Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Asuhan Keperawatan Pada Tn. D Dengan Isolasi Sosial Diruang Merak Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta Ns. Nelwetis
CICES (Cyberpreneurship Innovative and Creative Exact and Social Science) Vol 2 No 2 (2016): CICES
Publisher : UNIVERSITAS RAHARJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.325 KB) | DOI: 10.33050/cices.v2i2.362

Abstract

Setiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada berbagai tingkat hubungan yaitu dari hubungan intim bisa saling berhubungan, keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari. Individu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan social. Oleh karena itu individu perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan. Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Isolasi Sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Tekhnik yang digunakan dalam mengumpulkan data, menganalisa data serta menarikkesimpulan yang kemudian disajikan dalam bentuk narasi. Cara menyusun laporan penelitian ini adalah Study Kepustakaan dan Study Kasus. Setelah melakukan Asuhan Keperawatan penulis mendapatkan 5 diagnosa : Isolasi Sosial, Harga Diri, Koping Keluarga Inefektif, RegimenTheraupetik Inefektif, dan Resiko Gangguan Sensori Persepsi. Intervensi yang dilakukan untuk diagnosa utama yaitu isolasi sosial adalah Sp-I bina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab Isolasi social, diskusikan tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain, dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain, ajarkan cara berkenalan, beri pujian kemampuan yang dimiliki. Sp-II anjurkan klien untuk mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang, evaluasi kegiatan harian klien, Sp-III evaluasi jadwal kegiatan klien, anjurkan klien untuk memperaktekkan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih. Implementasi yang dilakukan 1 yaitu: Isolasi Sosial dengan cara: Sp-I membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien, mengidentifikasikan penyebab Isolasi Sosial Pasien, mendiskusikan dengan klien keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan cara berkenalan, Sp-II yaitu memberikan kesempatan pada klien untuk mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang, menganjurkan klien memasukkan kegiatan kedalam jadwal harian. Sp III yaitu memberikan kesempatan pada klien untuk memperaktekkan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih, memasukkan kegiatan yang dilakukan kedalam jadwal kegiatan harian. Evaluasi yang dapat dicapai dari hasil tindakan keperawatan adalah hubungan saling percaya antara perawat dan klien, klien dapat dapat menyebutkan penyebab Isolasi Sosial, menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. Klien dapat mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang. Klien dapat memperaktekkan cara berkenalan dengan dua orang, klien dapat memasukkan kegiatan kedalam jadwal harian apa yang sudah diajarkan dan dilakukan.
CEGAH PENYAKIT GOUT ARTHRITIS MELALUI DETEKSI DINI Ani Nuraeni; Zahri Darni; Hemma Siti Rahayu; DWS Suarse Dewi; Nelwetis Nelwetis; Ngasirotun Ngasirotun; Danisa Zumawaddah Warahmah Syukri; Ramalah Tabah Anugrah; Slingga Anjely Vrisilia; Delina Septianing Tyas; Kristina Ratu Yosinda
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.196 KB) | DOI: 10.31949/jb.v4i2.4666

Abstract

Gout arthritis merupakan peradangan sendi akibat peningkatan kadar asam urat dalam tubuh dan mengendap membentuk kristal asam urat. Faktor risiko penyebab gout arthritis adalah riwayat keturunan, mengonsumsi makanan tinggi purin, alkohol, merokok, kurang aktivitas fisik dan obesitas. Skrining gout arthritis sangat penting untuk mendeteksi kadar asam urat sehingga dapat mencegah penyakit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada warga RT 02 RW 03 Kelurahan Pondok Labu yang berjumlah 56 orang dengan tujuan mendeteksi kadar asam urat dan faktor risiko penyebab penyakit gout arthritis. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 November 2022 bertempat di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fatmawati dengan kegiatan berupa wawancara, pemeriksaan kesehatan dan konseling. Hasil kegiatan didapatkan sebagian besar peserta memiliki risiko yang rendah terkena gout arthritis karena tidak sering mengonsumsi makanan tinggi purin sebanyak 46 orang (82,1%), melakukan aktivitas fisik sebanyak 47 orang (83,9%), tidak merokok sebanyak 48 orang (83,9%), tidak memiliki riwayat keturunan sebanyak 46 orang (82,1%) namun hampir setengahnya memiliki risiko gout dari kelebihan berat badan sebanyak 24 orang (42,9%). Hasil pemeriksaan kadar asam urat menunjukkan kadar asam urat tinggi sebanyak 24 orang (42,9%). Kegiatan ini meningkatkan kesadaran warga pentingnya melakukan skrining kesehatan untuk mendeteksi penyakit.
CEGAH PENYAKIT GOUT ARTHRITIS MELALUI DETEKSI DINI Ani Nuraeni; Zahri Darni; Hemma Siti Rahayu; DWS Suarse Dewi; Nelwetis Nelwetis; Ngasirotun Ngasirotun; Danisa Zumawaddah Warahmah Syukri; Ramalah Tabah Anugrah; Slingga Anjely Vrisilia; Delina Septianing Tyas; Kristina Ratu Yosinda
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i2.4666

Abstract

Gout arthritis merupakan peradangan sendi akibat peningkatan kadar asam urat dalam tubuh dan mengendap membentuk kristal asam urat. Faktor risiko penyebab gout arthritis adalah riwayat keturunan, mengonsumsi makanan tinggi purin, alkohol, merokok, kurang aktivitas fisik dan obesitas. Skrining gout arthritis sangat penting untuk mendeteksi kadar asam urat sehingga dapat mencegah penyakit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada warga RT 02 RW 03 Kelurahan Pondok Labu yang berjumlah 56 orang dengan tujuan mendeteksi kadar asam urat dan faktor risiko penyebab penyakit gout arthritis. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 November 2022 bertempat di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fatmawati dengan kegiatan berupa wawancara, pemeriksaan kesehatan dan konseling. Hasil kegiatan didapatkan sebagian besar peserta memiliki risiko yang rendah terkena gout arthritis karena tidak sering mengonsumsi makanan tinggi purin sebanyak 46 orang (82,1%), melakukan aktivitas fisik sebanyak 47 orang (83,9%), tidak merokok sebanyak 48 orang (83,9%), tidak memiliki riwayat keturunan sebanyak 46 orang (82,1%) namun hampir setengahnya memiliki risiko gout dari kelebihan berat badan sebanyak 24 orang (42,9%). Hasil pemeriksaan kadar asam urat menunjukkan kadar asam urat tinggi sebanyak 24 orang (42,9%). Kegiatan ini meningkatkan kesadaran warga pentingnya melakukan skrining kesehatan untuk mendeteksi penyakit.
The Effects of Nutrition on the Health and Development of the Fetus in Pregnant Women Utami; Yolanda Lusia Sepang, Mareyke; Sri Aisyah Hidayati; Deddy S. Razak; Nelwetis
Miracle Journal Get Press Vol 1 No 4 (2024): November, 2024
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/mgj.v1i4.84

Abstract

Proper nutrition during pregnancy plays a crucial role in supporting fetal development and maintaining the mother's health. However, there is still a knowledge gap among pregnant women, especially in rural and remote areas, regarding the importance of nutritional intake during pregnancy. This study is aimed at comprehensively analyzing the impact of maternal nutritional intake on maternal health and growth. Methods. The study involves 150 purposively selected pregnant women who visited Puskesmas, health clinics, or maternal and child hospitals in Padang City during the 6-month period of the study. The data collection technique is done by interviewing pregnant women using questionnaires related to demographics and diet. The collected data will be analysed using statistical methods, descriptive test to see the general description of the characteristics of pregnant women and their nutritional intake, and chi square test to analyse the relationship between nutritional intake and infant birth weight (LBW). Results. Most pregnant women had a moderate level of knowledge about nutrition (46.7%), but there were 40% who had low knowledge. There was a significant relationship between pregnant women's knowledge level about nutrition and nutrient intake and its impact on LBW. Conclusions. Pregnant women have a low knowledge level regarding nutrition, which in turn affects foetal health, growth, and quality of life. With these measures, it is hoped that the risk of pregnancy complications due to malnutrition can be minimised and the quality of maternal and infant health can be significantly improved.
Case Study of Implementation of Administrative Innovation in Improving the Quality of Health Services Nelwetis; Antik Pujihastuti
Miracle Journal Get Press Vol 1 No 4 (2024): November, 2024
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/mgj.v1i4.85

Abstract

Administrative innovation is crucial for enhancing health service quality. As health systems evolve, effective administration can expedite service delivery, minimize patient wait times, and enhance the accuracy of patient data. In today's society, there are heightened expectations for health service quality, including information accuracy and accessibility. Implementing innovative, technology-driven administrative systems can bolster public trust in healthcare institutions.This study investigates the changes before and after the implementation of such innovations, assessing their effectiveness in addressing common administrative challenges. Employing a qualitative case study methodology with a descriptive approach allows for an in-depth exploration of administrative innovation processes in specific health facilities and their impacts on service quality. Key respondents include health workers—doctors, nurses, and administrative staff—directly involved in these innovations, alongside patients who evaluate their satisfaction with the changes.Findings indicate positive responses from both health workers and patients regarding the innovations. Health workers reported increased efficiency in their tasks, while patients experienced improved service quality. Despite challenges such as the need for training and concerns over data privacy, there is optimism for continued development of these innovations to foster a more modern and efficient healthcare system. Ultimately, an integrated approach to administrative innovation aims to achieve safer, more efficient, and higher-quality health services accessible to all community members.
The Influence of Interpersonal Communication, Professionalism and Competence on The Monitoring System and Hospital Paramedic Performance at Dr. H. Soewondo Kendal Regional Hospital Anindita Paramastuti Azuma; Hindyah Ike Suhariati; Raden Roro Ratuningrum Anggorodiputro; Delladari Mayefis; Nelwetis
Professional Evidence-based Research and Advances in Wellness and Treatment Vol. 2 No. 2 (2025): April, 2025
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/perawat.v2i2.141

Abstract

The performance of paramedics, especially nurses and midwives, is essential to the quality of hospital health services. This study aims to examine the influence of interpersonal communication, professionalism, and competence on the monitoring system and nurse performance at at Dr. H. Soewondo Kendal Regional Hospital. Using a quantitative approach with SEM-PLS and WarpPLS 5.0, data from 110 paramedics (92 nurses and 18 midwives) were analyzed. The results show that interpersonal communication, professionalism, and competence significantly influence the monitoring system (R² = 0.79), which in turn positively affects nurse performance (R² = 0.73). However, competence does not have a significant direct effect on performance without the mediation of the monitoring system. These findings suggest that improving internal factors along with an effective monitoring system can enhance overall paramedic performance and support hospital management in optimizing human resources.
Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit Dalam Pengelolaan Logistik Farmasi Agnes Ratna Saputri; Nelwetis
Jurnal Manajemen Bisnis dan Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2025): Volume. 1 No. 4 2025 April-June
Publisher : Edu Berjaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70817/jmbk.v1i4.44

Abstract

Latar Belakang Logistik farmasi merupakan komponen vital dalam menjamin kontinuitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, khususnya dalam menjaga ketersediaan obat dan alat kesehatan. Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) menjadi solusi untuk mengatasi tantangan pengelolaan logistik tradisional seperti kesalahan pencatatan dan keterlambatan pemesanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh implementasi SIRS terhadap efisiensi, efektivitas, dan akurasi dalam pengelolaan logistik farmasi, serta mengidentifikasi tantangan dan faktor pendukung keberhasilannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus di sebuah rumah sakit di Jakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan berbagai informan dari unit farmasi, manajemen, dan IT rumah sakit, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menurut model Miles dan Huberman. Hasil bahwa penerapan SIRS meningkatkan akurasi pencatatan, efisiensi pengelolaan stok, serta mempercepat proses distribusi obat. Sistem ini mempermudah pemantauan stok secara real-time dan mengurangi risiko kekosongan atau kelebihan stok. Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan pelatihan bagi staf, kendala teknis, serta integrasi data yang belum optimal antarunit. Faktor pendukung utama keberhasilan implementasi meliputi dukungan manajemen, pembaruan perangkat lunak dan keras, serta pelatihan berkelanjutan. Kesimpulannya, SIRS berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan logistik farmasi di rumah sakit. Untuk mengoptimalkan implementasi SIRS, disarankan agar rumah sakit memperkuat pelatihan staf, meningkatkan infrastruktur teknologi, mengembangkan integrasi data antarunit, memperkuat sistem keamanan data, serta memanfaatkan fitur analitik untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Kenali, Cegah, dan Akses: Edukasi Penyakit Tidak Menular serta Alur Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Desa Warunggunung Tyra Septi Diana; Nelwetis Nelwetis; Maggie Juntiven Manik; Kristiana Ratu Yosianda; Reiva Meirelliza
Lebah Vol. 19 No. 3 (2026): January: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i3.514

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko serta pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM), sekaligus memperkuat pemahaman tentang alur pelayanan kesehatan dan mekanisme penggunaan BPJS Kesehatan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2025 di Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Warunggunung. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi, dan pemeriksaan kesehatan gratis berupa tes tekanan darah dan kadar gula darah. Sebanyak 71 peserta mengikuti kegiatan ini, didominasi oleh kelompok dewasa akhir dan lansia (89,2%), dengan mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga (91,9%). Hasil pemeriksaan menunjukkan 84,5% peserta memiliki tekanan darah di atas normal, dan sebagian memiliki kadar gula darah ≥100 mg/dL yang mengarah pada pra-diabetes dan diabetes mellitus. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dari 67,5% menjadi 98,7%, menandakan keberhasilan kegiatan dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Edukasi BPJS juga meningkatkan pemahaman peserta terhadap sistem rujukan berjenjang dan hak serta kewajiban peserta jaminan kesehatan. Kegiatan ini dinilai efektif dalam mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin di Puskesmas, menerapkan pola hidup sehat, serta memanfaatkan BPJS secara optimal. Dengan hasil tersebut, kegiatan ini diharapkan menjadi model berkelanjutan dalam penguatan literasi kesehatan dan akses layanan kesehatan di wilayah semi-perkotaan.
Projection of Inpatient Bed Needs at Andalas University Hospital Until 2030: A Retrospective Analysis of Elderly Utilization and Hospital Capacity Samuel Hadjo; Amrina Rasyada; Nelwetis
Journal of Health Service Administration and Hospital Management Vol. 2 No. 2 (2026): July, 2026
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/laceri.v2i2.724

Abstract

The increasing proportion of the elderly population has raised the demand for inpatient services, requiring hospitals to implement evidence-based bed capacity planning. Andalas University Hospital has not yet developed a projection of inpatient bed requirements through 2030 based on trends in elderly service utilization. This study aimed to project inpatient bed requirements through 2030. A quantitative study with a retrospective longitudinal design was conducted using secondary data from medical records and daily inpatient census reports from 2020–2025 at Andalas University Hospital, Padang. The unit of analysis comprised hospitalized patients aged ≥60 years, totaling 5,482 observations (total sampling). Data were collected through document review and reconciliation of medical records, daily census, and management reports. Bed requirements were calculated using the formula: Bed = treatment days/(365 × target BOR), with a target BOR of 75–85%. Data analysis included descriptive statistics, linear trend analysis, and simple linear regression. The average BOR was 71.8%, ALOS 5.6 days, BTO 47.2 times/year, and TOI 2.3 days. The proportion of elderly patients increased by 6.8% annually (p<0.001). Regression analysis demonstrated a significant relationship between increasing elderly admissions and bed requirements (β=0.81; 95% CI: 0.65–0.97; R²=0.76; p<0.001). Based on the model, bed requirements are projected to increase from 220 beds in 2025 to 287 beds in 2030 (95% prediction interval: 276–298 beds). These projections can support phased bed expansion, optimization of human resources, budgeting, supporting facilities, strategic planning, inpatient capacity evaluation, and geriatric service development. Bed capacity should be gradually increased to maintain service efficiency and support hospital resource planning. These findings are projective and indicate associative rather than causal relationships.
Effect of Early Skin-To-Skin Contact Intervention By Nurses on Physiological Stability Mother and Baby in RSIA Mutiara Bunda Padang Nelwetis; Ni Nyoman Murti
Professional Evidence-based Research and Advances in Wellness and Treatment Vol. 3 No. 1 (2026): January, 2026
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/perawat.v3i1.421

Abstract

Skin-to-skin contact is an essential early intervention that supports physiological stability in mothers and newborns during the immediate postnatal period. Although its benefits are well documented, consistent implementation in perinatal nursing practice remains limited. Purpose: This study aimed to evaluate the effect of early skin-to-skin contact interventions performed by nurses on the physiological stability of mothers and newborns at RSIA Mutiara Bunda Padang. Methods: A quantitative study with a quasi-experimental pre–post test design was conducted involving 20 mother–infant pairs who received skin-to-skin contact for 60 minutes after delivery. Maternal physiological parameters included heart rate and body temperature, while newborn parameters included body temperature, respiratory rate, and heart rate. Data were analyzed using descriptive statistics and paired t-tests with a significance level of 0.05. Results: The findings showed improved physiological stability following the intervention. Newborn body temperature increased significantly from 36.5°C to 37.2°C (p < 0.05), indicating better thermal regulation. Maternal heart rate decreased significantly from 95 bpm to 85 bpm (p < 0.05), reflecting improved physiological adaptation. Bivariate analysis confirmed a significant effect of early skin-to-skin contact on physiological stability in both mothers and newborns (p < 0.05). Conclusion: Early skin-to-skin contact interventions by nurses are effective in improving maternal and neonatal physiological stability and should be integrated as a standard practice in postnatal care.