Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Development and psychometric validation of an emotional intelligence scale for elementary school students in Samarinda, Indonesia Hamka; Sandi Rahma Widiastuti; Berliany Ath Thahirah; Reza Fahira; Naila Heldawati; Farah Salsa Febriana; Arfan Gaffar Kamal; Farida Rahayu; Desti Purnamasari
Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 21 No. 1 (2026): Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/psikologia.v21i1.25195

Abstract

This study developed and evaluated an emotional intelligence scale for elementary school students using a quantitative design. We purposively sampled 206 students in grades 4–6 from Samarinda, Indonesia. To clarify, the process began with identifying emotional intelligence constructs, then formulating related indicators, and finally drafting initial scale items. Next, five experts reviewed the items to provide expert judgment. After incorporating feedback, we tested the instrument with the student participants. We assessed content validity with Aiken’s V, measured construct validity with Confirmatory Factor Analysis (CFA), and evaluated reliability using Cronbach’s Alpha. The model fit well (CFI = 0.936; TLI = 0.918; RMSEA = 0.069; SRMR = 0.068) and showed high reliability (α = 0.923). These results show the scale is valid, reliable, and suitable for educational use in assessing emotional intelligence in elementary students
Analisis Korelasional Antara Motivasi Belajar Dan Self-Regulated Learning Pada Siswa SMA Negeri di Kecamatan Samarinda Ulu Cucu Yulia Ningsih; Kumaidi Kumaidi; Rahayu Farida
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2293

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara motivasi belajar dan self-regulated learning (SRL) pada siswa SMA Negeri di Kecamatan Samarinda Ulu. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 250 siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui skala motivasi belajar dan skala self-regulated learning yang telah melalui proses validasi isi dan uji reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara motivasi belajar dan self-regulated learning (r = 0,908; p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa dengan motivasi belajar yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan regulasi diri dalam belajar yang lebih baik. Secara deskriptif, mayoritas siswa menunjukkan tingkat motivasi belajar dan self-regulated learning pada kategori tinggi. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa motivasi belajar merupakan faktor penting dalam pengembangan kemampuan belajar mandiri pada siswa sekolah menengah atas. Temuan ini memperkuat model teoretis yang mengaitkan konstruksi motivasional dengan self-regulated learning dalam konteks pendidikan menengah.
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Warga Negara Indonesia di Seoul Korea Selatan terhadap Penggunaan Obat Mandiri Hidayah Karuniawati; Erindyah R. Wikantyasning; Anita Sukmawati; Zakky Cholisoh; Setyo Nurwaini; Mika Tri Kumala Swandari; Rahayu Farida; Ahmad Rajali
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 20th University Research Colloquium 2025: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi penggunaan obat mandiri di masyarakat cukup tinggi. Penggunaan obat secara mandiri yang tidak rasional dapat menyebabkan tujuan terapi tidak tercapai, bahkan dapat membahayakan pasien. Pengabdian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku warga negara Indonesia di Seoul Korea Selatan terhadap penggunaan obat secara mandiri. Kegiatan dilakukan di masjid Ansan Seoul Korea Selatan. Kegiatan inti berupa penyuluhan kepada warga Indonesia yang berada di Seoul terkait dengan penggunaan obat mandiri yang rasional yang meliputi bagaimana cara mendapatkan obat, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat yang tidak dipakai. Meskipun 37 peserta hadir pada kegiatan ini, tetapi 14 peserta mengisi kuesioner. Mayoritas peserta (71,4%) adalah laki-laki, 64,3% umur 25-30 tahun, dan 50% pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA). Rata-rata pengetahuan responden terkait dengan pengobatan mandiri adalah 63,6% sedangkan sikap 72,9%. Pengetahuan, sikap, dan perilaku yang belum sesuai adalah cara mendapatkan obat (logo obat), cara minum obat, cara penyimpanan, dan cara membuang obat. Perlu edukasi farmasis untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam menggunakan obat mandiri secara rasional.
Psikoedukasi Kesehatan Mental Berbasis Komunitas pada Warga Negara Indonesia di Seoul Korea Selatan Rahayu Farida; Hidayah Karuniawati; Erindyah R. Wikantyasning; Anita Sukmawati; Zakky Cholisoh; Setyo Nurwaini; Mika Tri Kumala Swandari
Abdimas Galuh Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v7i2.18567

Abstract

Berdasarkan laman Kementerian Luar Negeri Indoneisa warga negara Indonesia yang tinggal di Korea Selatan baik sebagai pekerja, pelajar dan mahasiswa, pendamping keluarga, serta menikah dengan warga negara Korea Selatan tercatat sebanyak lebih dari 42.000 pada tahun 2019. Jumlah ini semakin bertambah dari tahun ke tahun berkenaan dengan meningkatkan hubungan diplomatik dan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi atau pengetahuan terkait materi kesehatan mental. Pengabdian masyarakat internasional ini diberikan dengan metode seminar dengan tema kesehatan mental. Materi ini penting untuk diberikan sebagai bekal menghadapi tekanan psikologis yang dialami oleh para warga negara indonesia di Korea Selatan sebagai akibat dari adanya kejutan budaya. Harapannya dengan seminar ini maka para WNI yang tinggal di Korea Selatan dapat melakukan penanganan mandiri pada kasus gangguan kesehatan mental oleh masalah sehari-hari. Setelah mengikuti seminar diharapkan peserta dapat lebih bijak dalam menggunakan obat, serta dapat mengelola stress dengan baik sehingga dapat menjaga kesehatan mental agar tetap produktif di tengah berbagai tekanan psikologis yang dihadapi sehari-hari sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di negara lain dan jauh dari keluarga. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh 37 peserta yang merupakan jamaah Masjid Sirotol Mustaqim Ansan, Seoul Korea Selatan.
Self-control dan Fear of Missing Out (FOMO) sebagai Prediktor Nomophobia pada Dewasa Awal Abdi Erianto; Rahayu Farida
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 6 No 1 (2026): JISHI - Juni 2026
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.595

Abstract

Penggunaan smartphone yang semakin tinggi pada dewasa awal dapat memunculkan kecemasan ketika individu tidak dapat terhubung dengan perangkat digital atau internet yang dikenal sebagai nomophobia. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi self-control dan fear of missing out (FOMO) terhadap nomophobia pada dewasa awal pengguna smartphone di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 153 individu dewasa awal pengguna smartphone di Indonesia yang diperoleh menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala self-control, fear of missing out (FOMO), dan nomophobia. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan aplikasi Jamovi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-control dan fear of missing out (FOMO) secara simultan berkontribusi signifikan terhadap nomophobia (F = 34,8; p < 0,001). Secara parsial, FOMO berkontribusi positif dan signifikan terhadap nomophobia, sedangkan self-control tidak signifikan. Nilai R² sebesar 31,7% menunjukkan bahwa kedua variabel menjelaskan 31,7% variasi nomophobia. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan nomophobia perlu difokuskan pada pengelolaan fear of missing out (FOMO) dan penggunaan media sosial yang lebih adaptif.