p-Index From 2021 - 2026
0.835
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sains Medisina
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Impresi Cita Rasa Makanan dan Motivasi Makan terhadap Sisa Makanan pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUD Ratu Zalecha Martapura Windi Anggi Tiara Putri; Magdalena; Zulfiana Dewi; Rusmini Yanti
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.925

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan berisiko menimbulkan komplikasi. Menurut profil kesehatan Kabupaten Banjar, kasus diabetes melitus di Kabupaten Banjar selama 3 tahun terakhir menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak tidak menular di Kabupaten Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impresi cita rasa makanan dan motivasi makan terhadap sisa makanan pada pasien Diabetes Mellitus di RSUD Ratu Zalecha Martapura. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan desain cross sectional, menggunakan populasi seluruh pasien DM dengan sampel 39 orang, dipilih secara purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 – November 2025. Data karakteristik responden, impresi makanan, motivasi makan, dan sisa makanan dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan virtual comstock selama 2 hari. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sisa makanan rendah (56,4%), impresi cita rasa makanan puas (56,4%), dan motivasi makan baik (92,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara impresi cita rasa makanan dengan sisa makanan (p = 0,001 < α). Terdapat juga hubungan yang signifikan antara motivasi makan dengan sisa makanan (p = 0,04 < α). Impresi cita rasa makanan dan motivasi makan berhubungan dengan sisa makanan, sehingga diharapkan responden dapat meningkatkan kepuasan terhadap cita rasa makanan dan motivasi makan untuk mengurangi sisa makanan yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus.
Hubungan Kebiasaan Makan, Pengetahuan Gizi, Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Overweight Pada Remaja (Studi di SMAN 2 Martapura) Aisya Amalia; Rosihan Anwar; Meilla Dwi Andrestian; Rusmini Yanti
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.992

Abstract

Overweight menjadi masalah gizi yang semakin meningkat pada remaja dan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental jangka panjang. Prevalensi overweight di wilayah Kabupaten Banjar pada tahun 2024 menunjukkan angka yang signifikan, dengan beberapa sekolah seperti SMAN 2 Martapura memiliki persentase remaja dengan status gizi lebih mencapai 25,3%. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan, pengetahuan gizi, dan aktivitas fisik dengan kejadian overweight pada remaja di SMAN 2 Martapura. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan November 2025 di SMAN 2 Martapura, Kabupaten Banjar. Jumlah responden sebanyak 97 remaja yang terdiri dari remaja dengan status gizi overweight dan status gizi normal. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup karakteristik responden, pola makan, pengetahuan gizi, dan aktivitas fisik. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk menilai hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan, pengetahuan gizi, maupun aktivitas fisik dengan kejadian overweight pada remaja. Meskipun demikian, remaja dengan pola makan yang kurang baik, pengetahuan gizi yang terbatas, serta tingkat aktivitas fisik yang rendah tetap memiliki risiko mengalami overweight, meskipun secara statistik hubungan tersebut tidak signifikan. Diperlukan upaya peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai pola makan sehat, gizi seimbang, serta pentingnya aktivitas fisik secara teratur bagi remaja, untuk menjaga status gizi yang optimal dan mencegah risiko overweight di masa depan.
Hubungan Frekuensi Konsumsi Junk Food, Minuman Manis, Dan Riwayat Orang Tua Dengan Kejadian Gizi Lebih Pada Remaja Zalfa Malika Fitra; Rusmini Yanti; Niken Pratiwi
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1432

Abstract

Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang membutuhkan asupan gizi optimal. Perubahan gaya hidup akibat modernisasi menyebabkan meningkatnya konsumsi junk food dan minuman manis yang berisiko memicu gizi lebih. Selain itu, riwayat berat badan berlebih pada orang tua diduga turut memengaruhi kejadian gizi lebih pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi konsumsi junk food, minuman manis, dan riwayat orang tua dengan kejadian gizi lebih pada remaja di SMK Negeri 3 Banjarbaru. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian melibatkan 86 responden yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data konsumsi diperoleh menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), data riwayat orang tua melalui kuesioner, dan status gizi ditentukan berdasarkan indikator IMT/U melalui pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Contingency Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan kejadian gizi lebih di SMK Negeri 3 Banjarbaru masih tergolong tinggi. Sebagian besar responden merupakan remaja pertengahan dan berjenis kelamin perempuan. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi junk food, konsumsi minuman manis, serta riwayat gizi lebih pada orang tua dengan kejadian gizi lebih pada remaja. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar remaja membatasi konsumsi junk food dan minuman manis serta menerapkan pola makan sehat dengan dukungan keluarga untuk mencegah terjadinya gizi lebih.
Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Underweight Pada Balita Usia 12-59 Bulan Liegamuhibbah Liegamuhibbah; Rusmini Yanti
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1469

Abstract

Underweight merupakan masalah gizi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Prevalensi underweight di Desa Keliling Benteng Ulu pada umur 12-59 bulan sebesar 34%. Pola makan, pola asuh ibu, dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian underweight. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan, pola asuh ibu, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian underweight pada balita.Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di desa Keliling Benteng Ulu pada Januari 2026. Sampel berjumlah 55 responden, dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data melalui wawancara menggunakan kuesioner serta pengukuran status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut umur dengan Z-score. Analisis data menggunakan uji rank spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian underweight sebesar 18,2%. Sebagian besar balita memiliki pola makan baik (51%) dan pola asuh ibu baik (76%), dan sanitasi lingkungan baik (95%). Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara pola makan dan pola asuh ibu dengan kejadian underweight, sedangkan sanitasi lingkungan tidak berhubungan dengan kejadian underweight. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar ibu menjaga kebersihan rumah dan mengelola sampah dengan baik guna mencegah penyakit infeksi yang memicu underweight.
Hubungan Asupan Energi, Protein, Faktor Usia, Faktor Kesehatan, Dan Gaya Hidup Dengan Risiko Penyakit Alzheimer Pada Lansia Hanifah Hanan; Mahpolah Mahpolah; Rusmini Yanti
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1726

Abstract

Penyakit Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif pada lansia yang ditandai penurunan fungsi kognitif, daya ingat, serta kualitas hidup secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan energi, asupan protein, faktor usia, faktor kesehatan, dan gaya hidup dengan risiko penyakit Alzheimer pada lansia di Desa Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025-2026 setelah memperoleh persetujuan etik dari Poltekkes Kemenkes Banjarmasin (No.919/KEPK-PKB/2025). Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh lansia berusia ≥60 tahun yang berdomisili di lokasi tersebut, yaitu sebanyak 90 orang. Sampel penelitian berjumlah 53 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman (a=0,05). Hasil penelitian menunjukkan risiko Alzheimer terbanyak berada pada kategori gangguan kognitif sedang yaitu 47,17%. Responden mayoritas berada pada rentang usia 60-69 tahun (70%), memiliki tingkat asupan energi defisit berat (49,06%), asupan protein defisit berat (75,47%), faktor kesehatan kategori sedang (52,83%), dan gaya hidup kategori sedang (62,26%). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia (p=0,560), asupan energi (p=0,818), asupan protein (p=0,322), maupun gaya hidup (p=0,481) dengan risiko penyakit Alzheimer, sedangkan faktor kesehatan (p=0,016) berhubungan signifikan dengan risiko alzheimer.  Lansia disarankan untuk tetap memperhatikan asupan nutrisi harian yang seimbang, pemenuhan kecukupan gizi, serta aktif beraktivitas fisik seperti senam atau jalan santai minimal 3-5 kali seminggu.