Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Kemplang Bakar sebagai Cemilan Sehat Berbasis Pangan Lokal untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat dan Pencegahan Stunting di Desa Tahtul Yaman, Jambi Hafizah Hafizah; Anna Anggraini; Denok Tri Hardiningsih; Muhammad Alim Pramadya; Muhammad Irfan Meydiansyah; Uswatun Hasanah Nursal; Deputra Bintang Herlambang; M. Daffa Ayury Merbawanto; Zilzikridini Wijayanti; Zahra Frizki Asty; Deki Irawan
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 8 (2026): SWARNA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Agustus, 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v5i8.3934

Abstract

Desa Tahtul Yaman, Kota Jambi, menghadapi tantangan ganda berupa pembatasan ekonomi kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) dan risiko stunting pada anak balita. Salah satu potensi ekonomi warga adalah usaha kerupuk kemplang bakar berbahan dasar ikan tenggiri yang kaya protein, namun tetap diproduksi secara tradisional dengan kapasitas rendah (7 bungkus/jam) dan bergantung pada cuaca untuk pengeringan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mentransformasi kemplang bakar menjadi camilan sehat berbasis pangan lokal sebagai instrumen penguatan ekonomi sekaligus pencegahan stunting. Metode pelaksanaannya meliputi lima tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan manajemen dan pemasaran digital, penerapan teknologi (mesin oven pengering multiguna dan tungku pemanggang standar), pendampingan, serta evaluasi program kemiskinan yang dilaksanakan selama delapan bulan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas produksi dari 7 menjadi 10-14 bungkus per jam, penurunan waktu pengeringan dari dua hari menjadi sekitar delapan jam, serta seluruh mitra tidak mampu membuang keuangan usaha dan menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Rebranding kemasan dan pemasaran digital melalui media sosial memperluas jangkauan pasar hingga wisatawan di kawasan Gentala Arasy. Program ini juga mendorong terbentuknya Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai wadah keinginan usaha. Kegiatan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat guna yang terintegrasi dengan usaha manajemen dan edukasi gizi mampu meningkatkan pendapatan mitra sekaligus berkontribusi pada pencegahan stunting berbasis pangan lokal.
Efek Minuman Ringan Berkarbonasi terhadap Struktur Histopatologi Ginjal pada Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Inne Fioren Monica; Hasna Dewi; Raihanah Suzan; Fairuz Quzwain; Zahra Frizki Asty
Jurnal Ventilator Vol. 4 No. 3 (2026): September : Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v4i3.2715

Abstract

Consumption of carbonated soft drinks continues to increase in Indonesia. These beverages contain high levels of fructose, phosphoric acid, and various additives that may induce kidney damage through oxidative stress and metabolic dysfunction. This study aimed to evaluate the effects of carbonated soft drink administration at different doses on the renal histopathological structure of male white rats (Rattus norvegicus). This experimental study involved 24 male Wistar rats divided into four groups: a negative control (distilled water), treatment 1 (3 mL/day), treatment 2 (7 mL/day), and treatment 3 (10 mL/day) for 30 days. Renal histopathological examination was performed using hematoxylin–eosin staining at 400× magnification. Data were analyzed using the Kruskal Wallis test followed by the Post Hoc Mann-Whitney test. Significant differences in renal histopathological changes were observed between the control group and all treatment groups (p < 0.001). The observed changes included inflammatory cell infiltration, Bowman’s space edema, and tubular epithelial cell swelling. However, no significant differences were found among the treatment groups (p > 0.05). These findings indicate that carbonated soft drinks can induce renal histopathological changes even at the lowest dose, although increasing the dose did not produce a linear dose–response relationship.