Upa Silaen
Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Merefleksi Konsep Tuhan Menurut Ulangan 6:4 dan Implikasinya dalam Pemahaman Trinitas Candra Gunawan Marisi; Alex Djuang Papay; Upa Silaen; Jabes Pasaribu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.557

Abstract

The views of certain groups within Christianity include the arguments of Arius (Jehovah's Witnesses), who asserts that although Jesus possesses a special nature, He remains human and therefore should not be regarded as more than merely a "creation," like any other human. There is also a belief known as Jesus Only or Oneness, which resembles the heretical teachings of Sabellianism in a new form. Additionally, Islamic perspectives challenge the Christian belief in the Trinity by suggesting that Christians believe in three gods and interpreting the concept of the Trinity as a practice of tritheism. Deuteronomy 6:4 serves as the primary commandment that requires total commitment from the nation of Israel on a personal level, as well as for contemporary believers in Jesus Christ. The purpose of this research is to analyze Deuteronomy 6:4 to reflect on the meaning of the oneness of God. Through this research, it can also be affirmed that the LORD is the God worthy of worship by every believer, and that only God, and no other gods, deserve human worship. The research is conducted using a qualitative method with an inductive approach, specifically through exegesis and lexical and grammatical analysis of the studied verse, which is then reflected upon with other biblical verses, journals, or books to support the research findings. The results indicate that the doctrine of the Trinity affirms the unity of God in three persons, which is not a contradiction: God has one essence and three persons. The Bible affirms both the oneness of God and the divinity of the Father, the Son, and the Holy Spirit. The Trinity provides boundaries for human speculation about the nature of God. The oneness of God is expressed as His essence or existence, while His diversity is expressed in three persons. In the context of conveying God's laws, the oneness of God has several important implications: 1) When God speaks, there is no one else who can contradict Him. 2) When God promises, there is no one else who can retract it. 3) When God punishes disobedience, there is no one else who can protect against it. 4) The LORD is the only true God, not a god among other gods. Keywords: God is one; Trinity; the only true God; concept of LordAbstrak Pandangan beberapa kalangan umat ‘kristen’ mencakup argumen Arius (saksi Yehuwa) yang menyatakan bahwa meskipun Yesus memiliki sifat yang istimewa, Ia tetap merupakan manusia dan oleh karena itu tidak seharusnya dianggap lebih dari sekadar "ciptaan," seperti halnya manusia lainnya, ada juga pemahaman yang dikenal sebagai Jesus Only atau Oneness, yang menyerupai ajaran sesat Sabelianisme dalam bentuk yang baru. Selain itu, pandangan dari Islam menyerang keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal dengan anggapan bahwa Kristen meyakini adanya tiga Allah, serta menafsirkan bahwa konsep Tritunggal adalah praktik triteisme. Ulangan 6:4 merupakan hukum utama yang mengharuskan komitmen total dari bangsa Israel secara personal demikian juga bagi orang percaya Yesus Kristus masa kini. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisa Ulangan 6:4 untuk merefleksikan makna Tuhan itu esa, melalui penelitian ini juga dapat menegaskan bahwa TUHAN adalah Allah yang layak disembah oleh setiap orang percaya, hanya Tuhan dan allah yang lain tidak layak mendapatkan penyembahan dari manusia. Penelitian dilakukan dengan Metode Kualitatif dengan pendekatan induktif yakni, eksegesa dan analisa ayat secara leksikal dan gramatikal dari ayat yang diteliti, selanjutnya direfleksikan dengan ayat Alkitab yang lain, jurnal atau buku yang lain untuk mendukung hasil penelitian.  Hasil yang ditemukan, doktrin Trinitas meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi, bukan merupakan kontradiksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian Bapa, Anak dan Roh Kudus. Trinitas memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esesnsiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamanNya diekspresikan dalam tiga pribadi. Dalam konteks penyampaian hukum-hukum Allah, keesaan Allah mempunyai beberapa implikasi yang penting: 1, Kalau Allah berfirman, tidak ada yang lain yang dapat menolaknya. 2, Kalau Allah berjanji, tidak ada yang lain yang dapat menariknya. 3, Kalau Allah menghukum ketidaktaatan, tidak ada yang lain yang dapat melindungi. 4, TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar, bukan Tuhan diantaran tuan yang lain.Kata kunci: Esa; Trinitas; satu-satunya Tuhan; konsep Tuhan
Kerendahan Hati sebagai Fondasi Efektivitas Pelayanan: Studi Eksegetis Kisah Para Rasul 18:24-28 Johan Natanael Sitinjak; Upa Silaen; Sang Putra Immanuel Duha
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 1 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i1.84-98

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kerendahan hati sebagai fondasi efektivitas pelayanan Kristen melalui studi eksegetis Kisah Para Rasul 18:24-28. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas pelayanan gereja yang sering menekankan kompetensi, karisma, dan performa, namun kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter rohani pelayan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegetis-teologis terhadap teks Alkitab, didukung oleh kajian literatur teologi biblika dan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Apolos merupakan figur pelayan yang memiliki kompetensi dan semangat tinggi, tetapi mengalami keterbatasan teologis yang kemudian diperbarui melalui sikap kerendahan hati dan kesiapan untuk diajar. Kerendahan hati memungkinkan Apolos menerima pembinaan, mengalami pertumbuhan pemahaman iman, dan pada akhirnya melayani secara lebih efektif dan berdampak bagi jemaat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas pelayanan Kristen tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual atau retorika, melainkan terutama oleh karakter rohani yang terbuka terhadap pembelajaran dan karya kasih karunia Allah. Temuan ini menegaskan bahwa kerendahan hati merupakan prinsip teologis mendasar dalam formasi dan praksis pelayanan Kristen yang berkelanjutan.
Penguatan Literasi Trinitarian Berbasis Kajian Eksegetis Ulangan 6:4 Kepada Jemaat GBI My Home Tanjung Uban Candra Gunawan Marisi; Elia Tambunan; Ardi Lahagu; Jabes Pasaribu; Upa Silaen; Aprilius Nahak; Rachmat Tony Sinjo Bantaeng; Wilma Sance Pattiasina; Didimus Sutanto B Prasetya
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2026): Penguatan Kapasitas dalam Teologi dan Praktik Pelayanan Gereja melalui Pendekatan
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article analyzes a Community Service Program carried out by the Master of Theology Study Program of STT Real Batam at GBI My Home Tanjung Uban Kota on 24 to 26 January 2026 as a model for the downstream transfer of Trinitarian research grounded in the exegetical study of Deuteronomy 6:4. The approach employed is community-based participatory research, utilizing theological seminars, Bible study, interactive discussion, and doctrinal mentoring. The analysis demonstrates that translating the results of lexical and grammatical exegesis of the concept of eḥāḏ into the catechetical space of the congregation produces a significant strengthening of Trinitarian literacy, particularly in distinguishing the complex oneness of God from both tritheistic and modalistic misconceptions. The findings affirm that the downstream transfer of theological research is not merely a dissemination of knowledge but a formative pedagogical process that strengthens the hermeneutical capacity of congregants in responding to contemporary theological challenges. The article contributes by formulating a model of research-based community engagement that integrates the framework of practical theology with the tradition of public theology within the context of local Indonesian congregations. Its practical implication calls upon theological higher education institutions to position community service as a strategic pathway for the transformation of theological knowledge, rather than treating it as a mere supplementary element of the Tri Dharma of Higher Education.