Pendidikan inklusif membutuhkan sistem layanan yang mampu mendukung identifikasi kebutuhan peserta didik secara dini, pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), serta kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Di Kelurahan Jatinegara Kaum, layanan pendidikan inklusif masih menghadapi keterbatasan dalam pelaksanaan skrining awal, kompetensi guru dalam identifikasi dan pendampingan, dokumentasi perkembangan peserta didik, serta komunikasi dengan keluarga. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengembangkan Inclusive Resource Center berbasis Program SAPA (Skrining Awal dan Pendampingan ABK) sebagai pusat layanan pendidikan inklusif di SDN Jatinegara Kaum 14 Pagi. Kegiatan menggunakan pendekatan participatory action melalui tahapan analisis kebutuhan, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, implementasi program, dan evaluasi. Sasaran kegiatan adalah 23 guru kelas dan guru mata pelajaran. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan angket yang mengukur pengetahuan mengenai ABK dan skrining awal, kesiapan melakukan identifikasi dan pendampingan, serta pemahaman pemanfaatan Inclusive Resource Center. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh aspek yang diukur. Pemahaman guru mengenai skrining awal meningkat dari 21,74 persen menjadi 91,30 persen, sedangkan pemahaman mengenai fungsi Inclusive Resource Center meningkat dari 56,52 persen menjadi 91,30 persen. Selain itu, terbentuk Inclusive Resource Center yang dilengkapi instrumen skrining, media pembelajaran adaptif, sistem dokumentasi perkembangan peserta didik, dan fasilitas konsultasi guru dan orang tua. Program SAPA berbasis Inclusive Resource Center dapat memperkuat kapasitas guru dan membangun sistem layanan pendidikan inklusif yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.