Ekasriadi, Ida Ayu Agung
Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Denpasar, Indonesia

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Stilistika

FOKALISASI NOVEL TEMPURUNG KARYA OKA RUSMINI DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA/SMK Ni Putu Yunia Dewi; Ida Ayu Agung Ekasriadi; I Made Sujaya
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 7 No. 1 (2018): Stilitika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.787 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mendeskripsikan jenis-jenis fokalisasi yang digunakan dalam novel Tempurung karya Oka Rusmini, (2) mendeskripsikan keterkaitan fokalisasi dengan unsur-unsur intrinsik lainnya, dan (3) relevansi fokalisasi novel Tempurung dalam pembelajaran sastra di SMA/SMK. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kepustakaan dengan teknik baca dan teknik catat. Data dianalisis dengan metode deskriptif analititk. Dari penelitian ini dihasilkan tiga temuan: (1) novel Tempurung karya Oka Rusmini kecenderungannya menggunakan fokalisasi intern dengan bentuk persona “aku”, (2) fokalisasi dalam novel Tempurung muncul dalam berbagai bentuk, yaitu cakapan langsung, solilokui, komentar pencerita, dan lakuan yang dapat berkaitan langsung dengan aspek tokoh dan gaya bahasa, dan (3) fokalisasi novel Tempurung karya Oka Rusmini memiliki relevansi dengan pembelajaran sastra di SMA/SMK, yaitu sebagai pengayaan bahan ajar dalam menganalisis isi dan kebahasaan novel. This study aims to (1) describe the types of focalization used in Oka Rusmini’s Tempurung, (2) describe the relation between focalization and the other intrinsic elements, and (3) to describe the relevance of focalization in the novel to the study of literature in Senior High Schools (SMA)/Vocational Schools (SMK). This research is a qualitative research. The data were collected through the library research method by reading and note-taking techniques. The data were analyzed using the descriptive-analytical method. There are three research findings: (1) Oka Rusmini’s Tempurung tends to use internal focalization with the pronoun ”I”; (2) the focalization in the novel appears in various forms, namely direct speech, soliloquy, narrator’s commentary, and characters’ actions that can be directly related to character aspects and language style, and (3) focalization in Oka Rusmini’s Tempurung has relevance to the study of literature in SMA/SMK.
POLEMIK PERKAWINAN NYEROD (TURUN KASTA) DALAM KARYA SASTRA BERLATAR KULTURAL BALI Ni Putu Diah Krisnia Dewi; Ida Ayu Agung Ekasriadi; I Kadek Adhi Dwipayana
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 9 No. 2 (2021): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.295 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan polemik perkawinan nyerod (turun kasta) dalam karya sastra berlatar kultural Bali, (2) mendeskripsikan penderitaan perempuan Bali akibat perkawinan nyerod (turun kasta) dalam karya sastra berlatar kultural Bali, dan (3) mendeskripsikan representasi resistensi perempuan nyerod (turun kasta) dalam karya sastra berlatar kultural Bali. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan dengan teknik baca dan catat serta metode wawancara dengan teknik bertanya. Data yang didapatkan dianalisis dengan teknik deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) polemik perkawinan nyerod dalam karya sastra berlatar kultural Bali direpresentasikan melalui sistem wangsa dan tradisi masyarakat Bali, (2) perempuan nyerod cenderung diposisikan sebagai objek yang lemah (tidak berdaya), serta (3) wujud resistensi yang direpresentasikan oleh pengarang-pengarang Bali melalui perempuan nyerod adalah resistensi langsung, seperti bersikap reaksioner dan frontal, sedangkan resistensi tidak langsung, seperti tidak frontal, tegar, mandiri, tindakan tersembunyi, dan survive. Abstract This study aims to (1) describe the polemic of nyerod marriage in literary works with Balinese cultural background, (2) desribe the suffering of Balinese women due to a nyerod marriage in a literary work of Balinese cultural background, and (3) to describe the representation of resistance women nyerod in the literary work of Balinese cultural background. This research is a qualitative research. The data were collected through the library research method by reading and note-taking techniques as well as the interview method with questioning techniques. The data obtained were analyzed using qualitative descriptive techniques. The results of this study indicate that (1) the polemic of nyerod marriage in Balinese cultural literature is represented through the Balinese system and the traditions of the Balinese people, (2) nyerod women tend to be positioned as weak objects, and (3) the form of resistance represented by Balinese authors through nyerod women is direct resistance, such as being reactionary and frontal, while indirect resistance, such as being not frontal, tough, independent, do hidden actions, and survive.
VARIASI LEKSIKON DAN MAKNA VERBA ”MEMASAK” DALAM BAHASA BALI SUATU KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI Ni Luh Gede Liswahyuningsih; Ni Luh Komang Candrawati; Ida Ayu Agung Ekasriadi
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 10 No. 2 (2022): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.24 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.6984088

Abstract

Kajian ini membahas salah satu gejala kebahasaan bahasa Bali yaitu mengenai berbagai variasi leksikon dan makna verba ”memasak”. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan metabahasa semantik alami untuk mendeskripsikan perbedaan makna pada masing-masing variasi leksikon verba ”memasak” dalam bahasa Bali. Dari hasil analisis, makna variasi leksikon verba “memasak” bahasa Bali dapat dibagi empat bagian: (1) memasak dengan tujuan dan alat tertentu, yaitu: nyakan ‘memasak nasi’, mubuh ‘memasak bubur’, ngesiurin ‘memasak untuk memanaskan makanan’, ngukus ‘memasak dengan menggunakan alat kukus’; (2) memasak dengan menggunakan air, yaitu: ngelablab ‘merebus dalam waktu lama’, ngengseb ‘merebus dalam waktu yang singkat’, nadah ‘merebus untuk mencairkan sesuatu’; (3) memasak dengan menggunakan minyak, yaitu: ngoreng ‘menggoreng dengan menggunakan minyak yang banyak’, numis ‘menggoreng dengan menggunakan minyak yang sedikit; (4) memasak tanpa menggunakan air dan minyak, yaitu: ngenyahnyah ‘menyangrai’, nguling ‘mengguling’, manggang ‘memanggang’, nambus ‘memasak dalam bara api dengan daun’, nunu ‘memasak langsung dalam bara api’.
MEMBANGUN KOMPETENSI LITERASI MULTIMODAL: STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS TRI HITA KARANA DAN PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL Sidi Artajaya, Gede Sidi Artajaya; yupi, Putu Ayu Mertasari Pinatih; Ekasriadi, Ida Ayu Agung
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 14 No. 1 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v14i1.5620

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong munculnya teks multimodal yang tidak lagi hanya mengandalkan bahasa verbal, melainkan juga mencakup unsur visual, audio, dan interaktif. Kondisi ini menuntut adanya penguatan literasi multimodal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia agar peserta didik mampu memahami, menginterpretasi, sekaligus memproduksi teks sesuai tuntutan abad ke-21. Di sisi lain, pendidikan karakter berbasis nilai kearifan lokal menjadi semakin penting agar peserta didik tidak terjebak pada perilaku digital yang pragmatis dan lepas dari akar budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep literasi multimodal, integrasi nilai Tri Hita Karana, serta relevansinya dalam membentuk pendidikan karakter peserta didik di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari literatur primer dan sekunder berupa artikel jurnal nasional maupun internasional, buku, serta dokumen kebijakan pendidikan yang relevan, terbit dalam rentang waktu 2015–2025. Analisis dilakukan dengan teknik analisis isi tematik yang dibantu perangkat lunak NVivo 12 Plus, dengan tahap reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi multimodal dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Integrasi nilai Tri Hita Karana memberikan dimensi baru yang menghubungkan kemampuan digital dengan nilai spiritual (Parahyangan), sosial (Pawongan), dan ekologis (Palemahan). Pembelajaran multimodal yang berlandaskan kearifan lokal terbukti relevan untuk memperkuat pendidikan karakter sehingga peserta didik tidak hanya cakap digital, tetapi juga beretika, berbudaya, dan bertanggung jawab