Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Case Report : Expanded-Spectrum Beta Lactamase-Producing Klebsiella pneumoniae in Burn Injury With Hospital Acquired Pneumonia Putra, Oki Nugraha
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.005.02.2

Abstract

Significantly higher mortality has been demonstrated in patients with severe burn, complicated by Klebsiella pneumonia infection. This case report assesses the efficacy combination of meropenem and levofloxacin to treat Klebsiella pneumonia ESBL on the scald-burn injury with hospital-acquired pneumonia. A 52-year-old male had scald burn on August, 2016 with late onset of Hospital Acquired Pneumonia (HAP). Klebsiella pneumonia ESBL was isolated from tissue burned culture. Initially, the patient was treated with meropenem and levofloxacin injection for a week. Then, Acinetobacter baumanii was isolated from tissue burned infection and ampicilin-sulbactam was the only one antibiotic which still susceptible to this pathogen. But with the clinical judgment, the combination of these antibiotics was still continued. After administration of these antibotics, rapid clinical improvement with signs short of breath, fever, cough was not observed and also the lung infiltrate was improved. The combination of meropenem and levofloxacin, may be a useful treatment option for hospital-acquired pneumonia related to Klebsiella pneumonia ESBL and also Acinetobacter baumanii, even these combination were resistance to Acinetobacter baumanii. Further research is also needed to clarify the effectiveness of meropenem and levofloxacin to treat Klebsiella pneumonia ESBL infection in the burn patient.
Surveilans Retrospektif Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Dengan Luka Bakar Putra, Oki Nugraha; Saputro, Iswinarno D; Nurhalisa, Hardiana D; Yuliana, Erma
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.007.01.4

Abstract

Luka bakar merupakan salah satu bentuk trauma dengan tingkat risiko infeksi yang tinggi. Modalitas utama pada infeksi akibat luka bakar ialah pemberian antibiotik. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien luka bakar anak secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode ATC/defined daily dose (DDD). Pengambilan data dilakukan secara retrospektif melalui data rekam medik pasien luka bakar anak yang memenuhi kriteria inklusi yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2017-2019. Data diambil pada bulan November 2019 hingga Maret 2020. Didapatkan 18 pasien luka bakar anak yang memenuhi kategori inklusi. Antibiotik terbanyak yang digunakan pada penelitian ini yaitu ceftazidime sebesar 64,28%. Berdasarkan metode Gyssens didapatkan 27,77% antibiotik berada dalam kategori sudah sesuai dan sisanya termasuk dalam kategori kurang tepat dengan 84,6% termasuk kategori IIa (tidak tepat dosis) dan 15,4% termasuk kategori IVa (antibiotik lain yang lebih efektif). Berdasarkan metode ATC DDD, didapatkan nilai total DDD /100 patients-days sebesar 88,92 DDD/100patient-days dengan ceftazidime merupakan antibiotik dengan nilai terbesar yaitu 23,03 DDD/100 patient-days. Jenis antibiotik yang termasuk dalam DU 90% adalah ceftazidime (23,03), ampicillin-sulbactam (15,45), ceftriaxon (13,65), amikacin (11,91), gentamicin (9,67) dan meropenem (8,51). Kesimpulannya ialah secara kualitatif penggunaan antibiotik pada pasien luka bakar anak masih kurang sesuai dan secara kuantitatif penggunaan antibiotik melebihi standar WHO. Diperlukan perbaikan dalam rangka meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien luka bakar anak.Kata Kunci: Antibiotik, Luka Bakar, Anak, Gyssens, Defined Daily Dose 
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien COVID-19 Pneumonia di Ruangan ICU Dengan Metode ATC/DDD Putra, Oki Nugraha
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2023.008.02.4

Abstract

Pendahuluan: Salah satu komplikasi yang sering ditemukan pada pasien COVID-19 ialah pneumonia dengan angka mortalitas yang tinggi. Selain antivirus, maka antibiotik juga diberikan untuk tatalaksana pada pasien COVID-19 pneumonia. Penggunaan antibiotik hendaknya dievaluasi untuk menurunkan risiko efek samping, biaya pengobatan, dan resistensi antibiotik. Tujuan: Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik untuk pasien COVID-19 pneumonia yang dirawat di ruang intensive care unit (ICU) rumah sakit H.S Samsoeri Mertojoso, secara kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif menggunakan data rekam medik pasien COVID-19 pneumonia yang dirawat pada bulan Januari hingga Juli 2021. Data diambil pada bulan Desember 2021 hingga Januari 2022. Data antibiotik ditampilkan sebagai DDD/100 patient-days dan diklasifikasikan yang masuk dalam Drug Utilization 90% (DU 90%). Hasil: Didapatkan 22 pasien COVID-19 pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan metode ATC/DDD didapatkan nilai total DDD/100 patients-days sebesar 126,44 DDD/100 patient-days dengan tingkat penggunaan antibiotik terbesar yaitu levofloksasin, meropenem, dan sefoperazon-sulbaktam sebesar 58,33; 26,91; dan 17,78 DDD/100 patient-days, secara berturut-turut. Antibiotik yang masuk dalam klasifikasi DU 90% yaitu levofloksasin, meropenem, sefoperazon-sulbaktam, moksifloksasin, dan amikasin. Kesimpulan: Antibiotik dengan spektrum luas paling banyak digunakan dalam tatalaksana pasien COVID-19 pneumonia. Diperlukan evaluasi secara berkala penggunaan antibiotik yang disesuaikan dengan profil sensitifitas antibiotik, jenis bakteri penyebab infeksi, dan luaran klinis pasien untuk terwujudnya penggunaan antibiotik yang rasional. Kata Kunci: COVID-19, Pneumonia, Antibiotik, ATC/DDD, ICU