p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal BASASTRA
Laila Fitri Nur Hidayah
Universitas Sebelas Maret

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBELAJARAN MENULIS TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI DI SMP: BAGAIMANA PERSEPSI SISWA? Sumarwati Sumarwati; Laila Fitri Nur Hidayah; Atikah Anindyarini; Slamet Slamet
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2026): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v14i1.110613

Abstract

Melalui menulis teks laporan hasil observasi (LHO) dapat mengembagkan keterampilan  siswa untuk mengamati dan menganalisis data secara objektif, memisahkan fakta dari opini, serta menyajikan informasi yang akurat dan berbasis bukti, namun fakta di lapangan menunjukkan adanya permasalahan dalam pembelajarannya. Salah satunya adalah tidak tercapainya tujuan pembelajaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi siswa SMP mengenai pelaksanaan dan tantangan dalam pembelajaran menulis teks LHO. Peneltian dilakukan dengan mixed-method dan pendekatannya adalah studi kasus sehingga ada data kuantitatif dan kualitatif.. Yang menjadi partisipan adalah 200 siswa kelas 8 yang telah mengisi kuesioner yang diakses melalui google form sehingga sampling ditetapkan dengan teknik purposive. Selain melalui angket, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Uji validitas data dilakukan dengan triangulasi metode dan sumber data. Data kuantitatif dianalisis dengan menghitung frekuensi dan persentase. Data kualitatif dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa berpendapat pembelajaran menulis teks LHO belum mampu mengembangkan keterampilan siswa dalam mengamati objek, mendeskripsikan objek yang diamati, dan membedakan fakta dan opini. Adapun tantangannya adalah minimnya contoh teks yang dapat memperjelas karakteristik teks LHO dibandingkan teks nonsastra lainnya, belum ada bimbingan menulis, dan kegiatan menulis teks LHO lebih bersifat teoretis. Artinya pembelajaran menulis teks LHO dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia digantikan pembelajaran membaca teks LHO. Temuan ini mengindikasikan perlu dilakukannya kajian mendalam terhadap kinerja guru dalam pembelajaran menulis teks LHO di SMP.
KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK TERHADAP NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM LAGU DAN PERMAINAN CUBLAK-CUBLAK SUWENG Audrey Salma; Laila Fitri Nur Hidayah; Kundharu Saddhono
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 14, No 1 (2026): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v14i1.112675

Abstract

Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi, tetapi juga mencerminkan budaya serta identitas suatu masyarakat. Lagu dan permainan tradisional anak, seperti Cublak-Cublak Suweng, menjadi media penting dalam pewarisan nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menguraikan nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan dalam lirik lagu serta praktik permainan tradisional Cublak-Cublak Suweng, menganalisis bagaimana bahasa merepresentasikan kearifan lokal, serta menjelaskan makna budaya yang tersirat dalam permainan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif antropolinguistik Duranti, yang menekankan hubungan antara bahasa, praktik sosial, dan konteks budaya. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi lirik, tuturan, serta tindakan dalam permainan, kemudian dianalisis menggunakan analisis data interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cublak-Cublak Suweng mengandung nilai-nilai kejujuran, kerja sama, kesabaran, kecerdikan, kerendahan hati, gotong royong, serta tata krama. Bahasa dalam lagu, melalui metafora, diksi lokal, dan ragam ngoko alus, merepresentasikan nilai-nilai tersebut. Permainan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana pendidikan moral dan pelestarian budaya, mencerminkan cara hidup dan pandangan masyarakat Jawa.