Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KEPEMIMPINAN NON-MUSLIM DALAM TAFSIR AL AZHAR KARYA BUYA HAMKA Al Faruq, Imron; Suharjianto, Suharjianto
Suhuf Vol 31, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir diharapkan menjadi solusi atas problem kehidupan manusia sebagaimana al-Quran diturunkan sebagai rahmat semesta alam. Di antara plobem itu adalah tentang kepemimpinan. Di antara tokoh mufasir yang ada di Indonesia dan pernah duduk dalam pemerintahan adalah Buya Hamka, tidak hanya menafsirkan ayat, namun juga mempraktikkan dengan turun dalam pemerintahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat kepemimpinan, dan pandangan Buya Hamka terhadap pemimpin non-Muslim, serta hubungan politik Muslim dengan non-Muslim. Jenis penelitian ini merupakan penelitian literer yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai literatur kepustakaan, seperti buku-buku, majalah, dokumen, catatan, foto, naskah dan kisah-kisah sejarah, ensiklopedi, biografi, dan lain-lain, baik dari sumber data primer maupun sekunder. Sumber primer adalah kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka cetakan tahun 2015 yang diterbitkan oleh Gema Insani. Sumber sekunder yang digunakan adalah hasil-hasil penelitian tentang kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, atau yang berkaitan dengan kepemimpinan. Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis induktif dan deduktif. Kesimpulan dari penelitian adalah Pertama, kepemimpinan dalam al-Quran mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik secara individu maupun dalam kesatuan negara berdaulat, agama, dan keluarga yang terkandung dalam beberapa term. Kedua, larangan terhadap memilih pemimpin non-Muslim, dan pembagian pemimpin non-Muslim dalam dua kelompok yang berbeda. Ketiga, menjalin hubungan muamalah berupa politik tidak dilarang, selama tidak menyangkut soal agama (akidah dan ibadah), serta bertujuan untuk kepentingan umat manusia.
PERAYAAN IMLEK MUSLIM TIONGHOA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN MUSLIM TIONGHOA DI SURAKARTA Wijayanti, Tri Yuliana; Hafizzullah, Hafizzullah; Suharjianto, Suharjianto
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam konteks budaya, Islam bukanlah agama yang hanya mencakup sistem credo (kepercayaan) dan ritus (ibadah) saja, melainkan juga menyangkut masalah kebuadayaan. Ketika Islam bertemu dengan budaya dimana Islam didakwahkan, maka kebudayaan Islam baru akan terbentuk dari hasil akulturasi antara budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Hal ini terjadi pula pada diantara etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam. Muslim Tionghoa tetap melaksanakan perayaan imlek meski mereka telah memeluk agama Islam. Dengan demikian mereka tidak harus kehilangan identitas etnisnya, meski mereka telah memeluk agama Islam. Studi ini menarik ketika melihat adanya adaptasi budaya imlek dengan nilai-nilai Islam, terutama adanya simbol-simbol yang ada pada perayaan imlek dan dipandang dari sisi ajaran al-Quran dan Muslim Tionghoa.
Kajian Kritik pada Bentuk dan Pengaruh Positif al-Dakhil dalam Tafsir Jalalain tentang Kisah Nabi Musa dan Khidir Andri Nirwana; Ita Purnama Sari; Suharjianto Suharjianto; Syamsul Hidayat
AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.157 KB) | DOI: 10.29240/alquds.v5i2.2774

Abstract

A Study of Criticism on the Forms and Positive Effects of al-Dakhil in Jalalain's Tafsir of the Story of Prophet Musa and KhidirIn the tafseer, Al-dakhil is the inclusion of  baseless interpretation into the book of tafseer. Thebaseless inclusion to interpretations is motivated by several of elements israiliyyat, hadis\ da’if, hadis\ maudu’, baseless ta’wil or interpretations which defend to the interest of a certain groups or madzab. Al-dakhil in the tafseer was exist since Prophet era and has been sphreading until now. The effect of al-dakhil in to tafseer are can lead to the assumption that Islamic religion are no longer authentic (bias), the unificationof Islamic and other doctrine, and the aumption that the Al-Qur’an is a book in which there are many tahayyul and khurafat. The aim of this research is to find what is the kind of Al-Dakhil in the Jalalain’s Tafsir surah al-Kahfi verses 60-82. This is a qualitative research that uses an interpretive criticism approach, which aims to determine the authenticity of text, then it is analyzed using descriptive-analysis methods to describe the results of research that was found.The result of this research is that the kind of al-dakhil that contained in the Jalalain Tafseer Chapter Al-Kahfi verses 60-82 is al-dakhil bi al-ma’tsur with the type of israiliyyat found in the story: prophet Khidhir have had killed a child while debark from a boat; the story name of the country visited by Musa and Khidhir with his son and the walls of house are hundred cubits heights the story of the boat owner working at marine are ten persons; the story of substitute child who was killed is a woman who married with the Prophet, then gave birth a prophet and Allah made him a guide for people; and story of the treasures of two orphans were gold and silver. From this research, it was expected become an academic contribution, in the scientific of Al-Qur’an and Tafseer, especially on the theme al-dakhil fi al-tafsir
PERAYAAN IMLEK MUSLIM TIONGHOA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN MUSLIM TIONGHOA DI SURAKARTA Tri Yuliana Wijayanti; Hafizzullah Hafizzullah; Suharjianto Suharjianto
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam konteks budaya, Islam bukanlah agama yang hanya mencakup sistem credo (kepercayaan) dan ritus (ibadah) saja, melainkan juga menyangkut masalah kebuadayaan. Ketika Islam bertemu dengan budaya dimana Islam didakwahkan, maka kebudayaan Islam baru akan terbentuk dari hasil akulturasi antara budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Hal ini terjadi pula pada diantara etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam. Muslim Tionghoa tetap melaksanakan perayaan imlek meski mereka telah memeluk agama Islam. Dengan demikian mereka tidak harus kehilangan identitas etnisnya, meski mereka telah memeluk agama Islam. Studi ini menarik ketika melihat adanya adaptasi budaya imlek dengan nilai-nilai Islam, terutama adanya simbol-simbol yang ada pada perayaan imlek dan dipandang dari sisi ajaran al-Quran dan Muslim Tionghoa.
KEPEMIMPINAN NON-MUSLIM DALAM TAFSIR AL AZHAR KARYA BUYA HAMKA Imron Al Faruq; Suharjianto Suharjianto
Suhuf Vol 31, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir diharapkan menjadi solusi atas problem kehidupan manusia sebagaimana al-Quran diturunkan sebagai rahmat semesta alam. Di antara plobem itu adalah tentang kepemimpinan. Di antara tokoh mufasir yang ada di Indonesia dan pernah duduk dalam pemerintahan adalah Buya Hamka, tidak hanya menafsirkan ayat, namun juga mempraktikkan dengan turun dalam pemerintahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat kepemimpinan, dan pandangan Buya Hamka terhadap pemimpin non-Muslim, serta hubungan politik Muslim dengan non-Muslim. Jenis penelitian ini merupakan penelitian literer yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai literatur kepustakaan, seperti buku-buku, majalah, dokumen, catatan, foto, naskah dan kisah-kisah sejarah, ensiklopedi, biografi, dan lain-lain, baik dari sumber data primer maupun sekunder. Sumber primer adalah kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka cetakan tahun 2015 yang diterbitkan oleh Gema Insani. Sumber sekunder yang digunakan adalah hasil-hasil penelitian tentang kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, atau yang berkaitan dengan kepemimpinan. Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis induktif dan deduktif. Kesimpulan dari penelitian adalah Pertama, kepemimpinan dalam al-Quran mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik secara individu maupun dalam kesatuan negara berdaulat, agama, dan keluarga yang terkandung dalam beberapa term. Kedua, larangan terhadap memilih pemimpin non-Muslim, dan pembagian pemimpin non-Muslim dalam dua kelompok yang berbeda. Ketiga, menjalin hubungan muamalah berupa politik tidak dilarang, selama tidak menyangkut soal agama (akidah dan ibadah), serta bertujuan untuk kepentingan umat manusia.
JAHILIYYAH DALAM PENAFSIRAN IBNU KASIR S Suharjianto; Rofi Atina Maghfiroh
QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies Vol. 1 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.571 KB) | DOI: 10.23917/qist.v1i1.522

Abstract

Kata Jahiliyyah berasal dari kata Al Jahlu yang berarti bodoh atau kebodohan. Jaman jahiliyyah adalah jaman kebodohan. Yang dimaksud dengan jaman kebodohan di sini bukan berarti orang-orang jahiliyyah tidak memiliki kepandaian, tetapi mereka tidak dapat membedakan kebenaran dan kebatilan. Contoh yang menyolok adalah ketika salah seorang dari mereka memiliki anak perempuan, mereka akan menanamkan hidup-hidup. Kebodohan yang paling menonjol adalah karena mereka menyembah berhala yang dibuatnya sendiri. Terlepas dari arti kata di atas, paling tidak ada dua ahli yang menerangkan tentang jahiliyyah, mereka adalah Jarji Zaedan dan Munawar Cholil. Jarji Zaedan berpendapat bahwa jahiliyyah adalah jaman yang masyarakatnya telah memiliki kemajuan di berbagai bidang lapangan kehidupan, seperti: bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain. Sedangkan Munawar Cholil pendapat yang berbeda dengan yang pertama. Menurutnya jaman jahiliyyah adalah jaman yang diatandai oleh kerusakan diberbagai bidang, seperti bidang Sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain. Itulah dua pendapat yang berbeda ketika melihat jahiliyyah dari sisi masing-masing. Sedangkan kata jahiliyyah terdapat dalam empat ayat dalam al-Quran, yaitu pada surat Ali Imran ayat 154, surat al-Maidah ayat 50, surat al-Ahdzab ayat 33 dan surat al-Fath ayat 26. Terlepas dari dua pendapat di atas, riset ini akan mengkaji jahiliyyah dalam Tafsir al-Quran al-'Azim karya Ibnu Katsir. Pendekatan yang digunakan dalam riset ini adalah pendekatan interpretatif. Sedangkan analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Adapun simpul dari riset ini adalah kata jahiliyyah dalam Tafsir al-Qurin al-'Azim merupakan (1) sangkaan buruk terhadap takdir Allah s.w.t, (2) berhukum dengan hukum lain atas hukum yang Allah syariatkan, (3) perilaku yang menjerumuskan pada perzinaan dan (4) sikap sombong sebagai hasil dari sikap fanatik yang menutup pintu kebenaran.
Analitik Darajah Dalam Q.S Al Baqarah Ayat 228 Analisis Komperatif dalam Tafsir Al Munir dan Waahatut Tafassiir Putri Lista Samsiatun; Ahmad Nurrohim; Suharjianto Suharjianto
Syntax Idea 2408-2416
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i5.3430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Analitik Darajah dalam Ayat 228 Surah Al-Baqarah dari Al-Qur'an, dengan melakukan analisis komparatif antara tafsir Al-Munir dan Waahatut Tafassiir. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, menggunakan kitab-kitab tafsir sebagai sumber data. Hasil analisis menunjukkan bahwa Al-Munir menekankan aspek hukum dan praktis, sementara Waahatut Tafassiir mengadopsi pendekatan inklusif dan holistik. Perbandingan ini memperkaya pemahaman umat Islam tentang Al-Qur'an dan memberikan sudut pandang yang beragam dalam memahami ajaran agama mereka. Kesimpulannya, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperdalam pemahaman terhadap teks suci Al-Qur'an, menyoroti beragam pendekatan dan metodologi dalam penafsiran ayat-ayat suci.
Studi Kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas Min Tafsir Ibni ‘Abbas oleh Al-Fairuzabadi Hikmah, Farisa Aliyatul; Dahliana, Yeti; Nirwana, Andri; Suharjianto, Suharjianto; Azizah, Alfiyatul; Rha’in, Ainur
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22695

Abstract

Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas by Al-Fairuzabadi is a classical tafsir (Quranic exegesis) that compiles the interpretative methodology of Ibnu ‘Abbas and offers a unique perspective in tafsir studies. This study aims to deepen understanding of the interpretative methodology in "Tanwir al-Miqbas," detailing how Ibnu ‘Abbas interpreted the Quran as compiled by Al-Fairuzabadi. Utilizing a qualitative approach and bibliographic research, this study relies on primary and secondary data sources for a descriptive analysis of Al-Fairuzabadi’s biography, interpretative methodology, as well as the strengths and weaknesses of "Tanwir al-Miqbas" tafsir. It reveals that this exegesis emphasizes a global (ijmali) explanation of Quranic verses using popular and accessible language, incorporating narrations of Ibnu ‘Abbas in interpretation. Although considered a tafsir bil ma'tsur, it exhibits broader exploration on certain verses. "Tanwir al-Miqbas" presents an important perspective in tafsir studies, merging ijmali and linguistic interpretative methodologies that directly refer to Prophet Muhammad. Despite questions regarding the validity of its sanad (chain of transmission), this work remains a significant contribution to Quranic exegesis literature.Abstract: Kitab Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas karya Al-Fairuzabadi merupakan salah satu tafsir klasik yang menghimpun metodologi penafsiran Ibnu ‘Abbas dan menawarkan perspektif unik dalam studi tafsir. Kajian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi penafsiran dalam Tanwir al-Miqbas, menguraikan cara Ibnu ‘Abbas menafsirkan Al-Quran yang dikompilasi oleh Al-Fairuzabadi. Menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian kepustakaan, penelitian ini mengandalkan sumber data primer dan sekunder untuk analisis deskriptif tentang biografi Al-Fairuzabadi, metodologi penafsiran, serta kelebihan dan kekurangan tafsir Tanwir al-Miqbas. Kajian ini menunjukkan bahwa kitab tafsir ini menekankan penjelasan global (ijmali) ayat-ayat Al-Quran menggunakan bahasa yang populer dan mudah dipahami, menggabungkan riwayat Ibnu ‘Abbas dalam penafsiran. Meski dianggap sebagai tafsir bil ma'tsur, terdapat eksplorasi lebih luas pada ayat tertentu. Kitab Tanwir al-Miqbas menawarkan perspektif penting dalam studi tafsir, menggabungkan metodologi penafsiran ijmali dan linguistik yang merujuk langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada pertanyaan mengenai validitas sanad, karya ini tetap berkontribusi signifikan dalam literatur tafsir Al-Quran
Kesalehan Ekologis Dalam Perpektif Qur’an Dan Pengamalannya Pada Institusi Pendidikan Islam sutiyan, Dolly Riri Ramdhanu Jamel; Nugroho, Kharis; Suharjianto, Suharjianto; Rhain, Ainur
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 5, No 1 (2025): Jurnal pendidikan Indonesia: Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v5i1.1234

Abstract

The Environmental crisis is an issue that is of global concern. Environmental damage due to activities and failures in environmental management is getting worse daily. Starting from mistakes in waste management that cause waste to pile up in rivers causing flooding that harms material and even loss of life. Coupled with mining and industrial activities that cause massive environmental damage and a prolonged climate crisis. The existence of humans who instead of being caliphs on earth are a threat to the environment. Therefore, a character of ecological piety is needed that builds a sense of love and care for Muslims towards the environment based on faith. This study aims to explain the Concept of Ecological Piety as seen through the perspective of Qur'anic interpretation and the method of implementing this character in Islamic educational institutions. This study uses a qualitative approach and literature study by collecting books of interpretation from leading scholars, relevant books, and journals. Ecological piety is important as an Islamic character that thinks about and pays attention to the environment based on faith in Allah SWT. Someone who has a character of ecological piety is able to understand and comprehend the principles of faith as follows: 1) Nature is a home where human life takes place. 2) Humans are caliphs on earth who will be inherited by nature. 3) Nature is also a fellow living creature created by God. 4) Utilize nature as well as possible and responsibly. 5) Nature is a sign of God's greatness and a means of strengthening faith. 6) Prohibition on destroying nature. 7) Allah will punish humans who destroy nature. The instillation of ecological piety character at the Mahmud Marzuki Islamic Boarding School is by implementing the Eco-pesantren concept and providing facilities and infrastructure that support the formation of ecological piety character of students.ABSTRAKKrisis lingkungan merupakan isu yang menjadi perhatian dunia. Kerusakan lingkungan dampak aktifitas dan kegagalan dalam pengelolaan lingkungan semakin hari semakin menjadi-jadi. Dari mulai kesalahan dalam pengelolaan sampah yang mengakibatkan sampah menumpuk di sungai penyebab banjir yang merugikan materi hingga kehilangan nyawa. Ditambah lagi dengan aktifitas pertambangan dan industri yang mengakibatkan kerusakan lingkungan secara massif dan krisis iklim berkepanjangan. Keberadaan manusia yang alih-alih menjadi khalifah dimuka bumi malah menjadi ancaman bagi lingkungan. Maka diperlukan karakter kesalehan ekologis yang membangun rasa cinta dan peduli umat islam terhadap lingkungan berlandaskan keimanan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Konsep Kesalehan Ekologis yang dilihat melalui perspektif tafsir Qur’an serta metode penerapan karakter tersebut di institusi Pendidikan islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur dengan mengumpulkan kitab-kitab tafsir pada ulama terkemuka, buku dan jurnal yang relevan. Kesalehan ekologis menjadi penting sebagai karakter islami yang memikirkan dan memperhatikan lingkungan dengan basis keimanan pada Allah SWT. Seseorang yang memiliki karakter kesalehan ekologis yaitu dapat memahami dan mengerti prinsip-prinsip keimanan sebagai berikut: 1) Alam adalah rumah tempat berlangsungnya hidup manusia. 2) Manusia adalah khalifah dibumi yang akan diwarisi alam. 3) Alam juga merupakan sesama makhluk hidup ciptaan tuhan. 4) Memanfaatkan alam sebaik mungkin dan bertanggung jawab. 5) Alam merupakan tanda kebesaran tuhan dan sarana mempertebal keimanan. 6) Larangan merusak alam. 7) Allah akan memberikan hukuman kepada manusia perusak alam. Penanaman karakter kesalehan ekologis di Pondok Pesantren Mahmud Marzuki yaitu dengan menerapkan konsep Eco-pesantren dan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang pembentukan karakter kesalehan ekologis santri.
Studi Kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas Min Tafsir Ibni ‘Abbas oleh Al-Fairuzabadi Hikmah, Farisa Aliyatul; Dahliana, Yeti; Nirwana, Andri; Suharjianto, Suharjianto; Azizah, Alfiyatul; Rha’in, Ainur
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22695

Abstract

Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas by Al-Fairuzabadi is a classical tafsir (Quranic exegesis) that compiles the interpretative methodology of Ibnu ‘Abbas and offers a unique perspective in tafsir studies. This study aims to deepen understanding of the interpretative methodology in "Tanwir al-Miqbas," detailing how Ibnu ‘Abbas interpreted the Quran as compiled by Al-Fairuzabadi. Utilizing a qualitative approach and bibliographic research, this study relies on primary and secondary data sources for a descriptive analysis of Al-Fairuzabadi’s biography, interpretative methodology, as well as the strengths and weaknesses of "Tanwir al-Miqbas" tafsir. It reveals that this exegesis emphasizes a global (ijmali) explanation of Quranic verses using popular and accessible language, incorporating narrations of Ibnu ‘Abbas in interpretation. Although considered a tafsir bil ma'tsur, it exhibits broader exploration on certain verses. "Tanwir al-Miqbas" presents an important perspective in tafsir studies, merging ijmali and linguistic interpretative methodologies that directly refer to Prophet Muhammad. Despite questions regarding the validity of its sanad (chain of transmission), this work remains a significant contribution to Quranic exegesis literature.Abstract: Kitab Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas karya Al-Fairuzabadi merupakan salah satu tafsir klasik yang menghimpun metodologi penafsiran Ibnu ‘Abbas dan menawarkan perspektif unik dalam studi tafsir. Kajian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi penafsiran dalam Tanwir al-Miqbas, menguraikan cara Ibnu ‘Abbas menafsirkan Al-Quran yang dikompilasi oleh Al-Fairuzabadi. Menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian kepustakaan, penelitian ini mengandalkan sumber data primer dan sekunder untuk analisis deskriptif tentang biografi Al-Fairuzabadi, metodologi penafsiran, serta kelebihan dan kekurangan tafsir Tanwir al-Miqbas. Kajian ini menunjukkan bahwa kitab tafsir ini menekankan penjelasan global (ijmali) ayat-ayat Al-Quran menggunakan bahasa yang populer dan mudah dipahami, menggabungkan riwayat Ibnu ‘Abbas dalam penafsiran. Meski dianggap sebagai tafsir bil ma'tsur, terdapat eksplorasi lebih luas pada ayat tertentu. Kitab Tanwir al-Miqbas menawarkan perspektif penting dalam studi tafsir, menggabungkan metodologi penafsiran ijmali dan linguistik yang merujuk langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada pertanyaan mengenai validitas sanad, karya ini tetap berkontribusi signifikan dalam literatur tafsir Al-Quran