Su’udi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Paparan Debu Industri Batu Giling Dan Kejadian Ispa Pada Balita Di Desa Sumurgung Wilayah Kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban Bilqis Naila Salsabila; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2378

Abstract

Balita merupakan kelompok yang rentan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat belum matangnya sistem imunologis dan anatomis saluran pernapasan secara sempurna. Polusi partikulat di kawasan industri batu giling disinyalir menjadi salah satu determinan utama pemicu gangguan respirasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran paparan debu industri batu giling dan Kejadian ISPA pada balita di Desa Sumurgung wilayah kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi studi mencakup seluruh ibu yang memiliki anak balita sebanyak 134 orang, dengan penarikan sampel sebanyak 100 responden melalui teknik probability random sampling. Variabel yang diukur meliputi tingkat paparan debu industri batu giling dan kejadian ISPA pada balita. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur serta lembar observasi rekam medis, yang selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar ibu berusia 31 – 45 tahun,hampir setengah ibu berpendidikan SMA, sebagian besar ibu tidak bekerja. Hampir setengah balita berada di lingkungan paparan debu dengan kategori tinggi, sebagian besar balita mengalami ISPA, sebagian besar balita dengan paparan debu tinggi mengalami ISPA. Secara spesifik, mayoritas kasus ISPA ditemukan pada klaster balita yang menghadapi paparan debu tingkat tinggi. Pajanan partikulat dalam proksimitas yang dekat dengan pusat industri memperbesar risiko ISPA pada balita akibat keterbatasan proteksi imunitas tubuh. Berdasarkan temuan ini, masyarakat di sekitar area industri diimbau untuk mengeskalasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan pemantauan kesehatan berkala ke fasilitas medis, serta mengoptimalkan pemenuhan nutrisi balita guna meningkatkan daya tahan tubuh anak.
Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien TB Paru Di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban Dewi Nuryani; Su’udi; Titik Sumiatin; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2383

Abstract

Tingginya angka kejadian tuberkulosis paru menjadikan penyakit ini sebagai persoalan kesehatan yang terus memerlukan perhatian serius, mengingat proses penyembuhannya menuntut waktu yang tidak singkat serta rentan memicu gangguan pada sisi fisik, kejiwaan, hingga relasi sosial pasien, yang pada akhirnya menggeser kualitas hidupnya. Dalam perjalanan terapi, tidak jarang pasien mendapati dirinya terbatas dalam bergerak, mengalami gejolak perasaan, dan kehilangan sebagian produktivitas yang biasa dijalani. Di titik inilah kehadiran keluarga memberi arti penting, sebab dorongan semangat, perhatian, dan bantuan yang mereka berikan turut menopang pasien untuk bertahan menjalani seluruh proses pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien TB paru di Puskesmas Wire Tuban. Studi analitik korelasional dengan rancangan cross-sectional ini mengevaluasi hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup penderita TB paru. Sebanyak 81 pasien yang merupakan keseluruhan populasi dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Data yang diperoleh melalui kuesioner dianalisis menggunakan uji Spearman Rank (α = 0,05.). Temuan lapangan menunjukkan bahwa mayoritas responden menerima dukungan keluarga kategori baik (80,2%) dan memiliki kualitas hidup yang baik (81,5%). Analisis statistik menghasilkan nilai r = 0,424 dengan p-value <0,001, yang membuktikan adanya keterkaitan signifikan antara kedua variabel. Peran aktif keluarga terbukti memicu motivasi, kepatuhan terapi, serta stabilitas emosional pasien, sehingga berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup mereka.
Dukungan Keluarga Dengan Terjadinya Komplikasi Pada Pasien Hipertensi Peserta Prolanis Di Puskesmas Semanding Putri Rahmawati Ningsih; Su’udi; Titik Sumiatin; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2401

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dikontrol dengan baik. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membantu pasien mengelola penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan terjadinya komplikasi pada pasien hipertensi peserta prolanis di Puskesmas Semanding. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi peserta prolanis, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga diperoleh 40 responden. Variabel independen adalah dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah terjadinya komplikasi hipertensi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil uji statistik Fisher's Exact Test menunjukkan nilai signifikansi p-value = 0,009 dengan p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan terjadinya komplikasi pada pasien hipertensi peserta prolanis di Puskesmas Semanding. Diskusi: Dukungan keluarga yang kurang baik berhubungan dengan terjadinya komplikasi pada pasien hipertensi. Untuk mencegah komplikasi hipertensi, penting meningkatkan keterlibatan keluarga dalam mendukung pengelolaan penyakit dan kepatuhan pasien terhadap perawatan kesehatan.
Pengetahuan Dan Sikap Pasien Tuberkulosis Paru Tentang Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Sumurgung Yella Yunda Yuana; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2403

Abstract

Tuberkulosis Paru merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) memerlukan waktu yang lama dan berpotensi menimbulkan efek samping yang dapat memengaruhi kepatuhan pasien. Pengetahuan dan sikap pasien terhadap efek samping OAT berperan penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap pasien Tuberkulosis Paru tentang efek samping Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Sumurgung. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 40 pasien Tuberkulosis Paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi serta tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 19 responden (47,5%), sedangkan sebagian besar memiliki sikap kurang sebanyak 28 responden (70,0%). Tabulasi silang menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan pengetahuan cukup memiliki sikap kurang terhadap efek samping OAT sebanyak 16 responden (84,2%), sedangkan paling sedikit terdapat pada responden dengan pengetahuan kurang dan sikap baik sebanyak 2 responden (16,7%). Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang cukup belum diikuti oleh sikap yang baik terhadap efek samping OAT. Sikap pasien dipengaruhi tidak hanya oleh pengetahuan, tetapi juga oleh pengalaman, lingkungan, dan faktor emosional. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan diperlukan untuk membentuk sikap positif sehingga kepatuhan pengobatan tetap terjaga dan keberhasilan terapi Tuberkulosis Paru dapat tercapai.
Self-Efficacy Dengan Manajemen Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban Berliana Kartika Putri; Titik Sumiatin; Su’udi; Wahyuningsih Triana Nugrahaeni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2404

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan manajemen perawatan diri yang baik untuk mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Manajemen perawatan diri meliputi berbagai upaya yang dilakukan secara mandiri oleh penderita dalam mengelola kondisi kesehatannya. Namun, pada kenyataannya, manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus masih tergolong rendah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh anggota prolanis yang menderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban yang berjumlah 65 penderita diabetes melitus, dengan sampel 56 penderita yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Self-Efficacy, sedangkan variabel dependen adalah manajemen perawatan diri. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Diabetes Management Self-Efficacy Scale (DMSES) dan Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki Self-Efficacy tinggi (57,1%) dan sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki manajemen perawatan diri baik (60,7%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai P-Value < 0,001, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara Self-Efficacy dengan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban. Self-Efficacy memiliki peran penting dalam meningkatkan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus. Semakin tinggi Self-Efficacy yang dimiliki penderita, semakin baik kemampuan mereka dalam melakukan perawatan diri sehingga dapat membantu mencegah komplikasi diabetes melitus.
Tingkat Kecemasan Dengan Mekanisme Koping Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban Amanda Sulistiowati; Titik Sumiatin; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2405

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang dapat menimbulkan kecemasan pada pasien. Tingkat kecemasan yang dialami pasien dapat mempengaruhi mekanisme koping yang digunakan dalam menghadapi kondisi penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien penyakit jantung koroner di poli jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah 200 pasien penyakit jantung koroner di poli jantung RSUD dr. R Koesma Tuban. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah 133 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan, sedangkan variabel dependen adalah mekanisme koping. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Kemudian data dianalisa menggunakan Chi-Square dengan tingkat signifikasi α = 0,05. Hampir separuhnya (28,6%) pasien penyakit jantung koroner mengalami kecemasan sedang dan sebagian besar (59,4%) pasien penyakit jantung koroner melakukan mekanisme koping maladaptif. Berdasarkan uji Chi-Square didapatkan nilai p = 0,000 (<0,05) yang membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien penyakit jantung koroner di poli jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecemasan berperan penting dalam menentukan kemampuan pasien beradaptasi terhadap penyakit yang dideritanya, dukungan keluarga, edukasi kesehatan, dan pendampingan tenaga kesehatan diperlukan untuk membantu pasien mengelola kecemasan serta meningkatkan penggunaan mekanisme koping adaptif sehingga dapat mendukung keberhasilan pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit jantung koroner.
Self-Efficacy Dengan Manajemen Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban Berliana Kartika Putri; Titik Sumiatin; Su’udi; Wahyuningsih Triana Nugrahaeni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2414

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan manajemen perawatan diri yang baik untuk mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Manajemen perawatan diri meliputi berbagai upaya yang dilakukan secara mandiri oleh penderita dalam mengelola kondisi kesehatannya. Namun, pada kenyataannya, manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus masih tergolong rendah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh anggota prolanis yang menderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban yang berjumlah 65 penderita diabetes melitus, dengan sampel 56 penderita yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Self-Efficacy, sedangkan variabel dependen adalah manajemen perawatan diri. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Diabetes Management Self-Efficacy Scale (DMSES) dan Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki Self-Efficacy tinggi (57,1%) dan sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki manajemen perawatan diri baik (60,7%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai P-Value < 0,001, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara Self-Efficacy dengan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban. Self-Efficacy memiliki peran penting dalam meningkatkan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus. Semakin tinggi Self-Efficacy yang dimiliki penderita, semakin baik kemampuan mereka dalam melakukan perawatan diri sehingga dapat membantu mencegah komplikasi diabetes melitus.
Stigma Sosial Dengan Kualitas Hidup Pasien TB Paru Diwilayah Kerja Puskesmas Tuban Mochamad Syifa’ul Qolbi; Titik Sumiatin; Su’udi; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2421

Abstract

Latar Belakang: Penyakit tuberkulosis paru sampai saat ini masih menempati posisi sebagai salah satu permasalahan kesehatan utama di Indonesia dan tergolong sebagai penyakit menular. Selain menimbulkan gangguan fisik, pasien TB paru sering mengalami stigma sosial dari lingkungan sekitar. Stigma sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, serta kualitas hidup penderita. Oleh sebab itu, penting guna mengetahui hubungan stigma sosial dengan kualitas hidup pasien TB paru untuk menjadikan hal yang esensial guna mendukung peningkatan layanan kesehatan secara holistik. Metode : Penelitian ini dirancang menggunakan metode korelasional dengan melalui cross-sectional. Populasi target mencakup seluruh penderita TB paru yang terdaftar berobat di Puskesmas Tuban sepanjang bulan Mei 2026. Melalui teknik total sampling, penelitian ini melibatkan 51 responden sebagai sampel. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stigma sosial sebagai variabel independen dengan kualitas hidup penderita TB paru sebagai variabel dependen. Pengukuran data menggunakan kuesioner khusus terkait stigma sosial dan kualitas hidup, yang selanjutnya diuji secara statistik dengan Spearman Rank pada batas signifikansi α = 0,05. Hasil : Temuan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh (87,2%) mengalami stigma sosial sedang dan hampir seluruh (88,2%) Kualitas hidup baik. Hasil uji korelasi Spearman Rank menghasilkan nilai signifikansi p = 0,457 (p > 0,05). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya korelasi statistik yang signifikan antara stigma sosial dengan kualitas hidup pasien TB paru di area kerja Puskesmas Tuban. Simpulan : Tidak ditemukannya hubungan signifikan antara kedua variabel ini menandakan bahwa stigma sosial bukanlah satu-satunya faktor penentu kualitas hidup pasien TB paru. Terdapat indikator lain yang juga memegang peranan penting, diantaranya adalah dukungan keluarga, tingkat kepatuhan terapi pengobatan, kondisi fisik pasien, serta pelayanan dari tenaga kesehatan. Meskipun demikian, upaya pengurangan stigma tetap diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial pasien TB paru.
Pola Asuh Orang Tua Dengan Tingkat Depresi Remaja Kelas XI SMA Negeri 2 Tuban Eryna Febriyanti; Titik Sumiatin; Su’udi; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2422

Abstract

Latar Belakang: Depresi dikategorikan sebagai salah satu isu kesehatan mental yang signifikan di kalangan remaja dan semakin meningkat secara global. Menurut laporan World Health Organization (2023), tingkat prevalensi depresi yang terjadi pada remaja rentang usia 15-19 tahun mencatatkan angka sebesar 3,4%. Sementara di Indonesia, depresi tercatat dialami sekitar 1,4% populasi, dengan rentang usia 15-24 tahun sebagai kelompok masyarakat yang paling berisiko. Di antara beragam faktor psikososial yang ada, pola asuh orang tua memegang peranan penting terhadap munculnya depresi pada remaja. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dan tingkat depresi pada remaja kelas XI di SMA Negeri 2 Tuban. Metode : Penelitian ini menerapkan rancangan kuantitatif korelasional melalui pendekatan cross-sectional serta pengumpulan data secara retrospektif. Populasi penelitian berjumlah 323 remaja, sampel yang diambil berjumlah 179 remaja. Penentuan sampel dilakukan melalui metode random sampling yang memanfaatkan kuesioner Google Form, yang kemudian dianalisis menggunakan pengujian statistik Chi-Square. Hasil : Berdasar dari hasil penelitian diketahui hampir seluruh responden (86,0%) memiliki orang tua yang pola asuhnya demokratis, hampir seluruh responden (84,4%) tidak mengalami depresi dan sebagian kecil (15,1%) mengalami depresi ringan. Adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat depresi pada remaja terkonfirmasi melalui hasil uji Chi-Square yang memperoleh nilai p< 0,001 (p < 0,05). Simpulan : Hampir seluruh orang tua dari remaja kelas XI SMA Negeri 2 Tuban menerapkan pola asuh demokratis sehingga hampir seluruh remaja tidak mengalami depresi. Pola asuh demokratis terbukti berperan dalam menjaga kesehatan mental remaja. Hal ini dipengaruhi oleh layanan sekolah berupa Bimbingan Konseling (BK) yang berperan memberikan edukasi parenting dan fasilitas terkait perkembangan akademik murid.
Pola Konsumsi Garam Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Palang Qurrota A’yuni; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2428

Abstract

Hipertensi adalah salah satu penyakit yang tidak menular dan menjadi isu kesehatan yang signifikan, terutama di kalangan orang tua. Salah satu penyebab risiko yang berpengaruh besar adalah tingginya asupan garam. Kelebihan natrium dapat menyebabkan penahanan cairan dan kenaikan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki keterkaitan antara pola penggunaan garam dan insiden hipertensi dikalangan lansia di area kerja Puskesmas Palang. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain analisis korelasional serta pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah Puskesmas Palang dengan total sampel sebanyak 107 lansia. Prosedur pengambilan sampel diterapkan dengan metode yang disesuaikan berdasarkan kriteria inklusi. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis untuk mengidentifikasi hubungan antara pola konsumsi garam yang berfungsi sebagai variabel independen dan kejadian hipertensi sebagai variabel dependen. Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas orang tua yang memiliki pola asupan garam dalam kategori tinggi (70,1%) dan sebagian besar menderita hipertensi (68,2%). Tabulasi silang mengindikasi bahwa di antara lansia dengan konsumsi garam tinggi, sebagian besar mengalami hipertensi. Ini memperlihatkan adanya keterkaitan antara pola konsumsi garam dengan terjadinya hipertensi pada orang tua. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa tingginya asupan garam berkontribusi signifikan terhadap peningkatan insiden hipertensi pada lansia. Kondisi ini menegaskan perlunya upaya edukasi dan pengendalian pola makan, khususnya pembatasan asupan garam, sebagai langkah pencegahan hipertensi.