Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menyiapkan Pemimpin Muda Berkarakter dan Bertanggung Jawab di SMP Negeri 62 Maluku Tengah Rivaldo Paul Telussa; Santji Afi Rangkoly; Jasmari Jasmari; Tut Hidayatillah; Suardiman Dayadi; Antonius Awan Asta Adhiprana Whisnubrata; Kevin Andrea Tamaela; Cristiana Normalita De Lima; Deby Siska Bogar; Jean Marzel Ngantung
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.8989

Abstract

Rendahnya pemahaman siswa tentang kepemimpinan berkarakter, tanggung jawab, komunikasi interpersonal, dan pengambilan keputusan menjadi permasalahan utama yang dihadapi SMP Negeri 62 Maluku Tengah. Hasil observasi dan wawancara awal dengan pihak sekolah menunjukkan bahwa sebagian siswa masih kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat, belum aktif dalam kegiatan kelompok, serta belum memiliki kesadaran yang optimal untuk menjadi teladan bagi teman sebaya. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara profil siswa yang diharapkan sekolah dengan kondisi aktual di lapangan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilaksanakan program penguatan kepemimpinan berkarakter melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan siswa secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Program dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan dan identifikasi kebutuhan, pelaksanaan edukasi dan pelatihan, serta evaluasi dan refleksi. Materi yang diberikan meliputi konsep dasar kepemimpinan, kepemimpinan berkarakter, tanggung jawab dan pengambilan keputusan, komunikasi dan kerja sama tim, serta peran siswa sebagai teladan di sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada aspek pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan siswa. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 61,8 pada pre-test menjadi 84,7 pada post-test atau mengalami peningkatan sebesar 37,1%. Selain itu, sebanyak 88% peserta terlibat aktif dalam diskusi dan simulasi, sedangkan 85% peserta mampu menyusun rencana aksi pribadi sebagai bentuk komitmen penerapan nilai-nilai kepemimpinan dalam kehidupan sekolah. Program ini terbukti efektif dalam memperkuat karakter, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan tanggung jawab siswa sebagai calon pemimpin muda di lingkungan sekolah.
PRINCIPAL STRATEGY FOR OPTIMIZING SCHOOL-BASED MANAGEMENT IN A FOUNDATION-RUN HIGH SCHOOL Rivaldo Paul Telussa; Neti Bunai; Maria Ria Butu; Nazar Amrullah; Suardiman Dayadi; Aleks Pigai
EDUCATIONE Volume 4, Issue 2, July 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i2.237

Abstract

School-based management (SBM) requires school-level autonomy to be supported by participation, accountability, role clarity, and the capacity to use limited resources. This qualitative single-case study examines how a principal described and enacted SBM in a foundation-run high school in Nabire, Papua. The principal was the sole primary informant. The available research record indicates that data were collected through an in-depth interview, observation, and document review, although the fieldwork period and detailed collection procedures were not documented. A framework-guided thematic analysis organized the account around planning, resource organization, program implementation, monitoring and evaluation, enabling and constraining conditions, and proposed responses. The principal reported an annual work program, formal task allocation, supervision and teacher-development activities, and periodic evaluation meetings. Implementation was constrained by uneven participation, limited resources, overlapping duties, weak program indicators, and uneven understanding of SBM. Because the research record did not include verbatim quotations or traceable observation and document identifiers, the findings are interpreted as a descriptive managerial account rather than verified evidence of school-wide effectiveness. The study proposes that formal routines become more participatory and learning-oriented when shared understanding, decision rights, role clarity, measurable indicators, and foundation-school accountability are aligned. The findings are analytically transferable to comparable settings but are not statistically generalizable.