Saparuddin Latu
Hospital Administration Study Program, Postgraduate Program, Universitas Megarezky, Makassar, Indonesia

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Skrining Kejadian Stunting Melalui Pemeriksaan IMT Pada Peserta Didik Sekolah Dasar di Desa Balang Baru, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto Nurhikmah; Bellona Mardhatillah Sabillah; Muh. Khaedar; Selpi Alpita; Muh. Adnan. M; Saparuddin Latu
INTEGRATIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2026): INTEGRATIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Kilau Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60041/integratif.v4i1.466

Abstract

Stunting is a growth failure condition in children caused by long-term chronic malnutrition that may affect physical growth, cognitive development, activity, and immune function. Early detection of nutritional status among school-age children can be conducted through anthropometric measurements, including body weight and height, followed by Body Mass Index (BMI) calculation as an initial screening method. This community service activity aimed to describe the nutritional status and potential risk of stunting among elementary school students in Balang Baru Village, Tarowang District, Jeneponto Regency. The activity involved 215 students from three elementary schools, consisting of 16 students from SDN 9 Tarowang, 85 students from SDN 18 Tarowang, and 114 students from SDN 15 Tarowang. The methods included partner coordination, body weight and height measurement, BMI calculation, nutritional status classification, and descriptive analysis using frequency and percentage. The results showed that 155 students (72.09%) had normal nutritional status, 42 students (19.53%) were classified as underweight, and 18 students (8.37%) were classified as overweight. These findings indicate that most students had normal nutritional status; however, underweight students still require further monitoring as part of early stunting prevention through school- and community-based efforts.
PENGARUH MANAJEMEN RUMAH SAKIT TERHADAP EFISIENSI OPERASIONAL MELALUI OPTIMALISASI PATIENT FLOW : A SYSTEMATIC REVIEW Masriadi Masriadi; Saparuddin Latu; Nurhikmah Nurhikmah; Ali Hanafi
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60812

Abstract

Kemampuan operasional sebuah rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, efektif, dan berkesinambungan dapat diukur melalui tingkat efisiensi operasionalnya. Meningkatnya jumlah pasien, terbatasnya sumber daya, dan tingginya standar mutu pelayanan mendorong rumah sakit untuk memaksimalkan fungsi manajerial serta pengelolaan alur pasien. Sejumlah kajian mengungkapkan bahwa pengelolaan alur pasien yang optimal berkontribusi pada penurunan waktu tunggu, pemanfaatan tempat tidur yang lebih efektif, serta peningkatan produktivitas tenaga medis. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan menganalisis bukti-bukti ilmiah terkait sejauh mana manajemen rumah sakit mempengaruhi efisiensi operasional melalui pengelolaan alur pasien yang optimal. Studi ini dirancang menggunakan pendekatan systematic review dengan berpedoman pada panduan PRISMA 2020. Sumber literatur ditelusuri melalui basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan rentang waktu publikasi antara 2020 hingga 2025. Istilah pencarian yang digunakan mencakup hospital management, patient flow, operational efficiency, healthcare management, dan hospital performance. Artikel-artikel yang masuk kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari proses seleksi tersebut, sebanyak 18 artikel berhasil memenuhi syarat untuk dianalisis. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa sistem manajemen rumah sakit memberikan pengaruh yang bermakna terhadap efisiensi operasional, terutama melalui peningkatan koordinasi antar layanan, pengelolaan sumber daya yang lebih baik, serta pemutakhiran sistem informasi. Alur pasien terbukti berperan sebagai variabel penghubung antara kualitas manajemen rumah sakit dan tingkat efisiensi operasionalnya. Optimalisasi alur pasien mampu memangkas waktu tunggu antara 20 hingga 45 persen, memperpendek lama rawat inap (LOS), meningkatkan angka hunian tempat tidur (BOR), sekaligus mendorong produktivitas tenaga kesehatan. Manajemen rumah sakit yang berjalan dengan baik terbukti berkontribusi pada peningkatan efisiensi operasional, baik secara langsung maupun melalui optimalisasi alur pasien. Pemanfaatan teknologi digital dan sistem pengelolaan berbasis data menjadi kunci strategis dalam mendorong kinerja rumah sakit ke level yang lebih baik.
Pengaruh Faktor Operasional dan Administratif terhadap Beban Kerja Tenaga Kesehatan di Unit Rawat Inap RSUD Lapatarai Kabupaten Barru Muhammad Ikbal; Saparuddin Latu; Andi Muh. Yagkin
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 1 (2026): JUPIN Februari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.1998

Abstract

Beban kerja tenaga kesehatan di unit rawat inap RSUD Lapatarai Kabupaten Barru meningkat seiring rasio pasien terhadap perawat yang mencapai 12,5 : 1 di beberapa ruang, beban administratif tinggi akibat pencatatan ganda selama masa transisi sistem rekam medis elektronik, serta tingkat hunian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) yang mencapai 84% pada tahun 2023 melampaui standar nasional 60–80%. Kondisi ini berisiko menurunkan mutu pelayanan dan meningkatkan kelelahan kerja tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jumlah pasien, jam kerja dan sistem shift, kompleksitas kasus, beban administratif, serta kebijakan distribusi tenaga terhadap beban kerja tenaga kesehatan serta menentukan faktor yang paling dominan. Pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional digunakan pada 120 tenaga kesehatan yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis dengan korelasi Pearson dan regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa beban administratif (r = 0,498) dan jumlah pasien (r = 0,425) memiliki hubungan terkuat dengan beban kerja (seluruh p < 0,01). Secara parsial, hanya jumlah pasien (β = 0,217; p = 0,048) dan beban administratif (β = 0,376; p < 0,001) yang berpengaruh signifikan, dengan beban administratif sebagai faktor dominan (β standar = 0,356). Temuan ini menegaskan perlunya reformasi manajemen SDM dan percepatan digitalisasi RME untuk menekan beban administratif dan meningkatkan efisiensi pelayanan.
Analisis Implementasi Sistem Digital Rumah Sakit (RME dan SIMRS) dalam Meningkatkan Efisiensi Manajemen Pelayanan dan Kepuasan Pasien BPJS: Studi Kasus RS Amalia Bontang Reza Prakosa Sedyatama; Saparuddin Latu; Jalal Jalal
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 1 (2026): JUPIN Februari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2222

Abstract

Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) menjadi komponen strategis dalam peningkatan mutu dan efisiensi pelayanan, khususnya bagi pasien BPJS Kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh implementasi RME dan SIMRS terhadap efisiensi pelayanan dan kepuasan pasien BPJS di RS Amalia Bontang. Pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional digunakan pada Agustus 2025, melibatkan pasien BPJS yang telah menggunakan layanan digital rumah sakit minimal satu kali dalam enam bulan terakhir. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi RME dan SIMRS berpengaruh signifikan terhadap efisiensi pelayanan (p < 0,001) dengan odds ratio (OR) sebesar 10,19 (95% CI: 5,55–18,69) serta terhadap kepuasan pasien BPJS (p < 0,001) dengan OR sebesar 13,86 (95% CI: 7,37–26,06). Nilai OR yang tinggi mengindikasikan bahwa optimalisasi penerapan sistem digital rumah sakit secara substansial meningkatkan efisiensi operasional dan persepsi kualitas layanan pasien. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan manajemen digital rumah sakit sebagai strategi manajerial untuk meningkatkan mutu layanan dan kepuasan pasien BPJS, khususnya di konteks rumah sakit daerah yang sedang beradaptasi dengan transformasi layanan berbasis teknologi.
Pengenalan Permainan Tradisional Galah Hadang Di Sekolah Dasar UPT SPF SD INPRES Tamangapa, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar Nurhikmah; Saparuddin Latu; Dewi Nurliasari Yulis; Bellona Mardhatillah Sabillah; Muh. Khaedar; Nurcholis Panji Bayu Astra
INTEGRATIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 2 (2025): INTEGRATIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Kilau Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60041/integratif.v3i2.325

Abstract

The traditional game galah hadang is a culturally grounded form of play that integrates movement, strategy, teamwork, and sportsmanship; however, its practice among elementary school children has tended to decline alongside shifts in play patterns and reduced opportunities for meaningful physical activity. This study aimed to (1) introduce galah hadang to Grade 5 students at UPT SPF SD Inpres Tamangapa Elementary School in Makassar and (2) assess changes in students’ gameplay performance following the introductory session. A quantitative pre-experimental one-group pretest–posttest design was implemented in a single meeting involving 20 Grade 5 students. Gameplay performance was assessed using a teacher-rated galah hadang test on a 1–5 scale across four indicators: accuracy in guarding the line, agility in evasion, rule compliance, and team cooperation, supported by activity documentation. The findings indicate improved performance across all indicators after a structured introduction that combined rule socialization, role simulation, and supervised practice, with the most prominent gains observed in rule compliance and team cooperation. These results suggest that a systematically delivered traditional-game introduction can serve as a practical physical education learning alternative to strengthen both motor-related skills and social play behaviors, while providing a feasible evaluation basis for school-based community engagement programs.
Evaluasi Pelayanan Informasi Obat dan Konseling pada Pasien Penderita Penyakit Kusta di RSUP Dr. Tadjuddin Chalid Makassar Saparuddin Latu; wardani; Mansur; Asnany; Muh. Idris Patarai; Andi Muh. Yaqkin P
INHEALTH : INDONESIAN HEALTH JOURNAL Vol. 5 No. 1 (2026): INHEALTH JOURNAL
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/inhealth.v5i1.376

Abstract

Latar belakang: Pelayanan informasi obat dan konseling merupakan faktor penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien dan kepatuhan pengobatan, terutama bagi penderita kusta yang menjalani terapi jangka panjang. Tujuan: untuk mengevaluasi pelayanan informasi obat dan konseling yang diberikan kepada pasien kusta di RSUP Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasi terhadap proses pelayanan dan wawancara langsung dengan pasien kusta sebanyak 18 orang sebagai responden utama. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa pelayanan informasi obat kepada pasien  kusta telah dilakukan, namun pelaksanaannya belum konsisten dan belum merata.  Informasi yang diberikan sebagian besar masih bersifat umum sehingga banyak pasien yang belum memperoleh penjelasan mendalam terkait obat yang mereka konsumsi, seperti dosis, cara penggunaan, efek samping, dan interaksi obat. Pelayanan konseling kepada pasien kusta juga sudah dilaksanakan, namun sifatnya belum rutin dan tidak  berkelanjutan. Konseling umumnya hanya diberikan pada awal pengobatan dan belum menjadi bagian dari layanan yang terintegrasi. Kesimpulan:  perlunya peningkatan kualitas serta konsistensi dalam pemberian pelayanan informasi obat dan konseling.
Biometric-Based Frista Application And Outpatient Satisfaction At Darkuthni Primary Clinic Adriansyah Adriansyah; Saparuddin Latu; Fais Satrianegara; Rika Handayani; Rahmat Haji Saeni
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 12 No 2 (2026): August 2026
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v12i2.2328

Abstract

Outpatient care requires accurate, timely, convenient, and secure patient identification. However, problems related to patient identification, administrative efficiency, and data security may affect patients’ experiences and satisfaction. FRISTA is a biometric authentication system designed to support automated patient identification. Nevertheless, the association between FRISTA use and outpatient satisfaction in primary healthcare settings in Indonesia remains insufficiently evaluated. This study aimed to examine the association between the use of the FRISTA application and outpatient satisfaction at Darkuthni Primary Clinic, Tojo Una-Una Regency, Central Sulawesi, Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed, involving 150 outpatients selected using stratified random sampling from the Obstetrics and Gynecology, Internal Medicine, and Neurology Clinics. Data were analyzed using the Chi-square test and multivariate binary logistic regression, with results expressed as odds ratios (OR) and 95% confidence intervals (CI). The Chi-square test showed that ease of service access, service speed, patient identification accuracy, and personal data security were significantly associated with patient satisfaction (p < 0.05). Multivariate binary logistic regression showed that patient identification accuracy (OR = 2.226; 95% CI: 1.019–4.861; p = 0.045) and personal data security (OR = 1.748; 95% CI: 1.028–2.972; p = 0.039) remained significantly associated with patient satisfaction, whereas ease of service access and service speed were not independently associated with patient satisfaction. The multivariate binary logistic regression model yielded a Nagelkerke R² of 0.897. The use of the FRISTA biometric application was significantly associated with outpatient satisfaction. Therefore, improving patient identification accuracy and strengthening personal data security should be prioritized in implementing biometric-based digital health systems in primary healthcare settings to enhance patient satisfaction.