Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN PENGGUNAAN GROUND ANCHOR DENGAN TIANG BOR PADA FONDASI RAFT DALAM MENAHAN BEBAN TARIK Lee, Victor Richard; Susilo, Alfred Jonathan
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 7, Nomor 2, Mei 2024
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v7i2.27972

Abstract

Tensile loads can occur due to various factors, one of which is due to earthquakes and wind. The tensile load acting on the building will be resisted by foundations such as ground anchors and bored pile. In this study, an analysis was carried out to design the tensile bearing capacity of ground anchors and bored pile as a barrier to tensile forces on buildings. The load used in designing ground anchors and bored pile is the reaction of a 33-story building. The analysis is carried out on the bearing capacity of the ground anchor with bored pile that will be installed on the raft foundation according to the position of the column point. The result of the analysis is a design comparison between ground anchor and bored pile in terms of dimension and bearing capacity. The analysis found that bored piles require a shallower soil depth than ground anchors to achieve bearing capacity according to the building's tensile reaction. However, in terms of the components in the ground anchor that contribute to the tensile bearing capacity, the ground anchor is superior in terms of tensile capacity per depth to bored pile. Abstrak Beban tarik dapat terjadi akibat berbagai faktor, salah satunya akibat gempa dan angin. Beban tarik yang bekerja pada bangunan akan ditahan oleh fondasi seperti ground anchor dan tiang bor. Pada penelitian ini, dilakukan analisis untuk mendesain daya dukung tarik ground anchor maupun tiang bor sebagai penahan gaya tarik pada bangunan. Beban yang digunakan dalam mendesain ground anchor dan tiang bor adalah reaksi dari bangunan 33 lantai. Kondisi muka air tanah pada lokasi bangunan berada pada permukaan tanah karena terletak di pinggir pantai. Analisis dilakukan terhadap daya dukung ground anchor dengan tiang bor yang akan dipasangkan pada fondasi raft sesuai dengan posisi titik kolom. Hasil analisis merupakan perbandingan desain antara ground anchor dengan tiang bor secara dimensi dan daya dukung. Dari hasil analisis, didapatkan bahwa tiang bor membutuhkan kedalaman tanah yang lebih dangkal daripada ground anchor untuk mencapai daya dukung sesuai reaksi tarik bangunan. Namun secara komponen pada ground anchor yang berkontribusi kepada daya dukung tarik, ground anchor lebih unggul secara kapasitas tarik per kedalaman daripada tiang bor.
PERKUATAN DINDING PENAHAN TANAH EKSISTING SETINGGI 8 -1000mm YANG MEMBAHAYAKAN MASYARAKAT DI RANGKASBITUNG Susilo, Alfred Jonathan; Prihatiningsih, Aniek; Ongga, Fernando Putra; Tarigan, Kezia Demelia Khovi Br
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i2.25794

Abstract

ABSTRACT The team observed the condition of the walls, gathered information from building owners, combined the received information and finally conducted an engineering analysis. Based on this study, the best recommendation was obtained for the building owner to make an additional strengthening structure in the form of a combination of reinforced concrete column and beam with a cross section size of 300 x 300mm. The strengthening structure installed in the form of right triangles as high as the retaining wall. The strengthening structure located 1500mm apart. The strengthening column and beam are supported by two 300mm diameter drilled pile foundations tied together by 1500 x 300 x 300mm pile caps. The drilled pile foundation is buried to a depth of 600mm lying on above hard layer soil. Between strengthening structures that are 1500mm apart are tied with reinforced concrete beam with a 300 x 300mm cross section to unite the strengthening structure. In conducting this study of solving the continuing damage of retaining wall the lecturers and students discussed to find the most appropriate study for the solution to the existing retaining walls. Detailed calculations and drawings are carried out by students and lecturers giving suggestions and directions until conclusions are obtained and recommendations are made to building owners. Recommendations were submitted to the building owner and then implemented the Team's recommendations by constructing the strengthening structure, until finally the strengthening structures had been installed on the 8000 and 10000mm high retaining walls.
PERBAIKAN ANGKA CALIFORNIA BEARING RATIO PADA TANAH LANAU DENGAN CAMPURAN LIMBAH ALUMINIUM & KACA Grandi, Raykie; Susilo, Alfred Jonathan
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.36767

Abstract

This study aims to evaluate the improvement of the California Bearing Ratio (CBR) value of silt soil using aluminum and glass waste mixtures. In highway engineering, a higher CBR value indicates better soil bearing capacity. The soil sample was taken from the Pantai Indah Kapuk 2 area in Tangerang, Banten, and tested at the Soil Mechanics Laboratory of Tarumanagara University. Waste mixtures were tested at 4%, 8%, and 12% concentrations for both aluminum and glass. The results show that glass waste mixtures yield more significant increases in California Bearing Ratio values compared to aluminum waste. The highest California Bearing Ratio value with glass was achieved at 12% concentration, with a 6.61% increase, whereas the aluminum mixture reached its peak at 8% with a 4.42% increase. A decrease at 12% aluminum suggests that excessive material does not necessarily improve bearing capacity. These findings suggest that glass waste is more effective in enhancing the mechanical properties of subgrade soils compared to aluminum waste. Furthermore, this supports sustainable development principles by utilizing industrial waste in civil engineering applications. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peningkatan nilai California Bearing Ratio (CBR) pada tanah lanau menggunakan campuran limbah aluminium dan kaca. Dalam konteks rekayasa jalan raya, nilai California Bearing Ratio yang tinggi mencerminkan daya dukung tanah yang baik. Tanah yang digunakan berasal dari wilayah Pantai Indah Kapuk 2, Tangerang, Banten, dan diuji di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Tarumanagara. Variasi campuran limbah yang diuji adalah 4%, 8%, dan 12% untuk masing-masing jenis limbah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran limbah kaca memberikan peningkatan nilai California Bearing Ratio yang lebih signifikan dibandingkan limbah aluminium. Nilai California Bearing Ratio tertinggi pada campuran kaca tercapai pada 12% dengan peningkatan sebesar 6,61%, sedangkan pada limbah aluminium peningkatan tertinggi terjadi pada 8% sebesar 4,42%. Penurunan nilai California Bearing Ratio pada campuran aluminium 12% mengindikasikan bahwa kelebihan bahan tidak selalu meningkatkan daya dukung tanah. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kaca lebih efektif dalam meningkatkan sifat mekanis tanah dasar dibandingkan dengan limbah aluminium, sekaligus mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah.
PENGARUH ABU CANGKANG KELOMANG SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN BETON Thifal, Ratu; Susilo, Alfred Jonathan; Sandjaya, Arif
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 1, Februari 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i1.36970

Abstract

Cement production grows by around 5-6.5% per year. Cement is made from a mixture of materials, one of which is limestone, with a portion of 75-90%. Most limestone is formed from shells, skeletons, and remains of dead marine organisms that go through geological processes over thousands to millions of years. Therefore, alternative materials that are more environmentally friendly and sustainable are important to reduce cement use. Hermit crab shell ash was studied in this study as a partial substitute for cement in concrete mixtures. The substitution variations used were 0%, 3%, 5%, and 7% of the cement weight. The mixture plan fc' 25 MPa based on SNI 03-2834-2000. The test specimen was a 15x30 cm cylinder and was cured by immersion for 28 days based on SNI 2493:2011. Compression testing was based on SNI 1974:2023. The results showed a decrease in compressive strength, but not significantly. A 3% substitution yielded the best results compared to the others, with a reduction in compressive strength of around 2.3%. Hermit crab shells have the potential to be a sustainable alternative material to limestone without the need for geological processes that take thousands to millions of years. Abstrak Produksi semen tumbuh sekitar 5-6,5% per tahun. Semen terbuat dari campuran bahan, salah satunya adalah batu kapur dengan porsi 75-90%. Sebagian besar batu kapur terbentuk dari cangkang, kerangka, dan sisa-sisa organisme laut mati yang melalui proses geologis dengan waktu ribuan hingga jutaan tahun. Oleh sebab itu, material alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi penting untuk mengurangi penggunaan semen. Abu cangkang kelomang dikaji dalam penelitian ini sebagai substitusi sebagian semen dalam campuran beton. Variasi substitusi yang digunakan yaitu sebesar 0%, 3%, 5%, dan 7% terhadap berat semen. Rencana campuran fc’ 25 MPa berdasarkan SNI 03-2834-2000. Benda uji berupa silinder 15x30 cm dan dirawat rendam selama 28 hari berdasarkan SNI 2493:2011. Pegujian tekan berdasarkan SNI 1974:2023. Hasil menunjukan nilai kuat tekan menurun, tetapi tidak signifikan. Subtitusi 3% memberikan hasil paling baik dibandingkan lainnya, dimana penurunan kuat tekan sekitar 2,3%. Cangkang kelomang memiliki potensi menjadi material alternatif berkelanjutan menggantikan batu kapur tanpa perlu melalui proses geologis dengan waktu ribuan hingga jutaan tahun.
ANALISIS PERBANDINGAN SETTLEMENT DENGAN METODE MANUAL DAN MIDAS GTS NX SERTA EFEKTIFITAS PVD TERHADAP N-SPT Widjaja, Delbert; Susilo, Alfred Jonathan; Leman, Sunarjo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 9, Nomor 2, Mei 2026
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v9i2.37339

Abstract

Soft soils usually have a low carrying capacity. Low bearing capacity can make the ground level drop significantly. The decline takes a long time for the soil to stabilize again. In construction projects involving soft soils, this issue is often an important topic. Therefore, the solution chosen is the use of prefabricated vertical drain (PVD). The study compared manual calculations with the MIDAS GTS NX software. The research used borelog data, laboratory data, and field monitoring data on soft soil improvement projects in North Jakarta. The research calculates the theoretical settlement manually. The study used the MIDAS GTS NX to model soil deformation. The study monitored the dissipation of pore water pressure and mapped the effective stress distribution during consolidation. After completing the analysis, it was found that the results of the decrease from manual and MIDAS GTS NX calculations had the same pattern. The calculations via the MIDAS GTS NX are much more detailed, while the manual calculations only take into account one dimension. In addition, a comparison of N-SPT values before and after PVD was carried out. The results showed that the N-SPT value increased by around 460% for N-SPT 1 and 57% for the N-SPT 10 value. Abstrak Tanah lunak biasanya memiliki daya dukung yang rendah. Daya dukung yang rendah dapat membuat permukaan tanah turun secara signifikan. Penurunan tersebut membutuhkan waktu lama agar tanah kembali stabil. Pada proyek konstruksi yang melibatkan tanah lunak, masalah ini sering menjadi topik penting. Karena itu, solusi yang dipilih adalah penggunaan prefabricated vertical drain (PVD). Penelitian membandingkan perhitungan manual dengan perangkat lunak MIDAS GTS NX. Penelitian menggunakan data borelog, data laboratorium, dan data pemantauan lapangan pada proyek perbaikan tanah lunak di Jakarta Utara. Penelitian menghitung settlement teoritis secara manual. Penelitian menggunakan MIDAS GTS NX untuk memodelkan deformasi tanah. Penelitian memantau dissipasi tekanan air pori dan memetakan distribusi tegangan efektif selama konsolidasi. Setelah menyelesaikan analisa, ditemukan bahwa hasil penurunan dari perhitungan manual dan MIDAS GTS NX memiliki pola yang sama. Perhitungan lewat MIDAS GTS NX jauh lebih detail, sedangkan perhitungan manual hanya memperhitungkan satu dimensi. Selain itu, dilakukan perbandingan nilai N-SPT sebelum dan sesudah PVD. Hasil menunjukan bahwa nilai N-SPT naik sekitar 460% untuk N-SPT 1 dan 57% untuk nilai N-SPT 10.