Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

FUNGSI BUDAYA MONARKI DALAM PEMBELAJARAN PENGUATAN IDENTITAS NASIONAL: TINJAUAN JEPANG DAN INDONESIA Sa’diyah, Maemunah; Rofiah, Rofiah
FIKRAH Vol 3 No 2 (2019): DESEMBER
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/fikrah.v3i2.20531

Abstract

Penelitian ini mengungkap manfaat budaya monarki dalam upaya penguatan identitas nasional melalui fungsi simbolisasi raja. Menggunakan studi kasus monarki di Indonesia dan Jepang, menggali bagaimana raja-raja menjalankan perannya ditengahmasyarakatnya menunjukan bahwa keberadaan raja sebagai symbol utama suatu budaya monarki dapat memperkuat pengaruh nilai-nilai budaya dalam memandu dan menjaga kehidup masyarakat budaya tersebut. Hal ini dapat menjadi suatu strategi pembelajaran dalam upaya penguatan identitas nasional. Perbandingan peran raja di Indonesia dan jepang menunjukan bahwa terdapat kekurangan dan kelebihan dalam pengupayaan penguatan identitas nasional. Oleh karena itu saling mempelajari kelebihan dan kekurangan dari kedua Negara dapat memperbaiki dan mengembangkan makna dan implementasi identitas nasional yang lebih berdaya guna bagi eksistensi Negara.
Batik Marketing Communication as Community-Based Islamic Education: Digital Storytelling and Intercultural Aesthetics in Indonesian MSMEs Falizar Rivani; Rofiah Siddiq; Syifa Syarifah
FIKRAH Vol 9 No 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores how batik marketing communication can serve as a form of community-based Islamic education within Indonesian micro, small, and medium enterprises (MSMEs). Employing a qualitative approach, the research was conducted in Bogor, Madura, and Yogyakarta through in-depth interviews, observations, and documentation. The findings reveal that batik production operates as non-formal learning through mentoring systems that integrate technical skills with Islamic moral values such as sincerity (ikhlas), patience (sabr), and trustworthiness (amanah). Furthermore, intercultural aesthetics in batik motifs promote multicultural awareness, while digital storytelling practices transform marketing communication into a medium of cultural literacy and digital da‘wah. This study concludes that batik marketing communication represents a holistic model of community-based Islamic education that integrates cultural preservation, digital literacy, and moral formation, offering a sustainable framework for strengthening Islamic education in contemporary society. Keywords: Batik Marketing; Islamic Education; Cultural Literacy; Digital Storytelling; Intercultural Aesthetics; Community-Based Learning.
Batik Marketing Communication as Community-Based Islamic Education: Digital Storytelling and Intercultural Aesthetics in Indonesian MSMEs Falizar Rivani; Rofiah Siddiq; Syifa Syarifah
FIKRAH Vol 9 No 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores how batik marketing communication can serve as a form of community-based Islamic education within Indonesian micro, small, and medium enterprises (MSMEs). Employing a qualitative approach, the research was conducted in Bogor, Madura, and Yogyakarta through in-depth interviews, observations, and documentation. The findings reveal that batik production operates as non-formal learning through mentoring systems that integrate technical skills with Islamic moral values such as sincerity (ikhlas), patience (sabr), and trustworthiness (amanah). Furthermore, intercultural aesthetics in batik motifs promote multicultural awareness, while digital storytelling practices transform marketing communication into a medium of cultural literacy and digital da‘wah. This study concludes that batik marketing communication represents a holistic model of community-based Islamic education that integrates cultural preservation, digital literacy, and moral formation, offering a sustainable framework for strengthening Islamic education in contemporary society. Keywords: Batik Marketing; Islamic Education; Cultural Literacy; Digital Storytelling; Intercultural Aesthetics; Community-Based Learning.
Analisis Self-Expression Generasi Z dalam Penggunaan Second Account Instagram: Studi Dramaturgi pada Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Valda Anggun Pracanda; Hersanto Fajri; Rofiah
Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 7 No. 2 (2026): Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/ittishol.v7i2.5122

Abstract

Tingginya penggunaan Instagram di kalangan Generasi Z memunculkan fenomena kepemilikan akun kedua (second account) sebagai ruang ekspresi diri yang terpisah dari tekanan presentasi pada akun pertama, sebuah temuan yang juga terjadi pada mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) meski dibekali nilai tentang keterbukaan dalam komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk ekspresi diri pada mahasiswa Gen Z serta dampak psikologis dan dampak sosial yang dirasakan dalam penggunaan second account Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang berfokus pada lima mahasiswa KPI UIKA Bogor yang aktif menggunakan second account Instagram. Data diperoleh melalui wawancara, observasi konten, dan dokumentasi akun Instagram informan, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta kerangka dramaturgi Erving Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun pertama berfungsi sebagai front stage untuk presentasi diri yang lebih formal, sedangkan akun kedua berfungsi sebagai backstage untuk ekspresi diri yang lebih spontan dan personal. Bentuk ekspresi yang muncul meliputi ekspresi verbal, emosional, dan kreatif, dengan dampak psikologis dan sosial yang seluruhnya positif berupa rasa nyaman, keterbukaan, dan kedekatan relasional yang lebih erat