Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERAWATAN BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI KECAMATAN MONTERADO KABUPATEN BENGKAYANG KALIMANTAN BARAT Erani, Asri; Dary, Dary; Tampubolon, Rifa
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54630/jk2.v14i1.273

Abstract

Abstrak Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan bayi yang termasuk dalam risiko tinggi mengalami berbagai masalah seperti risiko infeksi, kesulitan bernafas, hipotermi dan malnutrition. Pada umumnya perawatan BBLR menggunakan inkubator. Saat bayi sudah di rumah, bayi akan memerlukan intervensi lain untuk menjaga suhu tubuh bayi selain inkubator, salah satunya dengan penerapan metode kanguru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengalaman ibu dalam merawat bayi dengan BBLR di Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan ialah ibu yang memiliki anak dengan riwayat BBLR berjumlah 11 orang. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara semi-terstruktur, selanjutnya dilakukan analisa data verbatim untuk mendapatkan coding kemudian dijadikan kategori dan tema. Penelitian dilakukan pada bulan September 2022. Hasil penelitian didapatkan beberapa tema yaitu pengetahuan ibu tentang perawatan bayi BBLR, metode-metode perawatan pada bayi dengan BBLR, pemenuhan gizi pada bayi dengan BBLR, masalah-masalah dalam perawatan bayi dengan BBLR dan budaya ibu postpartum di Kecamatan Monterado. Kesimpulan penelitian ini bahwa penerapan metode kanguru dan dibedong merupakan metode yang banyak dilakukan ibu saat dirumah dalam mempertahankan suhu bayi dengan BBLR.
UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA UMKM MELALUI SOSIALIASASI DIGITAL MARKETING DI DESA KRAMATAGUNG KABUPATEN PROBOLINGGO Taufikurrahman, Taufikurrahman; Imam M, Alfiandi; Budiman, Arief; Dary, Dary; Siti Saliyah, Fildha Hibatur Rahma; Widya Pramesti, Arin; Ardi Saputri, Amelia Oktavia; Nabila Pramana, Tasya
Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2022): Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jppm.v1i3.94

Abstract

Behind the modern technology in the economic field, there are still areas that are lagging behind or experiencing inequality. Such as in the Kramatagung Village area, Bantaran District, Probolinggo Regency. Many SME’s actors still market their products conventionally or from person to person because of the lack of knowledge about the use of the internet and its benefits. The proceeds from these sales are only sufficient to meet daily needs so that the development of SME’s businesses has not been able to increase the scale of production and add jobs. The purpose of this activity is to provide knowledge and understanding of digital marketing to SME’s actors to improve the quality of resources and develop their business, so that SME’s actors can reach consumers more broadly. In the implementation of these community service activities, the methods used are observation, interviews, lectures, discussions, demonstrations and practice. After participating in the digital marketing socialization, it is hoped that SME’s actors can utilize information technology as much as possible to help those who want to develop their business and be able to compete globally with other SME’s actors and can be more active in digital marketing through social media and e-commerce applications to be able to enter the market and reach a wider range of customers. In addition, the progress of Kramatagung Village will be clearly seen when SME’s actors apply the methods we inform you and also the level of the economy in Kramatagung Village will experience significant changes with the digital marketing.
GAMBARAN KECUKUPAN GIZI DAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS SIDOREJO LOR KOTA SALATIGA Davidson, Sarah Melati; Lia, Eka; Dary, Dary
Jurnal Kesehatan Vol 15, No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v15i1.410

Abstract

Kecukupan gizi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses menyusui. Faktanya banyak penelitian yang menemukan ketidakcukupan energi pada ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kecukupan energi, protein, lemak dan karbohidrat serta status gizi ibu menyusui. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan melibatkan 51 responden di Puskesmas Sidorejo Lor, Salatiga. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner wawancara, Food Recall 2x24 jam dan pengukuran antropometri menggunakan timbangan digital dan microtoise. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden mayoritas berstatus gizi normal sebanyak 27 orang (52,9%), sedangkan selebihnya adalah overweight sebanyak 10 orang (19,6%) dan obesity sebanyak 13 orang (25,5%). Tingkat kecukupan energi dan zat gizi makro responden menunjukkan paling rendah berada pada kategori defisit berat. Kecukupan gizi dengan status gizi ibu menyusui tidak memiliki hubungan yang signifikan didapatkan nilai (p0,05). Hal ini dikarenakan responden melakukan pembatasan asupan agar segera menurunkan berat badan. Perlu dikaji lebih lanjut untuk menganalisis variabel lainnya yang mempengaruhi status gizi pada ibu menyusui.Kata Kunci: Menyusui Eksklusif; Ibu Menyusui; Gizi Ibu Menyusui Abstract Adequate nutrition is an important factor that can impact the breastfeeding process. Numerous studies have identified insufficient energy intake among breastfeeding mothers. The objective of this study is to assess the adequacy of energy, protein, fat, and carbohydrates in relation to the nutritional status of breastfeeding mothers. The research methodology employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sampling method utilized an accidental sampling technique, involving 51 respondents from the Sidorejo Lor Health Center in Salatiga. The research instruments included interview questionnaires, repeated recall 24 hours, and anthropometric measurements using digital scales and microtoices. The findings of this study revealed that the majority of respondents had a normal nutritional status, with 27 individuals (52.9%), while the remaining individuals were overweight (10 people, 19.6%) or obese (13 people, 25.5%). The assessment of energy and macronutrient adequacy among the respondents indicated that the lowest category was classified as severe deficit. The study did not find a significant relationship between nutritional adequacy and the nutritional status of breastfeeding mothers (p0.05). This could be attributed to the respondents' self-imposed dietary restrictions to achieve immediate weight loss. Further research is warranted to explore other variables that may influence the nutritional status of breastfeeding mothers. Keywords: Exclusive breastfeeding; Breastfeeding mothers; Nutrition during Breastfeeding
Nutritional Status Assessment Based on BMI-Age and Metabolic Syndrome Status among Adolescents Leba, Elen Kahi; Pandiangan, Margaretha Saurmalis; Anin, Gracentya Marsella Pertiwi; Mangalik, Gelora; Dary, Dary
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6780

Abstract

Adolescents are in a transitional phase that often involves changes in dietary habits and lifestyle, which can significantly affect their nutritional status and increase the risk of metabolic syndrome. This study aimed to identify the nutritional status based on Body Mass Index-for-Age (BMI/A) and metabolic syndrome status among adolescents in Semarang Regency. A quantitative descriptive survey with a cross-sectional approach was conducted at SMA Negeri 1 Pabelan, Semarang Regency, from March to July 2024. A total of 86 students aged 16–18 years were selected using random sampling. Data collection included anthropometric measurements (height, weight, waist circumference) to assess nutritional status and blood tests for glucose, uric acid, and cholesterol levels to identify potential metabolic syndrome. Data analysis was conducted using quantitative descriptions. The results showed that 11.6% of respondents were undernourished and 8.1% were obese. The prevalence of pre-metabolic syndrome was higher among female students (33.7%) compared to male students (16.3%), while metabolic syndrome was more common among males (27.9%) than females (18.6%). In conclusion, most adolescents had a good nutritional status; however, the presence of undernutrition and obesity indicates a risk of metabolic syndrome. Continuous health monitoring and education regarding balanced nutrition and healthy lifestyles are essential to prevent adolescent metabolic disturbances.
Perbedaan Faktor Maternal Sebagai Determinan Stunting Dary, Dary; Davidson, Sarah Melati; Margiyati, Margiyati; Astuti, Yuni; Dayaningsih, Diana; Sari, Novita Wulan; Tauho, Kristiani Desimina; Tampubolon, Rifatolistia; Kalyani, Ratana Subha Putri
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 November 2024
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v5i2.1019

Abstract

Prevalensi stunting di Indonesia tergolong tinggi yaitu 24,4% sehingga harus segera ditangani dan dicegah agar tidak terjadi. Banyak studi menghubungkan stunting dengan dengan faktor maternal karena ibu adalah penentu tersedianya asupan dan perawatan kesehatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan faktor maternal sebagai determinan stunting pada kelompok anak stunting dan tidak stunting. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan membandingkan data pada kelompok kasus dan kontrol. Populasi penelitian yaitu balita usia 24-60 bulan di wilayah kerjasama pelayanan Puskesmas Karanggede. Jumlah sample penelitian sebanyak 30 pada masing-masing kelompok. Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus sampai Oktober 2023. Analisis data menggunakan uji statistik non parametric Mann Whitney untuk menganalisis perbedaan faktor maternal pada kelompok stunting dan tidak stunting. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor maternal yang berbeda secara signifikan antara kelompok stunting dan tidak stunting yaitu tinggi badan ibu (p-value=0,018), pendidikan ibu (p-value=0,000) dan LiLA ibu sebelum hamil subjek (p-value=0,039). Faktor maternal seperti usia ibu ketika menikah, usia ibu ketika hamil subjek, pekerjaan ibu, dan status gizi ibu tidak signifikan berbeda antara kelompok stunting dan tidak stunting (p-value>0,05). Penanganan stunting harus dilakukan secara multipihak dengan memperhatikan faktor maternal.
Stimulasi Perkembangan Sosial Anak Usia Prasekolah Berdasarkan Status Pekerjaan Ibu Dary, Dary; Tampubolon, Rifatolistia; Rumagit, Ribka Ancy
Jurnal LINK Vol 19 No 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v19i2.9550

Abstract

Faktor penentu berhasilnya perkembangan sosial anak adalah pemberian stimulasi dari orang dewasa. Status pekerjaan ibu memengaruhi kualitas pemberian stimulasi bagi anak. Penelitian kualitatif untuk menggali cara ibu menstimulasi perkembangan sosial anak melalui wawancara, sedangkan penelitian kuantitatif untuk mengukur perkembangan sosial anak. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah anak dengan ibu bekerja mendapatkan hasil perkembangan sosial baik (79%), begitu juga dengan anak yang memiliki ibu tidak bekerja mendapatkan hasil perkembangan sosial yang baik (86%). Gambaran stimulasi perkembangan sosial yang diberikan ibu berupa pembagian waktu, memberikan media, berkomunikasi, memperkenalkan anak ke lingkungan luar, dan membebaskan kegiatan anak. Kesimpulan dihasilkan berupa stimulasi yang dilakukan oleh ibu bekerja yaitu membagi waktu, bermain dan berkomunikasi, mengajak anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan membebaskan anak berkegiatan, begitu juga dengan ibu tidak bekerja. Terdapat perbedaan pada waktu, dimana ibu bekerja cenderung lebih singkat dibandingkan ibu tidak bekerja.
Factors influencing the practice of breast self-examination among teenage girls in Salatiga City, Indonesia Tauho, Kristiani Desimina; Dary, Dary; Anshebo, Abebe Alemu; Ondowapo, Magried Paulina
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 14, No 4: December 2025
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v14i4.26834

Abstract

Breast cancer is the second leading cause of cancer-related mortality among women in Indonesia. Early detection improves survival, yet many adolescent girls do not practice breast self-examination (BSE). Evidence on personal barriers among young women remains limited. To analyze knowledge, perceived susceptibility, and barriers to BSE practice among late adolescents in Salatiga, Central Java. A cross-sectional study was conducted in February 2023 among 67 female students aged 18-21 years living in a university dormitory. Data were collected using a self-administered questionnaire based on the Health Belief Model and analyzed with descriptive statistics and logistic regression. Most respondents (70.1%) had received BSE information, mainly from social media (35.8%) and school (32.8%). Barriers included perceiving BSE as unimportant (37.3%), lack of knowledge (35.8%), belief that it was unnecessary without illness (38.8%), and feeling too young (20.9%). Logistic regression identified four predictors of non-practice: lack of knowledge (OR = 0.003, 95% CI: 0.000-0.243, p = 0.010), belief BSE is only needed with symptoms (OR = 0.022, 95% CI: 0.002-0.312, p = 0.005), lack of privacy (OR = 0.026, 95% CI: 0.001-0.946, p = 0.046), and time constraints (OR = 0.064, 95% CI: 0.006-0.701, p = 0.024). Misconceptions, limited knowledge, and social constraints were the main barriers to BSE practice among adolescent girls. Addressing these requires school-based programs, integration of BSE into reproductive health curricula, and community campaigns, while nursing practice should focus on enhancing self-efficacy and normalizing BSE.
Association between Maternal Dietary Patterns and Preeclampsia Incidence: A Cross-Sectional Study at Rehatta Hospital, Indonesia Dary, Dary; Tampubolon, Rifatolistia; Tauho, Kristiani Desimina; Tobing, Tegar Anggiama; Mangalik, Gelora
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i3.771

Abstract

Preeclampsia is a severe pregnancy disorder and causes high maternal mortality rates in Indonesia, with 1,077 cases in 2021. This study aims to investigate the association between maternal dietary patterns and the incidence of preeclampsia, particularly among pregnant women in Jepara Regency, a coastal region. This study is a quantitative correlational study, with the population being all mothers with a gestational age above 20 weeks who underwent examinations at Rehatta Hospital, Jepara Regency. Respondents were determined by consecutive sampling, obtaining 50 pregnant women who underwent pregnancy checks during August-September 2024. Data on maternal dietary patterns were obtained by filling out the FFQ (Food Frequency Questionnaire) sheet. Data on the incidence of preeclampsia were determined based on a doctor's diagnosis. The collected data were analyzed univariately and bivariately using SPSS software. The Pearson test results for carbohydrate diet obtained p-value = 0.001, animal side dishes p-value = 0.001, vegetable side dishes p-value = 0.007, vegetables p-value = 0.001, fruits p-value = 0.001, fast food p-value = 0.001, and drinks p-value = 0.056. Based on the seven nutrients and drinks, high carbohydrate intake, lack of animal side dishes, vegetables, fruit, irregular eating, and fast food consumption have p-values ​​<0.05, meaning maternal diet has a significant relationship with the incidence of preeclampsia. This finding confirms that a balanced diet during pregnancy plays a vital role in preventing preeclampsia. Therefore, monitoring diet and nutritional education for pregnant women needs to be a focus in efforts to prevent preeclampsia in health services