Yuli Susanti
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Frekuensi Fisioterapi Dengan Kualitas Hidup Pasien Stroke Fase Subakut Di RS Al-Islam Bandung Periode 2025 Syifa Ayatul Husna; Nurul Romadhona; Yuli Susanti
Bandung Conference Series: Medical Science 947-954
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22434

Abstract

Abstract. Stroke is a major cause of disability that significantly impacts patients' quality of life (QoL). Physical therapy plays an important role in restoring motor function and minimizing disability to improve patient well-being. This study aims to analyze the relationship between physical therapy and the quality of life of subacute stroke patients. This quantitative observational analytical study with a cross-sectional design was conducted on 96 subacute stroke patients at Al-Islam Hospital in Bandung in 2025. Data were collected using the Stroke Scale Quality of Life (SSQoL) questionnaire and analyzed using Fisher's Exact test. The results showed that most patients underwent physical therapy (60.4%), and most respondents had a good quality of life (61.5%). This study showed that there was a relationship between the implementation of physiotherapy and the quality of life of subacute stroke patients at Al-Islam Hospital in Bandung with a p-value <0.001. Physiotherapy improves motor function and independence through the stimulation of neuroplasticity, which plays a role in improving the physical and psychosocial dimensions of patients' quality of life, while patients without physiotherapy tend to experience more severe functional limitations, thereby reducing their quality of life.. Abstrak. Stroke merupakan penyebab utama disabilitas yang berdampak signifikan pada penurunan kualitas hidup (quality of life/QoL) pasien, fisioterapi berperan penting dalam memulihkan fungsi gerak dan meminimalkan kecacatan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan fisioterapi dengan kualitas hidup pasien stroke fase subakut. Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional ini dilakukan terhadap 96 pasien stroke fase subakut di RS Al-Islam Bandung periode 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner Stroke Scale Quality of Life(SSQoL) dan dianalisis menggunakan uji statistik Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar menjalani fisioterapi (60,4%), dan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang baik (61,5%). Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara pelaksanaan fisioterapi dengan kualitas hidup pasien stroke fase subakut di RS Al-Islam Bandung dengan nilai p<0,001. Fisioterapi meningkatkan fungsi motorik dan kemandirian melalui stimulasi neuroplastisitas yang berperan dalam perbaikan dimensi fisik dan psikososial dalam kualitas hidup pasien, sementara pasien tanpa fisioterapi cenderung mengalami keterbatasan fungsional yang lebih berat sehingga menurunkan kualitas hidup mereka.
Profil Self-Management Penderita Hipertensi Berdasarkan Karakteristik Sosiodemografi di Puskesmas Sukajadi Bandung Nadhirah Aliyyah Saffanah; Yuli Susanti; R. Kince Sakinah
Bandung Conference Series: Medical Science 1045-1052
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22468

Abstract

Abstract. Hypertension is a chronic disease that requires optimal self-management to prevent complications. This study aims to describe self-management among hypertensive patients at Primary Health Care (PHC) Sukajadi, Bandung. This study employed a descriptive observational design with a cross-sectional approach involving 75 respondents selected through consecutive sampling. Self-management was measured using the Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ). Data were collected through structured interviews and analyzed using univariate analysis. The results showed that most respondents had adequate levels of self-management. The self-integration component was relatively balanced between good and adequate categories, while self-regulation, interaction with healthcare providers, and self-monitoring were predominantly in the adequate category. Medication adherence was the strongest component, with most respondents categorized as good. These findings indicate that self-management among hypertensive patients is generally adequate but still requires improvement, particularly in behavioral and self-regulatory aspects. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan self-management pada penderita hipertensi di Puskesmas Sukajadi Kota Bandung. Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang melalui self-management yang optimal untuk mencegah komplikasi. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 75 responden yang dipilih melalui consecutive sampling. Self-management diukur menggunakan kuesioner Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ). Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat self-management pada kategori cukup. Komponen integrasi diri relatif seimbang antara kategori baik dan cukup, sedangkan regulasi diri, interaksi dengan tenaga kesehatan, serta pemantauan diri didominasi kategori cukup. Kepatuhan terhadap regimen pengobatan merupakan komponen dengan kategori baik. Temuan ini menunjukkan bahwa self-management penderita hipertensi secara umum berada pada kategori cukup dan masih memerlukan peningkatan, khususnya pada aspek perilaku dan pengelolaan mandiri.
Hubungan Anemia pada Kehamilan dengan Stunting pada Anak Usia 12-24 Bulan di Puskesmas Bulakamba Kabupaten Brebes Tahun 2024 Ditar Rahma Shafara; Yuli Susanti; Yani Dewi Suryani
Bandung Conference Series: Medical Science 1343-1350
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22619

Abstract

Abstract. Stunting remains a significant public health problem in Indonesia, with anemia in pregnant women being a factor that can affect fetal growth during the intrauterine period. This study examined the relationship between anemia in pregnant women and stunting in children aged 12–24 months at the Bulakamba Community Health Center, Brebes Regency, in 2024. Using an analytical observational design with a cross-sectional approach, data from 74 children and their mothers obtained from community health center reports were selected using random sampling. The analysis used the Chi-square test. The results showed that 64.9% of mothers had anemia and 61% of children were stunted. There was a significant relationship between anemia in pregnancy and the incidence of stunting in children. Prevention and early detection of anemia in pregnant women can reduce the prevalence of stunting. Abstrak. Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan anemia pada ibu hamil sebagai faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan janin selama masa intrauterin. Penelitian ini mengkaji hubungan anemia pada ibu hamil dengan stunting pada anak usia 12–24 bulan di Puskesmas Bulakamba, Kabupaten Brebes, tahun 2024. Dengan desain penelitian analitik obervational dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), data dari 74 anak beserta ibu mereka yang diperoleh dari data laporan puskesmas dipilih secara random sampling. Analisis menggunakan uji Chi-square. Hasil menunjukkan 64,9% ibu mengalami anemia dan 61% anak stunting. Terdapat hubungan yang signifikan antara anemia pada kehamilan dengan kejadian stunting pada anak. Pencegahan dan deteksi dini anemia pada ibu hamil dapat menurunkan prevalensi stunting.
Hubungan KEK dengan Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Malangbong Tahun 2024 Nabila Zulfa Nuraulia; Yuli Susanti; Raden Ganang Ibnusantosa
Bandung Conference Series: Medical Science 1461-1468
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.23117

Abstract

Abstract. Chronic Energy Deficiency (CED) and anemia are two common nutritional problems among pregnant women and have significant impacts on maternal health and fetal development. The increased metabolic and nutritional demands during pregnancy make mothers with poor nutritional status more susceptible to impaired hematopoiesis, ultimately reducing hemoglobin levels. This study aimed to describe the prevalence of CED, the prevalence of anemia, and the association between these conditions among pregnant women in the working area of Malangbong Primary Health Center, Garut Regency, in 2024. This observational research employed a cross-sectional approach, using total sampling of 185 pregnant women whose data were obtained from medical records, including Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and hemoglobin levels. The study was conducted in 2025. Data were analyzed using Fisher’s Exact Test. The results showed that 57.3% of respondents experienced CED and 82.2% were anemic. Statistical analysis demonstrated a significant association between CED and anemia (p = 0.000), indicating that pregnant women with CED were more likely to develop anemia than those without CED. This study concludes that CED plays a significant role in increasing the incidence of anemia among pregnant women, highlighting the need for routine nutritional screening, nutrition education, and early interventions to prevent maternal and neonatal complications. Abstrak. Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia merupakan dua masalah gizi yang sering dialami ibu hamil dan berdampak terhadap kesehatan ibu serta perkembangan janin. Peningkatan kebutuhan energi dan nutrisi selama kehamilan membuat ibu dengan status gizi kurang lebih rentan mengalami gangguan hematopoiesis, yang pada akhirnya dapat menurunkan kadar hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran KEK, gambaran anemia, serta hubungan antara keduanya pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Malangbong Kabupaten Garut tahun 2024. Penelitian menggunakan rancangan observasional dengan pendekatan cross-sectional, pengambilan data menggunakan total sampling terhadap 185 ibu hamil yang datanya diambil dari rekam medis, meliputi ukuran LiLA dan kadar Hb. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2025. Analisis dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,3% responden mengalami KEK, dan 82,2% mengalami anemia. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara KEK dan anemia (p = 0,000), di mana ibu hamil dengan KEK memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami anemia dibandingkan ibu yang tidak KEK. Penelitian ini menyimpulkan bahwa KEK berperan signifikan dalam peningkatan kejadian anemia pada ibu hamil, sehingga diperlukan skrining gizi rutin, edukasi nutrisi, dan intervensi dini guna mencegah komplikasi maternal dan neonatal.