyeksi AP Pelvis, terutama jika proyeksi AP dan lateral femur tidak memungkinkan. Gambaran dapat untuk mengonfirmasi fraktur
Studi Kasus Pemeriksaan Lopography dengan Klinis Post Colostomy di Instalasi Radiologi RSUD Caruban Kabupaten Madiun Zhafirah Egina Salsabila; Ayu Mahanani; Fisnandya Meita Astari
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v4i3.6367

Abstract

A lopography or barium enema colostomy is a radiographic examination of the colon using a contrast medium inserted through a colostomy. This examination aims to evaluate the condition of the colon after the colostomy, including detecting the presence of obstructions or masses in the gastrointestinal tract. The contrast medium used is a type of non-ionic soluble water that is inserted through the stoma and anus orifice until it fills the entire colon, characterized by the exit of contrast through the stoma. The examination was carried out using several radiographic projections, including plain photographs of the AP abdomen, as well as post-contrast projections of the Antero Posterior (AP), Right Posterior Oblique (RPO), Left Posterior Oblique (LPO), and lateral. This study aims to find out the procedure for the Lopography examination at the Radiology Installation of Caruban Hospital and the medical reasons for the use of two channels of input of contrast media, namely through the stoma and anus. The method used is qualitative descriptive research with a case study approach. The study was carried out from November to May 2025, with one post-colostomy patient as a sample. Data collection was carried out through direct observation, interviews with medical personnel, and documentation of radiographic procedures. Data analysis includes data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study showed that the procedure of Robotic examination did not require any special preparation before the procedure. The non-ionic contrast medium used is mixed with aquades at a ratio of 1:3 (about 200 cc), and inserted through both the stoma and the anus to obtain a thorough visualization of the colon. The selection of two input paths aims to ensure that there are no blockages or masses that block the contrast flow. The projections used are adjusted to provide maximum information about the structure of the colon after colostomy
Studi Kasus Sistem Pengarsipan Hasil Dokumen Radiograf Dan Hasil Ekspertise Di Instalasi Radiologi Rs TK III Dr. Soetarto Dea G. Taha; Ike Ade Nur Liscyaningsih; Fisnandya Meita Astari
Catha : Jurnal Penelitian Kreatif dan Inovatif Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/catha.v2i4.150

Abstract

Pengelolaan rekam medis harus memenuhi prinsip ketersediaan, keakuratan, keamanan, dan kemudahan akses sebagaimana diatur dalam Permenkes RI No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Namun, sistem pengarsipan hasil radiografi di Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto masih dilakukan secara manual. Hasil cetak radiograf disimpan dalam kardus tanpa pengelompokan yang jelas dan dimusnahkan secara cepat karena keterbatasan ruang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengarsipan hasil dokumen dan alasan penyimpanan hasil dokumen hanya 3 bulan di instalasi radiologi RS TK III dr.Soetarto. Metode: Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto pada Oktober 2024 hingga Maret 2025. Informan terdiri dari kepala ruangan, staf tata usaha, dan radiografer. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sistem pengarsipan manual tidak terstruktur dan tidak efisien. Pemusnahan rutin arsip menyebabkan potensi kehilangan data medis penting. Digitalisasi dinilai dapat mengatasi kendala tersebut. Kesimpulan: Sistem pengarsipan di instalasi radiologi RS TK III dr.Soetarto masih kurang optimal. Digitalisasi arsip hasil radiograf dapat menjadi Solusi untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan penyimpanan data medis.
Teknik Pemeriksaan Radiografi Os Femur pada Kasus Fraktur Femur di Instalasi Radiologi RSUP Dr. Sardjito Adel Amanda; Muhammad Za’im; Fisnandya Meita Astari
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.907

Abstract

Examination of the femur bone for femur fracture at the Radiology Installation of RSUP dr. Sardjito Yogyakarta was performed using a lateral projection with the central ray angled 30 degrees towards the cranial direction. However, according to several theories, it is stated that the use of lateral projection does not involve angling the central ray. The purpose of this study is to understand the examination procedure for femur bone fractures and the reasons for using the lateral projection at the Radiology Installation of RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. The research method used in this study is qualitative research with a descriptive method and a case study approach. The research was conducted at the Radiology Installation of RSUP dr. Sardjito Yogyakarta in February-March 2025 with research subjects consisting of 3 radiographers and 1 radiology specialist doctor. The data collection methods used were observation, interviews, documentation, and literature study. Data analysis was carried out by data collection, data reduction, data presentation, and then conclusions were drawn. The results of the study show how radiographic examination of the femur in fracture cases at RSUP dr. Sardjito uses Anteroposterior and Lateral Crosstable projections to obtain optimal visualization of the anatomy of the femur, especially in uncooperative patients. The Lateral Crosstable technique was chosen because it allows clearer visualization of the proximal part of the femur without having to move the injured extremity.
Studi Kasus Pemeriksaan Radiografi Kegawatdaruratan Abdomen Akut pada Kasus Ileus Obstruktif di RSI Sultan Agung Semarang Hajratul Hikmah; Fisnandya Meita Astari; Asih Puji Utami
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.908

Abstract

The abdomen is a part of the body with the upper limit of the diaphragm and the lower limit of the pubic symphysis, inside there are three organ systems. One of the pathologies of the acute abdomen is obstructive ileus, which occurs when the contents of the lumen of the digestive tract cannot be passed to the anus due to obstruction. In acute abdominal radiographic examination in cases of obstructive ileus using AnteroPosterior (AP), Left Lateral Decubitus (LLD), and upright AP projections, the exposure waiting time is 5 or 10 to 20 minutes. At the RSI Sultan Agung Semarang Installation, AP and LLD projections are used, and the exposure waiting time is 5 minutes. The aim is to determine the procedure for examining the acute abdomen in cases of obstructive ileus, the Ap and LLD projections used and the exposure waiting time is 5 minutes. The type of descriptive qualitative research with a case study approach. The subjects of the study were 3 radiographers, 1 radiology specialist, 1 referring doctor. The objects of the study were patients undergoing acute abdominal examination. Data collection methods were observation, interviews, and documentation. The data were analyzed by means of transcription, reduction, categorization tables, open coding, and conclusions were drawn. Results acute abdominal examination in cases of ileus has no special preparation, only removing metal objects that can interfere with the radiograph results, the projections used are AP and LLD. LLD projection can clarify the visualization of the Air Fluid Level level, the use of the LLD position can help establish a more accurate diagnosis of obstructive ileus. The exposure waiting time is 5 minutes, with that time it has shown free air in the abdominal cavity.
OPTIMASI DOSIS ENTRANCE SURFACE DOSE (ESD) MELALUI VARIASI FAKTOR EKSPOSI DENGAN PHANTOM PADA RADIOGRAFI ABDOMEN KONDISI KEGAWATDARURATAN Jusi Yuliandani; Fisnandya Meita Astari
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 12 (2026): Mei 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Latar Belakang: Pemeriksaan radiografi abdomen pada kondisi kegawatdaruratan menuntut kecepatan penegakan diagnosis. Namun, tantangan klinis sering menyebabkan penggunaan faktor eksposi yang tidak optimal, yang berisiko meningkatkan paparan radiasi bagi pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan nilai faktor eksposi dalam menghasilkan ESD paling optimal pada pemeriksaan radiografi Abdomen kondisi kegawatdaruratan. ESD (Entrance Suface Dose) merupakan indikator langsung dosis radiasi yang diterima kulit pasien. ESD perlu diteliti karena berhubungan dengan keselamatan pasien. Digunakan untuk evaluasi proteksi radiasi pasien. Menjadi dasar perbandingan dengan standar seperti DRL/IDRL, dan mambantu menerapkan prinsip ALARA tetap diterakan. Metode: Penelitian eksperimentan dengan pengambilan data secara kuantitatif. Di Laboratorium Radiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta bulan Februari 2026. Nilai ESD di dapatkan dengan mengkalikan BSF x TO (Tube Output) x FFD/FSD2 x mAs. Pengambilan data menggunakan Pesawat Sinar X, Phantom Abdomen, Dosimeter (Raysafe), Alat tulis/kertas penanda, Handphone (dokumentasi), Penggaris, Meteran, di lakukan dengan 5 kali pengulangan pada setiap variasi faktor eksposi (kV dan mAs) dengan FFD 102 cm. Hasil: Peningkatan tegangan (kV) yang dikompensasi dengan penurunan arus (mAs) efektif menurunkan nilai ESD. Penggunaan faktor eksposi 70 kV dan 40 mAs menghasilkan ESD 5,2 mGy, 75 kV dan 35 mAs menghasilkan 4,8 mGy, 80 kV dan 25 mAs menghasilkan 4,3 mGy, 85 kV dan 20 mAs menghasilkan 3,9 mGy, dan 90 kV dan 16 mAs menghasilkan 3,5 mGy. Nilai paling optimal dengan nilai ESD terendah sebesar 3,5 mGy (90 kV dan 16 mAs), dibandingkan teknik konvensional (70 kV dan 40 mAs) yang menghasilkan ESD sebesar 5,2 mGy. Seluruh hasil pengukuran berada di bawah standar acuan Diagnostic Reference Level (DRL). Nilai IDRL (Indonesia Diagnostic Referance Level) yang umum digunakan adalah + 5 mGy. Kesimpulan: Nilai faktor eksposi yang dapat menghasilkan nilai ESD paling optimal pada pemeriksaan radiografi abdomen kondisi kegawatdaruratan menggunakan phantom adalah penggunaan variasi 90 kV dan 16 mAs dengan hasil ESD 3,5 mGy.
OPTIMASI DOSIS ENTRANCE SURFACE DOSE (ESD) MELALUI VARIASI FOCUS TO FILM DISTANCE (FFD) DENGAN PHANTOM PADA RADIOGRAFI THORAX KONDISI KEGAWATDARURATAN MENGGUNAKAN PESAWAT SINAR-X MOBILE Deby Nopriyani; Fisnandya Meita Astari
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 12 (2026): Mei 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Latar Belakang: Pemeriksaan radiografi thorax menggunakan pesawat sinar-X mobile dalam situasi darurat merupakan modalitas diagnostik penting untuk mendeteksi kelainan seperti pneumothorax, hemothorax, dan fracture tulang rusuk. Namun, situasi darurat membutuhkan Focus to Film Distance (FFD) yang lebih pendek daripada standar karena keterbatasan ruang dan posisi pasien, yang dapat meningkatkan Entrance Surface Dose (ESD). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai FFD yang dapat menghasilkan nilai ESD paling optimal pada pemeriksaan pada kondisi kegawatdaruratan thorax. Metode: Metode penelitian eksperimental, pengambilan data diambil secara kuantitatif dengan menggunakan phantom. Menggunakan variasi FFD yaitu 100 cm, 120 cm, 150 cm, dan 180 cm serta faktor eksposi 65 kV dan 16 mAs. Dosimeter ditempatkan di titik tengah 3 inch di bawah jugular notch, dan setiap variasi FFD diulang lima kali. Nilai ESD dihitung dengan mengalikan output radiasi, mAs, FFD, ketebalan objek, dan (BSF), kemudian dibandingkan dengan standar International Diagnostic Reference Level (IDRL) ​​2021 menggunakan Microsoft Excel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ESD menurun seiring peningkatan FFD. Nilai ESD pada FFD 100 cm sebesar 1,21 mGy, FFD 120 cm sebesar 0,97 mGy, FFD 150 cm sebesar 0,49 mGy, dan FFD 180 cm sebesar 0,31 mGy. Hanya pada FFD 180 cm nilai ESD berada di bawah batas IDRL 2021 (≤0,4 mGy), nilai FFD paling optimal yang digunakan pemeriksaan thorax pada kasus kegawatdaruratan menurut (Tjuanda, 2021) adalah 120 cm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, nilai FFD yang dapat menghasilkan nilai ESD paling optimal pemeriksaan radiografi thorax pada kondisi kegawatdaruratan menggunakan phantom adalah 120 cm, nilai ESD 0,97.
OPTIMIZATION OF ENTRANCE SURFACE DOSE (ESD) THROUGH VARIATION OF FOCUS TO FILM DISTANCE (FFD) WITH PHANTOM ON EMERGENCY THORAX RADIOGRAPHY USING MOBILE X-RAY PLANES Andhani Kurnia Prayoga; Fisnandya Meita Astari
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 12 (2026): Mei 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Latar Belakang: Pemeriksaan radiografi thorax kegawatdaruratan dilakukan menggunakan pesawat sinar-x mobile dengan posisi pasien supine, sehingga Focus To Film Distance (FFD) lebih pendek dan berpotensi Entrance Surface Dose (ESD) yang lebih tinggi. Mengoptimalkan FFD sangat penting untuk meminimalkan paparan radiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ESD yang optimal melalui variasi FFD menggunakan phantom dalam radiografi thorax kegawatdaruratan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental pengambilan data secara kuantitatif dengan menggunakan phantom. Melakukan variasi FFD 100 cm, 120 cm, 150 cm dan 180 cm. Nilai (ESD) didapatkan melalui dosimeter Raysafe dengan setiap variasi FFD diuji sebanyak 5 kali, kemudian hasil output mGy dibagi dengan mAs kemudian nilai ESD di hitung dengan rumus nilai BSFxTOx(FDD/FSD)2xmAs. Hasil: Perhitungan nilai Entrance Surface Dose (ESD) pada jarak FFD 180 cm yaitu 0,5 mGy, FFD 150 cm yaitu 0,9 mGy, FFD 120 cm yaitu 1,2 mGy dan FFD 100 cm yaitu 1,9 mGy. Nilai ESD yang paling besar 1,9 dengan FFD 100 cm dan nilai ESD yang paling rendah 0,5 mGy dengan FFD 180 cm. FFD yang digunakan pada pemeriksaan thorax kegawatdaruratan 120 cm dengan menghasilkan ESD 1,2 mGy. Hal ini disebabkan karena pada kondisi kegawatdaruratan umumnya digunakan proyeksi AP dengan pesawat sinar-X mobile, menyebabkan posisi pasien tidak ideal (supine) Kesimpulan: Nilai FFD yang dapat menghasilkan nilai ESD paling optimal pada pemeriksaan radiografi thorax kondisi kegawatdaruratan menggunakan phantom dengan pesawat sinar-X mobile adalah 120 cm dengan nilai ESD yang dihasilkan 1,2 mGy
Studi Kasus Tata Letak Ruang Radiologi terhadap Kinerja Pegawai di Instalasi Radologi RSI Siti Aisyah Madiun Tasya Tasya; Fisnandya Meita Astari; Retno Wati
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i4.2511

Abstract

Tata letak adalah elemen penting dalam perancangan fasilitas yang mendukung kelancaran proses pelayanan, termasuk di Instalasi Radiologi Siti Aisyah Madiun, yang menurut Permenkes Nomor 24 Tahun 2020 seharusnya memenuhi standar tertentu. Namun, tata letak ruang radiologi di tempat tersebut belum sesuai dengan ketentuan, seperti jaraknya yang jauh dari IGD, ICU, dan IBS, tidak adanya ruangan khusus untuk dokter dan radiografer, serta ukuran ruangan yang sempit yang mengganggu kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tata letak terhadap kinerja pegawai di instalasi tersebut, menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus dari Mei hingga Agustus 2024, dengan melibatkan satu dokter spesialis dan tiga radiografer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data dan transkrip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pegawai dipengaruhi oleh empat faktor: struktur organisasi, kurangnya sumber daya manusia, kondisi lingkungan kerja, dan komunikasi internal. Untuk meningkatkan kinerja, disarankan agar tata letak ruang radiologi diperbaiki dengan mendekatkannya ke layanan lain, memperluas ukuran ruangan, dan menyediakan ruang khusus untuk dokter serta radiografer.
STUDI KASUS PROSEDUR PEMERIKSAAN OESOPHAGUS MAAG DUODENUM (OMD) PADA PASIEN PEDIATRIK DENGAN KLINIS HYPERTROFI PYLORIC STENOSIS (HPS) DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KOTA SALATIGA Eka Putri Sukma Ayu; Fisnandya Meita Astari; Widya Mufida
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14420

Abstract

ABSTRACT Oesophagus Maag Duodenum (OMD) examination in pediatric patients with Hypertrophic Pyloric Stenosis (HPS) requires adjustment because infants have limitations in swallowing contrast media and maintaining position. This study aimed to determine the OMD examination procedure, use of water-soluble iodine contrast mixed with milk, and reasons for focusing examination on the stomach and duodenum. This study used a case study. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving four informants: three radiographers and one radiologist at Salatiga City Regional Hospital from October 2025 to April 2026. Data were analyzed through reduction, presentation, and conclusion drawing by comparing findings with theory. The study identified OMD procedure modifications adapted to the infant’s condition and clinical HPS considerations. The examination used conventional radiography without fluoroscopy, iodine contrast mixed with milk at a 1:1 ratio and administered using a baby bottle, with plain AP, post-contrast AP, right lateral, and LPO projections. Examination focused on the stomach and duodenum to evaluate the pylorus. These modifications produced adequate visualization and information. Modified OMD procedures can be an alternative for patients with HPS while considering condition, contrast media safety, and diagnostic needs. ABSTRAK Pemeriksaan Oesophagus Maag Duodenum (OMD) pada pasien pediatrik dengan klinis Hypertrophic Pyloric Stenosis (HPS) memerlukan penyesuaian karena keterbatasan bayi dalam menelan media kontras dan mempertahankan posisi. Penelitian bertujuan mengetahui prosedur pemeriksaan OMD, penggunaan media kontras iodium larut air dicampur susu, serta alasan pemeriksaan difokuskan pada lambung dan duodenum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap empat informan, terdiri atas tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi di RSUD Kota Salatiga pada Oktober 2025–April 2026. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan membandingkan temuan dengan teori. Penelitian menemukan modifikasi prosedur OMD yang disesuaikan dengan kondisi bayi dan pertimbangan klinis HPS. Pemeriksaan menggunakan radiografi konvensional tanpa fluoroskopi, media kontras iodium larut air dicampur susu dengan perbandingan 1:1 dan diberikan melalui botol susu bayi, serta proyeksi AP polos, AP post kontras, Right Lateral, dan LPO. Pemeriksaan difokuskan pada lambung dan duodenum untuk mengevaluasi pylorus. Modifikasi tersebut menghasilkan visualisasi anatomi dan informasi diagnostik memadai pada kasus ini. Modifikasi prosedur OMD dapat menjadi alternatif pemeriksaan pada pasien HPS dengan mempertimbangkan kondisi pasien, keamanan media kontras, dan kebutuhan diagnostik klinis.