Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : medula

Perbandingan Visual Analogue Scale antara Pemberian Analgetik Asam Mefenamat, Paracetamol dan Ibuprofen Peroral Sebelum Sirkumsisi Agussalim Ali; Zida Maulina; Raja Al Fath; Muh. Zainsa Asfar
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 6, No 3 (2019): Edisi Suplemen
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.609 KB) | DOI: 10.46496/medula.v6i3.9637

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Nyeri akibat operasi merupakan  keadaan  yang sangat dikuatirkan oleh pasien sebelum menjalani operasi. Warfield  dan  Kahn melaporkan  57% dari pasien  yang  akan dioperasi menaruh perhatian yang serius terhadap kekuatiran nyeri pasca operasi dan 80% dari mereka ternyata mengalami nyeri sedang sampai berat setelah operasi. Dalam sirkusmsisi analgesik yang biasa digunakan yaitu Asam Mefenamat, Paracetamol, dan Ibuprofen. Tujuan: Penelitian ini beetujuan untuk mengetahui perbandingan visual analogue scale (VAS) 1 jam setelah sirkumsisi (T1),2 jam setelah sirkumsisi (T2) dan 3 jam setelah sirkumsisi (T3) antara pasien dengan pemberian analgetik  asam  mefenamat,  paracetamol,  dan  ibuprofen  peroral  pre  sirkumsisi.  Metode:  Jenispenelitian  ini  termasuk  penelitian  quasi-experimental  dengan  model     posttest  design  only  yang dilakukan di wilayah Kec. Abuki. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 30 sampel, yang terdiri dari 10 sampel asam mefenamat, 10 sampel paracetamol, dan 10 sampel ibuprofen. Penelitan ini dianalisis menggunakan SPSS dengan uji kruskal-wallis. Hasil: Pada T1 menunjukan bahwa terdapat perbedaan rata – rata pada tiap kelompok pemberian obat. Asam mefenamat memiliki nilai rata - rata VAS 2,50, paracetamol 3.00 dan ibuprofen 2,30 dengan p-value 0,018. Pada T2 rata – rata VAS yaitu asam mefenamat 4,30, paracetamol 4,70 dan ibuprofen 4,10 dengan p-value 0,252. Pada T3 rata – rata VAS tiap kelempok obat yaitu, asam mefenamat 7,00, paracetamol 7,50, dan ibuprofen6,40 dengan p-value 0,003. Simpulan: Terdapat perbedaan rata-rata VAS pada T1, T2 dan T3, dengan kelompok terendah yaitu pada kelompok ibuprofen.Kata kunci : Asam mefenamat, Ibuprofen, Paracetamol, Sirkumsisi, Visual analogue scale.
Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Jumlah Luka Kasus Kekerasan Fisik pada Anak Waode Sitti Asfiah Udu; Murni Safitri M; Raja Al Fath Widya Iswara
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v8i1.15014

Abstract

Latar Belakang: kekerasan terhadap anak mencakup semua bentuk perlakuan yang salah baik secara fisik dan/atau emosional, seksual, penelantaran, dan eksploitasi yang berdampak atau berpotensi membahayakan kesehatan anak, perkembangan anak, atau harga diri anak dalam konteks hubungan tanggung jawab. Kekerasan fisik merupakan salah satu jenis kekerasan yang masih mendominasi sebaran jenis kekerasan pada anak. Berdasarkan jenis kelamin, kasus kekerasan terhadap anak lebih banyak terjadi pada anak perempuan di semua jenis kekerasan Tujuan : Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anakMetode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Subyek terdiri dari 120 anak yang tercatat dalam Visum et Repertum korban kekerasan fisik pada anak di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Data yang dikumpulkan mencakup karakteristik jenis kelamin, usia, jenis perlukaan dan jumlah luka. Untuk melihat keeratan hubungan dilakukan analisis dengan menggunakan uji Chi Square.Hasil : Subyek terdiri dari 85 (70,8%) anak laki-laki dan 35 (29,2%) dengan rentang usia 0-10 tahun sebanyak 5 (4,2%) anak dan usia 10-18 tahun sebanyak 115 (95,8%) anak. Jenis luka didominasi oleh luka memar sebanyak 45 (37,5%) dan gabungan antara jenis luka memar dan lecet sebanyak 31 (25,8%). Mayoritas subyek memiliki satu jenis luka tunggal sebanyak 52 (43,3%) anak. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan  jumlah luka kekerasan fisik pada anak (p> 0,05).Kesimpulan : Jenis kelamin tidak berhubungan dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anak. Kata kunci:  Jenis kelamin, Jumlah Luka, Kekerasan fisik, Anak.
Penentuan Jenis Kelamin berdasarkan Indeks Kaninus (Sex Determination Based on Canine Index) Raja Al Fath Widya Iswara
MEDULA JURNAL ILMIAH FAKULLTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46496/medula.v7i2.11971

Abstract

Background: Identification is an effort made to determine a person's identity. One of the important things in identification is sex determination. Teeth are the hardest part of the human body and are protected in the oral cavity so they have a major role in forensic identification. Canine is the longest teeth and oftentimes used in identification. Purpose: To  determine the sex based on the canine index. Methods: An observational analytic cross-sectional study design with 250 research subjects of Halu Oleo University Medical Faculty students from October to December 2018, ages 18-25 years, who met the inclusion criteria, male (n = 125) and female (n = 125). Canine index by calculating the ratio of mesiodistal width (a measure of the width of canines measured from the two widest ends) divided by the distance between canines in four regions namely upper right jaw, upper left jaw, lower right jaw and upper left jaw. Result: Spearman correlation test results of canine index to sex, namely the upper right jaw value of p = 0.124, the upper left jaw value of p = 0.117, the right and right lower jaw with the p value = 0,000. Conclusion: The lower jaw canine index can be used in sex determination, where male have greater lower jaw canine index than female.Keywords: identification, canine index, sex ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menentukan identitas seseorang. Salah satu hal penting dalam identifikasi adalah penentuan jenis kelamin. Gigi merupakan bagian paling keras dari tubuh manusia dan terlindung di dalam rongga mulut sehingga mempunyai peran besar dalam identifikasi forensik. Kaninus/gigi taring merupakan gigi yang paling panjang diantara semua gigi dan sering digunakan dalam identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penentuan jenis kelamin berdasarkan indeks kaninus. Metode: Penelitian analitik observasional rancangan cross sectional dengan 250 subyek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Periode Oktober-Desember 2018, usia 18-25 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi, laki-laki (n=125) dan perempuan (n=125). Indeks kaninus dengan menghitung rasio lebar mesiodistal (ukuran lebar dari gigi taring yang diukur daripada kedua ujung yang terlebar) dibagi jarak antar kaninus pada empat regio yaitu rahang atas kanan, rahang atas kiri, rahang bawah kanan dan rahang bawah kiri. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman indeks kaninus terhadap jenis kelamin yaitu pada rahang kanan atas nilai p=0,124, rahang kiri atas nilai p=0,117, rahang kanan dan kiri bawah dengan nilai p=0,000. Simpulan:  Indeks kaninus rahang bawah dapat digunakan dalam penentuan jenis kelamin, laki-laki mempunyai indeks kaninus rahang bawah lebih besar dibanding perempuan.Kata kunci: identifikasi, indeks kaninus, jenis kelamin