Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peningkatan Kemampuan Digital Marketing dan Kreativitas Pembuatan Konten The Taran Villas Lembongan, Nusa Lembongan, Klungkung Yamawati , Ni Kadek Sioaji; Mahayana, I Made Astu; Putri, Dewa Ayu Dyah Pertiwi; Indiani, Ni Luh Putu
Postgraduated Community Service Journal Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pcsj.5.1.2024.29-34

Abstract

Nusa Lembongan telah mengalami perkembangan pesat dalam sektor pariwisata. Namun, di balik perkembangan dunia teknologi dan akomodasi wisata yang terdapat di Nusa Lembongan, mitra masih belum mampu memanfaatkan digital marketing sebagai upaya untuk meningkatkan revenue mereka. Adapun masalah yang dihadapi yaitu kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya promosi melalui platform digital. Masalah kedua adalah kurangnya kesadaran mengenai pentingnya strategi promosi. Ketiga, kurangnya skill dalam menggunakan teknologi informasi. Keempat, kurangnya ide dalam membuat konten yang menarik. Masalah terakhir yaitu kurangnya update terhadap perkembangan media sosial jaman sekarang. Solusi yang kami berikan untuk masalah pertama adalah dengan sosialisasi pentingnya digital marketing. Solusi masalah kedua melakukan sosialisasi serta pendampingan pembuatan konten. Untuk masalah ketiga melakukan pendampingan penggunaan teknologi informasi berupa digital marketing model berbasis aplikasi dan website sebagai portofolio. Solusi masalah keempat adalah melakukan pendampingan dalam membuat konten sekaligus memberikan pelatihan dalam membuat konten yang dapat menjadi iklan yang menarik konsumen. Untuk masalah terakhir memberikan pelatihan bahasa iklan dalam menarik target pasar yang tepat sasaran. Keberhasilan kegiatan diukur menggunakan indikator: ketercapaian tujuan pelatihan, ketercapaian target yang telah direncanakan, dan keberlanjutan program. Tingkat ketercapaian ketiga indikator ini menunjukkan nilai rata-rata di atas 75 persen sehingga kegiatan pengabdian ini telah berjalan baik. Program-program dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini perlu dijaga keberlanjutannya dengan meningkatkan kualitas promosi yang aktif di internet serta media sosial, memfokuskan target pasar, mempertahankan engagement konten produk di media sosial Instagram, mengembangkan kembali ide-ide caption dengan bahasa iklan yang baik, menambah skill pembuatan konten visual dan audiovisual yang menarik pada media sosial lainnya.
PKM PEMBERDAYAAN DIGITAL PENENUN SONGKET MELALUI SOSIAL MEDIA Mahayana, I Made Astu; Yoga Pratama, Agus Darma; Larasdiputra, Gde Deny; Trisnamayuni , A. A. Istri Mas
Jurnal Abdi Dharma Masyarakat (JADMA) Vol. 6 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jadma.v6i2.12359

Abstract

Desa Gelgel, Klungkung, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kain songket Bali yang memiliki nilai budaya tinggi. Namun, pemasaran produk songket oleh para penenun masih mengandalkan metode konvensional dan belum memanfaatkan media sosial secara optimal. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas digital penenun melalui pelatihan dan pendampingan strategi e-marketing berbasis Instagram, khususnya dalam hal konten visual dan bahasa iklan (copywriting). Metode pelaksanaan mencakup tiga tahap: identifikasi kebutuhan mitra, workshop, pelatihan dan pendampingan yang intensif, serta evaluasi dan tindak lanjut. Hasil kegiatan ini berhasil meningkatkan kemampuan mitra dalam hal peningkatan kapasitas digital dan keterampilan bahasa iklan penenun songket, memperluas jangkauan pemasaran hingga tingkat nasional, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Pendidikan Berkualitas serta Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
The Variation of Swear Word “Kleng” and its Flexibility in Denpasar Mahayana, I Made Astu; Pratama, Agus Darma Yoga
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 10 No. 2 (2023): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The paper investigates the Balinese swear word kleng and its variations used by teenagers in Denpasar. They use this word in various types whose functions differ depending on the context of the situation. Basically, kleng is a swear word used to insult others or show anger. However, some people can use this word to show intimacy toward others and humour. This study investigates variations of the word kleng and its flexibility used by the young generation in Denpasar based on linguistic anthropology. This research is descriptive research through a qualitative approach. The data were collected from conversations of the young generation in several coffee shops in Denpasar. Besides, the social media platforms, namely Instagram and Tiktok, were also used as secondary data. Based on the results, this research found several variations of the word kleng, including naskleng, kle, klieng, klie, nanas klengkeng leci, and klek. These variations reflect psychological, social, and linguistic functions. This research underscores language's importance in reflecting evolving cultures, feelings, and social dynamics, offering insights into an ever-changing society.
SWEAR WORDS USED IN THE MOVIE “DO REVENGE” Rewu, Oktaviana; Umiyati, Mirsa; Mahayana, I Made Astu
Kulturistik: Jurnal Ilmu Bahasa dan Budaya 66-75
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/kulturistik.10.1.14427

Abstract

The title of this research is “Swear Words Used in The Movie Do Revenge”. It aimed to analyze the types and motives of swear words found in the movie. This research used descriptive qualitative method. The data were taken from Do Revenge movie. In analyzing the data, the main theory proposed by Magnus Ljung in his book entitled “Swearing: A Cross-Cultural Linguistic Study” (2011) was used to analyze the types of swear words, and theory from Karjalainen journal “Where have all the swear words gone?” which contain Anderson theory (in 2002: 24) was used to classify the motives. Based on the results, it was found that there were five types of swear words such as, religious or supernatural, scatological, sex organ, sexual activities, and mother (family). Then there were three motives of swear words found such as, psychological motives, social motives, and linguistic motives.
Impoliteness Found in I Care a Lot Movie Susini, Made; Yanti, Ni Ptu Eka Meilinda; Mahayana, I Made Astu
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v11i1.2781

Abstract

The Impoliteness in movies serves as a narrative device to develop characters, create conflict, and reflect real-life social interactions. Applying Culpeper’s impoliteness strategies, this research analyses the strategies, functions, and implications of impoliteness in I Care a Lot movie. The data were taken from the film scripts. The results show that five strategies of impoliteness are found in this movie. They include bald on record impoliteness, positive impoliteness, negative impoliteness, sarcasm or mock politeness, and withhold politeness. Positive impoliteness is the most dominant strategy found in the movie (41.2%). This strategy targets someone's approving face, showing disrespect for something in the interaction. Due to the functions, the most frequent function of impoliteness is coercive impoliteness (58,82%). This indicates that the impolite utterances found in the movie are used to pressure, control, or coerce the interlocutor. The findings suggest that impoliteness in movies is essential in establishing power dynamics and character development. This research contributes to socio-pragmatics by providing insights into how strategies of impoliteness can be applied in communication, including film, to create conflict and tension.