Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Gambaran Perilaku Sadari pada Wanita Usia Subur di UPT Puskesmas Tembuku I Bangli: Behavioral Description of Breast Eelf-Examination on Women of Childbearing Age at Public Health Center, Tembuku I Bangli Citrawati, Ni Ketut; Dewi, Ni Luh Putu Thrisna
Bali Medika Jurnal Vol 8 No 2 (2021): Bali Medika Jurnal Vol 8 No 2 Juli 2021
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v8i2.159

Abstract

Background: Breast self-examination (BSE) is one of many ways to detect breast cancer. It is very important because 75-85% of malignancies are detected at the early time. Based on recapitulation data on early detection of breast cancer, the Bali Provincial Health Office in 2018 showed that out of 39,157 women of childbearing age, 236 of them had lumps or tumors in their breast, 44 people were suspected of having cancer and 20 people were diagnosed with breast cancer. Data on Clinical Breast Examination (CBE) shows that the lowest ranking is occupied by Karangasem Regency, namely 1.15% of 60,430 people, the second lowest ranking is in Bangli Regency, which is 2.08% of 43,438 people, and the third is Denpasar city as districts/cities with the highest number of women of childbearing age 30-50 years in Bali, namely 115,143 people, received the third lowest number of breast cancer screening visits, namely 2.46%. Methods: This study uses a quantitative descriptive research design with a cross-sectional approach. Results: The results of this study found that the characteristics of respondents based on age were mostly in the range of 31-40 years old, most had high school education, and most worked as traders. Based on BSE behavior, most of the respondents have good behavior, 17 people (42.5%), 16 people (40%) have less behavior, and the remaining 7 people (17.5%) have moderate behavior. Discussion: BSE is an easy and efficient way to detect breast abnormalities by yourself. In accordance with the theory, it is stated that the high mortality rate of breast cancer is caused by several factors, one of which is knowledge. Conclusion: Most of the respondents have good behavior towards BSE action.
Hubungan dukungan keluarga dan petugas kesehatan dengan pemeriksaan iva pada wanita usia subur (wus) di banjar tegal: The relationship of family and healthcare workers support with iva examination in women of childbearing age (wus) in banjar tegal Yanti, Ni Luh Gede Puspita; Citrawati, Ni Ketut
Bali Medika Jurnal Vol 9 No 2 (2022): Special Issue Bali Medika Jurnal Vol 9 No 2 Oktober 2022
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v9i2.305

Abstract

Kanker leher rahim paling sering menyerang wanita di seluruh dunia yang dapat menyebabkan kematian pada penderitanya. Kanker serviks pada fase awal sering kali tidak menimbulkan adanya gejala, namun bila sudah berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-gejala seperti pendarahan serta keputihan pada vagina yang tidak normal, sakit saat buang air kecil dan rasa sakit saat berhubungan seksual. Deteksi dini perlu dilakukan untuk menekan angka kejadian, salah satunya dengan metode Inspeksi Visual Asetat (IVA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan petugas kesehatan dengan pemeriksaan IVA pada WUS yang dilaksanakan di Banjar Tegal, Desa Kubutambahan Buleleng. Penelitian menggunakan design kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 112 WUS yang diambil dengan teknik purposive sampling. Analisis data bivariate menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga (p=0,000) dan petugas kesehatan (p=0,000) dengan pemeriksaan IVA. WUS yang mendapatkan dukungan dari keluarga dan petugas kesehatan dalam melakukan pemeriksaan IVA akan cenderung bersedia melakukan pemeriksaan IVA secara rutin. Petugas kesehatan diharapkan rutin dalam memberikan pendidikan kesehatan dan memotivasi WUS serta melibatkan keluarga, sehingga cakupan IVA meningkat.   Cervical cancer most often attacks women around the world which can cause death in sufferers. Cervical cancer in the early stages does not often cause any symptoms, but when it has developed into cervical cancer, the symptoms appear such as abnormal vaginal bleeding and discharge, pain when urinating and pain during sexual intercourse. Early detection needs to be done to reduce the incidence, one of them with Visual Inspection with Acetic acid (VIA) method. This research aims to determine the relationship between family and healthcare workers support with VIA examination in WUS which was carried out in Banjar Tegal, Kubutambahan Village, Buleleng. The research used a quantitative design with a cross sectional approach. The research sample was 112 WUS who were taken by purposive sampling technique. Bivariate data analysis using Chi Square test. The results showed that there was a relationship between family (p=0.000) and healthcare workers (p=0.000) support with VIA examination. WUS who get support from their families and healthcare workers in doing VIA examinations will tend to be willing to do VIA examinations routinely. Healthcare workers are expected to routinely give healthcare education and motivate WUS and involve the families, so the VIA coverage increases.
Pemberdayaan Kader Kesehatan Masyarakat Dalam Perawatan Paliatif Di Desa Binaan Peguyangan Kangin Andini, Ni Komang Sukra; Candrawati, Sang Ayu Ketut; Citrawati, Ni Ketut; Subhaktiyasa, Putu Gede; Suniyadewi, Ni Wayan
Jurnal Abdimas ITEKES Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jai.v4i2.688

Abstract

Perubahan angka kematian yang didominasi oleh penyakit non infeksi atau penyakit yang tidak menular menjadi sutu gambaran perubahan transisi epidemiologi pararel, untuk mengatasi fenomena tersebut, maka dibutuhkan perawatan paliatif. Menurut WHO ada lebih dari 40 juta orang di dunia yang membutuhkan perawatan paliatif tetapi hanya 14% yang baru menerima perawatan tersebut. Indonesia masuk ke dalam posisi terujung. Indonesia berada di peringkat 70 dengan tingkat asuhan paliatif terendah, atau hanya 0,1% dari pasien yang membutuhkan asuhan paliatif. Perawatan paliatif tidak hanya berfokus pada pelayanan paliatif di rumah sakit namun saat ini perlu untuk dikembangan perawatan paliatif berbasis komunitas. Perawatan paliatif di lingkungan komunitas tentunya membutuhkan dukungan kader Kesehatan Masyarakat dalam memberikan pengetahuan dan pendampingan terhadap anggota keluarga yang memiliki keluarga dengan kondisi penyakit paliatif. Kader kesehatan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan permasalahan perawatan paliatif baik  yang  dialami  oleh  pasien  maupun  keluarga  maka  perlu  ada  upaya  pemberdayaan  kader  dalam peningkatan   pengetahuan   keperawatan   paliatif   di   wilayah   kerja Puskemas   peguyangan kangin  sangat  diperlukan. Pengabdian masyarakat ini dilakukan di Puskesmas III Denpasar Utara Wilayah Desa Binaan Peguyangan Kangin, Adapun kegiatan yang dilakukan adalah 1.         Melakukan pre test; 2.Penyuluhan kepada kader Kesehatan, Pendidikan  kesehatan yang    diberikan  kepada  kader  adalah  mengenai  konsep  perawatan  paliatif , tugas  dan  fungsi  keluarga  dalam  perawatan  paliatif,  gangguan  psikologis dan pemenuhan   kebutuhan   psikologis   pasien   dan   keluarga   serta   pemenuhan kebutuhan   spiritual   pasien   dan   keluarga   dalam   perawatan paliatif; 3. Melakukan post-test sebagai evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat meningkatkan pengetahuan kader Kesehatan terkait perawatan pasien paliatif yang ditunjukkan melalui nilai post test kader Kesehatan. Berdasarkan hasil pretest diketahui bahwa pengetahuan kader mengenai perawatan paliatif  bahwa pengetahuan baik 20 orang (74%). Post-test pelaksanaan pengabdian menunjukkan peningkatan pengetahuan kader terkait perawatan paliatf sebanyak 25 orang (89%) pengetahuan kader baik. Selain itu kader juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman terkait perawatan pasien paliatif. Pengetahuan kader Kesehatan terkait perawatan paliatif diharapkan mampu digunakan untuk mendampingi anggota posyandu yang memiliki keluarga dengan kondisi penyakit paliatif. Kata kunci : Pemberdayaan, kader kesehatan, perawatan paliatif
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANC TERHADAP KUNJUNGAN ANC DI PUSKESMAS TAMPAKSIRING II Citrawati, Ni Ketut; Laksmi, I Gusti Ayu Putu Satya
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol. 8 No. 2 (2021): Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Bagian Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKS.V8i2.15299

Abstract

Tujuan: Angka kematian ibu di Indonesia tetap didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan dan infeksi. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil tentang ANC terhadup kunjungan ANC di Puskesmas Tampaksiring II. Metode: Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 30 responden ibu hamil. Analisis data menggunakan saphiro wilk. Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Tampaksiring II. Hasil: Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa dari 30 responden 25 (83,3%) responden memiliki pengetahuan baik dengan melakukan kunjungan antenatal care teratur sedangan 5 (16,7 %) responden memiliki pengetahuan kurang dengan melakukan kunjungan antenatal care tidak teratur. Hasil uji statistik dapat diketahui p value sebesar 0,00 yang artinya bahwa p value < α 0,05, maka secara statistik ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care terhadap kunjungan antenatal care di Puskesmas Tampaksiring II. Simpulan: Bagi ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang ANC sehingga ibu hamil lebih tahu pengertian, manfaat dan tujuan ANC dan menjadikan motivasi supaya ibu hamil patuh melaksanakan ANC
HUBUNGAN KEBIASAAN MENGKONSUMSI MAKANAN SIAP SAJI DENGAN SIKLUS MENSTRUASI REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 1 GIANYAR Artami, Ni Kadek Nia; Andini, Ni Komang Sukra; Citrawati, Ni Ketut
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 11 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v11i2.886

Abstract

Masa remaja merupakan masa perubahan biologis, pada perempuan khusunya saat mengalami menstruasi yang akan berulang tiap bulannya atau disebut siklus menstruasi. UNICEF menyatakan kejadian gangguan siklus menstruasi pada perempuan mencapai sekitar 55% di dunia. Salah satu penyebab gangguan siklus menstruasi terjadi ialah karena kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji atau pola makan yang tidak sehat, status gizi yang kurang maupun lebih akan dapat menyebabkan hipotalamus gagal merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk memproduksi hormon repsroduksi FSH dan LH yang berperan penting dalam siklus menstruasi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji dengan siklus menstruasi remaja putri di SMA Negeri 1 Gianyar. Jenis Penelitian ini yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling jenis proportioned stratified random sampling dan didapatkan jumlah responden sebanyak 263 orang. Berdasarkan hasil yang didapatkan kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji dengan kategori sering sebanyak (60,5%) dan siklus menstruasi dengan kategori tidak teratur sebanyak (51,7% ). Pada hasil uji Chi-Square didapatkan angka p-value sebesar 0,000 (kurang dari 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji dengan siklus menstruasi remaja putri. Remaja putri penting untuk memahami cara menjaga kesehatan reproduksi sejak dini dan berperan aktif dalam mengatur pola makan yang lebih baik untuk menjaga siklus menstruasi yang stabil.
Spiritual Leadership Enhances Caring Behaviour: The Mediating Role of Calling Candrawati, Sang Ayu Ketut; Sriani, Ni Kadek Ayu; Subhaktiyasa, Putu Gede; Andini, Ni Komang Sukra; Putri, Ni Luh Nova Dilisca Dwi; Citrawati, Ni Ketut; Andriany, Megah
Nurse Media Journal of Nursing Vol 14, No 2 (2024): (August 2024)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v14i2.58964

Abstract

Background: Caring behaviour is essential for patient health; however, it is often not practised optimally. Therefore, spiritually-based leadership is required to encourage this behaviour. Unfortunately, research investigating the ability of spiritual leadership to enhance caring behaviour through spiritual well-being is limited.Purpose: This study aimed to examine the impact of spiritual leadership and spiritual well-being in the form of calling and membership on caring behaviour.Methods: This study employed an explanatory quantitative design with a cross-sectional approach. One hundred fourteen inpatient nurses who provided comprehensive patient care were selected using a total sampling technique. Data were collected using the Spiritual Leadership Questionnaire and the Caring Behaviours Inventory. The analysis adopted partial least squares structural equation modelling (PLS-SEM) using a second-order reflective-formative model.Results: The findings demonstrate that spiritual leadership has a significant direct effect on caring behaviour (t=3.976, p=0.000), calling (t=4.672, p=0.000), and membership (t=2.845, p=0.005). However, the direct impact of membership on caring behaviour was insignificant (t=1.298, p=0.194). Calling proved to mediate the effects of spiritual leadership on caring behaviour (t=3.145, p=0.002), while membership could not function as a mediator (t=1.197, p=0.231).Conclusion: This study emphasizes the importance of spiritual leadership in nursing care, particularly in enhancing nurses’ caring behaviours. Healthcare organizations should implement training programs on spiritual leadership to encourage calling nurses to perform their duties with dedication. Developing nurse membership should be considered, but the main focus must be on strategies that strengthen nurses’ calling, as this is an essential factor in providing quality and empathetic care.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Penanganan Dismenore Secara Non Farmakologi Apriliani, Ni Kadek Ira; Citrawati, Ni Ketut
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 1 (2025): Februari 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i1.1675

Abstract

Dismenore merupakan permasalahan yang sering membuat aktivitas belajar pada remaja putri di sekolah terganggu. Kondisi ini juga berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi remaja. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan dismenore, namun tidak semua remaja memiliki pengetahuan yang baik terkait penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore secara non farmakologi di SMA Negeri 8 Denpasar. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling yaitu proportionate stratified random sampling yang melibatkan 212 sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian didapatkan mayoritas responden berusia 16 tahun yaitu sebanyak 112 orang (52,8%), mengalami menstruasi selama 5 hari sebanyak 87 responden (41,0%), dan penanganan dismenore dengan cara beristirahat sebanyak 103 responden (48,6%). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang cukup, yaitu sebanyak 142 responden (67,0%), baik sebanyak 45 responden (21,2%), dan kurang sebanyak 25 responden (11,8%). Tingkat pengetahuan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya sumber informasi yang diberikan oleh sekolah yang belum merata tentang penanganan dismenore secara non farmakologi.
Optimalisasi Kemandirian Kader dalam Penurunan Scabies melalui PHBS di Rumah Tahanan Kelas IIB Bangli Candrawati, Sang Ayu Ketut; Citrawati, Ni Ketut; Andini, Ni Komang Sukra; Subhaktiyasa, Putu Gede
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 6 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v6i2.784

Abstract

The complex challenges in improving the health and welfare of prisoners at the Bangli Class IIB Detention Center demand a concrete response. Government Regulation No. 32/1999 affirms the right of every prisoner to obtain proper health services. One of the health problems that arise due to the crowded room occupancy is skin diseases, such as Scabies. To overcome the transmission of the disease, the first step that needs to be taken is the formation of Health Cadres. This Health Cadre Development activity aims to improve the health of WBP through counseling and training. This PKMS activity aims to improve the health of correctional prisoners (WBP) through the development of health cadres. The method used is Community-Based Interactive Approach (CBIA), WBP is actively involved in counseling and training related to clean and healthy living behavior (PHBS) and handling of Scabies skin disease in detention centers. The results of the activity showed an increase in knowledge and positive attitudes related to PHBS and the role of health cadres among prisoners. In conclusion, the formation of inmate health cadres can be a potential solution in efforts to prevent and manage diseases and improve the quality of life in detention centers
Gambaran Pengetahuan, Sikap, Motivasi Ibu Dan Dukungan Suami Berkaitan Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Citrawati, Ni Ketut; Candra Dharma, I Dewa Gede
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): JURNAL KESEHATAN
Publisher : STIKES Ngesti Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46815/jk.v14i1.354

Abstract

Exclusive breastfeeding has benefits for both babies and mothers. For babies, the nutrients contained in breast milk contain bioactive components that can protect babies from infection, thereby reducing the risk of infections in children such as pneumonia, diarrhea, and intestinal diseases. The purpose of this study was to determine the knowledge, attitudes, motivation of mothers, and support of husbands related to exclusive breastfeeding in babies aged 6-12 months. The method used in this study was descriptive research with a cross-sectional approach. This study was conducted at Ganesha General Hospital from February to March 2024. The subjects in this study were 30 mothers who had infants aged 6-12 months. Data collection was carried out using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. The results obtained on mothers' knowledge about exclusive breastfeeding showed that 30 respondents (100%) had good knowledge. Regarding mothers' attitudes towards exclusive breastfeeding, the majority of mothers had a fairly good attitude, namely 22 respondents (73.3%). The majority of mothers had good motivation in providing exclusive breastfeeding, namely 30 people (100%). In terms of support from husbands, 27 respondents (90%) received good support. In terms of the attitude of health workers in providing information related to exclusive breastfeeding, most respondents received a good attitude, namely 20 respondents (67%). Conclusion: The majority of mothers have good knowledge, support from their husbands, and motivation. The attitudes of mothers and health workers are considered adequate. It is hoped that the community will be able to maintain their knowledge, support from husbands, and motivation in providing exclusive breastfeeding, as well as improve the attitudes of mothers and health workers regarding exclusive breastfeeding.