Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh pemberian hidrogel yang diperkaya Pseudomonas fluorescens terhadap perubahan sifat kimia tanah di lahan kering Mahmudin Mahmudin; Yus Dwi Yanti; Badriyah; Limartaida Siahaan; Dora Palupi; Helda Susianti; Fathir Rahman
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/agrivet.v14i1.18423

Abstract

Lahan kering umumnya memiliki pH masam, kandungan bahan organik rendah, serta ketersediaan unsur hara yang terbatas, sehingga produktivitasnya belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian hidrogel berbahan limbah daun nanas yang diperkaya Pseudomonas fluorescens terhadap perubahan sifat kimia tanah di lahan kering. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu tanpa hidrogel (kontrol), hidrogel + P. fluorescens, dan hidrogel tanpa bakteri, masing-masing diulang empat kali. Parameter yang diamati meliputi pH tanah, C-organik, N-total, P₂O₅ tersedia, kation basa (K, Ca, Mg, Na), kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa, serta Al³⁺ dan H⁺ yang dapat ditukar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hidrogel + P. fluorescens memberikan perbaikan paling signifikan dibandingkan perlakuan lainnya, ditandai dengan peningkatan pH dari 5,85 menjadi 6,15, C-organik dari 2,45% menjadi 4,06%, N-total dari 0,13% menjadi 0,33%, dan P₂O₅ dari 10,86 ppm menjadi 17,60 ppm. Selain itu, terjadi peningkatan KTK dan kejenuhan basa serta penurunan Al³⁺ dan H⁺ yang dapat ditukar. Temuan ini menunjukkan adanya sinergi antara fungsi hidrogel sebagai sumber bahan organik dan peran bakteri dalam meningkatkan ketersediaan hara serta menekan kemasaman tanah. Dengan demikian, kombinasi hidrogel limbah daun nanas dan P. fluorescens berpotensi menjadi strategi bioameliorasi yang ramah lingkungan untuk rehabilitasi lahan kering.
EDUKASI PERBANYAKAN VEGETATIF: MENYULUT GAIRAH SAINS DAN PERTANIAN DI KALANGAN SISWA SMA Riski Meliya Ningsih; Lesta; Priestiani; Peprizal; Badriyah; Fathir Rahman; Reno Ramadhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat : BAKTI KITA Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Oktober
Publisher : LPPM Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/baktikita.v7i2.13918

Abstract

Interest in science and agriculture among Indonesian high school students tends to decline due to theoretical biology instruction lacking contextual real-world applications, making it difficult for students to connect vegetative propagation concepts with practical uses. This community service program aims to foster students' interest, motivation, and skills through hands-on vegetative plant propagation education while establishing sustainable university-school partnerships for practice-based learning. Conducted as a one-day experiential learning workshop on November 14, 2025, at SMA YPK Air Kenanga, Bangka, the activity engaged 30 class XI students across five sequential stages: aseksual vegetative propagation concept introduction, planting media preparation (60 polybags with soil-compost mix), demonstration of cacao-avocado cuttings-budding-grafting techniques, guided hands-on practice, and post-propagation care instruction. Multi-indicator evaluation included Kahoot! pre/post-tests, psychomotor checklists by two independent observers, and satisfaction questionnaires. Results revealed 72.7% cognitive knowledge improvement (39.37% to 68.01% correct answers), 93% practice success rate (56 successful vegetative plants), 100% post-propagation care comprehension, and 85% student satisfaction. The program effectively bridged biology theory with local horticulture applications, created sustainable impact through 3-month monitoring, and offers replication potential across 5 Bangka high schools to strengthen sustainable agriculture curricula in agrarian regions.