Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Success Rate Of Hatching Of Green Turtle Eggs ( Chelonia Mydas) On Bangkaru Island, Banyak Island, Aceh Singkil Alaudin, Alaudin; Burhanis, Burhanis; Okasari, Rafika; Bahri , Samsul; Kamba, Ria
Zona Laut : Jurnal Inovasi Sains Dan Teknologi Kelautan Volume 6, Number 1, March 2025 Edition
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/zl.v6i1.42766

Abstract

Turtles are biota that are included in the protected animal category because they have a high level of threat of extinction due to natural and anthropogenic factors. Turtles spend their time in the open sea and go ashore to lay their eggs each season. The successful hatching of turtle eggs is important as an effort to increase their population. This research aims to see the success rate of hatching of green turtle (Chelonia Mydas) eggs on Bangkaru Island, Banyak Island, Aceh Singkil. This research was carried out from March to June 2024. The research was carried out by observing at the green turtle nesting beach the number of nests, number of eggs, nest meters, percentage of hatched eggs. The method used in this research is a survey (direct observation). In the results of research that has been carried out, the highest percentage of turtle eggs is found in the 6th nest with a percentage of 48%, while the lowest percentage is found in nests 1, 2 and 4 with a percentage of 0%. The high percentage in the 6th nest is estimated because of the location. nest that is suitable for the nest, because the nest is directly exposed to the sun and is far from the ebb and flow of sea water which results in the nest being damp and the temperature of the nest remaining stable, the low hatching rate in nests 1, 2, and 4 is because the nest is close to the nest. The ebb and flow of sea water causes the nest to be flooded with sea water and the nest is not exposed to enough sunlight, which causes the eggs to rot in the nest.
Pengaruh Penempatan Posisi Rumpon Terhadap Hasil Tangkapan Nelayan Di Pulau Banyak Kabupaten Aceh Singkil Hanzala, Nasri; Burhanis, Burhanis; Rizal, Rizal; Hafinuddin, Hafinuddin
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v7i2.11096

Abstract

Rumpon adalah sebuah alat tangkat modifikasi benda mengapung yang ramah lingkungan , yang terbuat dari berbagai jenis benda yang dapat mengapung. Alat ini berperan sebagai tempat berlindung, mencari makanan, tempat pemijahan, serta sebagai lokasi berkumpulnya ikan. Penempatan rumpon memiliki dampak signifikan terhadap hasil tangkapan di sekitarnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempertimbangkan posisi rumpon yang optimal dalam aktivitas penangkapan ikan, sesuai dengan standar operasional dan regulasi yang berlaku. Waktu penelitian adalah bulan Oktober hingga Desember 2022, sedangkan metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah eksperimen, dengan lokasi pengamatan dibagi menjadi dua titik, yaitu di Pulau Balai dan Pulau Baguk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sekitar rumpon yang menggunakan atraktor ijuk, terdapat sepuluh jenis ikan yang berhasil ditangkap, dengan rincian bobot dan panjang sebagai berikut: ikan sure (Auxis thazard), ikan gurik-gurik (lutjanus synagris), ikan kakap tompel (lutjanus synagris), ikan gabu (Carangoides ortogrammus), ikan kerapu (Ephinephilinae), ikan kerapu sunil (Plectromus leopardus), ikan kerapu hitam (Carangoides ortogrammus), ikan kerapu pandan (Epinephelus tauvina), ikan talang (Scomberoides lysan), dan ikan salam (Elagatis bipinnulata). Berdasarkan analisis statistik, diperoleh nilai Asymp.sig (2-tailed) sebesar 0,005. Karena nilai ini lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis diterima, yang menunjukkan di Pulau Baguk memiliki hasil tangkapan yang lebih banyak di bandingkan Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak di Kabupaten Aceh Singkil.
SUPLEMENTASI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN VITAMIN E DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PRODUKSI DAN DAYA TAHAN TUBUH BENIH IKAN PATIN (Pangasius sp.) Fadhillah, Radhi; Zulfadhli, Zulfadhli; Lestari, Tuti Puji; Burhanis, Burhanis; Alauddin, Alauddin
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.5328

Abstract

Keberhasilan kegiatan produksi budidaya ikan patin sangat erat kaitannya dengan peningkatan pertumbuhan ikan patin dalam proses pemeliharaan. Pemberian suplemen yang tepat pada pakan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ikan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kinerja produksi dan daya tahan tubuh benih ikan patin (Pangasius sp.) melalui suplementasi ektrak daun kelor dan vitamin E dalam pakan. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakukan penelitian yang diteliti terdiri dari 4 Perlakukan dan 4 Ulangan, yaitu: A). Kontrol: Pakan Komersil; B). Pakan Komersil+ EDK 100mL/kg pakan + Vit. E 200 mg/kg pakan; C). Pakan Komersil + EDK 150 ml/kg pakan + Vit. E 200 mg/kg pakan; D). Pakan Komersil + EDK 200 ml/kg pakan + Vit. E 200 mg/kg pakan. Hasil Analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak daun kelor dan vitamin E kedalam pakan dapat meningkatkan kinerja produksi benih ikan patin seperti penambahan bobot mutlak, Efisiensi pakan, Food convertion ratio dan laju pertumbuhan spesifik benih ikan patin (P0,05). Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa suplementasi EDK dan Vit.E dalam pakan menghasilkan perbedaan yang nyata, hal ini ditunjukkan perlakuan yang terbaik diperoleh pada perlakuan C yaitu penambahan EDK 100ml/kg pakan+ Vit. E 200mg/kg pakan.
Efektifitas Ekstrak Herbal Dan Hormon rGH Pada Pakan Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan Benih Ikan Patin (Pangasius sp.) Fadhillah, Radhi; Hendri, Afrizal; Burhanis, Burhanis; Zulfadhli, Zulfadhli
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i1.7471

Abstract

Ikan Patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu komoditas perairan tawar yang memiliki prospek besar disebabkan mempunyai harga jual yang tinggi serta cara budidaya yang mudah untuk dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemanfaatan efisiensi pakan dan petumbuhan benih ikan patin melalui kombinasi ekstrak herbal yaitu ekstrak daun kelor dan hormon rGH pada pakan. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). A). Kontrol: Pakan Komersil; B). Pakan Komersil+ EDK 150 mL/kg pakan + rGH 2 mg/kg pakan; C). Pakan Komersil + EDK 200 ml/kg pakan + rGH 2 mg/kg pakan; D). Pakan Komersil + EDK 250 ml/kg pakan + rGH 2 mg/kg pakan. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun kelor dan rGH pada pakan dapat meningkatkan efisiensi serta kemampuan pemanfaatan pakan benih ikan patin secara signifikan (P0,05). Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun kelor dan hormon rGH pada pakan menghasilkan perbedaan yang nyata, hal ini ditunjukkan pada perlakuan yang terbaik diperoleh pada perlakuan B yaitu Pakan Komersil+ EDK 150 mL/kg pakan + rGH 2 mg/kg pakan dapat menigkatkan efisiensi konsumsi pakan sebesar 91,23±1,58% dan tingkat konsumsi pakan sebesar 332,0±5,72gr
Pola Pertumbuhan Dan Mortalitas Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) di PPI Ujong Baroh Burhanis, Burhanis; Alaudin, Alaudin; Fadhillah, Radhi; Zulfadhli, Zulfadhli; Edwarsyah, Edwarsyah; Munandar, Roni Arif
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.58680

Abstract

Beberapa spesies ikan tuna mulai terancam ketersediaannya. Upaya untuk mewujudkan pemanfaatan yang optimal dan berkelanjutan sangat dibutuhkan, sehingga perlu dilakukan monitoring, evaluasi dan perbandingan terhadap pemanfaatan tuna sirip kuning. Tujuan penelitian untuk mengkaji dan meganalisis pola pertumbuhan dan mortalitas tuna sirip kuning di PPI Ujong Baroh. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengamatan dan pengukuran sampel tuna sirip kuning dilakukan secara langsung dari hasil tangkapan nelayan. Selanjutnya pengumpulan data tuna sirip kuning meliputi jumlah hasil tangkapan serta pengukuran karakter morfometrik yaitu panjang cagak (FL). Hasil penelitian menunjukkan koefision ukuran panjang maksimum (L∞) yaitu sebesar 97,65 cm, dengan pendugaan panjang tuna sirip kuning pertama kali tertangkap (LC) pada ukuran panjang cagak (FL) 56,43 cm.  Nilai laju pertumbuhan (K) sebesar 0,80 pertahun, laju mortalitas total (Z) sebesar 0,26 pertahun, mortalitas alami (M) sebesar 0,76 pertahun, mortalitas penangkapan (F) sebesar -0,50 pertahun. Rata-rata ikan tuna sirip kuning yang tertangkap berukuran kecil dan belum matang gonad (Lc<Lm) dengan tingkat pertumbuhan lebih cepat serta kematian alami lebih besar dari pada penangkapan. Kegiatan penangkapan tuna sirip kuning yang di daratkan di PPI Ujong Baroh merupakan perikanan skala kecil dengan nilai eksploitasi (E) sebesar -1,94 pertahun yang tegolong under fishing berdasarkan dari nilai M (F<M).  Several species of tuna fish are starting to face threats to their availability. Efforts to achieve optimal and sustainable utilization are crucial, requiring monitoring, evaluation, and comparison of the utilization of yellowfin tuna. The research aim is to examine and analyze the growth and mortality patterns of yellowfin tuna in Ujong Baroh Fish Landing Base (PPI). The method in this research uses a descriptive method with a quantitative approach. The observation and measurement of yellowfin tuna samples are directly conducted from the fishermen's catch. Data collection of yellowfin tuna includes the quantity of catches and measurements of morphometric characteristics, specifically fork length (FL). The research results show that the maximum length coefficient (L∞) is 97,65 cm, with an estimated length at first capture at a fork length (FL) of 56,43 cm. The value of growth rate (K) of 0,80 per year, total mortality rate (Z) of 0,26 per year, natural mortality (M) of 0,76 per year, fishing mortality (F) is -0,50 per year. On average, the yellowfin tuna caught are small and immature gonads (Lc<Lm) with a faster growth rate and greater natural mortality than those caught in the fishery. The fishing activity of yellowfin tuna landed at PPI Ujong Baroh are small-scale fishery with an exploitation value (E) of -1.94 per year which is classified as under fishing based on the M value (F<M).
The Molecular Study on the Identity, Genetic Composition, and Phylogenetic Relationships of Carcharhinus (Blainville, 1816) Sharks in the Western Waters of Aceh Bahri, Samsul; Ruzanna, Arina; Burhanis, Burhanis
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.111404

Abstract

The shark genus Carcharhinus faces high exploitation pressure in the Western Waters of Aceh, while comprehensive genetic data to support conservation remains limited. This study aimed to identify species, analyze nucleotide composition, and reconstruct the phylogenetic relationships of Carcharhinus sharks using the Cytochrome c oxidase subunit I (COI) gene as a molecular marker. A total of 14 tissue samples were collected from three fish landing sites: Aceh Jaya, West Aceh, and Southwest Aceh. Standard procedures included DNA extraction, PCR amplification, sequencing, and bioinformatic analysis using BLAST for identification and MEGA for phylogenetic analysis via the Neighbor-Joining method. Molecular identification successfully confirmed the presence of six species: Carcharhinus falciformis (n=7), C. sorrah (n=3), C. brevipinna (n=1), C. amboinensis (n=1), C. amblyrhynchos (n=1), and C. limbatus (n=1), with identity matches ranging from 99.23-100%. Nucleotide composition analysis revealed a consistent bias towards Adenine and Thymine bases (AT-rich), a common characteristic of the elasmobranch mitochondrial genome. The reconstructed phylogenetic tree demonstrated that each species formed a solid monophyletic group with high bootstrap support. The analysis also confirmed C. brevipinna and C. amboinensis as sister taxa. No clear geographic population structure was found for widespread species, indicating high population connectivity within these waters. This molecular baseline data is crucial for supporting evidence-based fisheries management and conservation strategies for threatened shark species in Indonesia.
Genetic variation and population status of sharks: A comparative mtDNA study in the waters of Aceh Jaya and West Aceh Bahri, Samsul; Burhanis, Burhanis; Erima, Derila
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 12: No. 3 (December, 2025)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v12i3.24447

Abstract

Mitochondrial DNA (mtDNA)-based genetic analysis is important for revealing evolutionary relationships, supporting taxonomy, and providing a basis for conservation management. This study was conducted in the waters of Aceh Jaya and West Aceh, two regions with high shark fishing activity but minimal genetic data. A total of 12 shark individuals (6 per location) were collected from fish landing ports, then dorsal muscle tissue was taken, preserved in ethanol, and analyzed using DNA extraction, sequencing, and bioinformatics methods. Molecular identification through comparison with GenBank showed a very high level of similarity (Query Cover 99–100%, Identity 100%), with detected species including Carcharhinus falciformis, Sphyrna lewini, and Hemigaleus microstoma, reflecting a wide distribution in the western waters of Aceh. The nucleotide composition showed a dominance of thymine bases and a higher A+T ratio than G+C, consistent with the characteristics of shark genomes. Phylogenetic analysis showed a monophyletic clade with strong bootstrap support (100%) and placed S. lewini as the earliest differentiated taxon. Our results confirm the efficacy of DNA barcoding for accurate species identification and genetic diversity mapping, while underscoring urgent conservation concerns, as most species identified are classified as Vulnerable to Critically Endangered on the IUCN Red List. Keywords: Aceh; DNA Barcoding; Genetic Variation; Phylogenetics; Sharks