Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM DI KECAMATAN KUALA PESISIR, KABUPATEN NAGAN RAYA, ACEH Setyawan, Fahreza Okta; Sari, Wahida Kartika; Aliviyanti, Dian
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.22

Abstract

Perubahan garis pantai merupakan salah satu bentuk dinamisasi pada kawasan pantai yang dapat terjadi secara terus menerus. Faktor penyebab terjadinya perubahan garis pantai dapat diakibatkan oleh adanya abrasi dan akresi. Faktor hidro – oseanografi yang juga mempengaruhi perubahan garis pantai yaitu gelombang dan pasang surut air laut. Secara umum, penyebab terjadinya gelombang laut yang dominan yaitu diakibatkan oleh faktor aingin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan garis pantai serta hubungan antara perubahan garis pantai dengan pasang surut dan gelombang laut yang terjadi di Pantai Gampong Lhok, Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode thresholding untuk memisahkan antara daratan dengan lautan dan pengaplikasian Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Hasil penelitian yang didapatkan yaitu pada tahun 2016 – 2020 kawasan pesisir Pantai Gampong Lhok mengalami akresi maksimum sebesar 30,16 m/tahun, sedangkan abrasi maksimum terjadi sebesar -34,49 m/tahun. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai penelitian awal dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah untuk kawasan pesisir Pantai Gampong Lhok.
APLIKASI FEEDBACK HARVEST CONTROL RULE SEBAGAI ALTERNATIF ATURAN KENDALI TANGKAP PERIKANAN LAYANG (Decapterus sp) DI PRIGI, TRENGGALEK Harlyan, Ledhyane Ika; Sari, Wahida Kartika; Sutjipto, Darmawan Ockto; Rhomadona, Wakhit; Rahman, Muhammad Arif
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 3 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.03.6

Abstract

Perikanan layang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi merupakan perikanan pelagis yang disusun oleh tiga spesies sumber daya ikan layang yaitu layang anggur (Decapterus kuroides), layang benggol (Decapterus ruselli) dan layang deles (Decapterus macrosoma). Aturan kendali tangkap pada perikanan layang kerap menggunakan model konvensional spesies tunggal, meski secara teknis tidak sesuai digunakan pada perikanan layang tercampur yang disusun oleh lebih dari satu spesies (multispesies). Aplikasi feedback harvest control rule (HCR) merupakan alternatif aturan kendali tangkap yang tervalidasi yang dapat digunakan untuk perikanan multispesies. Pada penelitian ini dilakukan estimasi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (allowable biological catch/ABCy) dengan menggunakan dua aturan kendali tangkap yaitu feedback HCR dan model konvensional surplus produksi Schaefer (1954) dengan menggunakan data hasil tangkapan dan upaya penangkapan (trip) dalam kurun waktu 2011 – 2020. Hasil estimasi model Schaefer (1954) menunjukkan ABCy bahwa hanya dapat diestimasi untuk layang anggur, sementara dua spesies layang lainnya, tidak memenuhi asumsi model Schaefer (1954). Penggunaan aplikasi feedback HCR pada ketiga spesies layang lebih praktis karena mampu mengestimasi ABCy tanpa perlu dilakukan pemisahan data hasil tangkapan dan upaya penangkapan berdasarkan spesies. 
POLA MUSIM PENANGKAPAN Sardinella fimbriata YANG DIDARATKAN DI PPN PRIGI – JAWA TIMUR Fuad; Sari, Wahida Kartika; Harlian, Ledhyane Ika; Akbarsyah, Nora; Budiarti, Tri Wahyu
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 13 No. 1 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v13i1.38268

Abstract

Fringe-scale sardine (Sardinella fimbriata) is one of the dominant species landed in Prigi fishing port. However, in recent years the sardine fishery management might deal with some overfishing indicators of this species . The purpose of this study was to determine the trend of catches, fluctuations in catch per unit effort (CPUE), and the pattern of the fringe-scale fishing season using catch-effort data of purse seine and gillnet landed at PPN Prigi in the period 2011-2020. The results showed that the catch fluctuated every year . CPUE has tended to increase over the last ten years but decreased in 2014 and 2020. The highest CPUE value occurred in 2019 which was 0,21kg/trip. The Peak fishing season occurs in December – March.
PENGEMBANGAN EKOWISATA DAN PEMULIHAN STOK IKAN MELALUI PEMASANGAN RUMAH IKAN DI PESISIR DESA GEJUGAN, KABUPATEN PROBOLINGGO: ECOTOURISM DEVELOPMENT AND FISH STOCK RESTORATION THROUGH THE INSTALLATION OF FISH HOUSES OFF THE COAST OF GEJUGAN VILLAGE, PROBOLINGGO REGENCY Adhihapsari, Wirastika; Bintoro, Gatut; Lelono, Tri Djoko; Setyohadi, Daduk; Sambah, Abu Bakar; Sutjipto, Darmawan Octo; Harlyan, Ledhyane Ika; Sunardi; Syawli, Almira; Wiadnya, Dewa Gede Raka; Sari, Wahida Kartika
Jurnal Pengabdian Perikanan dan Kelautan: Piskarias Ministerium Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Perikanan dan Kelautan: Piskarias Ministerium pada Bulan Juni
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.piskarias.2026.004.01.4

Abstract

Desa Gejugan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo merupakan wilayah pesisir yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan bagan tancap. Dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan hasil tangkapan akibat overfishing dan degradasi habitat, yang berdampak langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Permasalahan ini diperparah oleh minimnya pengetahuan konservasi dan terbatasnya inovasi diversifikasi usaha perikanan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan ekowisata berbasis konservasi sekaligus memulihkan stok ikan melalui pemasangan rumah ikan (artificial reef) sebagai habitat buatan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan dosen, pemerintah daerah, dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan. Tahapan kegiatan meliputi koordinasi stakeholder, pelatihan manajemen Marine Protected Area (MPA), perencanaan dan penenggelaman rumah ikan, restocking larva kepiting, serta pelatihan pengolahan hasil laut. Satu unit rumah ikan berukurang 175 x 93 x 55 cm berhasil dipasang di lokasi yang telah disepakati bersama dan diharapkan berperan sebagai habitat buatan serta  nursery ground bagi ikan dan biota lainnya. Kegiatan restocking dilaksanakan dengan melepas 1.000 ekor larva kepiting di sekitar lokasi penenggelaman. Program ini menginisiasi pengembangan paket ekowisata pancing sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat pesisir.  . Secara keseluruhan, seluruh tahapan kegiatan telah terlaksana sesuai rencana dan memperkuat sinergi antara pelestarian lingkungan dan peningkatan lokal Desa Gejugan.   Gejugan Village, located in Pajarakan Subdistrict, Probolinggo Regency, is a coastal area where most residents work as lift-net fishers. In recent years, fish catches have declined due to overfishing and habitat degradation, directly affecting the socio-economic condition of the community. Limited knowledge of conservation practices and a lack of fisheries business diversification have further aggravated the situation. This community service program aimed to develop conservation-based ecotourism while supporting fish stock recovery through the installation of artificial reefs. The program applied a Participatory Action Research (PAR) approach involving academics, local government agencies, and fisher groups. Activities included stakeholder coordination, Marine Protected Area (MPA) management training, artificial reef construction and deployment, crab larvae restocking, and seafood processing training. One unit of artificial reef measuring 175 × 93 × 55 cm was successfully installed at an agreed location and is expected to serve as an artificial habitat and nursery ground for fish and other marine organisms. A total of 1,000 crab larvae were released near the installation site as part of the restocking effort. The program also initiated the development of crab-fishing ecotourism packages as an alternative livelihood for the coastal community. Overall, all planned activities were successfully implemented, strengthening the synergy between environmental conservation and local economic improvement in Gejugan Village.
Implementation of the Pentahelix Model for Strengthening Blue Economy As Climate Change Mitigation in the Fishing Community of South Malang Revaldo, Syahrul Helmi; Nurfirdaus, Revalin Aulia; Abbas, Era Astavia; Setiawan, Rizky Fajar; Sari, Wahida Kartika
ECSOFiM (Economic and Social of Fisheries and Marine Journal) Vol 13, No 2 (2026): ECSOFiM April 2026
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ecsofim.2026.013.02.05

Abstract

Climate change increases the vulnerability of coastal fishing communities, making strengthening the blue economy through collaborative governance crucial for enhancing resilience. This study analyzes the implementation of the Pentahelix model in strengthening the blue economy as a climate change mitigation strategy in the fishing communities of South Malang. An exploratory sequential mixed-methods design was used, combining qualitative data from in-depth interviews and observations with representatives of Pentahelix actors and quantitative analysis using the Analytical Hierarchy Process (AHP). Qualitative findings indicate that although the government, academics, business actors, the community, and the media have fulfilled their respective roles, collaboration remains fragmented due to limited coordination, inadequate stakeholder participation, and inadequate integration of research findings into policy formulation. The AHP analysis produced consistent results (CR = 1.00%), indicating reliable priority rankings. Socio-economic impacts emerged as the highest-priority criterion (27.14%), while sustainable marine tourism diversification was identified as the main strategic alternative (22.34%) with a consistent ratio (CR = 1.48%). This strategy is considered capable of diversifying fishermen's livelihoods, reducing dependence on capture fisheries, and increasing community resilience while preserving coastal ecosystems.