Sirilus Karolus Keroponama Keban
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS MAKNA KONTEKSTUAL DALAM TUTURAN ADAT RITUAL BELO HOWEK, DESA LEWOKLUOK, KECAMATAN DEMON PAGONG, KABUPATEN FLORES TIMUR Elisabeth Ene Lein; Sirilus Karolus Keroponama Keban; Imelda Oliva Wissang
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.15385

Abstract

Traditional speech in the oral traditions of the Lamaholot community in Lewokluok Village faces extinction due to minimal intergenerational transmission and sociocultural modernization. Systematic documentation and semantic decoding of this sacred speech are imperative to preserve indigenous cosmological values, moral philosophy, and local cultural identity. This study aims to describe and reveal the contextual meaning contained in the traditional ritual speech of belo howek in Lewokluok Village, Demon Pagong District, East Flores Regency. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were gathered from tribal elders through participant observation, non-participant observation, audiovisual recording, and field note-taking using observation sheets and interview guides. Data analysis was carried out through transcription, interlinear gloss translation, data identification, and contextual semantic interpretation using Pateda’s framework. The results indicate that five types of context construct meaning in the belo howek ritual speech across the bau baku and eten bine (mula madu) stages: the person context referring to God (Lera Wulan Tanah Ekan) and the ancestors, the purpose context embodying supplication for ancestral blessing and ritual offerings, the situation context reflecting solemn communal solidarity, the mood context radiating inner joy and reverence, and the place context centered at the Kabelen clan house and the sacred spring Wai Maki. In conclusion, the belo howek ritual speech serves as a living cultural representation of the agrarian Lewokluok community that binds harmonious relationships among humanity, the cosmos, and the transcendent creator. ABSTRAK Tuturan adat dalam ritual tradisi lisan masyarakat Lamaholot di Desa Lewokluok menghadapi ancaman kepunahan akibat minimnya pewarisan generasi muda dan pergeseran zaman. Dokumentasi serta pembongkaran makna tuturan sakral ini sangat mendesak agar sistem nilai budaya, kosmologi, dan identitas kultural lokal tetap lestari dan terwariskan secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengungkap makna kontekstual yang terkandung dalam tuturan ritual adat belo howek di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan dari tua-tua adat melalui teknik simak libat cakap, simak bebas libat cakap, rekam, dan catat dengan instrumen pedoman observasi serta panduan wawancara. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui transkripsi, penerjemahan gloss, identifikasi data, dan interpretasi semantik kontekstual menurut kerangka teori Pateda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis konteks yang membentuk pemaknaan dalam tuturan ritual belo howek pada tahapan bau baku dan eten bine (mula madu), yaitu konteks orangan yang merujuk pada Tuhan (Lera Wulan Tanah Ekan) dan para leluhur, konteks tujuan berupa permohonan restu dan penyerahan persembahan, konteks situasi yang mencerminkan kekhidmatan prosesi komunal, konteks suasana hati yang sarat dengan kegembiraan dan penghormatan batin, serta konteks tempat yang berpusat pada rumah adat suku Kabelen dan mata air sakral Wai Maki. Dengan demikian, tuturan ritual belo howek bukan sekadar untaian kata estetis, melainkan representasi keutuhan filosofi hidup masyarakat agraris Lewokluok yang mengikat relasi harmonis antara manusia, alam semesta, dan sang pencipta.    
ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERPEN MELUKIS WAKTU KARYA IMELDA OLIVA WISSANG Marlinda Barek Klibang; Sirilus Karolus Keroponama Keban; Pilipus Wai Lawet
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.15386

Abstract

Local literary works frequently serve as psychological reflections of regional social realities, yet psychoanalytic examinations of works by East Nusa Tenggara authors remain scarce. Documenting and unraveling these fictional characters' inner conflicts is crucial for comprehending human personality dynamics and enriching localized literary appreciation materials. This study aims to describe the forms and causal factors of inner conflicts experienced by the main characters in the short story collection Melukis Waktu by Imelda Oliva Wissang. Employing a qualitative descriptive design rooted in Sigmund Freud's psychoanalytic theory, this study examines the intrapsychic dynamics of main characters across six selected short stories. Data were gathered through reading, observing, and note-taking techniques guided by literary textual analysis protocols. The findings reveal that the characters' psychological tensions are generated by an interplay of internal and external factors manifested in three structures: (1) id impulses demanding immediate emotional gratification, trauma release, and impulsive curiosity; (2) ego struggles attempting rational mediation based on the reality principle amidst psychic helplessness; and (3) superego pressures emerging as agonizing guilt, profound moral remorse, and ethical reverence toward authority figures. Ultimately, the psychological dynamics of these protagonists illustrate the enduring human struggle to harmonize instinctual desires, logical reasoning, and internalized societal morals against poignant life challenges. ABSTRAK Karya sastra lokal sering kali menjadi medium refleksi psikologis atas realitas sosial masyarakat setempat, tetapi telaah psikoanalisis terhadap karya pengarang daerah dari Nusa Tenggara Timur masih sangat terbatas. Dokumentasi dan pembedahan konflik mental tokoh fiksi ini krusial sebagai sarana pemahaman kepribadian manusia sekaligus penguatan materi apresiasi sastra berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk serta faktor penyebab konflik batin yang dialami oleh tokoh utama dalam kumpulan cerpen Melukis Waktu karya Imelda Oliva Wissang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui pisau bedah psikoanalisis kepribadian Sigmund Freud. Objek penelitian berfokus pada dinamika intrapsikis tokoh utama dalam enam cerpen terpilih pada antologi tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca, simak, dan catat dengan instrumen pedoman analisis teks sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin tokoh utama dipicu oleh tarik-menarik antara faktor internal dan eksternal yang terbagi ke dalam tiga dinamika utama: (1) dorongan id yang menuntut pemuasan kerinduan emosional, pelepasan trauma, serta rasa ingin tahu yang impulsif; (2) pergulatan ego yang berupaya mengambil tindakan rasional berlandaskan prinsip realitas (reality principle) di tengah ketidakberdayaan batin; serta (3) tekanan superego yang bermanifestasi dalam bentuk rasa bersalah yang menyiksa, penyesalan moral mendalam, dan penghormatan etis terhadap figur otoritas. Dengan demikian, dinamika kepribadian tokoh utama mencerminkan kompleksitas psikologis manusia dalam menyelaraskan desakan hasrat hewani, nalar logis, dan tata nilai moralitas di tengah getirnya kenyataan hidup.