Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Peran Farmasis Klinis pada Pasien Gagal Ginjal Tahap Akhir dengan Hemodialisis Rahmatullah, Daril; Widyati, Widyati
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.444 KB)

Abstract

Pasien gagal ginjal tahap akhir dengan hemodialisis merupakan populasi pasien dengan kondisi multipatologis dan multiterapi yang laju morbiditas serta mortalitasnya terus meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran farmasis klinis pada manajemen perkembangan penyakit gagal ginjal tahap akhir yang menggunakan terapi hemodialisis di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian sistematis melalui penelusuran database penelitian. Penelitian yang terlibat terdiri atas 2 penelitian dengan metodologi ekperimental dan 8 metodologi deskriptif. Jenis peran farmasis klinis yang dilakukan adalah review catatan terapi (90%), evaluasi terapi (70%) dan implementasi terapi (20%). Penelitian yang ada telah memberikan gambaran mengenai peran farmasis klinis pada populasi pasien gagal ginjal dengan hemodialisis. Gambaran tersebut masih terbatas pada aktivitas pengkajian atau assessment. Hal ini karena penelitian yang berfokus pada peran farmasis klinis secara umum di Indonesia juga terbatas jumlahnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran farmasis klinis di Indonesia belum dapat dinilai kebermaknaannya.Kata kunci: Hemodialisis, gagal ginjal, farmasis klinis Clinical Pharmacist Roles On End-Stage Renal Disease Patient with HemodialysisAbstractEnd-stage renal disease with hemodialysis are considered as a multipathology and multitherapy patients which has an increase of morbidity and mortality rate. This research aim was to understand the roles of Indonesia clinical pharmacist, regarding to the subject with hemodialysis therapy. This study was a systematic review through research databases. The clinical pharmacist roles or activities ,which have beendone, were medical record review (9/10), therapeutic evaluation (7/10) and therapeutic implementation(2/10). All the studies have viewed clinical pharmacist activities on hemodialysis patient. Nonetheless the activities were only on assessment step which was actually an initial step. Limitation on quantity of this focused study on clinical pharmacist activitis on hemodialysis in Indonesia has been another constraint. The included studies have given an even more partial view due to lack of documentation on how the finding in the included research was being  assessed then followed as pharmacist care plan by the clinical pharmacist. The result of this study showed that clinical pharmacist role in Indonesia has not been yet defined its significance.Key words: Hemodialysis, renal failure, clinical pharmacist
Profil Penggunaan Antibiotik Pascapencanangan Penerapan Program Pengendalian Resistensi Antibiotik di Intensive Care Unit Rumah Sakit TNI-AL dr. Ramelan Surabaya Setiawan, Stefanie; Widyati, Widyati; Harijono, Pandu
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.773 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.1.30

Abstract

Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) merupakan program wajib rumah sakit Indonesia sesuai Permenkes No. 8 tahun 2015. Rumkital dr. Ramelan Surabaya termasuk salah satu rumah sakit yang telah menerapkan PPRA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi kuantitatif-kualitatif pemakaian antibiotik, serta luaran klinis dan mikrobiologis yang teramati pascapencanangan penerapan PPRA di ICU Rumkital dr. Ramelan Surabaya. Desain penelitian adalah studi observasi cross-sectional yang dilakukan selama 3 bulan (Februari–Mei 2016) di ICU Rumkital dr. Ramelan. Deskripsi kuantitatif diamati menggunakan Days of Therapy (DOT/100 hari-pasien), deskripsi kualitatif menggunakan alur Gyssens. Pengamatan luaran klinis dilakukan terhadap infeksi nosokomial, mortalitas terkait infeksi, dan lama tinggal di ICU (Length of Stay/LOS). Pengamatan luaran mikrobiologis dilakukan terhadap pola penyebaran bakteri multiresisten. Hasil perhitungan jumlah konsumsi antibiotik didapatkan 151,63 DOT/100 hari-pasien. Penilaian kualitas antibiotik menunjukkan hasil 52,73% terapi tepat; 8,18% tidak tepat; 7,27% tanpa indikasi; 31,82% tidak tercapai kesepakatan antar penilai (κ=0,59; p<0,05). Infeksi nosokomial terbanyak yaitu Hospital Acquired Pneumonia (HAP)/Ventilator Associated Pneumonia (VAP), mortalitas terkait infeksi 44,68%; dan LOS rata-rata 7,17±1,9 hari (p<0,05). Belum ditemukan adanya insiden Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) ataupun Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL), namun ditemukan dua kasus Multi Drug Resistant (MDR) Acinetobacter baumannii.Kata kunci: Alur Gyssens, DOT, ICU, PPRA, resistensi antibiotik Antibiotic Usage Profile after Antibiotic Stewardship Program Implementation in Intensive Care Unit of dr. Ramelan Naval Hospital SurabayaAntibiotic Stewardship Program (ASP) is mandatory to all Indonesian hospitals, in accordance to the 2015 Minister of Health Decree No. 8. Dr. Ramelan Naval Hospital Surabaya is one among the many hospitals in Indonesia that has implemented the ASP. The study objective was to describe quantitative-qualitatively the use of antibiotics, along with clinical and microbiological outcomes observed in an Intensive Care Unit (ICU) after ASP implementation in dr. Ramelan Naval Hospital Surabaya. The design was a 3-month (February–May 2016) cross-sectional observational study. Quantitative description was reported using Days of Therapy (DOT)/100 patient-days, the qualitative description was reviewed using Gyssens’ flowchart. Clinical outcomes observed include nosocomial infection, infection-related mortality, and average length of stay (LOS). Microbiological outcome was observed through the occurences of multi-drug resistant organism. The results showed overall antibiotic use was 151.63 DOT/100 patient-days. Quality of antibiotic use were 52.73% definitely appropriate; 8.18% inappropriate regarding dose, intervals, durations, and timing; 7.27% no indication; and no mutual agreement in 31.82% (κ=0.59; p<0.05). Hospital Acquired Pneumonias (HAPs)/Ventilator Associated Pneumonias (VAPs) were the most observed nosocomial infection, infection-related mortality rate was 44.68%; and average LOS were 7.17±1.9 days (p<0.05). No incidents of Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) or Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) have been found, but there were two cases of Multi Drug Resistant (MDR) Acinetobacter baumannii.Keywords: Antibiotic resistance, ASP, DOT, Gyssens’ flowchart, ICU
Laporan Kasus Tentang Aspirin Dosis Rendah Memicu Anemia Aplastik Widyati, Widyati
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.351 KB) | DOI: 10.35617/jfi.v7i2.169

Abstract

Aspirin has been reported could trigger aplastic anemia in an elderly patient who used aspirin as antiplatelet therapy for secondary prevention of coronary heart diseases. Assessment methods used are time series data collection followed by causality analysis using Naranjo Scale. The results of analysis reveals a Naranjo scale of 11 which was then interpreted as definite. This report concluded that low-dose aspirin triggered acquired aplastic anemia. The mechanism of the AA presumably through destruction of immunemediated bone marrow or through direct destruction of blood cells. Keywords: Aspirin, antiplatelet, aplastic anemia, Naranjo scale  Aspirin dilaporkan telah memicu anemia aplastik (AA) pada seorang pasien manula yang menggunakan aspirin sebagai antiplatelet untuk prevensi sekunder penyakit jantung koroner. Metode asesmen yang digunakan adalah pengumpulan data secara time series dilanjutkan dengan analisis kausalitas menggunakan Skala Naranjo. Hasil telaah kasus menunjukkan skala Naranjo 11 (definite) yang diinterpretasikan bahwa insiden anemia aplastik tersebut pasti dipicu oleh aspirin. Disimpulkan bahwa aspirin dosis rendah memicu anemia aplastik dengan tipe acquired Aplastic Anemia. Mekanisme terjadinya AA tersebut diduga melalui pengrusakan sumsum tulang yang diperantarai immun atau melalui pengrusakan langsung sel-sel darah Kata kunci: Aspirin, antiplatelet, anemia aplastik, skala Naranjo 
DRUG RELATED PROBLEMS PAOA PENATALAKSANAAN PASIEN STROKE 01 INSTALASI RAWAT INAP RSAL OR RAMELAN SURABAYA PERIOOE 1 SEPTEMBER m 31 OKTOBER 2006 Bangunawati Rahajeng; Widyati Widyati; Zullies Ikawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 8 No. 2 (2011)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Stroke merupakan penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang sehingga untuk mendapatkan therapeutic outcome yang baik perlu kerjasama antara dokter, perawat, apoteker, pasien, dan keluarga pasien. Kejadian drug related problems sangat umum terjadi pada pasien rawat inap yang berisiko meningkatkan kesakitan, kematian, dan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri kejadian DRPs pada pasien stroke rawat inap dan untuk mengetahui apakah terjadi DRPs pada penatalaksanaan pasien stroke rawat inap di RSAL Dr Ramelan Surabaya periode 1 September - 31 Oktober 2006. Penelitian dilakukan dengan rancangan studi cross sectional yang dikerjakan secara prospektif terhadap suatu populasi terbatas, yaitu seluruh pasien stroke rawat inap di RSAL Dr. Ramelan Surabaya periode 1 September - 31 Oktober 2006. Data pasien stroke rawat inap didapat dari poli saraf dan UGo, kemudian dilakukan pencatatan status pasien dari rekam medik di bangsal rawat inap. Kekurangan rekam medik dilengkapi dengan melihat catatan perawat, melihat kondisi pasien langsung dengan mengikuti visite dokter, dan wawancara pasien atau keluarga pasien. Data yang diperoleh dilakukan kajian DRPs dengan acuan guidelines stroke yang ada, dihitung persentasenya. Sebanyak 102 dari 109 pasien memenuhi kriteria inklusi. Pad a 102 pasien didapat 67 pasien mengalami DRPs (65,69 %) dan 35 pasien tidak mengalami DRPs (34,31 %). Jenis DRPs yang terjadi adalah drug needed 27 pasien (22,50 %), wrong drug/innappropriate drug 32 pasien (26,67 %), wrong dose 26 pasien (21,67 %), adverse drug reaction 16 pasien (13,33 %), drug interaction 19 pasien (15,83 %). Kata kunci: drug related problems, stroke  
Respon Terapi Community Acquired Pneumonia pada Geriatri: Tinjauan Kasus di Intensive Care Unit Widyati Widyati; I Wayan Suryajaya; Arroyani A. Dilaga; Nidaul Hasanah; Renni Simorangkir; Rizky Hidayaturahmah
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2021.10.3.209

Abstract

Pneumonia komunitas adalah salah satu masalah yang semakin meningkat di populasi lanjut usia. Berbagai faktor yang terkait dengan penuaan, seperti komorbiditas, status gizi dan disfungsi menelan telah terlibat dalam peningkatan Community Acquired Pneumonia (CAP) pada populasi yang lebih tua. Streptococcus pneumoniae masih merupakan patogen yang paling umum di antara geriatri, meskipun patogen multiple drug resistance (MDR) juga seringkali menginfeksi geriatri, khususnya pada pneumonia berat. Strategi terapi antibiotik empirik pada pasien CAP berat adalah antibiotik spektrum luas atau kombinasi β-laktam dan fluorokuinolon, atau β-laktam dan makrolida. Laporan kasus ini memaparkan dua kasus CAP pada geriatri yang mewakili dua golongan terapi yang berbeda dengan hasil yang sangat berbeda pula. Kombinasi cefoperazon sulbaktam-makrolida tidak memberikan respon terapi yang baik hingga hari ke-7, sehingga makrolida diganti dengan amikacin dan diteruskan selama 3 hari. Di lain pihak, kombinasi cefoperazon sulbaktam-levofloksasin memberikan hasil yang baik dengan durasi terapi 9 hari. Pemilihan antibiotik dengan penetrasi yang baik ke paru sangat penting untuk mendapatkan efektivitas terapi. Resistensi azitromisin dapat menjadi salah satu penyebab utama terapi tidak efektif, namun karena efek pleiotropic yang dimiliki azitromisin, azitromisin direkomendasikan untuk tetap diberikan. Pemberian kombinasi cefoperazon/sulbaktam-levofloksasin dan cefoperazon/sulbaktam-amikasin pada kedua kasus ini efektif. Manfaat dari laporan kasus ini adalah terapi CAP pada lansia memerlukan kombinasi antibiotik baik dengan fluorokuinolon maupun aminoglikosida. Azitromisin pada kedua kasus di atas menunjukkan resistensi dan tidak dapat difungsikan sebagai antibiotik kedua pada kombinasi. Kata kunci: Antibiotik, CAP, geriatri, pneumonia  Therapeutic Response of Community Acquired Pneumonia in Geriatrics: A Case Series from Intensive Care UnitAbstractCommunity acquired pneumonia (CAP) is a common major growing challenge to elderly populations. Several aging factors, including comorbidities, nutritional status and digestive dysfunctions have been associated with increasing CAP among older persons. Furthermore, Streptococcus pneumoniae remains the most predominant pathogen in geriatrics, although multiple drug resistance (MDR) species regularly occur, particularly in severe pneumonia. Broad-spectrum antibiotics or a combination of β-lactam and fluorokuinolones, or β-lactams and macrolides serve as a promising therapy mainly in critical CAP patients. This study describes two geriatric CAP cases representing two separate treatments with widely varied results. The combination of cefoperazone sulbactam-azithromycin did not generate suitable clinical response until 7 days. As a consequence, the macrolides were replaced with amikacin and continued for 3 days. Meanwhile, the cefoperazone sulbactam-levofloxacin samples significantly improved the clinical conditions under 9 days. The selection of antibiotics with sufficient lung penetration is important in providing the effective therapy. Conversely, azithromycin resistance potentially instigates ineffectiveness, but is also recommended due to its pleiotropic effects. The benefit of this case study shows that CAP treatment among older population requires a blend of antibiotics with either a fluorokuinolone or an aminoglycoside. In both instances, azitromisin is believed to demonstrate high resistance, therefore, it is incapable in functioning as a second antibiotic component.Keywords: Antibiotic, CAP, geriatric, pneumonia
Profil Penggunaan Antibiotik Pascapencanangan Penerapan Program Pengendalian Resistensi Antibiotik di Intensive Care Unit Rumah Sakit TNI-AL dr. Ramelan Surabaya Stefanie Setiawan; Widyati Widyati; Pandu Harijono
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.028 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.1.30

Abstract

Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) merupakan program wajib rumah sakit Indonesia sesuai Permenkes No. 8 tahun 2015. Rumkital dr. Ramelan Surabaya termasuk salah satu rumah sakit yang telah menerapkan PPRA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi kuantitatif-kualitatif pemakaian antibiotik, serta luaran klinis dan mikrobiologis yang teramati pascapencanangan penerapan PPRA di ICU Rumkital dr. Ramelan Surabaya. Desain penelitian adalah studi observasi cross-sectional yang dilakukan selama 3 bulan (Februari–Mei 2016) di ICU Rumkital dr. Ramelan. Deskripsi kuantitatif diamati menggunakan Days of Therapy (DOT/100 hari-pasien), deskripsi kualitatif menggunakan alur Gyssens. Pengamatan luaran klinis dilakukan terhadap infeksi nosokomial, mortalitas terkait infeksi, dan lama tinggal di ICU (Length of Stay/LOS). Pengamatan luaran mikrobiologis dilakukan terhadap pola penyebaran bakteri multiresisten. Hasil perhitungan jumlah konsumsi antibiotik didapatkan 151,63 DOT/100 hari-pasien. Penilaian kualitas antibiotik menunjukkan hasil 52,73% terapi tepat; 8,18% tidak tepat; 7,27% tanpa indikasi; 31,82% tidak tercapai kesepakatan antar penilai (κ=0,59; p<0,05). Infeksi nosokomial terbanyak yaitu Hospital Acquired Pneumonia (HAP)/Ventilator Associated Pneumonia (VAP), mortalitas terkait infeksi 44,68%; dan LOS rata-rata 7,17±1,9 hari (p<0,05). Belum ditemukan adanya insiden Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) ataupun Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL), namun ditemukan dua kasus Multi Drug Resistant (MDR) Acinetobacter baumannii.Kata kunci: Alur Gyssens, DOT, ICU, PPRA, resistensi antibiotik Antibiotic Usage Profile after Antibiotic Stewardship Program Implementation in Intensive Care Unit of dr. Ramelan Naval Hospital SurabayaAntibiotic Stewardship Program (ASP) is mandatory to all Indonesian hospitals, in accordance to the 2015 Minister of Health Decree No. 8. Dr. Ramelan Naval Hospital Surabaya is one among the many hospitals in Indonesia that has implemented the ASP. The study objective was to describe quantitative-qualitatively the use of antibiotics, along with clinical and microbiological outcomes observed in an Intensive Care Unit (ICU) after ASP implementation in dr. Ramelan Naval Hospital Surabaya. The design was a 3-month (February–May 2016) cross-sectional observational study. Quantitative description was reported using Days of Therapy (DOT)/100 patient-days, the qualitative description was reviewed using Gyssens’ flowchart. Clinical outcomes observed include nosocomial infection, infection-related mortality, and average length of stay (LOS). Microbiological outcome was observed through the occurences of multi-drug resistant organism. The results showed overall antibiotic use was 151.63 DOT/100 patient-days. Quality of antibiotic use were 52.73% definitely appropriate; 8.18% inappropriate regarding dose, intervals, durations, and timing; 7.27% no indication; and no mutual agreement in 31.82% (κ=0.59; p<0.05). Hospital Acquired Pneumonias (HAPs)/Ventilator Associated Pneumonias (VAPs) were the most observed nosocomial infection, infection-related mortality rate was 44.68%; and average LOS were 7.17±1.9 days (p<0.05). No incidents of Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) or Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) have been found, but there were two cases of Multi Drug Resistant (MDR) Acinetobacter baumannii.Keywords: Antibiotic resistance, ASP, DOT, Gyssens’ flowchart, ICU
Analisis Kualitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rujukan dengan Metode Analisis Alur Gyssen di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya Ayu Maharani Ibrahim; Widyati Widyati; Frans O.H. Prasetyadi
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 2 (2020): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i2.2567

Abstract

Penyakit infeksi menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia setelah penyakit kardiovaskular. Tingginya mortalitas akibat penyakit infeksi dapat dipengaruhi oleh ketepatan penggunaan antibiotik. Resistensi antibiotik berhubungan erat dengan ketepatan penggunaan antibiotik. Salah satu faktor yang mempengaruhi resistensi antibiotik pada pasien di rumah sakit adalah perpindahan pasien antar rumah sakit. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kualitas penggunaan antibiotik yang diberikan kepada pasien khususnya pasien rujukan. Kegiatan ini merupakan salah satu evaluasi yang digunakan sebagai indikator mutu Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA). Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan pengambilan data secara prospektif yang dilakukan selama 4 bulan (April-Juli 2019) di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya. Analisis kualitas penggunaan antibiotik menggunakan penilaian alur Gyssen yang dianalisis oleh 2 orang reviewer dan peneliti. Hasil analisis menunjukkan 44,05% antibiotik yang diberikan tergolong telah rasional (kategori 0); 7,15% antibiotik diberikan tidak tepat (kategori I-IV); 11,90% antibiotik diberikan tidak memiliki indikasi, dan 36,9% antibiotik yang diberikan tidak memiliki kesepakatan antara 2 reviewer dan peneliti dalam penilaian alur Gyssen. Kesepakatan antar 2 reviewer dan peneliti diuji menggunakan Fleiss Kappa dimana diperoleh nilai k = 0,581 yang artinya kesepakatan antar reviewer cukup baik (dengan p = 0).
Efektivitas Profilaksis Primer Filgrastim Pada Pasien Kanker Payudara terhadap Insiden Neutropenia Andri Utomo; Widyati Widyati; Dwi Hari Susilo
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2831

Abstract

Kejadian febrile neutropenia menyebabkan penundaan jadwal kemoterapi, penurunan dosis kemoterapi, bahkan dapat menghentikan proses kemoterapi yang harus dijalani. Hal ini dapat berakibat pada penurunan tingkat keberhasilan terapi pada pasien kanker payudara. Kejadian neutropenia dapat dicegah dengan pemberian profilaksis primer granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), seperti filgrastim. Pemberian filgrastim dapat mengurangi risiko terjadinya febrile neutropenia, perawatan di Rumah Sakit, dan kematian pada pasien kanker payudara. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas pemberian profilaksis filgrastim primer pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancang bangun prospective cohort study. Sampel yang digunakan yaitu 87 pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi. Variabel yang diteliti adalah insiden neutropenia dan faktor risiko yang menyebabkan neutropenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap insiden neutropenia adalah usia (p = 0,000), luas permukaan tubuh (p = 0,037), jenis kemoterapi (p = 0,000), siklus kemoterapi (p = 0,000), dan regimen kemoterapi (p = 0,000). Adanya profilaksis filgrastim primer efektif dalam menurunkan insiden neutropenia.
EDUKASI DAN SOSIALISASI VAKSIN COVID-19 PUSKESMAS CITEUREUP, JAWA BARAT Syahrul Tuba; Widyati Widyati; Bantari Wisnu Kusuma Wardhani; Yahdiana Harahap; Timbul Partogi Haposan Simorangkir
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.224 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v6i1.6004

Abstract

Abstrak: Angka penularan penyakit COVID-19 di dunia masih tinggi dan menjadi perhatian dunia termasuk Indonesia dengan angka penularan yang relatif masih terbilang tinggi hingga pada saat ini. Pemerintah menggelontorkan biaya yang besar untuk melaksanakan program vaksinasi kepada seluruh masyarakat Indonesia secara gratis yang bertujuan untuk menurunkan angka penularan penyakit COVID-19 di Indonesia. Tujuan pengabdian untuk mengedukasi masyarakat tentang vaksinasi COVID-19, meyakinkan masyarakat tentang pentingnya melakukan vaksinasi dan menyukseskan program vaksinasi yang dilakukan oleh Pemerintah. Metode pelaksanaan yang telah dilakukan adalah sosialisasi melalui presentasi dan penyebaran flayer informasi vaksin, serta penyuluhan informasi terkait vaksin dan aspek terapeutik vaksinasi kepada 300 peserta yang bekerja sama dengan tim vaksinator Puskesmas Citeureup di puskesmas Citeureup, Jawa Barat. Maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya sosialisasi dan edukasi vaksinasi ini, warga mendapatkan manfaat, kepercayaan diri, pengetahuan terhadap jenis vaksin yang diberikan, proses mengatasi efek kejadian setelah vaksin serta peningkatan kesadaran terhadap protokol kesehatan. Sehingga kegiatan ini dapat membantu pemerintah untuk menekan tingkat penularan COVID-19 di wilayah Kecamatan Citeureup, Jawa Barat.Abstract: The global transmission rate of COVID-19 is still high, causing alarm in countries throughout the world, particularly Indonesia, which has had a high transmission rate up until now. The government has invested a significant amount of money to conduct a free vaccination campaign for all Indonesians to minimize COVID-19 transmission rates. The service's goal is to educate the public about COVID-19 immunization, persuade them of the significance of vaccination, and help them complete the government's vaccination campaign. Socialization through the presentation and distribution of vaccine information flyers, as well as information dissemination related to vaccines and the therapeutic aspects of vaccination, has been carried out to 300 participants who work closely with the Citeureup Health Center's vaccinator team at the Citeureup Health Service Center, West Java. As a result, residents get advantages, confidence, understanding of the type of vaccine administered, the process of overcoming the impacts of events after the vaccine, and increased awareness of health protocols because of this vaccination socialization and education. So that this activity can help the government to reduce the level of transmission of COVID-19 in the Citeureup District, West Java.
DAMPAK POSITIF PELAYANAN FARMASI KLINIK PADA PASIEN EPILEPSI Widyati Widyati; Soediatmoko Soediatmoko; Zullies Ikawati; Lukman Hakim
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.196

Abstract

Epilepsi merupakan suatu penyakit kronik dengan gangguan yang bersifat heterogen, multifaset yang menjadikan layanan farmasi kliniknya menjdi kompleks. Tantangannya antara lain adalah  masih adanya 25-30% yang belum terkendali dengan obat, masalah dalam farmakokinetika klinik, dan adherence yang  kurang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi layanan farmasi klinik dengan mengukur pencapaian berbagai outcome. Penelitian ini adalah penelitian observasional pada  pasien epilepsi dengan kejang umum yang dilaksanakan secara prospektif dengan disain cross sectional, yang mengamati adherence, kadar obat dalam serum, serta frekuensi kejang. Pasien mendapat layanan farmasi klinik selama 6 bulan berupa asesmen ada tidaknya Drug Related Problem (DRP) pada setiap kunjungan poliklinik yang dilaksanakan 1 bulan sekali,  pemberian rekomendasi terapi kepada klinisi, konseling dengan alat bantu, monitoring dengan berbagai metode. Terdapat  peningkatan mean skor adherence antara skor 1 dan 6 bulan dari 3,95 menjadi 4,07 setelah 6 bulan terapi, meskipun tidak  signifikan secara Wilcoxon-Sign. Secara umum adherence pasien dalam 6 bulan terapi tetap (berkisar 80%). Kadar fenitoin serum  rata-rata pada 1 bulan 6,67 ± 6,65 mg/L tidak berubah secara  signifikan secara Wilcoxon-Sign pada 6 bulan terapi 6,07 ± 5,51 mg/L. Hasil pengujian korelasi antara kadar fenitoin dengan skor MMAS-8 menunjukkan tidak adanya korelasi rho= -0,051, P=0,73. Remisi terminal 6 bulan diperoleh sejumlah 43 pasien atau 86% dan sisanya sebanyak 7 orang masih menunjukkan  kejang, sedangkan reduksi kejang ≥50% sebesar 46 pasien (92%). Layanan farmasi klinik memberikan dampak positif dalam meningkatkan pencapaian hasil terapi pasien. Kata Kunci: epilepsi, farmasi Klinik, kepatuhan.