Gita Cahya Eka Darma
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Karakterisasi Fisik dan Identifikasi Senyawa pada Minyak Tamanu (Calophyllum inophyllum L.) Dhevina Rizka Permana; Hanifa Rahma; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy 121 - 128
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24575

Abstract

Abstract. Tamanu oil (Calophyllum inophyllum L.) is a widely used vegetable oil due to its content of various bioactive compounds; therefore, its physical characterization and the identification of its compounds are necessary to determine its quality and the profile of its constituent components. This study aims to characterize the physical properties and identify the compounds contained in tamanu oil. The study was conducted experimentally through organoleptic testing, specific gravity, and refractive index as physical characterization parameters, while compound identification was performed using Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). The characterization results showed that tamanu oil is a viscous, greenish liquid with a distinctive odor, a specific gravity of 0.936 ± 0.0005 g/mL, and a refractive index of 1.476. GC-MS analysis identified four major compounds: palmitic acid, linoleic acid, oleic acid, and stearic acid. The results of both physical characterization and compound identification indicate that the tamanu oil used in this study exhibits characteristics consistent with those of tamanu oil in general. This study is expected to provide baseline data on the physical characteristics and chemical profile of tamanu oil, which can serve as a reference for future research and the development of tamanu oil-based products. Abstrak. Minyak tamanu (Calophyllum inophyllum L.) merupakan salah satu minyak nabati yang banyak dimanfaatkan karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, sehingga karakterisasi fisik dan identifikasi senyawanya perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas serta profil komponen penyusunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat fisik dan mengidentifikasi senyawa yang terkandung dalam minyak tamanu. Penelitian dilakukan secara eksperimental melalui pengujian organoleptik, berat jenis, dan indeks bias sebagai parameter karakterisasi fisik, sedangkan identifikasi senyawa dilakukan menggunakan metode Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa minyak tamanu berbentuk cairan kental, berwarna kehijauan, dan berbau khas, dengan berat jenis sebesar 0,936 ± 0,0005 g/mL dan indeks bias sebesar 1,476. Analisis GC-MS mengidentifikasi empat senyawa utama, yaitu asam palmitat, asam linoleat, asam oleat, dan asam stearat. Hasil karakterisasi fisik dan identifikasi senyawa menunjukkan bahwa minyak tamanu yang digunakan memiliki karakteristik yang sesuai dengan karakteristik minyak tamanu pada umumnya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar mengenai karakteristik fisik dan profil senyawa minyak tamanu yang dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam penelitian maupun pengembangan produk berbahan dasar minyak tamanu.
Formulasi Gel patch Bawang Putih Hitam (Allium sativum L.) Rani Ratnasari; Gita Cahya Eka Darma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 217 - 226
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24720

Abstract

Abstract. Black garlic (Allium sativum L.) is a fermented garlic product with more stable bioactive compounds and promising potential as an active ingredient in topical dosage forms. This study aimed to obtain the optimum formulation of a black garlic gel patch by optimizing the combination of hydroxypropyl methylcellulose (HPMC K100) and Carbopol 904 using a Design of Experiments (DoE) approach. An experimental study employing a factorial design was conducted using RStudio, with HPMC K100 (2–6%) and Carbopol 904 (0.5–2%) as formulation factors, while thickness, homogeneity, and swelling index were selected as optimization responses. The optimum formulation was further evaluated for organoleptic properties, thickness, weight, homogeneity, folding endurance, elongation at break, tensile strength, pH, swelling index, and physical stability. The results demonstrated that the combination of HPMC K100 and Carbopol 904 significantly affected all optimization responses (p < 0.05). The optimum formulation consisted of 2% HPMC K100 and 0.5% Carbopol 904, with a desirability value of 0.389. The optimized gel patch exhibited a thickness of 0.6 mm, a pH of 5.18, a swelling index of 135.53%, an elongation at break of 97.5%, and a tensile strength of 0.48 N/mm², and remained physically stable after six heating–cooling cycles. The optimum formulation fulfilled the required physical characteristics of a gel patch. Abstrak. Bawang putih hitam (Allium sativum L.) merupakan hasil fermentasi bawang putih yang memiliki kandungan senyawa bioaktif lebih stabil serta berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif sediaan topikal. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula optimum gel patch bawang putih hitam melalui optimasi kombinasi Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC K100) dan Carbopol 904 menggunakan metode Design of Experiment (DoE). Penelitian eksperimental dilakukan dengan desain faktorial menggunakan RStudio, dengan HPMC K100 (2–6%) dan Carbopol 904 (0,5–2%) sebagai faktor, sedangkan respon optimasi meliputi ketebalan, homogenitas, dan swelling index. Formula optimum selanjutnya dievaluasi meliputi organoleptik, ketebalan, bobot, homogenitas, ketahanan lipat, elongation at break, tensile strength, pH, swelling index, dan stabilitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi HPMC K100 dan Carbopol 904 berpengaruh signifikan terhadap seluruh respon optimasi (p<0,05). Formula optimum diperoleh pada HPMC K100 2% dan Carbopol 904 0,5% dengan nilai desirability 0,389. Formula tersebut memiliki ketebalan 0,6 mm, pH 5,18, swelling index 135,53%, elongation at break 97,5%, tensile strength 0,48 N/mm², serta stabil selama enam siklus heating–cooling. Formula optimum memenuhi persyaratan karakteristik fisik gel patch.
Formulasi Sheet Mask Bioselulosa dari Kulit Nanas (Ananas Comosus (L.) Merr.) A. Mutiara Febriani; Gita Cahya Eka Darma; Hanifah Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 407 - 414
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25004

Abstract

Abstract. The increasing use of sheet masks has encouraged the development of materials with superior essence absorption and retention capabilities while being environmentally friendly. Bacterial cellulose is a promising biomaterial for sheet mask substrates, whereas pineapple peel (Ananas comosus (L.) Merr.) can be utilized as a fermentation medium due to its nutrient content that supports the growth of cellulose-producing bacteria. This study aimed to formulate a bacterial cellulose-based sheet mask from pineapple peel and evaluate its physical characteristics. An experimental laboratory method was employed by fermenting pineapple peel filtrate using Acetobacter xylinum, followed by purification, sterilization, sheet mask fabrication, and bacterial cellulose characterization. The evaluated parameters included organoleptic properties, thickness, pH, swelling ratio, tensile strength, and elongation at break. The data were analyzed descriptively by comparing the obtained results with relevant literature. The results showed that the produced bacterial cellulose was colorless, odorless, and elastic, with an average thickness of 0.545 ± 0.005 mm, pH ranging from 7.05 to 7.14, a swelling ratio of 48.48–52.31%, a tensile strength of 14.68 N/mm², and an elongation at break of 31%. These findings indicate that bacterial cellulose derived from pineapple peel has the potential to be used as a sheet mask material with favorable physical characteristics while promoting the utilization of agricultural waste as an environmentally friendly cosmetic biomaterial. Abstrak. Peningkatan penggunaan sheet mask mendorong pengembangan material yang memiliki kemampuan menyerap dan mempertahankan essence lebih baik serta ramah lingkungan. Bioselulosa merupakan biomaterial yang berpotensi digunakan sebagai bahan dasar sheet mask, sementara kulit nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) dapat dimanfaatkan sebagai media fermentasi karena mengandung nutrisi yang mendukung pertumbuhan bakteri penghasil selulosa. Penelitian ini bertujuan memformulasikan sheet mask berbahan dasar bioselulosa dari kulit nanas serta mengevaluasi karakteristik fisiknya. Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium melalui fermentasi filtrat kulit nanas menggunakan Acetobacter xylinum, dilanjutkan dengan pemurnian, sterilisasi, pembentukan lembaran sheet mask, dan karakterisasi bioselulosa. Parameter yang dievaluasi meliputi organoleptik, ketebalan, pH, daya mengembang (swelling ratio), kekuatan tarik (tensile strength), dan persen kemuluran (elongation at break). Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil pengujian terhadap literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioselulosa yang dihasilkan tidak berwarna, tidak berbau, dan elastis, dengan ketebalan rata-rata 0,545 ± 0,005 mm, pH 7,05–7,14, daya mengembang 48,48–52,31%, kekuatan tarik 14,68 N/mm², dan persen kemuluran 31%. Berdasarkan hasil tersebut, bioselulosa dari kulit nanas berpotensi digunakan sebagai material sheet mask dengan karakteristik fisik yang baik sekaligus mendukung pemanfaatan limbah pertanian sebagai biomaterial kosmetik ramah lingkungan.
Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) sebagai Antiseptik Oral terhadap Staphylococcus aureus Salma Raihani Hanifa; Gita Cahya Eka Darma; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy 491 - 500
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25144

Abstract

Abstract. Oral cavity infections are frequently caused by pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus. Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) calyces are known to contain secondary metabolites with potential as natural antibacterial agents. This study aimed to analyze the ability of the ethanolic extract of roselle calyces to inhibit the growth of S. aureus and to determine the optimal concentration for use as an oral antiseptic candidate. This laboratory-based experimental study employed the maceration method using 70% ethanol as the solvent. Testing included specific and non-specific standardization, phytochemical screening, and a disc diffusion assay at concentrations of 6.25, 10, 15, and 25 %. The results showed that the extract met the quality requirements of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia, with a yield of 33.95% and the presence of various secondary metabolites. All concentrations inhibited the growth of S. aureus, with the inhibition zone diameter increasing alongside the concentration. The largest diameter was observed at the 25% concentration (13.6 ± 0.06 mm), falling into the "strong" category. Thus, the ethanolic extract of roselle calyces has the potential to be developed as a natural active ingredient in oral antiseptic formulations. Abstrak. Infeksi rongga mulut sering disebabkan oleh bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus. Kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan ekstrak etanol kelopak bunga rosella dalam menghambat pertumbuhan S. aureus serta menentukan konsentrasi yang paling optimal sebagai kandidat antiseptik oral. Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pengujian meliputi standardisasi spesifik dan nonspesifik, penapisan fitokimia, serta uji difusi cakram pada konsentrasi 6,25 ; 10 ; 15 ; dan 25%. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak memenuhi persyaratan mutu Farmakope Herbal Indonesia dengan rendemen sebesar 33,95% serta mengandung berbagai metabolit sekunder. Seluruh konsentrasi mampu menghambat pertumbuhan S. aureus, dengan diameter zona hambat yang semakin besar seiring peningkatan konsentrasi. Diameter terbesar diperoleh pada konsentrasi 25%, yaitu 13,6 ± 0,06 mm dan termasuk kategori kuat. Dengan demikian, ekstrak etanol kelopak bunga rosella berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif alami dalam formulasi sediaan antiseptik oral.
Formulasi Gummy Candy Mengandung Cuka Apel Salsa Meika Pramudita; Gita Cahya Eka Darma; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy 637 - 644
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25319

Abstract

Abstract. Apple cider vinegar is a fermented product containing acetic acid and polyphenolic compounds with potential application as an active ingredient in nutraceutical dosage forms. However, its characteristic sour taste and aroma may reduce consumer acceptability, necessitating the development of a more palatable dosage form such as gummy candy. This study aimed to obtain the optimum formulation of apple cider vinegar gummy candy through optimization of the gelling agent composition based on physical and textural evaluations. Four formulations (F1–F4) with different gelatin and pectin concentrations were prepared and evaluated for organoleptic properties, homogeneity, moisture content, pH, weight uniformity, stability, and Texture Profile Analysis (TPA). All formulations produced homogeneous gummy candies with a heart shape, pink color, characteristic apple aroma, and sweet taste. Formula 2 was selected as the optimum formulation, exhibiting a moisture content of 19.38%, pH of 4.15 ± 0.0082, an average weight of 1.5700 ± 0.0602 g, stability under cool and room-temperature storage, and favorable textural properties, including hardness of 224.58 gForce, adhesiveness of −6.63 g·s, gumminess of 233.66 gForce, and chewiness of 8614.87 gForce. These findings indicate that Formula 2 possesses suitable physical and textural characteristics for an apple cider vinegar gummy candy formulation. Abstrak. Cuka apel merupakan produk fermentasi yang mengandung asam asetat dan senyawa polifenol sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan nutraseutikal. Namun, rasa dan aroma khas cuka apel dapat memengaruhi penerimaan konsumen sehingga diperlukan inovasi sediaan yang lebih praktis, salah satunya dalam bentuk gummy candy. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula optimum gummy candy yang mengandung cuka apel melalui optimasi komposisi gelling agent berdasarkan evaluasi karakteristik fisik dan tekstur. Optimasi dilakukan menggunakan empat formula (F1-F4) dengan variasi konsentrasi gelatin dan pektin. Setiap formula dievaluasi meliputi organoleptic, homogenitas, kadar air, ph, keseragaman bobot, stabilitas, dan Texture Profile Analysis (TPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan gummy candy yang homogen dengan bentuk hati, warna merah muda, bauk has apel, dan rasa manis. Formula 2 merupakan formula optimum dengan kadar air 19,38%, pH 4,15±0,0082, bobot rata-rata 1,5700±0,0602 g, stabil pada penyimpanan suhu sejuk dan suhu ruang, serta memiliki nilai hardness 224,58 gForce, adhesiveness −6,63 g.sec, gumminess 233,66 gForce, dan chewiness 8614,87 gForce. Formula tersebut memenuhi karakteristik fisik dan tekstur yang diharapkan untuk sediaan gummy candy mengandung cuka apel.
Formulasi Emulsi Minyak Kemiri dan Ekstrak Ginseng serta Uji Antioksidannya Defina Anggita Dwiyanti; Gita Cahya Eka Darma; Aulia Fikri Hidaya
Bandung Conference Series: Pharmacy 709 - 716
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25591

Abstract

Abstract. Candlenut oil and ginseng extract are natural ingredients containing bioactive compounds beneficial for health and cosmetic applications. This study aims to formulate a combination emulsion of candlenut oil (Aleurites moluccana (L.) Willd.) and ginseng extract (Panax quinquefolius), evaluate its physical properties, and test its antioxidant activity using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) method. Emulsion formulas were developed using different concentrations of Tween 80 and Span 80 as emulsifiers. Characterization of candlenut oil was analyzed using GC-MS, while ginseng extract was evaluated for organoleptic properties and pH. The preparations were evaluated for organoleptic traits, homogeneity, pH, viscosity, specific gravity, and antioxidant activity. Formula 3 demonstrated the best physical characteristics, exhibiting a milky white appearance, distinctive aroma, good homogeneity, a pH of 4.55, viscosity of 110.0 ± 1.0 cPs, and weight uniformity meeting pharmacological standards. The antioxidant test revealed strong activity with an IC50 value of 65.45 ppm and a maximum inhibition of 73.75% at 100 ppm. In conclusion, the combination emulsion of candlenut oil and ginseng extract possesses favorable physical stability and potent antioxidant capabilities. Abstrak. Minyak kemiri dan ekstrak ginseng merupakan dua bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif berkhasiat untuk perawatan kesehatan dan kosmetik. Penelitian ini bertujuan memformulasikan sediaan emulsi kombinasi minyak kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd.) dan ekstrak ginseng (Panax quinquefolius), mengevaluasi sifat fisik sediaan, serta menguji aktivitas antioksidannya dengan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Formula emulsi dibuat menggunakan variasi emulgator Tween 80 dan Span 80. Karakterisasi minyak kemiri dianalisis dengan GC-MS, sedangkan ekstrak ginseng dievaluasi organoleptis dan pH-nya. Evaluasi emulsi meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, bobot jenis, dan aktivitas antioksidan. Formula 3 merupakan formula terbaik dengan penampilan organoleptik berupa warna putih susu, aroma khas, homogenitas baik, pH 4,55, viskositas 110,0 ± 1,0 cPs, serta keseragaman bobot yang sesuai standar farmasetika. Hasil uji antioksidan menunjukkan bahwa emulsi kombinasi memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 sebesar 65,45 ppm dan persentase inhibisi mencapai 73,75% pada konsentrasi 100 ppm. Kombinasi minyak kemiri dan ekstrak ginseng dapat diformulasikan menjadi sediaan emulsi yang stabil dan berpotensi sebagai antioksidan.
Formulasi Sheet Mask Bioselulosa Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L.) Nur Hesti Puspita Sari; Gita Cahya Eka Darma; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 799 - 806
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25741

Abstract

Abstract. Mangosteen peel can be utilized as a fermentation medium for bacterial cellulose production. Bacterial cellulose is a flexible biomaterial with high water-holding capacity and potential application as a sheet mask material. This study aimed to formulate mangosteen peel bacterial cellulose sheet mask and evaluate its physical characteristics. Bacterial cellulose was produced through static fermentation of 1 L mangosteen peel filtrate using Acetobacter xylinum for 12 days at 28–30°C. The obtained bacterial cellulose was purified using 0.1% NaOH at 70°C for 15 minutes and subsequently characterized. The results showed that mangosteen peel bacterial cellulose was colorless, odorless, and elastic, with a thickness of 0.28–0.29 mm and pH value of 7.05–7.06. The bacterial cellulose exhibited an average swelling capacity of 116%, tensile strength of 8.71 ± 0.26 MPa, and elongation of 26.29 ± 3.55%. These characteristics indicate that mangosteen peel bacterial cellulose has suitable physical properties as a sheet mask material. The formulation of bacterial cellulose sheet mask was successfully prepared, demonstrating good physical characteristics and potential for further development as a biomaterial-based cosmetic preparation. Abstrak. Kulit manggis dapat dimanfaatkan sebagai media fermentasi dalam produksi bioselulosa. Bioselulosa merupakan biomaterial fleksibel dengan kemampuan menahan air yang tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan dasar sheet mask. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sheet mask bioselulosa kulit manggis (Garcinia mangostanaL.) serta mengevaluasi karakteristik fisiknya. Bioselulosa dibuat melalui proses fermentasi statis menggunakan 1 L filtrat kulit manggis dengan bantuan Acetobacter xylinum selama 12 hari pada suhu 28–30°C. Bioselulosa yang diperoleh kemudian dimurnikan menggunakan NaOH 0,1% pada suhu 70°C selama 15 menit dan dilakukan karakterisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioselulosa kulit manggis memiliki karakteristik tidak berwarna, tidak berbau, elastis, dengan ketebalan 0,28–0,29 mm dan nilai pH 7,05–7,06. Bioselulosa memiliki kemampuan daya mengembang rata-rata sebesar 116%, kuat tarik 8,71 ± 0,26 MPa, serta kemuluran 26,29 ± 3,55%. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa bioselulosa kulit manggis memiliki sifat fisik yang sesuai sebagai bahan dasar sheet mask. Formulasi sheet mask bioselulosa kulit manggis berhasil dibuat dengan karakteristik fisik yang baik dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai sediaan kosmetik berbasis biomaterial.
Studi Literatur Lipbalm Ekstrak Daun Mangga dan CNC Sebagai Fotoprotektor Muhammad Gilang Ramadhan; Arlina Prima Putri; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy 835 - 842
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25830

Abstract

Abstract. Ultraviolet (UV) radiation is one of the main environmental factors causing lip damage, including dryness, chapping, premature aging, and inflammation. Therefore, the development of lip balm containing natural photoprotective agents has become an important strategy to maintain lip health. This study aimed to review the potential of mango leaf (Mangifera indica L.) extract and cellulose nanocrystals (CNC) as photoprotective agents in lip balm formulations. This study employed a literature review method by analyzing scientific articles published between 2020 and 2025 from databases including Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, and MDPI. The reviewed literature indicates that mango leaf extract contains mangiferin, flavonoids, phenolic compounds, and tannins, which exhibit strong antioxidant activity and can reduce oxidative stress induced by UV radiation. Meanwhile, CNC improves the physical characteristics of lip balm formulations by enhancing stability, film-forming ability, and moisture retention while supporting photoprotection through light-scattering mechanisms. The combination of mango leaf extract and CNC demonstrates promising potential to produce lip balm formulations with improved photoprotective performance, good physical stability, and enhanced safety. Further experimental studies are required to determine the optimum formulation and evaluate its effectiveness through in vitro and in vivo testing. Abstrak. Radiasi ultraviolet (UV) merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan pada bibir, seperti kekeringan, pecah-pecah, penuaan dini, dan inflamasi. Oleh karena itu, pengembangan lip balm yang mengandung bahan aktif fotoprotektor alami menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan bibir. Artikel ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) dan Cellulose Nanocrystals (CNC) sebagai fotoprotektor dalam formulasi lip balm. Penelitian dilakukan menggunakan metode studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 melalui basis data Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan MDPI. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak daun mangga mengandung mangiferin, flavonoid, senyawa fenolik, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi sehingga mampu mengurangi stres oksidatif akibat paparan sinar UV. Sementara itu, CNC berperan meningkatkan karakteristik fisik formulasi melalui pembentukan lapisan pelindung, peningkatan stabilitas, dan kemampuan mempertahankan kelembapan, serta mendukung aktivitas fotoproteksi melalui mekanisme hamburan cahaya. Kombinasi ekstrak daun mangga dan CNC berpotensi menghasilkan formulasi lip balm yang memiliki efektivitas fotoproteksi lebih baik, stabil secara fisik, dan aman digunakan. Namun, penelitian eksperimental lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan formulasi optimum serta mengevaluasi efektivitasnya melalui pengujian in vitro dan in vivo.
Pengembangan Sediaan Spray Litter Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) sebagai Antiparasit pada Pasir Kucing Kesya Almaira Syifaa; Gita Cahya Eka Darma; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy 923 - 932
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26117

Abstract

Abstract. Toxoplasma gondii is a parasite that causes toxoplasmosis, which requires efforts to prevent environmental contamination. Green betel leaf (Piper betle L.) contains secondary metabolite compounds that have the potential as antiparasitic. This study aims to formulate and produce physical characteristics of green betel leaf ethanol extract. This study was conducted experimentally through characterization, phytochemical screening, spray litter formulation with concentrations of 0.25%, 0.5%, and 1%, as well as evaluation of organoleptic preparations, homogeneity, pH, spreadability, specific gravity, physical stability, and observation of cat acceptance of the use of the litter box. The results showed that the characterization of the simplicia and extract generally met the quality requirements, except for the ash content of the simplicia which was insoluble in acid. All formulas met the physical parameters, at a concentration of 1%, sediment formation occurred after storage and was less acceptable to cats. The 0.5% formula was chosen as the best formula because it had good physical stability. Thus, the ethanol extract of green betel leaves can be formulated into a liter spray preparation that meets the physical evaluation parameters of the preparation at concentrations of 0.25% and 0.5% as a basis for further research related to controlling Toxoplasma gondii contamination. Abstrak. Toxoplasma gondii merupakan parasit penyebab toksoplasmosis yang memerlukan upaya pencegahan kontaminasi lingkungan. Daun sirih hijau (Piper betle L.) mengandung senyawa metabolit sekunder berpotensi sebagai antiparasit. Penelitian ini bertujuan memformulasikan dan mengevaluasi karakteristik fisik sediaan ekstrak etanol daun sirih hijau. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental melalui karakterisasi, penapisan fitokimia, formulasi spray litter dengan konsentrasi 0,25%;0,5%; dan 1%, serta evaluasi sediaan organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, bobot jenis, stabilitas fisik, dan pengamatan penerimaan kucing terhadap penggunaan litter box. Hasil menunjukan bahwa karakterisasi simplisia dan ekstrak umumnya memenuhi persyaratan mutu, kecuali kadar abu tidak larut asam simplisia. Seluruh formula memenuhi parameter fisik, pada konsentrasi 1% terjadi pembentukan endapan setelah penyimpanan dan kurang diterima kucing. Formula 0,5% dipilih sebagai formula terbaik karena memiliki stabilitas fisik yang baik. Dengan demikian, ekstrak etanol daun sirih hijau dapat diformulasikan menjadi sediaan spray litter  yang memenuhi parameter evaluasi fisik sediaan pada konsentrasi 0,25% dan 0,5% sebagai dasar penelitian lanjutan terkait pengendalian kontaminasi Toxoplasma gondii
Formulasi Granul Serbuk Bawang Putih (Allium sativum L.) Frisca Fadhilah Amelia Nugraha; Gita Cahya Eka Darma; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy 975 - 984
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26308

Abstract

Abstract. Garlic (Allium sativum L.) is known to possess antibacterial activity, making it a promising active ingredient for pharmaceutical formulations. However, garlic powder has relatively fine particle size, which increases interparticle cohesion and results in poor flow properties. Therefore, a granulation process is required to improve the physical characteristics of the powder and produce granules with improved physical properties. This study aimed to formulate garlic powder granules using the wet granulation method with various concentrations of polyvinylpyrrolidone (PVP) as a binder to obtain the optimum formulation based on the evaluation results. Five formulations containing 1, 2, 3, 4, and 5% PVP were prepared and evaluated for organoleptic properties, moisture content, flow rate, angle of repose, Carr's Index, Hausner ratio, and stability. The results showed that Formula 5 containing 5% PVP was the optimum garlic powder granule formulation based on the evaluation results. Abstrak. Bawang putih (Allium sativum L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan farmasi. Namun, serbuk bawang putih memiliki ukuran partikel yang relatif halus sehingga meningkatkan kohesi antarpartikel dan menyebabkan sifat alir kurang baik. Oleh karena itu, diperlukan proses granulasi untuk memperbaiki karakteristik fisik serbuk sehingga diperoleh granul dengan karakteristik fisik yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan memformulasikan granul serbuk bawang putih menggunakan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi polivinilpirolidon (PVP) sebagai bahan pengikat untuk memperoleh formula terbaik berdasarkan hasil evaluasi sediaan. Granul diformulasikan dalam lima formula dengan variasi konsentrasi PVP 1, 2, 3, 4, dan 5%, kemudian dievaluasi berdasarkan parameter organoleptik, kadar air, laju alir, sudut diam, Carr's Index, rasio Hausner, dan stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formula 5 dengan konsentrasi PVP 5% merupakan formula granul serbuk bawang putih terbaik berdasarkan hasil evaluasi sediaan.